
"Mereka sudah turun," kata paman Flyied
Lima petapa yang berasal dari kastil Fogyer.
Mereka tinggal di atas bukit daratan kastil Fogyer.
Saat kejadian penyerangan di kastil Fogyer, mereka sedang melakukan pertapaan sebagai bentuk kecintaan terhadap Sang Pencipta.
Pertapaaan memakan waktu hampir setengah tahun.
Kastil Fogyer yang posisi sangat jauh dari daratan, penghuninya sesungguhnya lebih menyukai perdamaian.
Tidak adanya keberpihakan dalam perang yang sedang berlangsung membuat mereka berpikir tidak akan ada yang menyerang kastil mereka.
Mereka tidak pernah menempatkan satu pun penjaga di setiap pelindung.
Namun ternyata mereka salah.
Sikap tamak sang bos yang ingin menguasai semua kekuatan alam.
Hal ini membuat kastil mereka yang pertama kali diserang.
Paman Eldester setelah menyerap kekuatan mereka langsung pergi dan memerintahkan tim eksekutor untuk menghancurkan kastil mereka.
Mereka yang memiliki kemampuan untuk menghilangkan kekuatan malah kehilangan semuanya.
Pemimpin kastil Fogyer hanya bisa melakukan dua hal menyelamatkan anak - anak dan menyelamatkan ramalan tentang siapa yang akan menjadi musuh terbesar paman Eldester.
Mengingat bahwa meditasi yang selalu dilakukan oleh pemimpin kastil membuatnya mengetahui sedikit rahasia masa depan.
****
"Apa kabar, Elfist?"kata sang petapa pertama terhadap sang tangan kanan.
Petapa pertama memiliki tubuh yang kecil dan ringan.
Hanya jenggot yang panjang berwarna putih menunjukkan usianya sudah menua.
"Apa yang menyebabkan sang petapa terhormat ikut campur dalam urusan duniawi ?"kata Elfist sedikit cemas.
"Karena dirimu, Elfist. Seorang anak dari pria yang terhormat yang ingkar janji dan tidak memghormati hubungan leluhurnya,"jawab petapa kedua.
Petapa kedua memiliki tubuh yang ramping namun tinggi.
Terlihat lebih muda dibandingkan petapa pertama.
"Kuijinkan berkunjung ke kastil ini tetapi apa yang telah kalian perbuat,"kata petapa ketiga terlihat kecewa.
Petapa ketiga memiliki tubuh yang bugar dan berisi.
"Kami hanya menginginkan satu hal bahwa keberadaan kita diakui oleh human,"kata Elfist.
"Apakah hanya itu saja ?"kata petapa keempat menatap sampai kedalam jiwanya.
Petapa keempat memiliki tatapan mata yang tajam, tubuhnya kecil dan terlihat lebih tua dibandingkan petapa pertama.
"Apakah kami tidak mendengar ratapan dan rintihan keturunan kami yang kau ambil nyawanya meminta pengampunan ? Dimana belas kasihmu ?"kata petapa kelima.
Petapa kelima memiliki tubuh yang kekar dan tinggi. "Jika kalian tau, kenapa kalian tidak turun dari bukit kesayangan kalian"kata Elfist terlihat keji.
"Kami mempunyai janji yang harus kami tepati. Namun, karena kebaikan hati sang pencipta maka permohonan kami dikabulkan,"kata petapa kelima.
"Sebaiknya kau segera pergi, Foggest. Hidupmu masih sangat diperlukan,"kata petapa kedua menggunakan pikirannnya.
"Kakek, maafkan aku,"jawab Foggest menggunakan pikirannya.
Kelima petapa mengelilingi Elfist dan mengucapkan kata - kata sambil menutup matanya.
Saat mereka membuka matanya, tiba - tiba Elfist merasakan kesakitan yang sangat besar sehingga membuatnya berteriak.
Tiba - tiba ada cahaya yang keluar dari tubuhnya dan menghilang.
Elfist merasa tubuhnya melemah dan tersungkur di atas tanah.
"Kami sudah mengambil seluruh kekuatanmu. Sekarang kau sama saja seperti human,"kata petapa pertama.
"Tidak... tidak.. ini tidak benarr,"teriak Elfist tidak bisa menerima hal tersebut.
Elfist berdiri kemudian berjalan ke hutan dengan tatapan kosong seorang diri.
Saat berada di ujung tebing, Elfist menjatuhkan diri.
****
Sementara itu, paman Teeran masih berkelahi dengan tiga orang tadi.
"Tanganmu menghitam,"kata paman Teeran menyadari jika salah satu eksekutor pernah berhadapan dengan pemilik kekuatan langit.
"Ini adalah penghargaan bagiku. Akulah yang menghabisi adik dari langit beserta suaminya,"kata sang eksekutor bangga.
"Sebaiknya kau berhati-hati dengan yang kau katakan,"kata paman Teeran.
"Bosku bangga denganku. Walaupun anaknya bisa melarikan diri,"kata sang eksekutor terlihat jijik.
