Pasak Bumi

Pasak Bumi
Tiupan Bagi Sang Putri Tidur


__ADS_3

"Bagaimana kabarmu?" kata bibi Ariel sambil memeluknya.


Sambil tersenyum perempuan itu menjawab,"Baik."


Sementara itu, bibi Ruuyist -pasangan paman Edsel-hanya tersenyum ke arah bibi Robben.


Mereka adalah sahabat saat berada di biara, bibi Ariel, bibi Robben, bibi Ruuyist, Langit dan pasangan paman Coeli.


Mereka memilih jalan untuk menjadi seorang pejuang.


Ikatan mereka kuat sehingga mereka mampu berbicara hanya menggunakan pikiran.


Mereka pernah menjaga pelindung terakhir untuk seluruh kastil.


Awalnya tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali pemimpin kastil Elfir karena kastil Elfir yang memiliki hak menentukan pelindung terakhir mereka.


Jubah berwana hitam dengan pinggiran keemasan adalah ciri pelindung mereka.


Namun kenyataannya dalam pertempuran mereka pernah hampir kehilangan nyawanya dan identitas mereka diketahui musuh sehingga mereka meninggalkan tugas menjadi pelindung.


****


Hal ini terjadi lima tahun lalu.


Ada seorang wanita bersama anak perempuannya berusaha melintasi pelindung terakhir.


Namun mereka tidak bisa melintasi.


Ada perdebatan di antara mereka untuk membiarkan mereka masuk secara bersamaan atau satu persatu untuk melihat apakah pelindung memberikan penolakannya kepada mereka berdua atau salah satunya saja.


Namun anehnya, sang ibu bisa masuk namun sang anak tidak bisa masuk.


Saat ibunya masuk ke dalam pelindung berusaha meminta tolong kepada mereka untuk memberikan ijin anaknya untuk masuk.


"Anakku... anakku.. kumohon padamu," kata sang ibu berulang-ulang kali.


Tidak ada hal lain yang bisa diucapkannya.


Hal ini membuat mereka melemahkan pertahanan pelindung sehingga anak perempuan tersebut masuk ke dalam.


Akan tetapi bukannya ibunya mendekat hanya diam tidak bergeming.


Hal ini tentu saja membuat bibi Ruuyist menyadari bahwa sang ibu telah dipengaruhi pikirannya.


Namun hal itu sangat terlambat.


Anak perempuan itu ternyata wanita bertubuh kecil yang langsung menyerang Langit. Langit akhirnya mengalahkan wanita yang bertubuh kecil itu.


Dan tiba-tiba musuh sudah datang dari berbagai penjuru.


Mereka berkomunikasi menggunakan pikirannya. "Seelen, sembuhkan pikiran wanita itu dan tanyakan dimana anaknya sekarang ?" kata Langit.


"Langit, halangi mereka," kata bibi Ruuyist.


Bibi Ruuyist berusaha memperbaiki pertahanan pelindung.


Saat wanita itu tersadar, dia mengatakan anaknya bersama laki-laki itu.


Seelen menyuruh wanita itu bersembunyi dan dia mengejar laki-laki itu.


Sementara pertahanan sudah diperbaiki, kondisi Langit sudah kewalahan melawan banyak musuh.


Walaupun, dibantu oleh bibi Ruuyist dan bibi Seelen. Ibu dan anak berusaha berlari dan memasuki pelindung keempat.


Hal ini membuat penjaga pelindung keempat masuk ke dalam pelindung kelima untuk menolong mereka.


Bibi Robben bersembunyi di balik pohon, hampir saja membawa ingatan temannya pergi dan menanamnya ke tanah.


Hal ini membuat mereka memutuskan untuk mundur dari tugas sebagai penjaga pelindung.


Sampai mereka menemukan tujuan lain hidupnya yaitu menikah.


Mereka tetap berkomunikasi sampai saat ini.


****


"Bisakah kita berbicara tetapi bukan disini."kata bibi Robben mengungkapkan melalui pikirannya.


"Kita berbicara di kubah saja. Barusan Suyira dan Tatra kuajak ke sana,"kata bibi Ariel.


Saat sampai di kubah, bibi Ruuyist mengagumi kubah tersebut karena ini pertama kalinya dia diajak ke tempat itu.


"Ekspresimu sama dengan Suyira,"kata bibi Ariel.


Bibi Ruuyist hanya tersenyum.


"Baiklah, ada apa temanku?" kata bibi Ariel sambil menatap ke arah bibi Robben.


Bibi Robben memegang tangan kedua temannya dan bibi Ruuyist sudah tau tugasnya.


