
Pencari Bergerak
"Menurutmu mereka datang?"kata paman Teeran cemas sambil menggendong Suyira yang ketiduran.
"Mereka sedang mencari informasi,"kata paman Edsel.
"Bagaimana caranya Suyira bisa sampai ke kastil Arial Nuch dengan aman ?" kata paman Teeran heran.
"Dia masih kecil dan melewati hutan sendirian. Jadi keberadaanya tidak diketahui. Lagipula Eldast menuntunnya,"kata paman Edsel terlihat sedikit cemas melihat kedekatan emosional anaknya dengan Suyira.
Mereka terus berjalan ke arah hutan.
Kemudian paman Edsel berhenti.
Mereka sedang menuju ke sini.
"Bukannya mereka masih mencari tau ?"kata paman Teeran.
"Mereka sudah tau,"kata paman Edsel sambil melihat ke arah salah satu penjaga.
Tiba - tiba salah satu penjaga menyerang paman Teeran dengan berusaha untuk menusuk ranting panjang yang tajam ke arah Suyira.
Paman Teeran menghindar menggunakan kekuatan angin dengan tetap menggendong Suyira.
Paman Teeran membalas penjaga tersebut melemparkan batu ke arahnya.
Batu tersebut ditangkis oleh ranting - ranting yang dibuatnya.
Penjaga lainnya menyerang penjaga tersebut dengan membuat cambuk dari air dan mengekang kedua tangannya.
Paman Edsel mendekatinya dan menyentuh dahinya.
Tiba - tiba penjaga yang berkhianat tersebut pingsan.
Kastil Fogyer
Tempat tinggal pemilik kekuatan udara.
Selain kastil langit dan biara, kastil ini juga selalu ditutupi oleh awan dan selalu berkabut.
Kastil ini terletak di puncak yang paling tinggi walaupun menaranya tidak setinggi kastil langit dan biara.
Terletak di gunung Mont Blanc yang berbatasan langsung dengan pelindung bumi.
Penjaga yang lainnya membopong penjaga tersebut.
"Tidak ada pilihan lain sebaiknya kita memasuki kastilnya,"kata paman Edsel.
Paman Teeran membangunkan Suyira,"Suyira, bangunlah."
"Ada apa, paman ?"kata Suyira.
"Ada sedikit perubahan rencana, kita akan mengunjungi kastil Fogyer,"jawab paman Teeran.
"Benarkah ..,"kata Suyira kegirangan karena akan mengunjungi tempat baru.
Paman Teeran berbicara menggunakan pikirannya dengan paman Edsel,"Tempat itu terkunci."
"Tidak ada satu pun yang bisa masuk bahkan Flyied sekalipun. Dan kau benar mengenai hal itu,"jawab paman Teeran lebih lanjut.
Paman Edsel pun menjawab,"Kita tidak masuk ke dalamnya, kita hanya naik ke atas."
Paman Teeran akhirnya menyetujui.
Mereka menaiki pohon untuk menuju ke atas.
Semakin lama semakin tinggi bahkan puncak kastil biara dapat kelihatan.
Mereka turun dari atas pohon ke sebuah daratan yang dipenuhi dengan kabut yang tebal.
Paman Teeran menggunakan cahaya api Suyira yang diberikan paman Firye saat ulang tahunnya untuk menerangi perjalanannya mereka.
Paman Edsel menunjuk ke arah hutan untuk bersembunyi.
Mereka bersembunyi di pinggir hutan sampai rombongan musuh lewat.
Paman Teeran sedang berkonsentrasi untuk melihat posisi musuh dari atas sehingga tidak memperhatikan jika Suyira sudah tidak berada di tempatnya.
Suyira memdengar ada suara yang memanggilnya berulang - ulang kali.
Suyira mengikuti sumber suara.
Sementara penjaga berusaha berkonsentrasi untuk melihat kondisi sekitarnya sehingga tidak memperhatikan kepergian Suyira.
Suyira semakin lama semakin masuk ke dalam hutan.
Suyira melihat ada pelindung di kastil Fogyer dan menyentuh tangannya ke pelindung tersebut.
Tangannya bisa memasuki pelindung tersebut, Suyira pun masuk ke dalam.
Suyira sudah melewati empat pelindung.
Saat Suyira mau memasuki pelindung yang kelima, pelindung itu tidak mengijinkannya untuk masuk.
__ADS_1
Sedangkan suara tersebut berasal dari seberang pelindung tersebut.
Suara itu membisikkan kata - kata yang mengatakan sebutkan namamu.
Suyira pun menjawab namanya Suyira namun pelindung itu tetap tidak memperbolehkannya masuk.
