Pasak Bumi

Pasak Bumi
Ketenangan Yang Menghanyutkan


__ADS_3

Eltader kembali ke kastil utama duluan baru disusul Eldast.


Eltader langsung menuju ke kastil utama bersama rombongannya.


Mereka menyantap makanan di kastil utama oleh karena bibi Ruuyist memaksa.


Sebenarnya mereka semua dalam kondisi yang letih dan mau kembali ke kamarnya masing-masing.


Eldast meminta Ibunya mengirimkan makanan ke kamarnya karena dia merasa sangat lelah.



"Bagaimana kabarmu ?"tanya Eltader yang menemui Eldast di kamarnya


"Baik, kak. Benar-benar nyaris tadi,"jawab Eldast


"Bagaimana perjalanan kalian?"tanya Eltader


"Lancar. Hampir saja tidak diajak,"jawab Eldast


"Mereka berdua sama kerasnya. Kurasa hampir seluruhnya,"jawab Eltader melihat sikap Flay tadi.


"Kakak, ingat tidak waktu Rerast berkunjung ke sini ?"kata Eldast


"Iya. Kenapa ?"tanya Eltader


"Dia mau mengubah warna kamar ini lagi jika aku menghalangi mereka tadi,"jawab Eldast sambil menepuk-nepuk kakinya.


Kamar mereka bernuansa biru dan putih.


Bukan hanya kamar, semua ruangan di kastilnya.


Eltader menyukai konsep warna kamar yang ditawarkan oleh bibi Ruuyist dengan mereka yaitu bernuansa biru dan putih.


Di kamar Eltader ada sebuah boneka anjing yang selalu menemaninya tidur.


Boneka anjing itu adalah hadiah yang diberikan oleh kakaknya saat kakaknya belajar di kota Bath.


__ADS_1


Eltader akhirnya tertawa karena kamarnya juga diubah oleh Rerast waktu itu.


"Iya. Tak terbayangkan bagiku jika diumur kita sekarang diberikan warna itu,"jawab Eltader


Rerast pernah marah dengan Eltader dan Eldast karena membuatnya menunggu lama.


Rerast membalas mereka dengan mengubah warna kamar mereka menjadi pink.


Rerast memanggil pelayan di rumahnya untuk membantunya mengecat kamar dan mengganti seluruh interior kamar tersebut.



Mereka jadi kelelahan untuk mengganti kembali warna interior kamar itu.


****


Pagi hari di kastil Elfir,


Perbincangan di meja makan.


"Ayah, aku ingin bermain di kota Bath. Nanti, sopirnya Rerast akan menjemputku,"kata Flay


"Baiklah. Tapi ingat sore pulang lagi ke sini,"jawab paman Flyied


****


Sementara itu,


Ruyi dan Tarast sudah kembali ke rumahnya masing-masing setelah makan malam.


Tarast mencari Ruyi. Tarast menemuinya di hutan di batas pelindung ketiga.


"Kau mau kemana ?"tanya Tarast melihat Ruyi membawa batu yang empat kali lebih besar dari tubuhnya dengan begitu mudah.


"Mau latihan lari,"jawab Ruyi


"Sobat, kau tidak tersinggung karena kata-kataku kemarin khan,"tanya Tarast


"Kau benar. Aku masih terlalu lambat,"jawab Ruyi yang langsung mengambil ancang-ancang menuju ke hutan.

__ADS_1


Tarast hanya bengong dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku temannya.


****


Rerast datang berkunjung pagi-pagi sekali ke rumah peristirahatan Suyira.


Suyira lagi mempersiapkan sarapannya.


"Bagaimana ?"tanya Rerast


"Bagaimana..apanya ?"tanya Suyira balik.


"Isi surat itu,"kata Rerast


"Ohh..itu aku sudah membacanya semalaman,"jawab Suyira


"Terusss,"kata Rerast tidak sabaran


"Isinya adalah lokasi kastil mereka, jumlah pengikut dan daftar nama pengikut beserta kemampuannya masing-masing,"jelas Suyira


"Lalu... apa rencana kita ? Apakah kita perlu ke kastilnya ?"tanya Rerast


"Tidak perlu. Malam ketiga dari hari ini mereka akan menyerang kastil Elfir,"jawab Suyira


"Maksudnya ?"tanya Eldast yang baru saja datang.


"Dia akan menyerang kastil untuk menggulingkan ayahmu,"lanjut Suyira


"Aku harus memberikan peringatan kepada ayahku,"kata Eldast


"Kau harus mengatakan hal ini padanya. Dia berhak tau dan seluruh pemimpin kastil juga berhak tau,"jawab Suyira


Eldast langsung pergi meninggalkan mereka menuju ke kastil utama Elfir.


****


"Tapi bagaimana dengan keberadaanmu. Pasti ketahuan,"tanya Rerast cemas


"Pada akhirnya memang mereka berhak tau. Lagipula musuh bisa saja membuat penghuni kastil Elfir mempercayai kata-katanya. Setelah itu, tinggal tunggu waktu saja...kastil mana yang akan dihancurkan lebih dulu,"jawab Suyira

__ADS_1


"Kau kelihatan tenang saja,"kata Rerast


"Tidak juga. Hanya saja sudah lelah berlari,"jawab Suyira sambil menyesap minumannya.


__ADS_2