****

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam kenangan bibi Robben.


Kilasan kenangan bibi Robben saat bertemu dengan bibi Seelen sehari sebelum bibi Seelen tidak sadarkan diri sampai sekarang.


"Robben, besok datanglah ke kaki bukit hutan Dark Forest di dekat pinggir sungai.


Lihatlah ke arah Langit."kata bibi Seelen.


"Ada apa, Seelen ?"kata bibi Robben.


"Aku melihat gambaran masa depanku sendiri. Masa depanku terlihat samar-samar. Datanglah. Jangan sampai tidak datang," kata bibi Seelen cemas.


Melihat kecemasannya, bibi Robben mengiyakan dan bibi Seelen terlihat lega.


Kemudian mereka terlempar ke kilasan selanjutnya.


Saat bibi Robben menepati janjinya.


Saat matahari sudah terbenam, dia sudah datang.


Menit berganti jam, hampir empat jam menunggu, tiba-tiba dari langit ada sosok tubuh yang jatuh.


Bibi Robben terkejut saat yang dilihatnya adalah tubuh temannya jatuh ke dalam sungai.


Bibi Robben langsung menghampirinya dan mengobatinya.


Saat ada langkah orang mendekat dan dilihatnya lambang pemilik kastil Langit, bibi Robben menjauh.


Mereka terlempar ke kilasan ingatan yang masih baru, saat tubuh Langit sudah lemah dan tidak dapat bergerak.


Bibi Robben mendekat dan Langit tersenyum ke arahnya.


"Temanku, akhirnya kau datang juga," kata Langit sambil terbata-bata.


"Apa yang harus kulakukan... Katakanlah ... Bagaimana caraku menyembuhkanmu..," kata bibi Robben sedih.


"Kau tau ... Maafkan aku..,"kata Langit terhadapnya.


Bibi Robben meletakkan kepala Langit dipangkuannya.


Akhirnya Langit berkata untuk terakhir kalinya,"Tolong lindungilah putriku. Bangunkan putri tidur."


****


Setelah itu, bibi Ruuyist melepaskan ikatan dan memandang ke arah luar sedangkan bibi Ariel menangis dalam diam.


Mereka mempunyai waktu setengah jam untuk menenangkan diri.


"Sebenarnya saat memikirkannya, entah ini bisa atau tidak, bagaimana jika kita pertemukan Suyira dengannya sambil membawa ini," kata bibi Robben menunjukkan cangkang udara kecil.


"Hal ini bisa saja berhasil,"kata bibi Ariel.


"Yakinkan Teeran untuk menyetujui hal ini,"kata bibi Ruuyist.


****


Pagi yang sama di kastil Bumi namun bibi Ariel memiliki tujuan lain hari ini.


Bibi Ariel mengajak paman Teeran berjalan-jalan di tepi pantai.


Sejuknya udara, bunyi riuh deburan ombak membuat suasana tampak melegakan bagi paman Teeran setelah menyelesaikan berbagai tugas di luar kastil utama mereka.


"Bagaimana suasana hatimu?"kata bibi Ariel.


Paman Teeran terkejut dengan pertanyaan bibi Ariel.


"Sebenarnya tadi sangat menyenangkan bisa berjalan bersamamu tanpa harus ada yang dikhawatirkan"kata paman Teeran bingung.


Bibi Ariel tidak menggubris makna perkataan paman Teeran malah terus berkata,"Ada yang ingin kuminta darimu ?"


"Baiklah, apa yang ingin kau minta?"kata paman Teeran penasaran.


"Maukah dirimu membantu pemulihan Seelen ?" kata bibi Ariel.


"Tentu saja,"kata paman Teeran bertambah heran.


"Kalau begitu, biarkan Seelan bertemu dengan Suyira,"kata bibi Ariel.


Paman Teeran tampak tidak bergeming dan berpikir keras.


Akhirnya bertanya,"Apa yang membuatmu Suyira mampu menyembuhkan Seelen?"kata paman Teeran.


"Sebenarnya, kita sudah tau Seelen sudah lama sembuh ... yaaa..fisiknya .. lalu kenapa dia tidak mau bangun...rasa bersalah...lagipula...,"kata bibi Ariel hampir membuka rahasia mereka.


Namun paman Teeran sudah penasaran dan bibi tau kesalahan tidak bisa ditarik lagi.


"Lagipula itu adalah harapan terakhir dari Langit,"kata bibi Ariel.


Bibi Ariel menceritakan semuanya kepada paman Teeran.


