Pasak Bumi

Pasak Bumi
Bukit Castele


__ADS_3

Paman Flyied, Teeran, Eldard, Edsel dan Fordd sedang berkumpul di salah satu ruangan.


Saat mendengar kabar jika kastil Fogyer bisa dimasuki, paman Eldard dan Fordd datang ke sana.


Mereka juga terkejut sekaligus sedih melihat pemandangan yang tidak pernah mereka bayangkan.


"Fordd, biarkan keturunanmu tinggal disini. Mereka akan tinggal di kastil utama,"kata paman Flyied bersikeras.


Melihat sedikitnya penghuni kastil Fogyer sekarang.


"Tempat ini terlalu terang bagi kami,"kata paman Fordd.


"Tapi di kastil langit, bukannya terlalu dingin bagi kalian. Apalagi anak-anak,"kata paman Flyied.


"Apa yang dikatakan Flyied benar.Maaf memotong pembicaraan,"kata paman Coeli merasa bersalah.


"Coeli, kami sudah memilih dan kami sudah terbiasa,"kata paman Fordd.


"Sebenarnya tujuan memgumpulkan kalian di sini adalah untuk menemukan anak - anak kastil kami,"kata paman Flyied.


"Biarkan aku ikut,"kata paman Coeli.


"Jika bisa, salah satu dari kalian menjaga kastil ini,"kata paman Flyied.


"Biarkan aku saja dan Fordd menjaga kastil langit,"kata paman Edsel.


"Bagaimana dengan Suyira dan Tatra?"kata paman Teeran.


"Jarak tercepat menuju ke kastilmu adalah kastilku,"kata paman Eldard.


"Baiklah,"kata paman Teeran.


"Biarkan dia tinggal di kastilku. Jangan langsung ke kastilmu,"kata paman Eldard.


"Edsel tolong jaga pikiran kami semua dan penjaga supaya informasi ini tidak sampai ke musuh,"kata paman Teeran.


Paman Edsel menganggukkan kepala.


****


Malamnya, Suyira dan Tatra melakukan perjalanan bersama paman Teeran dan Eldrad menuju ke kastil Ariel.


Pagi - pagi sekali, paman Teeran kembali ke kastilnya. Sementara itu, pagi-pagi juga paman Flyied dan Coeli melakukan perjalanan dengan peta yang mereka bawa.


Paman Edsel kembali ke kastilnya untuk memberitahukan berita ini kepada pasangannya.


Pencarian di Bukit Castele


Paman Coeli dan Flyied berjalan menuju ke utara.


Mereka menuju ke tempat yang tingginya sama seperti kediaman Fogyer namun lebih gelap, dingin dan berkabut.


Hampir setiap hari matahari tidak menunjukkan diri di tempat ini.


Perbukitan yang curam dan landai.


Semakin tinggi mereka mendaki semakin kuat angin berhembus.


"Apa kau yakin ?" kata paman Coeli.


"Maksudnya ?" kata paman Flyied.


"Bahwa kita diarah yang benar,"jawab paman Coeli.


"Berdasarkan petanya... ini benar,"kata paman Flyied mulai ragu.

__ADS_1


"Lalu kenapa nadamu seperti itu,"kata paman Coeli mngetahui keraguan dalam perkataan temannya.


"Ada satu lagi tempat ditandai oleh ibuku. Masih baru. Tapi tidak mungkin ke sana,"kata paman Flyied.


"Kenapa memangnya ada apa dengan tempat itu,"kata paman Coeli sambil memandang ke sekelilingnya yang tambah gelap.


"Kota Human,"kata paman Flyied.


"Ohhh..,"jawab paman Coeli mengerti maksudnya.


"Sebaiknya kita beristirahat di gua itu dulu,"kata paman Flyied sambil menunjuk sebuah gua yang berada di tepi tebing.


"Baiklah,"jawab paman Coeli sambil mengeluarkan cahaya api biru dari kantungnya.


Mereka tidak tau bedanya pagi atau malam di daerah tersebut.


Setelah apinya sudah menghilang, mereka melanjutkan perjalanan untuk menuju ke puncak pegunungan.


Puncak pegununganlah akhir dari perjalanan mereka berdasarkan peta yang mereka bawa.


Saat mereka di puncak, mereka tidak melihat apapun kecuali tanah berpasir dan satu pohon kering.


"Tidak ada apa - apa,"kata paman Flyied bingung.


"Apakah ini memang tempatnya ?"tanya paman Coeli.


"Iya, ibuku dan aku tidak mungkin salah membaca petanya,"jawab paman Flyied.


"Tidak mungkin kedatangan kita ke sini tidak menghasilkan apapun,"kata paman Coeli terlihat kecewa.


"Kita harus tenang,"kata paman Flyied mengambil sikap salah satu petapa.


Sementara itu, paman Coeli yang mondar mandir akhirnya setuju untuk ikut duduk bersila dan menenangkan diri.


