Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Kemunculan Pedang Legendaris


__ADS_3

Arga menggunakan jurus cakar besi mengoyak langit untuk menghadapi pisau dari Tumenggung Benggala. Jari dan tangan Arga menjadi sekeras baja dan tidak terluka saat bersentuhan dengan pisau Tumenggung Benggala.


Tak butuh waktu lama bagi Arga untuk membuat Tumenggung Benggala terpojok dan membuatnya terpental.


Tumenggung Benggala memegangi dadanya dan mengelap darah yang mengalir dari bibirnya. Dia kembali berdiri dan mengeluarkan keris dari pinggangnya lalu meletakkannya di depan wajahnya. Seketika keris itu bersinar kemerahan. Keris itu bernama keris Singguromo.


Keris Singguromo adalah salah satu keris tingkat tinggi yang di tempah oleh Mpuh Singguromo. Keris Singguromo adalah senjata kelas atas yang dibuat dengan baja kuat.


Mpuh Singguromo sendiri adalah penempah senjata terbaik yang ada di daerah kerajaan Kalingga.


Arga yang mengetahui bahwa keris itu akan membahayakannya langsung menarik Pedang Tujuh Naga dari punggungnya.


Seketika itu cahaya kebiruan muncul dari Pedang Tujuh Naga dan mengeluarkan kekuatan yang sangat dahsyat serta petir menyambar dari langit turun ke bumi. Langit-langit pun menjadi gelap seperti malam hari. Gempa-gempa kecilpun terasa oleh semua orang.


"Luar biasa, senjata itu sangat luar biasa." Batin dari Patih Angga.


"Senjata apa yang digunakan oleh Arga." Batin dari raja Kertikeyasinga.


Semua orang terkejut dan mengerutkan dahinya, kecuali pendekar semua warga yang ada disana sudah terbaring pingsan di tanah karena tidak sanggup menahan kekuatan pedang itu.


"Sepertinya ini adalah akhir hidupku." Batin dari Tumenggung Benggala. Walaupun kerisnya bukan keris biasa, tetapi melihat kekuatan pedang yang ditunjukkan Arga dia dapat menebak bahwa kekuatan pedang itu jauh lebih tinggi daripada kerisnya.


Tumenggung Benggala maju untuk menyerang Arga, dia ingin mencoba keberuntungannya.


Arga menangkis serangan itu dengan pedangnya. Suara nyaring terdengar saat keris dan pedang itu bertemu.


"Tring...tring... tring." Suara kejut yang sangat dahsyat serta angin kencang keluar dari pertemuan kedua senjata itu.


Tak lama kemudian Arga berhasil mendaratkan pukulannya ke dada Tumenggung Benggala.


Tumenggung Benggala kembali terlempar cukup jauh dan menabrak pohon yang ada di belakangnya.


Arga maju dan membawanya terbang ke arah hutan untuk menjauhi istana. Setelah sampai di hutan dia melemparkan tubuh Tumenggung Benggala menabrak pohon.


Tumenggung Benggala berdiri lagi dan mengeluarkan jurus andalan dari keris itu.

__ADS_1


"Jurus Keris Singguromo Mengguncang Dunia."


Arga yang melihat pancaran kekuatan yang dikeluarkan dari keris itu langsung mengeluarkan jurus pedangnya.


"Jurus Pedang Naga Membelah Samudra."


Tumenggung Benggala mengarahkan kerisnya ke arah Arga, seketika keris itu mengeluarkan cahaya kemerahan. Arga juga tidak tinggal diam, dia mengarahkan pedangnya ke arah Tumenggung Benggala, seketika mengeluarkan cahaya kebiruan.


Akhirnya kedua cahaya itu bertemu dan meledak, tetapi ledakan itu mendarat ke tubuh Tumenggung Benggala, seketika itu juga tubuh Tumenggung Benggala hancur tanpa sisa.


Arga menghela nafasnya panjang dan menggelengkan kepalanya.


"Satu pendekar tingkat tinggi harus tewas karena memilih jalan yang salah."


Semua penduduk sudah kembali berdiri tetapi masih memegangi kepala mereka, karena Kepala mereka terasa pusing.


Akhirnya Arga kembali ke istana dan menghadap ke raja Kertikeyasinga serta memberitahukan bahwa Tumenggung Benggala sudah tewas di tangannya.


"Yang mulia raja, Tumenggung Benggala sudah tewas. Maafkan hamba yang tidak bisa membawanya kembali hidup-hidup." Ucap Arga sambil memperlihatkan wajah yang kurang puas dan menyesal.


"Tidak Arga... Bangunlah! Yang kau lakukan adalah baik tentu aku menghargainya." Raja Kertikeyasinga memegang pundak Arga dan membuatnya berdiri.


"Baik yang mulia." Patih Angga memberi hormat sebelum memerintahkan prajurit yang lain untuk membawa prajurit yang berniat memberontak.


