
"Bagaimana latihannya ?"kata paman Coeli
"Dia mampu menguasai kekuatannya,"kata penjaga Suyira
"Baguslah. Lusa persiapkanlah perpindahannya,"kata paman Coeli
"Baiklah,"kata penjaga terlihat lesu
"Kau menyayangi, iya khan,"kata paman Coeli
"Kurasa itu tidak perlu dipertanyakan lagi,"kata penjaga itu
"Sifatnya sama seperti ibunya. Siapa yang tidak menyayanginya. Dia sangat mudah untuk dicintai,"kata paman Coeli
Penjaga itu hanya diam dan berlalu.
****
"Kak, ini untukku khan,"kata Celli sambil membujuk
"Ini bukan untukmu. Ini untuk Suyira,"kata Luxi
Celli mulai merengek
"Jangan nangis. Suyira akan ke kastil Bumi sebentar lagi jadi ini untuknya. Kakak bisa membuatkan untukmu nanti dan banyak,"kata Luxi
Celli berhenti merengek.
"Kak Suyira akan ke kastil Bumi lagi. Kenapa tidak tinggal di sini ?"kata Celli sedih
"Karena Celli selalu rewel jadi kak Suyira pergi,"kata Luxi berbicara sesukanya.
"Benarkah ?"kata Celli yang mulai mau menangis
"Iya,"kata Luxi asal jawab
Celli menangis sejadi - jadinya dan kencang.
Luxi berusaha mendiamkannya.
"Celli, kakak tadi bercanda. Ayolah Celli diam yaa,"kata Luxi mulai kebingungan
Celli tetap menangis
Penjaga menghampiri mereka.
"Ada apa ini ?"kata paman penjaga
"Celli menangis karena aku bilang gara - gara Celli sering rewel karena itu Suyira pergi,"kata Luxi sambil menunduk
"Kenapa kau mengatakan hal itu ?"kata paman penjaga
"Celli terus menggangguku. Aku harus segera menyelesaikan ini,"kata Luxi
Paman penjaga menggendong Celli dan membawanya ke dalam kastil utama.
Bibi Sellen melihat Celli yang digendong.
"Ada apa ini ?"kata bibi Sellen
Penjaga itu menceritakan semuanya.
"Celli, kakakmu tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Bukan karena Celli, kak Suyira ke kastil Bumi. Itu tidak benar,"kata bibi Sellen
Celli menarik ingus yang hampir keluar dari hidungnya dan mengusap air matanya.
"Benarkah ?"kata Celli dengan suara serak
"Iya. Itu yang sebenarnya,"kata bibi Sellen
"Lalu kenapa kakak ?"kata Celli
"Kakakmu hanya asal bicara,"kata bibi Sellen
"Ohh sama seperti ayah kalau lagi bercanda,"kata Celli
"Iya. Dia hanya ingin bercanda denganmu,"kata bibi Sellen tersenyum ke arah Celli
****
Celli malam itu berjalan mengendap - endap menuju ke salah satu kamar.
Celli takjub melihat kamar tersebut.
Ada lukisan latar belakang seorang wanita berambut panjang bewarna keperakan yang memegang petir bewarna biru gelap di dinding kamarnya.
Tempat tidurnya terbuat dari ranting dahan pohon. Daun dan bunganya masih ada di ranting tersebut. Alas tempat tidur terbuat dari kain linen.
__ADS_1
Di sebelah tempat tidur ada meja kecil.
Di atas meja ada tiga jenis lampu yang terdapat dalam wadah tertutup satu sama sepertinya yaitu kilat yang lainnya kunang - kunang dan api.
"Kak, lagi ngapain ?"kata Celli melihat Suyira yang lagi menatap ke luar jendela.
"Celli,"kata Suyira terkejut
"Iya kak. Celli boleh tidur di sini,"kata Celli
"Boleh,"kata Suyira
"Kamar kakak indah,"kata Celli sambil memandang sekeliling sekali lagi
"Celli boleh menempatinya saat kakak pulang ke kastil Bumi,"kata Suyira
"Tidak. Ini tetap tempat kakak. Jadi kalau kakak kembali ke sini. Kakak bisa tidur di sini,"kata Celli tersenyum
Suyira kembali tersenyum ke arahnya.
****
"Bagaimana sudah siap ?"kata paman Coeli
"Persiapan sudah selesai,"kata penjaga
"Berhati - hatilah. Kita tidak tau kapan musuh datang menyerang,"kata paman Coeli
Bibi Sellen menemui mereka yang sedang rapat di sebuah ruangan kecil di lantai bawah.
"Suyira sudah siap,"kata bibi Sellen
"Baiklah. Ayo berangkat,"kata paman Coeli
****
Luxi mendekati Suyira yang sedang duduk di taman.
"Ini untukmu. Supaya jika kau merindukan tempat ini kau bisa melihat ini,"kata Luxi
Luxi menyerahkan wadah berbentuk guci transparan yang didalamnya ada pohon kecil bersalju yang di sekelilingnya ada petir menyambar.
"Wow. Indah sekali kak,"kata Suyira langsung memeluknya.
"Apakah kau takut ?"kata Luxi melihat Suyira melipat tangannya berulang ulang kali.
