
Suyira memilih untuk bertahan.
Dia menggunakan kekuatan untuk membelah tanah menjadi dua sehingga menciptakan jarak dengan musuh.
Dia menciptakan kabut hitam pekat sehingga tidak terlihat oleh musuh.
Dia berkonsentrasi untuk merapalkan mantra dan menutup pelindung pertama.
Saat usahanya berhasil, musuh juga berhasil menemukannya.
Musuh melemparkan panah - panah beracun ke arahnya dan Suyira berhasil menghindar.
Suyira membalas dengan melemparkan batu - batu besar disekitarnya ke arah mereka.
Mereka berhasil menghindarinya dengan membangun pelindung dari tanah.
Mereka menggunakan akar- akar pohon untuk memperpendek jarak dengannya. Salah satu dari mereka mengalihkan perhatian dengan melemparkan panah dalam jumlah yang banyak dan menyiramkan api ke arahnya.
Suyira berhasil menghindari panah dan membuat ranting - ranting pohon memukul tubuh musuh itu. Musuh berusah untuk menghindar. Suyira membelit tubuhnya sangat kuat dengan akar pohon.
Pada saat itu, dua orang musuh sudah mendekat ke arahnya, mereka menggunakan pedang.
Salah satu menyibukkan Suyira sedangkan yang lain menyerangnya dengan pedang.
Bahu Suyira terkena pedang itu, tiba - tiba tubuhnya melemah.
****
Aretra disibukkan dengan tiga orang musuh juga.
Aretra menyerang dengan melemparkan batu - batu panas ke arah mereka.
Mereka membalas dengan menyiramkan api ke arahnya. Aretra menghindar dengan membuat perisai dari es.
Panah - panah es dilemparkan Aretra ke arah mereka. Salah satu dari mereka terkena.
Es tersebut larut dalam tubuhnya sehingga membuat tubuhnya mati rasa.
Temannya geram dan membalas Aretra dengan mengirimkan angin ****** beliung panas ke arahnya.
Aretra tidak bisa menghindar karena dia harus berkutat dengan musuh yang lainnya yang melawan secara langsung.
Aretra dan musuhnya tadi yang sedang berkelahi terkena hawa panas.
Musuhnya itu tubuhnya melepuh seluruhnya sedangkan tangan dan kaki kiri Aretra melepuh.
"Akhhhh...,"teriak Aretra
Mereka semua mendengar teriakan Aretra tetapi tidak bisa membantu.
****
Rory marah besar.
Dia membuat panah - panah dari es dalam jumlah yang besar. Dia membuat cambuk dari air. Musuh berusaha menghindar.
Musuh menggunakan kekuatan udara dengan membuat kabut. Namun, Rory menciptakan hujan sehingga musuh dapat terlihat.
Rory berhasil mengikat kaki mereka dan menghempaskan tubuhnya berulang - ulang.
Ketiga temannya yang menyaksikan hal itu marah. Mereka menyerang bersamaan.
Mereka membuat panah - panah dari api dan dilemparkan ke arahnya. Rory membuat dinding air.
Namun, panah - panah itu bisa melewatinya sementara itu akar - akar pohon berhasil mengikat kakinya.
Saat Rory berusaha melepas ikatan dengan membuat pisau dari air, panah - panah dari api itu mengenai tubuhnya. Dia merintih kesakitan.
****
Rerast berlari sekuat tenaga saat Flay mulai berlari.
Dia menuju ke arah kabut beracun yang dibuat oleh Arel.
Salah satu musuh terdesak dan tertinggal di kabut tersebut.
Salah satu musuh yang lain mendekatinya.
Musuh itu melemparkan semua benda padat ke arahnya.
Rerast menyemburkan api dari mulutnya sehingga membuat benda padat tadi melebur.
Rerast menyemburkan api biru yang panjang ke arahnya.
Musuh itu berhasil menghindarinya dengan membuat perisai dari tanah.
Namun, api biru itu terus menyala dan mengikuti kemanapun dia pergi.
Dia membuat tanah terbelah dua tetapi api biru itu terus menjalar ke arahnya.
Sampai musuh tidak bisa menghindarinya lagi.
Rerast kembali ke tempat Suyira.
****
Celli menghadapi lima musuh.
Musuh menyerang dengan menyemburkan api ke arahnya. Celli berhasil menghindar.
Celli menyerang dengan membuat cambuk panjang dari listrik. Salah satu musuh terkena cambukan listrik.
Melihat hal itu, mereka membuat awan pekat. Namun, Celli dapat melihat mereka dan membalas dengan melemparkan petir ke arah mereka. Dua orang musuh terkena petir itu tepat di dadanya.
Tiba - tiba kaki Celli terikat dengan kekuatan air, kesempatan ini digunakan mereka menyerang dengan batu - batu besar. Celli membelah batu - batu tersebut. Di balik batu itu, ada panah - panah beracun yang dikirim ke arahnya. Tiba - tiba dahan- dahan pohon melindungi Celli.