Kemudian Suyira ingat bahwa namanya adalah pasak bumi dan menyebutkan namanya namun tetap tidak terbuka.
Suyira akhirnya duduk di sebuah kubah putih dan bersandar di tiangnya.
Akhirnya Suyira ingat panggilan paman Flyied padanya.
Suyira menyebutkan PILAR dan akhirnya pelindung dapat dilewatinya.
Saat mencoba untuk melangkah ke dalam, paman Teeran meneriaki namanya sehingga Suyira menoleh.
Paman Teeran menangkapnya dan memeluknya.
Paman Teeran sengaja melakukannya supaya Suyira tidak melihat kondisi yang terjadi di kastil Flyied.
Paman Edsel lalu memegang kening Suyira dan akhirnya dia tertidur.
Setelah itu mereka memasuki kastil tersebut. Semuanya sama dengan kondisi terakhir kastil tersebut saat diserang oleh musuh.
Ibunya Flyied melakukan pengorbanan yang sangat besar dengan tidak mengijinkan musuh untuk keluar dan penghuni kastil pun tidak ada satupun yang selamat.
Semuanya raga mereka masih utuh berada pada tempatnya masing-masing.
Sementara ibunya Flyied dalam posisi tengkurap satu tangannya memegang tongkat dan satunya lagi menyentuh sebuah pilar.
Paman Teeran berkata dengan nada getir,"Tolong.... Ibu... ibunya Fylied letakkan di situ dan dalam posisinya yang baik. Dan kalian akan menerima hukuman kalian ketika tiba di kastil karena kalian melepaskan penjagaan pada Suyira."
Penjaga melakukan apa yang diperintahkan paman Teeran untuk meletakkan tubuh ibunya Flyied di dalam kastil Fogyer.
Paman Teeran berkata lagi kepada paman Edsel,"Panggilkan Fylied kesini."
Paman Edsel berkata,"Sudah kulakukan."
"Bisakah.. Edsel.. tolong jaga mereka sebentar. Aku mau ke suatu tempat,"kata paman Teeran sambil melihat kearah anaknya yang digendong paman Edsel.
Paman Teeran menyerahkan Suyira ke paman Edsel.
Cinta Seorang Ibu
Paman Teeran berjalan gontai menuju ke sebuah taman yang ada air pancurannya dan duduk disitu sambil menangis.
Paman Teeran selalu duduk di situ ketika menghadapi masalah.
Ibunya Flyied selalu datang menghampirinya dan duduk di sampingnya untuk menanyakan keadaannya.
Tiba - tiba bayangan ibu Flyied duduk di sampingnya dan bertanya,"Bagaimana kabarmu ?"
Ibunya Flyied bertanya,"Kenapa sakit ?"
Paman Teeran menjawab,"Ibu telah pergi selamanya."
"Benarkah...Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Bukankah aku sudah berjanji akan membuatmu selalu tersenyum,"kata ibunya Flyied.
"Tapi kau sudah pergi .. ,"kata paman Teeran bersikeras.
"Hanya jasadku yang pergi tapi aku selalu ada. Ingat setiap hembusan udara menghampiri tubuhmu. Aku selalu ada untukmu,"kata ibunya Flyied.
****
Paman Flyied datang bersama dengan penjaganya dan saat masuk ke dalam kastil melihat kondisi kastilnya terlihat sedih.
Berbeda dengan penjaga kastil Fogyer yang selamat melihat hal itu langsung menangis saat memasuki pelindung terakhir mereka.
Paman Flyied melihat dari luar kastil utama keberadaan paman Edsel dan menghampirinya.
Paman Edsel lalu berkata,"Ibumu ada di dalam."
Paman Flyied kedalam dan melihat ibunya sudah dibaringkan di atas tempat tidurnya. Paman Flyied akhirnya menangis juga.
****
"Bagaiman kondisi di situ, sayang?" kata bibi Ruuyist.
"Semuanya sedang bersedih,"kata paman Edsel.
"Bagaimana keadaanmu ?"kata bibi Ruuyist.
"Baik-baik saja,"kata paman Edsel terkejut.
"Sudah kau hubungi paman Coeli,"kata bibi Ruuyist.
"Belum,"kata paman Edsel terlihat menyesal.
"Wajar, bukan hanya mereka saja yang sedih tetapi kau juga,"kata bibi Ruuyist.
"Akan kuhubungi paman Coeli,"kata paman Edsel.
Kesedihan Paman Coeli
"Coeli, datanglah ke kastil Fogyer,"kata paman Edsel.
__ADS_1
"Sudah bisa dimasuki. Baiklah,"kata paman Coeli terlihat sedih.
Paman Edsel menyuruh penjaga untuk mencari jasad Langit.