****
Paman Coeli berjalan ke pelindung pertama. Pergi ke tempat terakhir adiknya. Untuk mencari jejak keponakannya.
Tempatnya berlawanan dari tempat perkelahian sekarang.
Namun saat di sana, paman Coeli menemukan pesan yang ditujukan untuknya dari adiknya.
__ADS_1
"Kakak, tolong temukan anakku. Anakku hanya mewarisi kekuatan kita. Dia ingin diakui di sini tapi ini bukan tempatnya. Ironis sekalinya, kak. Dia bahkan kesulitan untuk melarikan diri. Kak, Maafkan aku.... Kak, ini kilasan ingatan tentang kejadian hari ini ... tolong cari jejaknya," kata adiknya Langit.
Paman Coeli mencabut satu lagi dari dalam tanah.
Kilasan ingatan itu datang.
Di rumah Langit dan Glyod.
"Cepat bawa Celli,"jawab Langit kepada suaminya.
"Bagaimana denganmu ?"kata Glyod
"Aku akan menjaga kastil ini,"kata Langit
Paman Glyod menggendong anaknya lalu memeluk pinggang istrinya dan membawa mereka melewati pelindung untuk melarikan diri.
Mereka melihat bibi Fliest menggiring anak - anak untuk melarikan diri.
Mereka berkumpul di batas pelindung terakhir kastil merencanak pelarian.
"Fliest, kemana anak - anak dibawa ?" kata Langit.
"Ke bukit ,"kata Fliest
"Bukit petapa,"kata Langit
"Bukan, bukit satunya lagi,"kata Fliest
"Apakah kau serius ?"kata Langit
"Ini janjiku pada bibi,"kata Fliest
Langit terkejut tapi tidak mengatakan apapun.
Kemudian ada suara yang masuk ke dalam pikirannya.
"Mereka menyusul kalian. Ada empat orang,"kata bibi
"Fliest, cepat pergi. Musuh menyusul. Bawa anak - anak. Cepat,"kata Langit.
Langit dan Glyod menghalangi musuh. Mereka menghadapinya.
Namun, ada satu musuh yang sudah melewati pelindung.
Mengejar anak - anak.
Karena Celli yang paling lambat.
Musuh hampir menangkapnya namun gagal.
Glyod melihat hal itu dan mengambil anaknya dan membawanya pergi.
Kemudian musuh itu merasakan kesakitan dan melarikan diri.
Glyod minta tolong dengan Fliest.
"Dia tidak mewarisi kekuatanku,"kata Glyod
Fliest terkejut namun memahaminya. Fliest kemudian menggendong Celli.
Langit, Glyod dan seluruh penghuni tersisa mendengar teriakan bibi.
"Jangan biarkan musuh yang sudah melewati pelindung kastil utama melewati pelindung lainnya. Tutup kastil ini,"kata bibi lantang.
Saat Langit ingin menutup pelindung tetapi Glyod lebih cepat berlari dan masuk ke dalam pelindung.
"Jika ini harus berakhir. Aku ingin mengakhiri bersamamu,"jawab Glyod.
Musuh yang dikatakan bibi berhasil melewati pelindung kedua.
Namun, saat mau melewati pelindung terakhir dihalangi oleh Langit dan Glyod.
Musuh yang mereka hadapi ada tujuh orang.
Hal ini membuat mereka kewalahan. Hanya ada satu orang yang menghindari perkelahian dan menunggu.
Saat terakhir hidupnya, Langit sudah menghadapi musuh keenam.
Musuh yang terakhir berpikir dia mampu menghadapi pelindung terakhir.
Saat berusaha menembusnya, muncul kalimat,"Orang yang pertama kali ingin melewati pelindungku akan melihat kematiannya langsung."
"Langitttttt ....,"kata musuh terakhir itu.
****
Coeli sangat syok namun tidak mengeluarkan air mata.
Berbeda saat membaca pesan Langit.
"Coeli, anakku. kendalikan emosimu,"kata sang petapa pertama berbicara menggunakan pikirannya.
Tiba - tiba dari pelindung pertama muncul kilat lurus yang panjang langsung menuju ke dada sang eksekutor.
Bukan hanya mengenai satu orang melainkan ketiga - tiganya.
"Jika kalian berkata bahwa aku tidak menggunakan kekuatanku sebagaimana mestinya. Mereka yang menggunakan kekuatan sebagaimana mestinya bahkan tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Bahkan ketika mereka memohon kehidupan mereka. Apakah mereka mendengarkan,"kata paman Coeli terlihat geram dan marah.
Foggest dan tim pencari yang tersisa melarikan diri sedangkan tim eksekutor tidak ada satu pun yang selamat.
Langit menjadi gelap, badai dan petir melanda hampir seluruh daratan.
__ADS_1
"Flyied, lakukan satu hal,"kata paman Teeran sambil melihat paman Coeli memasuki kastil lagi.
"Akan kuusahakan,"kata paman Flyied.
