
Suara petir kecil menyambar ke salah satu padang rumput kastil Langit tepatnya di pelindung keempat.
Biasanya petir itu memberitahukan kabar buruk sehingga semua penghuni kastil Langit berkumpul di batas pelindung keempat.
Berdiri seorang ibu sambil memegang tangan anak perempuannya.
Ibu tersebut terlihat cemas.
"Ibu siapa yang di tandu itu,"kata anak perempuan itu
"Jangan.. jangan .. bukan dia.. bukan dia,"kata ibunya sambil menghampiri tandu itu.
"TIDAKKKKK....,"teriak ibunya sambil menangis. Saat melihat suaminya yang terbaring di situ. Salah satu perempuan lain memegang tubuhnya yang sudah lemas.
"Ibu ....,"teriak anaknya mau menghampiri ibunya namun dihentikan salah seorang ibu lainnya.
Paman Stew hanya bisa menundukkan kepala.
****
"Bagaimana keadaanmu ?"kata bibi Sellen sambil memeluk paman Coeli
"Aku baik - baik saja,"kata paman Coeli dengan nada sedih
"Aku sudah mendengarnya,"kata bibi Sellen
Paman Coeli terdiam dan bergerak ke salah satu ruang kecil dan sempit.
Paman Coeli memandang salah satu pigura foto yang terpajang di ruangan itu dan menangis di situ.
****
Satu tahun berlalu
"Ini sudah saatnya. Apakah kau dengar perkataanku ?"kata paman Teeran menggunakan telapati pikirannya terhadap paman Coeli
"Iya. Aku tau. Saat ini akhirnya datang juga,"kata paman Coeli
"Bersiap - siaplah. Hati - hati,"kata paman Teeran
"Siapa yang sudah datang ?"kata paman Coeli
"Hanya kau dan Flyied yang belum datang,"kata paman Teeran.
****
Sebulan lalu
"Suyira tunggguu,"kata Tatra ngosngos-an mengejar Suyira
"Ah.. benarkan.. ada anak selain kita yang bermain di pantai ini selama ini,"kata Suyira puas
Anak perempuan yang sebaya dengan Suyira sangat terkejut mendengar suara Suyira.
"Ehh jangan lari. Bermainlah bersama kami,"kata Suyira
"Tapi ibu bilang yang boleh bermain ke sini hanya kau dan kak Tatra,"kata anak perempuan itu
"Siapa bilang semua orang berhak bermain di sini,"kata Tatra gusar
"Perkenalkan namaku Suyira,"kata Suyira langsung menjabat tangannya
"Namaku Arey,"kata Arey bingung dengan keramahan Suyira
"Ayok bermain,"kata Suyira langsung memegang tangannya dan mengajaknya ke tepi pantai.
__ADS_1
****
"Selamat datang, sobat,"kata paman Teeran memeluk paman Flyied
"Bagaimana perjalananmu ?"kata paman Teeran
"Aman. Bagaimana dengan Coeli ?"kata paman Flyied
"Masih dalam perjalanan,"kata paman Teeran kelihatan sedikit cemas
"Kemana yang lain ?"kata paman Flyied
"Mereka ada yang di ruang makan, taman, kamar tidur dan pantai,"kata paman Teeran
"Seperti rumah sendiri,"kata paman Flyied
"Yaa.. rumah sendiri,"kata paman Teeran sambil tersenyum
*****
Sehari Kemudian
"Coeli, akhirnya kau datang juga,"kata paman Teeran terlihat lega
"Iya,"kata paman Coeli seadanya
"Ada apa dengan nada bicaramu ? Apakah terjadi sesuatu ?"kata paman Teeran
Tiba - tiba ada langkah kaki anak kecil mendekati paman Teeran.