Mereka menemukannya di batas pelindung terakhir bersama jasad suaminya.
Mereka sudah meletakkannya di dalam kastil ketika paman Coeli datang.
Paman Coeli datang untuk melihat kematian satu lagi adik perempuannya. Paman Coeli menangis dalam diam namun di atas langit cuacanya berkecamuk.
Paman Edsel memohon kepadanya untuk mengatasi emosinya.
Namun gagal.
Paman Edsel memberikan Suyira kepada paman Coeli untuk digendongnya.
Paman Coeli bisa mengendalikan emosinya dan cuaca di langit berjalan normal.
Paman Coeli teringat dengan keponakannya yang lain dan bertanya dengan paman Edsel,"Apakah kau tidak melihat Langit kecil ?"
Paman Edsel berkata,"Tidak ada satupun anak - anak di kastil ini."
"Jadi mereka dimana ?"kata paman Coeli bingung.
"Sebaiknya kita bertanya dengan Flyied. Tapi sepertinya kondisinya tidak bisa diajak bicara,"kata paman Edsel.
Paman Flyied lagi berjalan di tangga turun saat mereka berbicara dan mendengar percakapan terakhir mereka.
"Apa yang ingin kalian bicarakan ?"kata paman Flyied.
"Tidak ada satupun anak - anak di kastil ini,"kata paman Coeli.
"Tentu saja, kami memiliki anak - anak di kastil kami,"kata paman Flyied yang awalnya tersinggung akhirnya sadar maksud perkataan paman Coeli.
****
"Bagaimana kondisi ibuku saat pertama kali kalian temukan ?" kata paman Flyied kepada penjaga.
"Kondisinya tengkurap, satu tangannya memegang tongkat dan yang aneh satu tangannya lagi memegang pilar,"kata penjaga.
Paman Edsel teringat perkataan Suyira yang berkata,"Paman tadi aku mendengar suara memanggilku dan menyuruh ke dalam hutan. Dan saat mau masuk ke pelindung terakhir katanya cukup dengan namaku saja yaitu PILAR."
Paman Edsel menceritakan kepada paman Coeli dan Flyied.
Paman Flyied mencari tongkat tersebut dan memeriksanya.
Paman Flyied menemukan ada secarik kertas yang berisi sebuah peta.
Paman Flyied menemui paman Teeran di taman dan berkata,"Tidak ada lagi waktu untuk bersedih. Bantu aku menemukan keturunanku."
Kesedihan paman Edsel
Tiba - tiba paman Teeran berdiri dan berkata,"Edsel."
Mereka langsung berlari ke arah kastil utama.
Saat mereka sampai paman Coeli sedang berlutut kesakitan memegang kepalanya.
Paman Edsel berdiri sekitar 100 meter di depannya.
Paman Flyied membuat kabut di antara mereka.
Paman Teeran memegang bahu paman Coeli membantunya untuk berdiri.
Paman Teeran bertanya,"Di mana Tatra dan Suyira ?"
"Mereka ada di kamar di lantai ini,"kata paman Coeli sedapatnya berbicara karena kepalanya masih sakit.
"Edsel, kendalikan dirimu. Jangan dikendalikannya," kata paman Flyied.
Namun paman Edsel malah berusaha menyerang paman Flyied.
Namun karena tidak tau posisinya yang tepat akibat kabut, paman Flyied tidak terkena serangannya.
Tiba - tiba ada cahaya yang keluar dari salah kamar, Suyira berjalan menuju paman Edsel dan langsung memeluknya.
Paman Edsel terkejut dan akhirnya tersadar.
****
Tubuh paman Edsel melemah. Paman Flyied bertanya,"Dimana posisi mereka ?"
"Mereka sudah sampai ke daratan ini,"kata paman Edsel.
"Istirahatlah,"kata paman Flyied memanggil tetua kastil mereka yang sedang dalam perjalanan menuju ke kastil.
"Aku ikut. Coeli, tolong jaga mereka,"kata paman Teeran menunjuk ke arah paman Edsel dan Suyira.
Paman Teeran berkata ke penjaga,"Jaga anak - anak."
Mereka berdua pergi.
"Rupanya karena itu, aku harus menggendongmu tadi,"kata paman Edsel sambil membalas rangkulan Suyira.
" Kak Eldard yang bilang,"kata Suyira tersenyum.
__ADS_1
Paman Edsel memandang temannya,"Coeli, maafkan aku."
"Aku hanya memandang kesedihanku sampai tidak menyadari bahwa hal ini juga berdampak bagimu. Tidak perlu minta maaf untuk keluarga,"kata paman Coeli mendekatinya dan menepuk bahunya.