Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Turnamen Pemuda Putih IV


__ADS_3

Nilawati masih terus berhadapan dengan Priamitra. Tapi kali ini Nilawati sudah berhasil membuat pemuda itu terpojok. Luka-luka sudah memenuhi tubuh Priamitra, tetapi di sisi lain kondisi Nilawati juga tidaklah baik, dia juga memiliki luka-luka di sekujur tubuhnya.


Priamitra berdecak kesal karena dia tidak menyangka bahwa Nilawati akan membuatnya terpojok seperti sekarang ini.


Nafasnya keduanya memburu, tetapi karena Nilawati sudah berhasil memojokkan Priamitra, gadis itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Nilawati langsung kembali menyerang Priamitra dengan cepat. Dia berharap bisa mengalahkan Priamitra dengan satu serangan terakhirnya.


Tampaknya dewa keberuntungan berpihak kepada Nilawati, serangan tapaknya mendarat dengan mulus di dada Priamitra dan membuat pemuda itu tidak sadarkan diri. Dengan demikian wasit mengumumkan bahwa Nilawati memenangkan pertandingan.


Nilawati menunduk memberi hormat kepada wasit dan kepada Priamitra yang sedang terbaring tidak sadarkan diri di lantai arena. Setelah itu ia kembali menuju ke arah Arga yang sedang berbincang dengan Lasmini.


Arga dan Lasmini yang daritadi menyaksikan pertandingan Nilawati akhirnya bernafas lega karena gadis itu berhasil mengalahkan musuhnya. Keduanya akhirnya memberi selamat kepada Nilawati.


Di sisi lain Sumitra, Kakak kandung dari Priamitra menatap ke arah rombongan Arga dengan tatapan selidik. Memang saat pertama kali Lasmini mendatangi Nilawati, Sumitra telah menaruh satu kecurigaan dan tebakan, "Lasmini, kekasih Tumenggung Bedul kelihatannya sangat dekat dengan kedua muda-mudi itu. Bukankah Lasmini dulu adalah seorang perampok dan dia berubah haluan gara-gara kedua kakaknya terbunuh oleh Arga dan Nilawati. Berarti..." Sumitra membatin, dia tidak menyelesaikan kata-katanya. Raut wajahnya mulai memburuk dan dia mengerutkan dahinya. Jika tebakannnya itu benar, jika dia bertemu dengan salah satu dari mareka maka perjalanannya menuju final akan sangat sulit.


Sebenarnya banyak dari pendekar-pendekar muda ini ingin mencapai final bukanlah karena hadiahnya yang akan didapatkan. Terutama murid dari perguruan besar, tetapi karena ingin mendapatkan nama di dunia persilatan dan khususnya di perguruan mereka masing-masing. Hal lainnya juga adalah mereka ingin menunjukkan bahwa jurus-jurus dari perguruan mereka adalah yang terkuat dan tertinggi serta mereka ingin membuat nama perguruan mereka menjadi terhormat dan terpandang di antara perguruan dan dunia persilatan.


Terutama perguruan-perguruan besar, mereka ingin mempertahankan kehormatan mereka di dunia persilatan. Sedangkan untuk perguruan menengah dan kecil tentu mereka juga ingin mendapatkan kehormatan tetapi mereka juga ingin mendapatkan hadiah dari Turnamen ini.

__ADS_1


Hadiah dari Turnamen Pemuda Putih ini sendiri terdiri dari empat pemenang. Pemenang pertama akan mendapatkan 10.000 keping emas, 20 guci obat-obatan dan senjata pusaka kelas atas. Pemenang kedua akan mendapatkan 5000 keping emas, 10 guci obat-obatan dan senjata pusaka kelas atas. Sedangkan untuk pemenang ketiga dan keempat akan mendapatkan 2.500 keping emas, 5 guci obat-obatan dan senjata kelas menengah.


Sumitra mengalihkan pandangannya karena tidak ingin rombongan Arga menyadari bahwa dia sedang memperhatikan mereka. Dia kemudian menatap ke arah Priamitra yang saat ini sedang dibawa oleh tim yang bertugas mengobati Peserta.


