
Dia mau melecut bibi Robben menggunakan cambuk air namun bibi Robben berhasil menghindar menggunakan perisai dari kayu.
Edis akhirnya bisa naik ke lantai atas dengan susah payah karena tanah sudah terbelah dua dan bergetar hebat di sekitar kastil utama.
Edis membalas koki tadi. Dia mengikat kedua lengan dan kaki koki tadi dengan cambuk air. Bibi Robben memukul kepalanya dan membuatnya pingsan.
"Kita harus keluar dan menyusul Rory,"kata bibi Robben.
"Kita harus turun dari balkon,"jawab Edis
Mereka turun dari balkon dengan mulus. Edis membuat perosotan dari es.
Mereka melihat ke arah pantai tapi tidak menemukan Rory.
"Kemana mereka ?"tanya bibi Robben
Edis berusaha menggunakan pikiran berbicara dengan Elas.
"Elas, dimana kalian?"tanya Edis sambil bersembunyi di balik pepohonan dengan bibi Robben. Tidak ada jawaban.
"Rory, kalian dimana ?"tanya bibi Robben menggunakan telepatinya.
****
"Ibu, kami terpisah. Elas sudah tidak mungkin lagi berjalan. Kami ada di sebelah timur kastil Bumi kami mencoba memasuki pemukiman penjaga kastil,"kata Rory
"Nyonya, Elas tidak menjawab,"jawab Edis cemas
"Kita harus bergerak ke arah Timur ke arah pemukiman penjaga kastil. Apakah kau tau tempatnya ?"tanya bibi Robben
"Saya tau. Kita kesana, Nyonya,"lanjut Edis
****
Mereka berjalan ke arah timur, masuk ke dalam hutan dan melihat begitu banyak penjaga kastil yang pingsan.
Bibi Robben mengecek mereka satu persatu.
__ADS_1
"Edis...air penyembuhku tidak cukup. Kita harus segera... kalau tidak mereka tidak akan selamat,"kata bibi Robben
"Hanya ada satu cara air tanah tapi kita harus mengikat tubuh mereka dengan akar pohon. Kita harus segera ke pemukiman penjaga,"jawab Edis yang gusar hanya memiliki kekuatan air dan angin.
Bibi Robben cemas. Bibi Robben menghubungi Ariel dan Eldard menggunakan telepatinya.
"Ariel, bisakah kau datang lebih cepat ? Seluruh penjaga kastil diracuni dan pingsan di hutan dan setengah penghuni kastil di hipnotis. Mereka menyerang kami dan mencoba membawa Rory keluar kastil,"kata bibi Robben
"Kami akan datang secepat mungkin,"kata bibi Ariel yang terkejut dengan berita bibi Robben. Mereka mempercepat langkahnya.
"Sayang, cepatlah datang. Seluruh penjaga kastil pingsan...,"kata bibi Robben merasakan kakinya digenggam oleh salah satu penghuni kastil yang menyamar jadi penjaga.
Bibi Robben tidak bisa menyelesaikan percakapannya karena gangguan tadi.
"Robben..Sayang..,"teriak Eldard dalam pikirannya.
"Kita harus cepat,"kata Eldard kepada penjaganya.
"Jangan... jangan lakukan apapun padaku,"kata bibi Robben yang berhasil melepaskan kakinya dari genggaman penghuni tadi. Bibi Robben berusaha menghindar dari serangan penghuni tadi. Edis berada jauh di depannya.
Bibi Robben berusaha melepaskan jubahnya. Namun, bibi Robben kesulitan membuka jubah putihnya. Penghuni kastil itu mendekat dan berusaha menyerangnya. Tedis melemparkan batu ke arah penghuni itu dan pingsan.
"Nyonya...tidak apa-apa,"kata Edis yang berhasil menyusulnya
"Jangan jauh-jauh dari nyonya. Jubah itu bisa membuat penghuni kami kehilangan nyawanya tapi jika nyonya tidak memakainya nyonya yang akan kehilangan nyawanya. Apakah kau tidak tau soal ini?"tanya Tedis
"Bagaimana kau bisa tau tentang perjanjian itu?"tanya bibi Robben
"Adikku, nyonya. Dia salah satu penghuni kastil Biara,"jawab Tedis
"Maafkan aku. Pikiranku terpecah karena Elas,"lanjut Edis
"Apa hasil penyelidikanmu ?"tanya bibi Robben
"Salah satu penghuni kastil yang membantu memasak makanan untuk penjaga sudah dihopnotis dan memasukkan racun ke makanan penjaga,"jelas Tedis
"Tunggu .. kenapa kita tidak makan ?"tanya Edis menjadi curiga
"Kita tidak makan karena... tidak mungkin kedua kakak beradik itu bisa dalam bahaya,"jawab Edis dan Tedis bersamaan
__ADS_1
****
Mereka teringat saat jam makan penjaga.
"Kalian mau kemana ?"tanya Teas
"Makanlah,"jawab Tara sengit.
Tara takut nanti kakaknya mengira bahwa mereka sudah mau makan sebelum jamnya.
"Makanan kita sudah habis tadi barusan aku ke sana,"kata Teas
"Yang benar saja. Mereka menghabiskannya,"jawab Teir
"Jadi bagaimana ini, kak ? Aku kelaparan,"rengek Tara
"Kita makan di dalam kastil saja. Nyonya tadi yang masak dan sebenarnya mengajak kita,"jawab Edis
"Iya,"lanjut Elas
Tara menatap wajah kakaknya.
"Baiklah,"kata Tura
****
"Tedis.. kau segera ke sana. Bantulah mereka. Ini adalah air penyembuh. Gunakan saat genting,"perintah bibi Robben sambil membuka kantong yang dibawanya.
"Baik, Nyonya,"jawab Tedis
"Tungguuu... tetaplah hidup,"teriak bibi Robben saat Tedis sudah berlari menuju ke kastil utama. Tedis terkejut dan tersenyum.
Doa yang diucapkan oleh salah satu penerima jubah putih biasanya akan terkabul. Hal ini sering didengarnya dari adiknya ketika berkunjung.
****
"Tunggu jika nyonya saja bisa dijebak dengan cara seperti itu...jangan-jangan... Elas juga..dia memiliki kekuatan air dan bumi,"bisik Edis.
"Edis.. ikat pinggangku dengan cambuk air dan buat kakiku melayang di atas tanah. Kita harus cepat menyusul Rory dan Elas,"lanjut bibi Robben
__ADS_1
Mereka bergerak sangat cepat.
"Tunggu ibu nak,"batin bibi Robben