Air - air itu mengikat sampai ke tubuh dan tangannya sangat erat sehingga membuatnya sesak nafas.
****
Ada suara berbisik ke pikiran Celli
"Kau ingin dilepaskan, bukan ?"kata suara itu
"Iya. Temanku juga,"kata Celli
"Baiklah. Ikutilah aku,"kata suara itu
"Iya,"jawab Celli
Suara itu berbicara dengan musuh Celli dan melepaskannya. Musuhnya itu mengikutinya dari belakang.
Celli bergerak ke arah perbatasan.
****
Rerast melihat hal itu dari jauh dan berteriak.
"Celli, sadarlah. Jangan mengikuti mereka,"teriak Rerast berusaha mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Dua orang musuh yang tadinya berhadapan dengan Rory berbalik berusaha untuk menghentikan Rerast.
Salah satu musuh berusaha melemparkan batu - batu ke arahnya.
Namun, dibakar sampai habis.
Musuh itu mendekatinya dan Rerast membiarkannya.
Saat musuh mau memukulnya, Rerast menyemburkan api langsung ke mukanya.
Musuh kesakitan dan mundur.
Musuh yang lainnya membalas dengan menyemburkan api panas ke arahnya.
Saat Rerast berusaha menghindar.
Tiba - tiba dari belakang ada batu besar terlontar ke arahnya.
Rerast berbalik dan tubuhnya terhimpit batu itu.
****
Saat musuh mendekatinya,
"Lihatlah nasibmu. Menyedihkan,"kata musuh itu tertawa. Musuh itu berusaha membakarnya.
"Maafkan aku,"kata Rerast
Rerast menyemburkan api biru dan terkena ke seluruh tubuh musuhnya.
Api biru loncat dari satu ranting ke ranting lain dan terus membesar.
Semua musuh terkejut dan berusaha menghindar.
****
Celli melewati Rory dan terus melangkah ke depan. Rory melihat hal itu.
Rory berusaha menghindari musuh dengan membuat dinding air yang sangat tinggi mengelilinginya.
Rory duduk untuk menghindari serangan dari luar.
Rory berusaha menyembuhkan luka di bahunya.
Dia tau itu panah itu bukan hanya panas dan beracun.
Namun Rory sudah kehilangan banyak darah.
"Tidak. Tidak boleh pingsan. Aku harus menyelamatkan Celli,"kata Rory berulang - ulang kali.
****
Aretra melihat Celli melewatinya.
Aretra menyiram air penyembuh ke tubuhnya.
Uap panas keluar dari tubuhnya.
Aretra membalas musuh itu dengan membuat panah es dan api dalam jumlah banyak ke arahnya.
Saat musuh disibukkan dengan itu, Aretra mengejar Celli.
Namun, dihalangi oleh musuh yang yang mengikuti Celli.
Dia melempar Aretra dengan angin ****** beliung.
Aretra terhempas ke bebatuan.
****
Suyira marah besar.
Dia mendatangkan badai yang besar ke arah musuh yang melempar Aretra.
Musuh itu terlempar sangat jauh.
****
Musuh yang berhadapan dengan Suyira, tadinya berpikir Suyira sudah kalah jadi terkejut.
"Bukan itu lawanmu. Melainkan aku,"kata musuh
Dia mendekati Suyira lagi namun gagal.
Suyira menciptakan badai yang dahsyat sehingga sulit untuk didekati.
Musuh lainnya berusaha menyemburkan panah api namun gagal.
Panah api tadi terpental ke berbagai arahnya dan akhirnya terkena ke dirinya sendiri.
****
Suyira mengejar Celli.
"Celli sadarlah. Kakak mohon,"teriak Suyira
"Jangan dengarkan. Ikutlah aku,"kata suara yang berbisik itu
Celli diam dan kebingungan.
"Celli. Kau ingat kenangan kita. Kenangan kakak denganmu, Aretra, Rerast, dan kak Flay. Kita berjanji akan selalu bersama dan menjaga satu sama lain,"kata Suyira yang sudah kelelahan untuk bergerak
Tiba - tiba air mata keluar dari pipi Celli tanpa disadarinya
"Kakak,"kata Celli berbalik ke arahnya
Satu - satunya musuh yang mengikuti Celli dari belakang menghunusnya dengan pedang.
Celli jatuh ke tanah saat pedang ditarik kembali.
Suyira menyaksikan hal itu dan marah besar.
Dia menghujani hutan itu dengan petir dari langit.
Petir itu langsung menghabisi musuh yang menghunus Celli tadi.
Suyira menghampiri Celli
"Kak, dingin,"kata Celli
"Tidak, adikku. Kau akan selamat,"kata Suyira.
Suyira memberikan air minum penyembuh satu - satunya ke mulut Celli.
"Kak, aku mau tidur,"kata Celli
"Jangan.. jangan tidur,"kata Suyira pelan.