Penduduk desa pun di bubarkan, sedangkan raja Kertikeyasinga mengajak pejabat kerajaan untuk melakukan pertemuan serta mengajak Arga dan yang lainnya.


Akhirnya rapatpun berakhir, hasilnya adalah raja Kertikeyasinga meminta bantuan kepada Arga dan keempat temannya untuk membantu pangeran Jatmiko mempertahankan kerajaan Kalingga dari pemberontakan pangeran Andiko. Arga dan yang lainnya pun menyanggupinya. Kemudian mengirim perwakilan kerajaan untuk mengundang perguruan aliran putih untuk datang memenuhi undangan raja Kertikeyasinga. Selanjutnya memperketat penjagaan area istana.


Setelah pertemuan selesai, Arga dan yang lainnya masih diminta raja Kertikeyasinga untuk tinggal di ruang pertemuan itu. Raja Kertikeyasinga bersama pangeran Jatmiko dan Patih Angga ingin mengetahui pusaka yang ada ditangannya.


"Arga kalau boleh tahu pedang apakah yang ada ditanganmu itu." Raja Kertikeyasinga memulai percakapan.


"Ah ini bukan apa-apa yang mulia. Ini hanya pedang biasa." Jawab Arga dengan tersenyum tipis.


"Tidak mungkin itu hanya sekedar pusaka biasa. Kami melihatnya secara langsung, kekuatan pedang ini setidaknya adalah senjata kelas atas." Ucap Patih Angga.

__ADS_1


"Saudara Arga, kalau boleh tahu, apakah nama senjata ini?" Pangeran Jatmiko ikut bertanya karena dia sudah penasaran.


Memang setelah Arga berhasil mengungkap rencana Tumenggung Prabaskara dan yang lainnya, pangeran Jatmiko mengangkat Arga dan yang lainnya menjadi saudaranya.


"Pedang ini bernama Pedang Tujuh Naga." Ucap Arga dengan santai.


Setelah mendengar perkataan Arga, raja Kertikeyasinga, Patih Angga maupun pangeran Jatmiko tersendak nafasnya.


"Saudaraku, maksudmu pedang ini adalah pedang kelas Dewa?" Pangeran Jatmiko tidak tenang setelah mendengar perkataan Arga. Dia ingin mengetahui kebenarannya. Tangannya gemetar dan sulit bernafas.


Sedangkan Ayu, Nilawati, Jagad dan Bedul hanya mendengarkan saja. Karena mereka sudah mengetahuinya dari Arga.


"Oh pangeran mengetahuinya, benar ini adalah senjata kelas Dewa."


Pangeran Jatmiko, raja Kertikeyasinga dan Patih Angga hanya tersenyum pahit, mereka tentu mengetahui cerita pedang itu dari catatan yang ada di perpustakaan istana.


Akhirnya mereka membubarkan diri, Arga dan keempat lainnya kembali ke ruangan yang telah disediakan sedangkan pangeran Jatmiko, raja Kertikeyasinga dan Patih Angga kembali ke kediamannya masing-masing.


Sehari setelah kematian Tumenggung Benggala dan dijebloskannya prajurit yang berniat membantu pangeran Andiko akhirnya berita itupun sampai ke pangeran Andiko.


Pangeran Andiko sendiri tinggal di perguruan Racun Pembasmi Iblis.


Pangeran Andiko langsung memukul meja yang ada dihadapannya karena dia begitu murka. Sedangkan Parwati yang berada disampingnya mengerutkan dahinya.


"Pangeran, gerakan apa yang harus kita lakukan sekarang. Kita tidak mempunyai mata-mata di kerajaan lagi." Tanya Parwati kepada pangeran Andiko sekaligus untuk menenangkannya.


"Maaf Nyi, aku ingin memikirkannya terlebih dahulu, mohon Nyai Parwati jangan menggangguku untuk sekarang." Ucap pangeran Andiko.


Tentu saja ucapan pangeran Andiko itu terdengar kurang ajar dan melukai perasaan Parwati. Tetapi Parwati hanya mengangguk pelan karena dia masih membutuhkan pangeran Andiko.


"Untung aku masih membutuhkanmu, kalau tidak kau sudah mati ditanganku." Batin Parwati.


Akhirnya Parwati meninggalkan tempat pangeran Andiko dan kembali ke kediamannya dengan perasaan yang sangat kesal.


Sebenarnya banyak wakil ketua perguruan Racun Pembasmi Iblis yang tidak setuju dengan tindakan Parwati yang ingin membatu pangeran Andiko. Karena mereka tidak yakin akan berhasil melakukan kudeta ini. Tetapi mereka semua tidak berani membantah perintah dari Parwati.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan. Andaikan benar sosok yang bernama Arga itu mempunyai pusaka yang hebat pasti akan sulit untuk mengalahkannya." Pangeran Andiko terlarut dalam lamunannya sambil memegangi kepalanya yang sedikit terasa pusing.


Dia menghela nafas panjang dan memikirkan langkah-langkah yang harus dilakukannya.


__ADS_2