
"Suyira sudah siap,"kata bibi Robben
"Sudah Bi,"kata Suyira tergopoh - gopoh turun dari lantai satu kamarnya.
"Woww kakak cantik. Gaunnya juga cantik,"kata Rory menunjukkan nada takjub dan iri.
Aula sekolah disulap menjadi lebih indah. Tidak seperti biasanya. Suasana rame dan riuh. Tiba - tiba salah seorang guru berbicara di atas panggung dan menggunakan mic.
"Bapak dan Ibu beserta seluruh siswa kami diharapkan untuk duduk dibangku yang sudah disediakan. Acara pelepasan anak kelas tiga akan segera dilakukan,"kata guru tersebut.
Duduk satu barisan, Suyira, Tommy, Eldast, Rerast dan Flay. Sementara itu, orangtua mereka duduk di seberang mereka.
"Tidak terasanya. Kita sudah tamat,"kata Rerast girang.
"Iya,"jawab Suyira sedih karena membayangkan harus berpisah dengan mereka semua.
Nenek sudah berkata selesai acara pelepasan, malamnya dia akan pergi mengikutinya. Mereka semua mengetahui hal tersebut.
Mereka berfoto untuk terakhir kalinya. Saat acara makan, Eldast mengajak Suyira ke taman.
"Kau jadi pergi. Malam ini bukan ?"kata Eldast
"Iya,"kata Suyira
"Titip salamku buat nenek. Cepatlah kembali. Aku akan menunggumu,"kata Eldast
"Kurasa Eldast tidak perlu menunggu Suyira,"kata Suyira
"Kenapa ?"kata Eldast bingung
"Suyira ke sana bukan cuma mau cari tempat yang aman. Suyira mau berlatih di sana agar bisa kuat dan melindungi orang - orang yang Suyira sayangi,"kata Suyira
"Tidak masalah. Eldast akan ikut kuat bersama Suyira dan melindungi Suyira,"kata Eldast
Suyira tidak menjawab. Hanya terdiam.
Malam yang dinantikan tiba.
"Kau datang seorang diri,"kata nenek
"Iya nek. Bibi Robben dan Rory hanya mengantarkanku sampai depan pintu rumah. Begitupula Tommy dan ibunya,"kata Suyira menjelaskan
"Sepertinya ada yang mengikutimu dari belakang,"kata nenek tersenyum penuh arti
__ADS_1
"Siapa ?"kata Suyira menoleh ke belakang
"Tidak perlu sembunyi. Silahkan keluar,"kata nenek
Muncul dari balik pohon, Rerast dan Flay.
"Kalian ?"kata Suyira bingung
"Jangan marah dulu Suyira. Kami juga ingin ikut bersamamu,"kata Rerast
"Iya,"jawab Flay
"Tapi bibi dan ayahmu ?"kata Suyira
"Mereka sudah tau. Waktu kau bilang kau pergi dengan nenek. Kami sudah memberitahukan ke mereka. Awalnya mereka tidak setuju tapi mereka akhirnya setuju,"kata Flay menjelaskan
Suyira ingin mengatakan sesuatu tapi terhenti karena frustasi.
Nenek memanggil salah satu penjaga biara dan memberikan mereka bertiga jubah yang harus dipakai ketika menuju ke kastil Biara. Mereka meneruskan perjalanan.
"Bagaimana nenek tau harus menyiapkan tiga jubah ?"kata Suyira
"Anggap saja nenek punya sedikit ilmu dalam meramal,"kata nenek
"Lalu kenapa nenek tidak memberikan peringatan pada ibu ?"kata Suyira
"Sudah kuberitahukan. Tapi takdir seseorang sudah dicatatkan walaupun dihindari pasti akan datang juga. Ibumu tau tentang hal itu,"kata Nenek
"Sama seperti takdirku dan ibuku,"kata Flay
"Kurang lebih seperti itu. Walaupun nenek agak curang,"kata nenek tersenyum
"Maksudnya nek ?"kata Flay heran
"Walaupun itu bukan waktumu dan ibumu demikian juga ayahmu. Tapi dia menghindari trauma yang akan dialami oleh kalian bertiga,"kata nenek
Flay hanya bisa diam.
Perjalanan mereka lancar. Ketika tiba di depan pintu gerbang kastil, penjaga menghentikan mereka. Sementara nenek langsung menghilang bersama dua penjaga yang menemani mereka dalam perjalanan.
"Apakah tujuan kalian ke sini ? Selamanya atau sebentar ?"kata penjaga itu
__ADS_1
Mereka bertiga kompak menjawab.
"Sebentar," jawab mereka bertiga
"Baiklah. Maka kalian akan menghadapi penderitaan yang panjang. Tempat kalian adalah yang paling dasar dari kastil ini. Untuk melihat sinar matahari ketika kalian sudah bisa naik tingkatkan dari setiap anak tangga di kastil ini,"kata penjaga kastil
"Jika kami memilih selamanya ?"kata Rerast penasaran
"Kalian akan disucikan di air kolam kehidupan. Kalian akan memutuskan hubungan dengan hal yang sifatnya duniawi dan mengabdikan diri hanya untuk mencari ketenangan hidup,"kata penjaga kastil
Saat mereka masuk ke dalam kastil. Penjaga yang didalam menuntun mereka menuju ke kastil yang paling bawah menggunakan nyala lilin karena tempatnya gelap. Di sepanjang lorong ada lilin yang menyala. Mereka menuju ke salah satu ruangan kastil. Di dalam ruangan, ada tiga tempat tidur, ada perapian, dan satu meja dan kursi. Ruangannya gelap dan dingin.
Penjaga itu memberikan secarik kertas berisi rincian tugas yang harus mereka lakukan setiap harinya. Suyira terkejut membacanya.
"Tunggu.. bagaimana caranya kami menyiapkan semuanya ?"kata Suyira
"Bukankah kalian punya kekuatan. Tinggal digunakan. Beres bukan ?"kata penjaga itu penuh arti
"Apa yang ditulis ?"kata Flay langsung mengambil secarik kertas dari tangan Suyira
"Ini namanya penyiksaan,"kata Flay sengit
Rerast pun ikut melihat
"Maafkan aku. Seharusnya kalian tidak usah ikut,"kata Suyira
"Ini bukan salahmu. Ini keputusan kami,"kata Rerast
"Kalau aku tau tentang hal ini. Aku pun tidak akan mengijinkan kamu ikut ke sini. Sudah terlanjur. Apa boleh buat,"kata Flay
Subuh mereka sudah bangun dan menyiapkan sarapan bagi penghuni kastil yang berada satu tingkat di atasnya.
Setelah mereka selesai makan, Suyira, Rerast dan Flay bertugas untuk membersihkan piring, gelas dan ruangan tempat mereka makan.
Untungnya mereka tidak banyak keluhan terhadap Suyira, Rerast dan Flay karena mereka juga pernah mengalami hal yang sekarang dialami Suyira, Rerast dan Flay.
Selesai dari situ, mereka menyiapkan sarapan untuk mereka sendiri.
Selesai dari itu, mereka mengganti semua lilin di setiap tingkatan yang ruangan masih gelap.
Mereka diijinkan keluar untuk mengambil air yang diperuntukkan untuk mencuci jubah dari seluruh penjaga kastil biara.
__ADS_1
Mereka hanya diberi waktu istirahat saat makan dan malam hari. Sisa waktunya mereka berlatih dengan para penjaga.
Awalnya mereka mengeluh namun hari berganti bulan dan akhirnya berganti tahun membuat mereka menjadi terbiasanya.