Pasak Bumi

Pasak Bumi
Kastil Arial Nuch


__ADS_3

Suyira sudah melewati pelindung terakhir kastil bumi.


Suyira berjalan sambil menangis karena merasa bersalah mengajak kakaknya ke air terjun.


Tiba - tiba ada suara dipikiran Suyira yang mengatakan Suyira harus berhenti menangis dan memberikan tanda di setiap perjalanannya.


Suyira mematuhinya.


Suyira melihat ada pohom mint dan membuat tanda dengan cara menyebarkan kelopak daun mint disepanjang jalan yang dilewati.


Mereka akhirnya sampai di tepi pantai.


Paman Arol berdiri di tepi pantai, tiba - tiba laut terbelah menjadi dua bagian dan muncul kuda laut dari bawah lautan.


Paman Arol dan Tatra duduk di punggung kuda laut tersebut. Mereka menyeberang ke sebuah pulau yang terletak di tengah - tengah lautan.


Suyira panik tidak bisa mengikuti mereka.


Suyira memohon dalam hatinya agar ada yang bisa membantunya karena Suyira sudah jauh tertinggal.


Tiba - tiba muncul ikan pari raksasa dari dalam lautan.


Awalnya Suyira agak ragu namun akhirmya menaikinya.


Ikan pari tersebut bergerak sangat cepat dan sehingga mereka sudah bisa menyeberang lautan.


Saat sudah mendekati daratan, ikan pari itu melambat.


Ikan pari menurunkan Suyira di atas batu karang.


Suyira melihat dari kejauhan ada kuda laut yang mendekat ke arahnya dan ada orang yang duduk di atasnya.


"Apa yang kau lakukan disini ?" kata perempuan itu.


"Mau menuju ke sana,"kata Suyira. Suyira menunjuk sebuah kastil yang berada di atas air.


"Siapa namamu ? " kata perempuan itu.


"Suyira,"kata Suyira.


"Mau bertemu siapa ?" kata perempuan itu sambil menunjuk ke arah pelindung ke arah kastil utama.


"Kakakku, Tatra,"kata Suyira.


Di tepian laut, sudah menunggu kuda yang ditambatkan di pohon. Ternyata kuda itu adalah milik perempuan itu.


"Naiklah, akan kuantarkan,"kata perempuan itu.


Akhirnya, Suyira bisa melewati pelindung pertama sampai ketiga dari kastil Arial Nuch.


Perempuan itu menurunkannya di atas tanah berpasir.


"Saya hanya bisa mengantarkanmu di sini. Saya harus pulang. Anak - anakku menunggu. Berhati - hatilah jangan masuk lebih dalam lagi nanti kau keracunan,"kata perempuan itu.


"Itu benar,"kata suara dalam pikirannya.


Pelindung Keempat


Saat Suyira berjalan di atas tanah berpasir lambat laun tercium bau asin.


Ternyata kastil itu dipisahkan oleh lautan bebas.


Ombak yang besar dan dasyat terus menerus menghempas ke arah Suyira.


Suyira mencoba untuk menggulung ombak tersebut ke arah kastil namun tenaganya tidak cukup kuat.


Suyira hampir mau menangis dan dalam hati meminta pertolongan.


Ada suara yang selalu menguatkan dan mengatakan,"Jangan menangis, Suyira."


Tiba - tiba datang ikan paus besar yang mendarat di tanah berpasir di depannya.


Ikan paus tersebut membuka mulutnya dan Suyira yang sudah kelelahan berjalan masuk ke dalam ikan paus tersebut.


Pelindung Kelima


Saat sudah mendekati titian kayu, ikan itu membuka mulutnya dan Suyira keluar.


Suyira berjalan di atas tangga kayu.


Saat mencapai puncaknya dari tangga itu, Suyira sangat terkejut melihat hal yang tidak pernah dilihatnya.


Kastil utama itu dikelilingi oleh lautan lagi dengan titian tangga kayu yang melingkarinya.


Kastil itu berbentuk sebuah kubah besar berwarna biru muda hampir sama dengan warna lautan.


Kastil tersamar oleh lautan lepas itu.


Ombak bahkan bisa menghempas - hempas atapnya.


Suyira melanjutkan perjalanan dengan cara menggunakan kekuatannya untuk bisa berjalan di air dengan cara membelah ombak tersebut.


Mengingat ukuran ombaknya tidak sebesar tadi.


Saat berjalan di tanah yang berair, Suyira terkejut dengan keberadaan gerombolan cumi -cumi raksasa dan ubur -ubur listrik yang mendekatinya.


Anehnya saat Suyira menutup matanya dan membukanya lagi, tiba - tiba gerombolan cumi - cumi dan ubur - ubur listrik pergi menjauh.


