Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Konflik Besar


__ADS_3

Semua orang yang berada dalam aula pertemuan menjadi tegang, hanya keheningan yang tercipta disana setelah mendengarkan informasi yang Ayu sampaikan.


Raja Jatmiko yang pertama kali bereaksi, dia memijat keningnya dan raut wajahnya menjadi masam. Dia tidak mengira bahwa kerajaan Singaparna akan bertindak seperti ini.


Sebenarnya yang membuat Raja Jatmiko bersikap seperti itu bukan hanya karena kerajaan Singaparna yang ingin membebaskan diri dan membunuh para warga kerajaan Kalingga, tetapi juga dikarenakan dari topik yang mereka bahas sebelumnya.


Masalah yang Raja Jatmiko dan yang lainnya bahas sebelumnya tidaklah kalah penting, karena mereka sedang membahas tentang perang terbuka yang dicetuskan oleh kerajaan Jenggala beberapa hari yang lalu.


Kerajaan Jenggala adalah kerajaan yang terletak di dekat kawasan kerajaan Kalingga di sebelah Barat. Kerajaan ini juga merupakan kerajaan bawahan kerajaan Kalingga sama seperti kerajaan Singaparna.


"Sepertinya kerajaan Jenggala dan kerajaan Singaparna bekerja sama untuk menaklukkan Kalingga ini." Mahapatih Angga Reksadana mengambil kesimpulan dari penjelasan Ayu dan diskusi mereka sebelumnya.


"Tidak mungkin mereka bisa bersamaan seperti ini." Sambungnya sambil mengepalkan tangan dan memukul meja yang ada dihadapannya.


Semua orang mengangguk setuju dengan pernyataan Mahapatih Angga Reksadana, mereka juga menduga hal yang sama.


"Jika demikian, kita harus mempersiapkan diri. Bukan tidak mungkin mereka akan menyerang secara terbuka dalam waktu yang dekat." Raja Jatmiko mengangkat suaranya, dia tetap berusaha tenang menghadapi peristiwa ini.


"Yang Mulia," Tumenggung Bedul juga ikut mengangkat suaranya.


"Apakah kita harus meminta bantuan kepada kerajaan Medang Kemulan dan kerajaan-kerajaan yang masih setia bernaung di bawah kekuasaan kita?" Satu-satunya yang Tumenggung Bedul pikirkan adalah meminta bantuan sebanyak-banyaknya.


"Kau benar, tapi kita tidak boleh gegabah. Kita harus mencari tahu dulu, kerajaan mana saja yang masih setia kepada kita. Bisa saja kerajaan Singaparna dan kerajaan Jenggala sudah mengajak mereka semua untuk bekerja sama menaklukkan kerajaan Kalingga ini." Raja Jatmiko memijat keningnya, kepalanya mendadak pusing.


"Masalah ini sangat besar. Mereka tidak segan-segan untuk membunuh warga kita." Mahapatih Angga Reksadana kembali mengangkat suaranya.


Semua yang ada disana menjadi sulit bernafas membayangkan hal yang akan terjadi selanjutnya. Terutama para Tumenggung, karena mereka sendiri masih muda dan tidak memiliki kemampuan bertarung yang tinggi.


"Paman Mahapatih, bagiamana pendapatmu? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Raja Jatmiko meminta masukan dan saran dari Mahapatih Angga Reksadana, bagaimanapun juga Mahapatih Angga Reksadana adalah pengatur strategi yang sangat baik.


Mahapatih Angga Reksadana mengangguk pelan dan mulai menjabarkan langkah-langkah yang akan mereka jalankan.


"Yang pertama adalah meminta bantuan kerajaan-kerajaan tetangga dan kerajaan yang bernaung di bawah pemerintahan kita.


Yang kedua adalah menyewa para pendekar pengelana dan para pendekar yang ada di daerah kerajaan Kalingga.

__ADS_1


Yang ketiga adalah merekrut prajurit secara besar-besaran.


Dan yang terakhir adalah meminta bantuan kepada pendekar Arga. Walaupun dia masih muda, tetapi kita semua mengetahui kemampuannya." Mahapatih Angga Reksadana menutup pembicaraannya.


Raja Jatmiko bisa bernafas sedikit lega mendengar perkataan Mahapatih Angga Reksadana. Dia langsung mengerti apa yang harus dia lakukan.


Raja Jatmiko langsung melirik ke arah Ayu dan berkata, "Saudari Ayu, bisakah kau mengabari Saudara Arga tentang hal ini." Wajah Raja Jatmiko sedikit memelas dan berharap banyak.


"Tentu saja Yang Mulia, aku yakin Kakang Arga dan Kak Nilawati akan membantu kita. Bisa jadi guru kami, Nenek Mawar Bidara akan ikut membantu." Ayu mengangguk dan segera pamit undur diri untuk langsung mengabari Arga dan gurunya.


