Pasak Bumi

Pasak Bumi
Kemarahan Aretra dan Suyira


__ADS_3

Malam semakin larut dan hening di perbatasan akhir pelindung yang menjaga seluruh kastil.


Suyira sama sekali tidak lengah dan tetap melihat sekitarnya.Sementara itu, Flay bersembunyi di bagian hutan yang paling gelap.


Jika situasi memburuk, Flay akan memberitahukan ke penjaga pelindung kedua.


Suara ayam berkokok menandakan sebentar lagi matahari berhenti untuk bersembunyi.


"Kita harus menghadap paman Edsel. Untuk memberikan laporan keamanan pelindung,"kata Suyira


"Baiklah,"kata Flay


Mereka berjalan menyusuri hutan dan terlihat dari kejauhan ada pondok yang hampir rubuh.


Mereka menuju ke pondok itu.



"Bagaimana kabar kalian ?"kata paman Edsel


"Baik, paman,"kata Flay


"Paman masih belum mengerti. Kenapa paman menyetujui kalian menjaga perbatasan,"kata paman Edsel


"Itu mudah paman. Paman tidak punya pilihan lain,"kata Rory


"Dan paman akan dimusuhi oleh ayahmu, ayahnya dan paman- paman kalian jika mereka tau apa yang dikerjakan oleh anak perempuannya atau ponakannya,"kata paman Edsel


"Itu pasti,"kata Celli


Aretra langsung menyikut pinggang Celli. Celli memandang ke arahnya dan langsung diam.


Paman Edsel sepertinya berpikir keras.


"Bagaimana jika kalian menjaga pelindung kedua saja. Bertukar dengan penjaga pelindung kedua,"kata paman Edsel


"Ohh tidak bisa paman. Kami sudah nyaman disitu,"kata Rory


"Ngomong - ngomong siapa penjaga pelindung kedua ?"kata Rerast


"Tatra, Luxi, Eldast, Eltader, Tommy dan satu lagi.. namanya Arel,"kata paman Edsel


Mereka semua terkejut.


Aretra mengepalkan tangannya dan marah menyebabkan sedikit guncangan di pondok itu.


"Aretra.. adikku sayang ..ingat tempat ini sudah hampir menemui ajalnya,"kata Suyira


Aretra memejamkan matanya dan berhasil mengontrol amarahnya.


Mereka pernah sekali menggoda Aretra dan menyebabkan daging ayam yang mau mereka pagang jadi gosong karena apinya tiba - tiba membesar.


"Memangnya ada masalah apa ?"kata paman Edsel tanpa berpikir panjang


Saat melihat muka Suyira akhirnya paman paham.


"Ohh ituu yaa .. ,"kata paman Edsel merasa bersalah


"Jadi, bagaimana apa kalian mau bertukar tempat ?"kata Flay


Mereka berempat kompak menjawab tidak.


"Paman sudah tau jawaban kami,"kata Flay


"Baiklah. Tapi ingat jika situasi sudah mulai tidak terkendali kalian tau apa yang harus kalian lakukan,"kata paman Edsel


Semuanya menganggukkan kepala tanda memberikan persetujuan.


"Ingat kak, jika situasi diluar kendali kau harus tetap melaksanakan yang seharusnya. Apakah tidak masalah bagimu ?"kata Suyira

__ADS_1


"Tidak masalah. Suatu saat aku harus menghadapinya,"kata Flay


*****


Mereka memilih jalan tercepat melewati sisi sebelah barat dari batas pelindung kedua.


Mereka mempercepat langkahnya untuk bisa melaju ke pelindung ketiga. Saat batas terakhir pelindung kedua, tiba - tiba oksigen yang mereka hirup terasa berat.


"Aku lelah kak,"kata Aretra tiba - tiba matanya berkunang - kunang dan terjatuh terlentang di tanah.


"Aku pun jugaa.. aneh .. aku harus bertahan,"kata Celli mulai terduduk di tanah dan sengaja mengeluarkan petir kecil dari tangannya dan menyengat pundak Aretra.


Aretra berteriak kecil dan tersadar.


Melihat yang lainnya juga tersungkur di tanah, Aretra membuat selubung air memerangkap tubuh mereka semua membentuk kubah tak kasat mata.


Tiba - tiba udara yang tadinya ditarik dari mereka kembali lagi.


"Apa yang terjadi ?"kata Rerast


"Ada yang memasang udara beracun di daerah ini,"kata Flay


"Iya. Aku pun merasakannya,"kata Celli


Celli kemudian membuat selubung asap putih untuk menangkal udara yang beracun dibantu oleh Flay. Sementara, Rory menempelkan air penyembuh ke tubuh mereka masing - masing untuk menghentikan penyebaran racunnya ke tubuh. Mereka semua memuntahkan cairan hitam.


Saat udara sudah benar - benar jernih, Aretra melepas selubung airnya.


"Siapa yang membuat hal gini ? Daerah ini masih zona hijau bukan merah seperti keberadaan korona,"kata Rory marah


Aretra melihat hasil muntahnya dan dia tau siapa yang membuatnya. Aretra berlari menuju ke arah timur.


"Hentikan dia. Kalau tidak rahasia kita terbongkar,"teriak Suyira.


Flay mengejarnya begitu pula Celli. Suyira tidak bisa meninggalkan Rerast yang tubuhnya tidak secepat mereka untuk pulih dari racun.


Flay sudah dekat dan dia berusaha mengendalikan pikiran Aretra. Aretra berusaha berontak.


"Kau harus memanggilku kakak. Aku memang bukan kakak kandungmu atau punya hubungan darah denganmu tapi aku tetap kakakmu,"kata Flay tegas


Aretra merasa bersalah dan berhenti.