Paman Coeli mengucapkan kata-kata ini berulang ulang kali,"Aku merasakannya." Kemudian mereka berdua bangkit dan berdiri.


"Seandainya Teeran juga ikut,"kata paman Coeli merasa bersalah menganjukan diri.


"Kau bisa melakukannya,"kata paman Flyied.


"Memberinya air,"kata paman Coeli sedikit bingung dan akhirnya menyadarinya.


"Kita ada di puncak yang terpencil dan tidak ada satupun yang mengikuti kita,"kata paman Flyied menyakinkan.


Paman Coeli membuat hujan dari langit dan akhirnya bisa membasahi tanah sekaligus pohon tersebut.


Mereka akhirnya bisa memanjat pohon tersebut dan sampai ke daratan yang bersalju.


Paman Coeli yang sudah terbiasa dengan suhu tidak merasakan bedanya dengan tubuhnya namun hal ini sangat berbeda dengan paman Flyied yang sudah mengigil saat sampai.


Mereka berjalan di tengah hutan yang bersalju untuk menuju ke daratan luas.


Setelah melewati daratan yang luas, mereka menemukan sebuah pemukiman.


Setiap rumahnya berbentuk kubah yang terhubung ke satu kubah besar. Kubah itu berbentuk igloo.


Kubah besar tersebut terdapat api nyala biru di dalamnya.


Nampak bercahaya berwarna kebiruan dari kejauhan.


Saat mereka berusaha mendekati pemukiman tersebut,paman Coeli yang hanya bisa melewati pelindung.


Paman Coeli punya inisiatif untuk melanjutkan perjalanan dan menuju ke pemukiman.


Sementara paman Flyied menunggu di luar pelindung. Saat sampai ke pemukiman, ada sosok perempuan dewasa yang memegang tombak panjang menuju ke arahnya.

__ADS_1


"Perkenalkan dirimu ?"kata perempuan itu.


"Langit, pemilik kastil Langit, paman dari langit keturunan kastil fogyer,"kata paman Coeli.


Perempuan itu menurunkan senjatanya dan mendekat.


Saat melihat ada petir di tangannya paman Coeli.


"Namaku Fliest, pelindung anak - anak kastil Fogyer,"kata perempuan itu.


"Flyied juga ikut tapi tidak bisa masuk,"kata paman Coeli.


"Ohhh ... hanya keturunan darah dari anak - anak disini yang bisa masuk,"kata bibi Fliest.


"Lalu dimana anak - anak ?"kata paman Coeli.


"Mereka ada di dalam iglo,"kata bibi Fliest.


Paman Coeli tiba - tiba tergerak menuju ke salah satu iglo yang warna sangat biru.


Bibi Fliest melihat tersebut kemudian menjadi lega.


Bibi Fliest menuju ke arah pelindung dan melepaskan pelindungnya.


"Silahkan masuk Flyied,"kata bibi Fliest.


"Apa kabar, saudariku ?"kata paman Flyied.


Paman Flyied memberikan tepukan angin ke arah muka bibi Fliest.


Bibi Fliest menitik air mata dan memeluk paman Flyied.


"Kenapa kau lama sekali datangnya ?"jawab bibi Fliest akhirnya menangis terisak -isak.


"Maafkan aku, beban begitu berat kau tanggung seorang diri selama ini,"kata paman Flyied.


"Anak - anak itu baik - baik saja,"kata bibi Fliest.


"Kastil Fogyer sudah bisa dimasuki dan maafkan aku tapi kami mendahului memakamkan mereka semua tanpa menunggumu,"kata paman Flyied merasa bersalah.


"Tidak apa - apa. Saat sudah meninggalkan tempat itu,aku sudah mengikhlaskan semuanya,"kata bibi Fliest masih tersedu -sedu.


Paman Coeli melihat ada sebuah Igloo yang bercahaya.



Paman Coeli terus melangkah ke arah iglo tersebut.


Saat sampai di depan pintu iglo, paman Coeli melihat ada anak perempuan yang sedang tertidur nyenyak dan mengeluarkan petir- petir kecil di sekitar tangannya.


Terlihat sedang berpikir keras dalam tidurnya dengan timbulnya kerutan - kerutan kecil di keningnya.


Paman Coeli mencoba mendekati dan menyentuh keningnya.


Anak perempuan itu tersenyum dan petir - petir tidak keluar lagi dari telapak tangannya.


Paman Coeli membiarkannya tertidur dan keluar dari iglo untuk menemui paman Flyied dan bibi Fliest.


Mereka berencana memindahkan anak - anak ke kastil Fogyer.


Paman Flyied duduk di salah satu iglo untuk bertapa. "Tetua, bagaimana caranya agar bisa memindahkan mereka dengan aman,"kata paman Flyied.


"Bagaimana mereka bisa sampai ?" kata petapa pertama.


"Fliest dibantu oleh anak - anak,"kata paman Flyied.

__ADS_1


"Sekarang kau harus mempercayai kemampuan keturunan kita dan kami pun akan membantumu dari sini,"kata petapa pertama.


__ADS_2