Akhirnya sudah masuk ke pelindung kelima dari kastil Ariel Nuch.


Kastil Utama


Paman Arol menyadari keberadaan Suyira saat sudah mencapai pelindung terakhir karena ada pemberitahuan dari penjaga.

__ADS_1


"Tuanku, ada anak kecil yang mencoba masuk ke kastil utama,"kata pelayan kastil.


Paman Arol memejamkan matanya dan mendengar bisikan hewan - hewan laut tentang kehadiran Suyira.


"Biarkan saja.. Tohh.. dia tidak akan bisa masuk ke kastil ini. Bagaimana kondisi Tatra ?" kata paman Arol.


"Sudah sadar,"kata sang penyembuh.


Paman Arol menuju ke kamar yang disediakannya untuk Tatra.


Paman Arol tau dengan membawa Tatra ke kastil ini pasti akan berdampak buruk bagi hubungannya dengan kastil bumi beserta aliansinya.


Namun, paman Arol sudah sangat kecewa saat adiknya lebih memilih untuk tinggal di daratan daripada laut.


Tatra merasa seluruh badannya lemas seperti ditindih batu besar dan melihat lingkungan yang tidak pernah dilihat sebelumnya tentu saja membuatnya bingung dan takut.


"Bagaimana ? Apakah masih terasa sakit ?"kata paman Arol.


Tatra terkejut dengan kehadiran paman Arol dan berusaha menjauh saat paman Arol mendekatinya.


"Apakah ibumu tidak menceritakan tentang kakaknya atau tempat kelahirannya ?" kata paman Arol terlihat kecewa.


Tatra hanya menggelengkan kepalanya.


"Baiklah. Paman ini adalah kakak kandung ibumu,"kata paman Arol.


Tatra hanya mengetahui bahwa dia mempunyai kakek dan nenek dari ibunya.


Tentu saja Tatra jadi sangat terkejut saat tau punya paman juga.


"Ini adalah tempat kelahiran ibumu dan ini akan menjadi tempatmu juga mulai dari sekarang,"kata paman Arol.


Tatra akhirnya menjawab,"Mana ibu dan adikku ?"kata Tatra.


"Ibumu masih di daratan dan adikmu ada di sini,"kata paman Arol menjawab sejadinya.


"Aku mau kembali ke ibuku,"kata Tatra.


"Sayangnya hal itu tidak akan pernah kukabulkan,"kata paman Arol sambil berlalu pergi.


Ada dua penjaga yang menjaga pintu ruangan Tatra.


Tatra tau tidak ada gunanya berusaha untuk melarikan diri.


****


Suyira sudah memasuki pelimdung kelima kastil Ariel Nuch


Tentu saja hal ini, tidak luput dari perhatian paman Arol.


Paman Arol kesal dengan kenyataan bahwa salah satu hewan laut yang tinggal di daerahnya tidak mematuhi perintahnya.


Paman Arol memanggil hewan laut yang memiliki cengkeraman tangan yang kuat.


Saat Suyira menuju ke kediaman kastil Arial Nuch.


Suyira merasa sesak.


Kemudian gurita melihat ke arah Suyira dan melepaskannya.


Gua Nuches


Suyira melanjutkan perjalanannya.


Suyira melihat ada tebing dari bebatuan dan di tengah tebing terdapat gua.


Ombak lautan tidak sampai ke atas gua tersebut.


Ada titian untuk menuju ke atas gua tersebut.


Suyira masuk ke dalam gua yang gelap dan asin.


Lambat laun Suyira melihat ada cahaya yang keluar dari ujung mulut gua.


Jalan di gua tersebut tampak seperti turunan.


Labirin Nuches


Suyira akhirnya berada di sebuah labirin raksasa yang tampak seperti aquarium hewan - hewan laut.


Labirin itu terbuat dari kaca yang keras dan kuat.



Suyira disambut oleh sekelompok penjaga.


Penjaga terkejut melihat anak kecil yang mampu menembus pelindung mereka.


Suyira ketakutan dan berkata,"Aku ingin bertemu kakak."


Kemudian muncul pria yang sudah separuh baya dan rambutnya berwarna putih yang merupakan pimpinan penjaga.


Pimpinan dari penjaga tersebut bertanya,"Siapa nama kakakmu ?".


"Kak Tatra, anak bibi Ariel,"kata Suyira.


Pimpinan penjaga itu terkejut dan berkata,"Bukannya Tatra ada di kastil bumi ?"


"Paman Arol mengambilnya,"kata Suyira.


Mendengar hal ini, penjaga yang berdiri di belakang berbisik - bisik.


Pemimpin penjaga memerintahkan mereka untuk diam.