Mereka terlihat oleh Eldast dan hampir saja Eldast menuju ke arah mereka.


Namun, Flay memberikan signal dan dia kembali ke batas pelindungnya.


Suyira mondar mandir melihat mereka belum datang.


"Kau ikuti saja mereka. Aku aman disini,"kata Rerast merasa bersalah.


Namun, Suyira hanya diam.


"Itu mereka,"kata Suyira senang


"Maaf kak,"kata Aretra


"Oke ... oke .. aku ijinkan kau membalasnya di kampus asalkan jangan sampai penyamaran kita terbongkar,"kata Suyira marah.


Suyira berjalan lurus menuju ke kastil Biara dan hanya diam sepanjang jalan.


****


Saat mereka kembali ke kamar masing - masing bersiap - siap untuk menjalankan tugas rumah tangga dan latihan mereka.


"Aku tidak pernah melihat kakak semarah itu,"kata Rory sedih sambil membolak - balik air.


"Salah satu penjaga disitu kak Luxi. Kak Luxi sangat protektif dan bisa saja dia memberitahukan ke paman Coeli. Kau tau apa yang terjadi kalau paman sampai tau ... Kami pasti dikurung di kastil utama,"kata Celli


"Usaha kakak jadi sia - sia .. ahh belum lagi paman Edsel pasti kena getahnya.. katanya paman Coeli temperamennya keras,"kata Rory

__ADS_1


Celli hanya menganggukkan kepala


Aretra tambah merasa bersalah


"Bukan paman Coeli saja yang harus dicemaskannya tapi ayahku juga. Yaa.. kau lihat sendiri sifatku menurun darinya,"kata Aretra


"Aku tau kau kesal karena dia kau harus ke ruang gelap ini tapi bisakah kau melihat usaha kak Suyira yang berusaha menghibur kita selama ini,"kata Celli


"Maaf.Aku memang egois,"kata Aretra mulai menangis


Rory langsung memeluknya.


"Ingat besok kita sudah melihat cahaya. Jadi bersabarlah satu hari ini,"kata Rory


"Iya,"kata Aretra


****


Mereka sedang duduk di luar pintu kastil Biara. Menunggu adik - adiknya keluar.


"Aku tidak pernah melihatmu emosi seperti itu. Apakah selama ini disembunyikan ?"kata Flay


"Aku hanya cemas tadi. Jika Aretra berhasil datang ke sana pasti membongkar penyamaran kita selama ini. Aku pasti dikurung walaupun tempatnya terang,"kata Suyira


"Maksudmu ?"kata Flay


"Paman Coeli dan paman Teeran,"kata Rerast


"Mereka berdua katanya terkenal keras,"kata Flay


"Pada musuh iya tapi denganku tidak. Mereka hanya terlalu protektif. Tapi ayahku, dia baru bisa dikatakan sangat keras,"kata Suyira


"Paman Firye ?"kata Rerast bingung


"Semenjak kematian ibuku sepertinya dia menyimpan bara dalam hatinya. Terakhir kudengar dia tidak mau bekerjasama lagi dengan semua kastil dan menutup kastilnya untuk siapapun saat mendengar kematianku. Tapi aku mencemaskan apa yang akan direncanakannya,"kata Suyira.


"Tapi kau tidak mungkin mendiamkan Aretra terus,"kata Flay


"Nanti aku akan berbicara kepadanya,"kata Suyira


"Dan kau tau orang gila seperti apa yang membuat racun gurita di udara. Untunglah Aretra ga jadi dengannya,"kata Rerast


"Tugasmu untuk mencari tau,"kata Suyira


"Serius. Bukan karena Aretra khan?"kata Rerast


"Bukan. Dia berasal dari kastil Ariel Thun. Laut terdalam yang merupakan tempat tinggal mereka adalah jembatan penghubung tercepat antara kastil Arial Geneva dan Kastil Arial Nuch. Namun sampai sekarang mereka tidak memberikan akses itu. Kastil mereka bisa dikatakan memiliki kesetiaan yang abu- abu. Sebenarnya perjodohan itu disetujui oleh para tetua dengan harapan kesetian mereka nyata kepada kastil Bumi. Pengkhianatanlah yang paling ditakuti jika kita menjaga pelindung. Sebenarnya.. ,"kata Flay


"Katakan saja semuanya kak. Tidak masalah,"kata Suyira


"Eltader adalah anak dari pengkhianat. Ayahnya pengikut setia orang itu dan hampir membunuh saudaranya sendiri.. ayahnya Elsist,"kata Flay


"Karena itu kakak jadi meragukannya,"kata Rerast


Rerast menganggukkan kepala. Akhirnya memahami semuanya.


"Lalu kenapa tidak kalian katakan dari dulu ? Kalian tidak percaya padaku ?"kata Rerast mulai terluka


"Tidak. Bukan tidak mempercayaimu,"kata Suyira


"Jika kita dalam kondisi terdesak. Ada salah satu dari kita atau keluarga kita terancam, takutnya dia akan mempengaruhi pikiran kita sehingga memberitahukan seluruh rahasia yang ingin diketahui mereka,"kata Flay


"Lalu kenapa kau boleh tau ?Apakah karena kekuatan kakak,"kata Rerast


"Tidak. Tugas dia yang utama adalah melarikan diri ketika kita sekarat dan mengambil rahasia terdalam kita dan menguburnya di tanah bersama dia,"kata Suyira


Rerast bergidik membayangkan hal tersebut.


"Jangan sampai ,"kata Rerast

__ADS_1


"Amin,"jawab mereka berdua.


__ADS_2