"Paman, Apakah paman adalah pamannya Suyira ?"kata anak perempuan yang memiliki mata besar yang berdiri di dekat rombongan paman Coeli
****
"Aku tidak punya pilihan lain. Dia merengek ingin ikut kemana pun Stew pergi. Ayahnya setahun lalu meninggal dan ibunya kurang sehat sampai sekarang,"kata paman Coeli mengucapkannya menggunakan pikiran juga
"Apakah kau tau dampaknya jika ibunya tau ?"kata paman Teeran
"Aku sudah menerima akibatnya,"kata paman Coeli
****
"Iya. Paman adalah paman Suyira.Siapa nama gadis cantik ini ?" kata paman Teeran
"Namaku littlestar,"kata littlestar tersenyum malu - malu karena dipuji
"Nama yang indah,"kata paman Teeran
"Paman, boleh ketemu Suyira ?"kata littlestar
"Boleh. Tentu saja. Paman ini yang akan mengantarkanmu,"kata paman Teeran menunjuk salah satu penjaga kastil Bumi yang berada di dekat mereka.
****
"Maafkan aku. Sudah merepotkanmu,"kata paman Stew
"Dia tidak merepotkanku. Hanya mencemaskan perjalanannya nanti pada saat pulang,"kata paman Teeran
Paman Stew terkejut
"Maafkan kelancanganku,"kata paman Teeran merasa bersalah
"Tidak. Kau benar. Itu juga yang kupikirkan. Dia adalah satu - satunya peninggalan temanku,"kata paman Stew
"Semoga semua hal yang jahat menjauh dari kita,"kata paman Teeran
__ADS_1
Semua penjaga yang mendengar itu menjawab hal yang sama,"Amin."
****
"Istirahatlah. Pertemuan kita dimulai besok,"kata paman Teeran
"Baiklah. Tapi aku ingin bertemu dulu dengan keponakanku,"kata paman Coeli
"Sebaiknya kau mengambil daftar antri,"kata paman Teeran
"Apakah sebanyak itu ?"kata paman Coeli
Paman Teeran hanya menganggukkan kepala.
****
"Hello .. Apa kabar dengan putriku hari ini ?"kata paman Firye langsung menggendongnya.
"Baik, papa,"kata Suyira tersenyum
"Kakakkk...,"teriak littlestar sambil berlari ke arah Suyira
Suyira menoleh ke arah sumber suara
Suyira langsung turun dari gendongan paman Firye dan menghampiri littlestar.
"Littlestar .. main ke sini,"kata Suyira tidak percaya dan senang.
"Dimana bibi ? Tidak ikutnya ? Padahal aku ingin mencicipi kue yang dibuat bibi"kata Suyira mencari - cari di belakang littlestar
"Ibu sakit. Katanya karena ayah tidak akan pulang lagi,"kata littlestar sedih.
Suyira langsung memeluk littlestar dan menepuk - nepuk punggungnya karena dia sudah tau artinya dari kalimat itu.
"Jadi, datang dengan siapa ?"kata Suyira
"Paman Stew, paman Coeli dan rombongan,"kata littlestar
"Ayo.. kuperkenalkan dengan kak Tatra dan teman baruku disini,"kata Suyira sambil memegang tangan littlestar
****
"Suyira ...,"kata paman Coeli
"Paman.. paman datang juga,"kata Suyira senang
"Iya. Tentu saja,"kata paman Coeli
"Papa tadi datang juga. Semenjak disini setiap hari papa mengunjungiku,"kata Suyira
"Dia sangat sayang pada Suyira,"kata paman Coeli
"Saking sayangnya kurasa pertemuan ini akan alot,"benak paman Coeli.
"Paman Firye, paman Eldard, paman Edsel, paman Fordd, paman Flyied dan paman satunya lagi.. namanya ... ma... mantri,"kata Suyira bingung
Paman Coeli tertawa.
"Bukan mantri tetapi perdana mentri,"kata paman Coeli
"Ahh ... itu benar," kata Suyira malu
****
"Rapat kita akan diadakan pukul 10.00 di tempat terakhir kita bertemu. Edsel tolong sampaikan pada perdana mentri,"kata paman Teeran menggunakan pikirannya terhadap paman Edsel, paman Eldard, paman Firye, paman Flyied, paman Fordd dan paman Coeli
__ADS_1