__ADS_1


"Siapa namamu nak?"kata pimpinan penjaga.


"Suyira,"jawab Suyira.


Pimpinan penjaga terkejut dan berkata,"Anak dari pasak bumi dan langit."


Suyira menganggukkan kepala.


Pimpinan penjaga akhirnya mengerti kenapa seluruh hewan di laut tidak ada satupun yang menyakitinya bahkan melindunginya dan kenapa Suyira dengan mudah memasuki setiap pelindung.


Pimpinan penjaga itu berkata,"Masuklah. Nanti paman akan mempertemukanmu dengan kakakmu."


"Benarkah ?"kata Suyira girang.


Kastil Utama


Kediamannya sangat megah dan besar.


Dinding setiap pintu terbuat dari batu marmer yang berwarna biru.


Atapnya sangat tinggi dan berbentuk kubah.


Jendela berwarna bening dan besar.


Dari dalam bisa terlihat hewan - hewan laut dan jika menuju dari satu ruangan ke ruangan lain dihubungkan dengan labirin yang transparan sehingga seperti berjalan di laut bebas.



Melihat hal ini tentu membuat Suyira menjadi takjub.


Suyira berlarian dengan kencang saat pimpinan penjaga menunjuk ruangan Tatra.


Namun saat mau masuk dihalangi oleh penjaga yang sudah berdiri di depan ruangan Tatra.


"Selain Tuanku, tidak ada satupun yang boleh masuk,"kata penjaga.


"Termasuk aku,"jawab pimpinan penjaga.


"Maaf, Tuanku. Kami tidak tau jika Tuanku datang,"kata penjaga tersebut.


"Berikan dia masuk. Apakah kalian lupa dengan janji leluhur kita terhadap keturunannya. Bahwa kita akan selalu menyetujui permintaannya,"kata pimpinan penjaga.


"Apakah dia anaknya .. ?"kata penjaga tersebut.


"Iya.Apakah kalian tau bahkan hewan laut saja masih punya ingatan yang baik,"kata pimpinan penjaga.


"Maafkan kami. Silahkan masuk,"kata penjaga tersebut.


"Kakak...,"teriak Suyira.


Tatra langsung memeluknya.


"Bagaimana Suyira ke sini ?" kata Tatra.


"Aku mengikuti kakak dari belakang." Tatra menjadi terharu.


"Bagaimana ibu ?" kata Tatra.


"Bibi terluka tapi masih bisa bangun,"kata Suyira.


"Ayo kak, kita keluar,"kata Suyira.


****


Diluar ruangan, ada perdebatan antara paman Arol dan pimpinan penjaga.


"Apa yang paman lakukan ?"kata paman Arol.


"Kau sendiri .. apa yang kau lakukan.. kau biarkan Suyira menuju ke sini tanpa pengawal,"kata pimpinan penjaga.


"Bukan urusanku,"kata paman Arol.


"Apakah kau tau dia anak siapa ?"kata pimpinan penjaga.


"Dia hanya anak pasak bumi dan langit,"kata paman Arol sengit.


"Memang benar, tapi apakah kau tau .. hanya pasak bumi... pasak bumi lah yang menyelamatkan kastil ini beserta isinya 20 tahun lalu dan kita masih memegang teguh janji kita terhadap keturunannya bahkan hewan disini tidak lupa,"kata pimpinan penjaga marah besar.


Paman Arol terkejut dengan kemarahan paman Arele dan pergi meninggalkan mereka.


"Kembalikan mereka ke permukaan,"kata paman Arele dengan penjaga lain.


Suyira mendengar perkataan paman Arele tadi. "Paman... ,"kata Suyira.


"Kami bisa pulang,"kata Tatra.


Paman melihat Tatra untuk pertama kalinya dan memandangnya cukup lama dengan rasa kerinduan.


"Tentu saja, Tuanku,"kata paman Arele ke Tatra.


Tatra dan Suyira diantarkan ke permukaan menggunakan ikan paus.


Tepi pantai Arial Nuch


Setelah di atas permukaan, mereka membelah lautan dan berjalan di atas tanah yang lembab.


Di tepi pantai, sudah menunggu paman Teeran, paman Elder dan empat penjaga.


Paman Teeran mengucapkan terima kasih kepada paman Arele menggunakan pikirannya melalui paman Elder.


Suyira sangat senang berada di laut tadi dan menceritakan semua pengalamanya dengan paman Teeran.


Paman Teeran sangat jarang melihat Suyira bahagia seperti itu hanya membiarkannya saja.

__ADS_1


Sementara Suyira digendong paman Teeran, Tatra digendong oleh paman Edsel.


Mereka bergerak sangat cepat. Lambat laun mereka berdua ketiduran.


__ADS_2