"Kelihatan ya kak,"kata Suyira berbisik
"Kakak ... ini untukmu,"kata Celli malu - malu.
Celli membuat gelang dari ranting kecil yang berasal dari pohon Fog fog. Saat gelang itu dipakai ke tangan Suyira. Ranting itu seolah -olah mengikuti ukuran tangan Suyira dan warna berubah menjadi kuning keemasan.
"Indahnya,"kata Suyira
Celli terlihat senang dengan pujian yang diberikan Suyira.
****
"Bagaimana kondisi di pelindung terakhir ?"kata pamam Coeli.
"Aman,"kata penjaga yang disamping paman.
Saat mereka sampai di pelindung ketiga. Penjaga biara menemani perjalanan mereka seperti biasa.
"Bagaimana perjalanan kami ke sana ?"kata paman Coeli meminta pendapatnya.
"Perjalanan ini tidak perlu kau cemaskan. Perjalanan sesudah ini yang harus kau cemaskan,"kata penjaga pintu gerbang kastil biara penuh arti.
Mereka melewati sampai pelindung pertama dengan mulus.
Mereka berjalan pelan - pelan seperti biasa menutupi seluruh tubuhnya dengan jubah putih.
Suyira digendong oleh salah satu penjaga.
Suyira tidak bisa tidur selama perjalanan karena mengingat perjalanan mereka yang terakhir waktu itu.
Suyira melewati lokasi dimana musuh menyerangnya.
Hal ini terlihat jelas karena masih ada petir yang menyambar di daerah itu.
Suyira langsung memusatkan pikirannya dan petir itu pun memghilang.
"Apakah Suyira tidak bisa tidur ?"kata paman penjaga
Suyira mengganggukkan kepala.
Mereka sudah melewati wilayah kastil Langit menuju wilayah kastil Ariel.
__ADS_1
Saat mereka melewati wilayah tersebut, paman Eldard mendampingi mereka.
"Bagaimana kondisinya ?"kata paman Eldard
"Belum tidur sejak kemarin,"kata paman Coeli kesal
"Sudah dibujuk ?"kata paman Eldard
"Sudah,"kata paman Coeli merasa menyesal.
"Boleh, aku memberikannya semacam ramuan ... ,"kata paman Eldard belum menyelesaikan perkataannya langsung ditimpali penjaga yang menggendong Suyira
"Silahkan,"kata penjaga itu
Paman Eldard mendekat ke arah Suyira. Sementara Suyira sudah setengah sadar.
"Ahh paman ada di sini,"kata Suyira setengah tidur
"Kenapa putri tidur tidak mau tidur ?"kata paman Eldard
"Belum mengantuk,"kata Suyira berbohong
"Ini .. minumlah supaya tidak mengantuk,"kata paman Eldard
Suyira meminumnya dan akhirnya tertidur.
Paman Eldard memberikan ramuan di setiap minuman mereka.
"Minumanlah supaya kalian tetap kuat sampai di kastil Bumi,"kata paman Eldard
"Terima kasih,"kata penjaga itu
"Sama - sama,"kata paman Eldard
Paman Eldard mendampingi mereka sampai pelindung pertama kastil Bumi.
Mereka datang dari utara kastil Bumi melewati pesisir pantai.
"Tidak mampir ?"kata paman Coeli
"Masih ada yang harus diurus. Mungkin besok,"kata paman Eldard
"Oke. Berhati - hatilah,"kata paman Coeli
Paman Teeran langsung menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaannya ?"kata paman Teeran
"Masih tertidur,"kata paman Coeli
"Dia hampir menahan tidur sepanjang jalan,"kata penjaga yang menggendongnya.
Paman Teeran terkejut namun akhirnya memahami situasinya.
****
Bibi Ariel langsung menggendong Suyira dan meletakkannya di kamar.
Penjaga yang menggendongnya mengikuti bibi Ariel sampai ke kamar Suyira.
"Dia sepertinya diberikan air penenang,"kata bibi Ariel
"Iya. Paman Eldard terpaksa memberinya karena dia tidak tidur sehari semalam,"kata penjaga itu
"Oh begitu. Sebaiknya kalian juga istirahat selama perjalanan kalian juga tidak istirahat,"kata bibi Ariel
"Sebaiknya aku menjaganya di luar,"kata penjaga bersikeras
"Kau tidak mempercayai kami,"kata bibi Ariel
"Tidak. Bukan begitu,"kata penjaga merasa tidak enak
"Istirahatlah. Perjalanan kalian masih berlanjut nanti,"kata bibi Ariel lebih bersikeras
"Baiklah,"kata penjaga akhirnya menyerah.
****
"Apakah kau dapat ramalan dari penjaga kastil Biara ?" kata paman Teeran
"Dapat,"kata paman Coeli
"Apa katanya ?"kata paman Teeran curiga
"Perjalanan kami pulang akan menemui rintangan,"kata paman Coeli
"Jadi, bagaimana ?"kata paman Teeran
__ADS_1
"Tadi sudah kuhubungi Sellen untuk mengawasi kami dan Eldard akan menemani kami saat melewati kastilnya,"kata paman Coeli
"Berhati - hatilah,"kata paman Teeran