Padahal Suyira pun sudah mau tertidur.
__ADS_1
Saat musuh yang memberikan luka awal terhadap Suyira mendekat.
Tiba - tiba musuh itu menancapkan pedang ke tubuhnya sendiri.
****
Tatra berlari paling depan dan melihat petir sudah menyambar dari langit.
Api biru menjalar kemana - mana.
Tatra melihat ada batu besar sudah retak dan terbelah menjadi dua bagian.
Dia langsung tergerak ke situ
Aretra mendengar ada langkah kaki mendekat.
"Siapa itu ?"kata Aretra sudah kelelahan dan tergeletak di tanah
Saat sudah sangat dekat. Aretra mendengar langkah kakinya lebih jelas dan mengetahui bahwa itu kakaknya.
"Kak. Ini aku,"kata Aretra
Saat melihat adiknya tergeletak di situ, dia langsung menghampirinya.
"Apa yang terjadi ?"kata Tatra panik
"Kak, tolong selamatkan Celli dan kak Suyira. Mereka mau menyebarang batas perlindungan. Kak, aku sudah mencoba menyelamatkan mereka,"kata Aretra menjelaskan
"Diam. Diamlah. Kakak akan membawamu,"kata Tatra geram
"Eldard, Celli dan Suyira ada di batas perlindungan terakhir,"kata Tatra menggunakan komunikasi telepatinya.
"Kau mau kemana ?"kata Eldast
"Adikku juga diserang. Coba perhatikan sekitar kalian. Mereka adalah penjaga pelindung, jumlah mereka paling tidak lima orang. Melihat kondisi adikku, aku tidak tau dengan yang lainnya,"kata Tatra
"Jika benar. Rerast dan Rory juga,"kata Tommy menggunakan komunikasi telepatinya.
Saat mereka melihat petir yang dahsyat dan tidak berhenti.
"Luxi, Kau ikut denganku,"kata Eldast.
Mereka menuju ke sumber petir.
****
Tommy melihat ada air yang melindungi seseorang di dalamnya.
Dia masuk ke dalamnya dengan mudah karena pengguna kekuatannya sudah melemah.
"Siapa .. siapa itu ?"kata Rory
"Rory .. ini kak Tommy,"kata Tommy
Rory menangis
"Kak, aku sudah mencoba menghentikan Celli tapi aku gagal. Aku sudah mencoba menyembuhkan diriku tapi aku sudah kehilangan banyak darah,"kata Rory menjelaskan
"Sudah ... jangan berbicara lagi. Kakak akan membawamu,"kata Tommy
"Kak.. masih ada satu musuh tadi mengikutiku,"kata Rory
Kemudian ada serangan musuh dari belakang berupa panah - panah tajam.
Namun, Tommy sudah membangun perisai dari tanah liat.
Musuh yang bersembunyi di dahan pohon, tidak menyangka ketika pohon itu mengkhianatinya dengan menusuk tubuhnya dengan ranting.
****
Tarast melangkah bersama Ruyi.
Tarast biasanya selalu menyamakan langkahnya dengan Ruyi.
Namun, mengetahui keadaan ini genting membuatnya jadi tidak sabaran.
"Tarast larilah,"kata Ruyi
Tarast akhirnya berlari.
Melihat batas pelindung pertama, dia sangat terkejut.
Dia menjelajahi tempat itu.
Dia melihatnya terhimpit batu besar.
"Rerast, bertahanlah,"kata Tarast
"Aku yang menyebabkan hutan ini kebakaran,"kata Rerast
"Tidak usah bicara lagi,"kata Tarast tegas
Tarast menyentak tanah sehingga membuat batu yang menindih Rerast terangkat kemudian melemparkannya jauh.
Tarast membawanya pergi.
"Aku duluan,"kata Tarast saat berpapasan dengan Ruyi
Ruyi terkejut melihat kondisi Rerast
****
"Itu mereka,"kata Eldast
Saat dilihatnya dari kejauhan ada musuh yang memcoba menghunuskan pedang ke arah mereka.
Eldast memasuki pikirannya dan membuatnya tampak bunuh diri.
"Bagaimana caranya kita melewati ini ?"kata Eldast
"Aku bisa menerima petir itu. Tapi tidak denganmu,"kata Luxi
"Sialan,"kata Eldast memgumpat untuk pertama kalinya.
Luxi langsung masuk ke dalam daerah yang dihiasi oleh petir itu.
"Kak, kau datang. Selamatkan Celli dulu,"kata Suyira
Luxi merasa senang sekaligus sedih melihat Suyira.
"Mereka terluka parah,"kata Luxi berbicara menggunakan telepatinya
Ruyi akhirnya datang
"Kita harus ke sana. Bisa khan?"kata Eldast
"Bisa,"kata Ruyi
Ruyi membangun kubah dari tanah liat sehingga Luxi bisa menggendong Celli dan Eldast menggendong Suyira.
__ADS_1
Mereka membawanya ke balai pengobatan.