Sementara itu Rara Murni sedang berhadapan dengan Sri Ayu. Keduanya bertarung dengan imbang dan membuat penonton cukup terhibur. Terutama Sri Ayu, selain memperlihatkan kemampuan yang cukup tinggi, wajah dan tubuhnya yang indah membuat ketertarikan sendiri diantara para penonton.


Tetapi memang seharusnya, wajah dan tubuh yang indah tidak bisa digunakan untuk bertarung. Mungkin jika bertarung dengan pria, hal itu akan berguna karena bisa membuat pria tergoda, tetapi di sisi lain bertarung dengan wanita bukannya membuat mereka tergoda malah akan membuat mereka iri dan murka. Kemampuan lah yang sangat dibutuhkan di pertarungan seperti ini.


Hal itu terlihat pada saat ini, Rara Murni berhasil mendaratkan satu pukulannya kepada Sri Ayu dan membuat gadis itu tersungkur ke lantai arena.


Rara Murni yang melihat hal itu langsung meningkatkan kewaspadaannya dan juga menggunakan senjata pedang yang masih tersarung dipunggungnya. Kali ini keduanya akan bertarung menggunakan senjata masing-masing.


Rara Murni dan Sri Ayu maju secara bersamaan, keduanya sama-sama menyerang. Benturan-benturan dari kedua senjata mereka menghasilkan ledakan-ledakan kecil dan gelombang kejut di sekitar mereka.


"Bum... Bam... Bum.." Senjata mereka terus berbenturan.


Penonton yang dari tadi sudah cukup terhibur kembali bersorak-sorai melihat pertandingan itu. Banyak yang sudah memasang taruhan di awal-awal pertandingan yang membuat pertandingan itu semakin menarik.

__ADS_1


Walaupun pertandingan itu sangat menghibur tetapi ada juga penonton yang tegang, terutama yang memasang taruhan. Mereka tidak bisa memprediksi siapakah yang akan memenangkan pertandingan itu.


Rara Murni dan Sri Ayu terus menerus saling serang. Kadang Rara Murni yang terkena serangan Sri Ayu dan kadang juga sebaliknya. Tubuh keduanya sendiri sudah mendapatkan goresan-goresan baik di tangan dan wajah mereka. Bahkan ada juga yang tergores di baju dan membuat pakaian mereka robek.


Tetapi pertandingan itu akhirnya berakhir setelah Rara Murni mendaratkan satu pukulan ke arah dada Sri Ayu dan membuat gadis itu tidak bisa lagi berdiri. Dengan demikian Rara Murni memenangkan pertandingan yang imbang itu.


Semua orang bersorak-sorai, banyak yang menyerukan nama keduanya. Hal itu biasa terjadi, apalagi untuk dua orang wanita cantik.


Rara Murni memberi hormat kepada wasit dan Sri Ayu sebelum melangkah meninggalkan arena. Dia kembali ke tempat rombongan Yasha berada. Memang saat ini Yasha sedang berada di dekat Pandan Wangi dan Sekar Wangi.


Pertarungan demi pertarungan terus terjadi. Kadang dari perguruan besar yang menang dan kadang juga dari perguruan menengah ataupun kecil yang menang dan tidak sedikit pendekar tanpa perguruan yang memenangkan pertandingan itu. Memang, kemenangan tidak akan selalu didapatkan oleh pendekar-pendekar dari perguruan karena kemampuan dari masing-masing orang lah yang akan membawa mereka kepada kemenangan.


Waktu terasa begitu cepat berlalu pada hari itu. Semua orang sudah mendapatkan giliran bertarung pertama mereka. Ada yang menang dan ada yang kalah. Saat ini dari 350 peserta, tersisa setengahnya lagi, yaitu 175 peserta.


Pendekar dari peguruan yang berhasil maju ke babak selanjutnya berjumlah 140 peserta sedangkan sisanya adalah pendekar tanpa perguruan. Mereka yang menang terlihat bangga sedangkan yang kalah hanya bisa pasrah dan memanyunkan bibir mereka dan berpikir untuk berlatih dengan giat setelah Turnamen ini.


Lodaya, ketua perguruan Bambu Kuning kembali masuk ke tengah arena. Dia menjelaskan peraturan dari babak kedua dan akan dilaksanakan keesokan harinya.

__ADS_1


__ADS_2