Paman Teeran adalah tipikal orang yang lebih mengutamakan keluarga inti dibandingkan yang lainnya namun karena tanggung jawabnya sekarang sebagai pemilik kastil bumi membuatnya lebih mempertimbangkan segala hal.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan mengirim Suyira ke kastil Langit,"kata paman Teeran.


Bibi Ariel terkejut dengan jawaban paman yang menyetujui langsung.


Padahal paman Teeran melakukannya karena merasakan bahwa pelindung belum memberikan kekuasaan penuh baginya karena itu ada baiknya Suyira tinggal sementara dengan pamannya yang lain.


****


Paman Coeli mendapatkan kabar bahwa Suyira datang ke kastilnya sangat bingung. Namun, tidak bagi putranya kedatangan Suyira sangat membuatnya senang.


Paman Teeran bersama bibi Ariel mengantarkan langsung Suyira ke sana.


Paman Coeli hanya mencemaskan kenyamanan Suyira di tempat yang hampir tidak pernah terlihat matahari muncul.


Biara menutupi sinarnya dari kastil mereka.


Tempat mereka selalu bersalju dan dingin. Hanya ada satu taman yang tampak hijau dan biasanya selalu menyebarkan kehangatan di kastil tersebut.


Namun, kastil sekarang lebih dingin dari biasanya.


Paman Coeli takut Suyira tidak tahan dengan cuacanya.


Namun, paman juga tidak mungkin menolaknya apalagi jika ini terkait keselamatan keponakannya.


Saat datang, Suyira tiba-tiba memeluk paman Coeli.


Namun paman Coeli, seperti biasanya sulit menanggapi pelukan tersebut.


Paman Coeli adalah orang yang paling sulit menunjukkan emosinya.


Berbeda halnya dengan paman Teeran yang langsung menunjukkan emosinya.


"Apa kabar, paman?"kata Suyira.


Paman hanya menganggukkan kepala.


"Bolehkah, bertemu dengan bibi,"kata Suyira menatapnya.


Paman Coeli menganggukkan kepala lagi. Suyira diajak putranya untuk menemui bibi.


Kastil utama mereka seperti menara yang menjulang tinggi.


Terbuat dari batu marmer berwarna silver. Untuk menuju ke kamar bibi Sellen mereka menaiki anak tangga yang melingkar yang ditengah-tengahnya terdapat pilar besar.


Kamar bibi Sellen sangat luas namun hanya ada satu tempat tidur dan kursi yang menghadap ke arahnya.


Tidak ada yang lainnya.


Bibi Sellen terlihat sangat rapuh. Suyira mendekatinya dan memegang tangannya yang dingin.


Suyira berkata,"Bibi, bangunlah. Ini Suyira. Anaknya Pasak Bumi dan Langit. Ibu berkata bibi harus bangun sekarang."


Melihat tidak ada reaksinya, Suyira mengeluarkan keong kecil yang bisa menghembuskan udara di dalamnya dan terdengar menjadi siulan.


Suyira meniupkan sekali dan bibi mengeluarkan air mata namun tetap tidak bergerak.


Namun saat Suyira membuat siulan sampai dua kali, bibi memberikan reaksi. Tiba-tiba tangan yang digenggamannya bergerak perlahan-lahan dan matanya terbuka.


Kilasan masa lalu


"Ini .. kuberikan padamu," kata bibi Sellen.


"Untuk apa?"kata Langit.


"Ini adalah alat komunikasi kastilku namun alat ini langka hanya ada 5. Jika nanti kau ingin memanggilku cukup bunyikan sekali dan jika kau butuh bantuanku bunyikan dua kali,"kata bibi Sellen.


"Benarkah?"kata Langit.


Bibi Sellen tersinggung dan berkata,"Benar, alat ini bagus dan terbaik."


Langit menggelengkan kepalanya dan berkata,"Bukan itu, Apakah benar kau akan datang menolongku?"


Bibi Sellen beranjak pergi dan marah karena keraguan Langit atas persahabatan mereka.


Masa Sekarang


Saat melihat sekelilingnya, matanya tertegun memandang Suyira.


Hanya diam.


Bibi Sellen tiba-tiba bangkit dan memeluk Suyira lalu menangis sejadi-jadinya.


Luxi senang melihat ibunya bangun dan langsung memanggil ayahnya.


Langit langsung naik ke atas dan terkejut melihat bibi Sellen bangun dan menangis di pelukan Suyira.


Saat Langit ingin berbalik dan meninggalkan ruangan itu, tangan paman Teeran memegang bahunya dan berkata,"Jangan menghindar."


Langit hanya berdiri tegak melihat pemandangan tersebut hampir setengah jam.


Sampai akhirnya bibi Sellen memperhatikan sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2