Raja Jatmiko kembali bernafas lega, dan dia kemudian memalingkan wajahnya ke arah Jagad Kelana.


"Bagaimana dengan gurumu, Dewa Obat saudara Jagad? Apakah dia bisa membantu kita menghadapi ini?"


"Ampun Yang Mulia! Hamba tidak berani berjanji, tetapi hamba akan mengabari dan meminta bantuan beliau." Jagad Kelana memberi hormat kepada Raja Jatmiko.


"Mendengar itu saja sudah cukup." Raja Jatmiko kemudian memalingkan wajahnya lagi ke arah Tumenggung Bedul.


"Tumenggung Bedul, kau ajak saudari Lasmini pergi ke kerajaan Medang Kemulan. Minta bantuan kepada mereka dan jelaskan semua yang terjadi."


Semua orang yang berada di dalam aula pertemuan itu diberikan tugas masing-masing dan mereka langsung mulai bergerak menjalankan tugas itu.


*****


Arga dan Nilawati sedang mengamati situasi di dekat tenda perkemahan yang sebelumnya diberitahukan Brojo. Tiba-tiba Ayu kembali menghubunginya.


"Ada apa Ayu?"


Ayu langsung memberitahukan kepada Arga semua yang dia ketahui.


"Tidak kusangka masalah itu semakin besar dan banyak pihak yang terlibat." Arga menghela nafas panjang.


"Baiklah, Kakang dan Nila akan mengurangi kekuatan mereka terlebih dahulu, setelah itu Kami akan kembali ke Istana." Setelah berkata demikian, Arga dan Ayu memutuskan kontak mereka.


Arga langsung memberitahukan kepada Nilawati dan mereka mulai bergerak menerobos masuk ke dalam tenda. Keduanya sebelumnya sudah memperkirakan kekuatan musuh yang ada disana.

__ADS_1


*****


Tidak pernah dibayangkan oleh ketua yang memimpin kelompok Topeng Ungu akan ada yang mengetahui persembunyian mereka.


Kali ini sudah ada dua orang muda-mudi yang menerobos tenda mereka. Kedua orang itu tidak lain adalah Arga dan Nilawati.


"Mereka cari mati atau memang percaya diri dengan kemampuannya." Ketua pemimpin kelompok Topeng Ungu berdecak kesal. Dia tidak mengira setelah keempat temannya yang lain sedang melaksanakan tugas Mereka masing-masing akan ada yang menyerang mereka.


Yang membuatnya mengerutkan dahinya adalah penyerang mereka hanya dua orang muda-mudi yang terlihat belum berusia 20 tahun.


Yang membuatnya tidak meremehkan mereka adalah keduanya berhasil membunuh bawahannya dengan sekali serangan. Hal ini menunjukkan kemampuan mereka cukup tinggi.


Karena tidak ingin menambah korban di pihaknya, dia memutuskan untuk keluar menghadapi Arga dan Nilawati.


*****


"Tidak kusangka ada dua orang bocah ingusan yang akan mengantarkan nyawanya kesini." Ketua dari kelompok Topeng Ungu itu menghadang jalan Arga dan Nilawati.


"Apa yang membuat kalian berdua datang kemari?" Ketua kelompok Topeng Ungu yang sebelumnya tersenyum sinis kini menatap Arga dan Nilawati dengan dingin.


"Masih bertanya setelah kalian membunuh warga yang tidak bersalah? Kami sudah mengetahui semua rencana kalian." Arga menunjuk ke arah ketua kelompok Topeng Ungu. Wajahnya penuh amarah dan kemurkaan.


"Hahaha," Bukannya takut, ketua kelompok Topeng Ungu malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Arga.


"Ku akui kalian berdua cukup percaya diri. Ku hargai hal itu, tetapi untuk melepaskan kalian aku tidak bisa. Kalian sendiri yang datang kesini, maka jangan berpikir untuk kembali." Ketua kelompok Topeng Ungu berkata dengan lantangnya dan dipenuhi kesombongan.


Dia mengira hari ini dia akan membunuh dua orang muda-mudi karena dia yakin dengan kemampuannya dan ditambah lagi bawahannya yang masih banyak sekitar 100 orang lebih sudah mengepung Arga dan Nilawati.


Tetapi yang membuatnya mengerut dahi karena dia tidak melihat dua muda-mudi yang ada dihadapannya itu takut, keduanya malah menyeringai seperti meremehkannya.


"Banyak orang yang mati karena tidak mengetahui kemampuan musuhnya dan kemampuannya sendiri." Setelah berkata demikian, Arga langsung bergerak maju menyerang sedangkan Nilawati menyerang anggota Topeng Ungu.


*****


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2