Paman Foggest pun akhirnya menyerah dan berusaha menyelamatkan diri kehilangan satu tangannya karena sengatan petir dari paman Coeli.
Mereka semua berjalan dalam hujan dan tidak ada satupun yang bisa mengatakan apapun.
Kata - kata yang diucapkan paman Coeli sepertinya terngiang-ngiang di pikiran mereka sambil berjalan menuju ke kastil utama.
Paman Coeli menuju ke kastil utama dan berdiri memandang wajah adiknya.
Rasa marah, sedih dan bersalah bercampur jadi satu.
Sementara itu, paman Edsel dan Teeran mempersiapkan pekuburan layak bagi semua korban.
Paman Flyied berusaha mendekati paman Coeli namun saat melihat tatapan matanya yang berwarna putih itu, paman Flyied mengurungkan diri.
"Kenapa kau disini ?" jawab paman Teeran kepada paman Flyied.
"Aku kehilangan ibuku dan kau juga.Tapi aku tidak pernah melihat tatapan sedingin itu,"kata paman Flyied.
"Tetapi kau tidak kehilangan dirimu,"kata paman Teeran terlihat sedih.
"Dia kehilangan dirinya akhir - akhir ini. Rasa percayanya terhadap dirinya sendiri. Saat dia mau menyerahkan Suyira dalam pengawasanku. Saat itu aku sadar dia hilang rasa percayanya.Aku harap kau memgerti,"kata paman Teeran.
"Tapi Teeran hujan ini tidak akan membantu kita sama sekali.Kita harus menemukan anggota keluarga yang lain. Dan salah satunya anggota keluarga dia sendiri,"kata paman Flyied.
"Tetua,"kata paman Edsel menggunakan pikirannya kepada lima petapa.
"Hujan dan badai akan berhenti besok hari.
Hatinya akan kembali hangat,"kata Petapa pertama.
"Besok, kalian siapkan penguburan yang layak dan sederhana. Sudah terlalu banyak kesedihan. Jadi adakan secepatnya,"kata petapa kedua terhadap paman Teeran dan Flyied.
"Baiklah,"kata paman Flyied.
"Mengenai pemakaman ibumu, letakkan di samping leluhurmu,"kata petapa ketiga.
"Sesudah acara penguburan selesai, carilah anak - anak. Bawa kesini. Biar sinar mereka yang mengubah kegelapan tempat ini,"kata petapa keempat.
"Bagaimana dengan keamanan kastil ini?"kata paman Flyied.
"Itu adalah keputusanmu. Kami akan mematuhinya. Sama seperti kami mematuhi ibumu,"kata sang petapa kelima.
"Baiklah, mulai sekarang akan ada lima penjaga di setiap pelindung. Para Tetua jika tidak lagi bersemedi tolong jaga pelindung kastil utama. Jika anak - anak datang mereka akan tinggal di kastil utama. Yang memgetahui kalian akan melakukan perjalanan hanya aku. Kurasa itu dulu,"kata paman Flyied.
"Tunggu dulu. Bagaimana dengan langit dan adik sepupumu?"kata petapa pertama.
"Mereka akan dikuburkan disini dan mengenai anaknya kuserahkan kepada keputusan Coeli,"kata paman Flyied.
"Baiklah. Kami akan mematuhimu,"kata petapa ketiga.
Malam sudah larut namun paman Coeli masih berdiri di tempat yang sama.
Petapa pertama mendekati paman Coeli.
"Kedatanganku hanya ingin melihat kondisimu dan ada yang ingin bertemu denganmu,"kata petapa pertama.
Suyira tiba - tiba menghampirinya dan mendadak berhenti melihat tatapan paman Coeli.
"Paman, kenapa mata paman?"kata Suyira bingung.
Suyira berjalan pelan -pelan dan memegang tangannya yang terasa aliran listriknya.
Paman Coeli terkejut dengan sentuhan itu dan melihat ke arah Suyira.
Lambat laun warna matanya berubah menjadi biru pucat lagi.
"Apa kabar Coeli?"kata pertapa pertama.
"Oh kakek, baik - baik saja,"kata paman Coeli.
"Aku kira akan kehilangan dirimu,"kata petapa pertama.
"Tadi mata paman berwarna putih,"kata Suyira.
Suyira menoleh ke bawah dan melihat ada dua orang dewasa terbaring.
"Siapa mereka paman?"kata Suyira terlihat sedih.
"Yang perempuan itu, adik ibumu dan yang disampinya suaminya,"kata paman Coeli sedih.
"Bibiku,"kata Suyira tambah sedih mengingatkan akan ibu dan ayahnya.
"Apakah mereka punya anak sama sepertiku ?"kata Suyira.
"Iya,"jawab paman Coeli terkejut.
"Kakek, tolong jaga Suyira. Aku ingin menemui Flyied,"kata paman Coeli.
"Baiklah,"kata petapa pertama.
****
Silahkan berikan komentarnya.
Ditunggu yaa
🤗🤗🤗
__ADS_1