Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Berpisah


__ADS_3

Keesokan harinya, Arga, Nilawati dan Lasmini meninggalkan Desa tempat mereka menginap. Setelah berjalan beberapa saat akhirnya mereka sampai di persimpangan jalan.


"Lasmini, kau pergilah ke kerajaan Kalingga menemui adikku dan yang lainnya, semoga kau mendapatkan kebahagiaan disana." Arga menghentikan langkah kudanya, dia melirik ke arah Lasmini. Memang Lasmini diberikan satu kuda yang dipakai Nilawati sebelumnya, sedangkan Nilawati bersama Arga.


"Terima kasih Arga, Nila. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini." Lasmini mengangguk dan memberi hormat kepada Arga dan Nilawati.


Lasmini melihat ke arah depan dan memacuh kudanya, "Hiyaaaaa....."


Setelah Lasmini tidak terlihat lagi dari pandangan, Arga dan Nilawati menarik nafasnya panjang, keduanya iba serta prihatin kepada kehidupan Lasmini sebelumnya.


"Arga, semoga saja dia tidak mengkhianati kepercayaan kita." Nilawati mendongakkan kepalanya menghadap ke arah Arga.


"Aku rasa dia tidak akan begitu. Jika dia ingin berbuat jahat dikerajaan Kalingga, maka sama saja dia mengantarkan nyawanya." Arga tersenyum tipis dan mengarahkan pandangannya kepada Nilawati yang sekarang masih memandangnya juga. Nilawati duduk di bagian depan kuda.


"Mari kita lanjutkan perjalanan kita yang masih panjang ini." Arga menatap ke arah depan dan memacuh kudanya dengan cepat, "Hiyaaaaa..."


*****


Di Bukit Sikunir terdapat sebuah gua yang cukup besar. Gua itu bernama Gua Selongsong. Di dalam gua terdapat seorang pria tua yang sedang bertapa dengan kepalanya ke bawah dan kakinya ke atas.


Di sampingnya terlihat pemuda yang berusia sekitar 25 tahun sedang bersujud dan menunggu pria tua itu membuka matanya.


Akhirnya setelah menunggu cukup lama, pria tua itu membuka matanya dan merubah posisinya. Dia berdiri tegak di sebuah batu besar di dalam Gua Selongsong itu.


"Ada apa Seta?" Pria tua itu menatap ke arah pemuda yang masih bersujud di hadapannya.


"Guru..." Pemuda yang bernama Seta itu memberi hormat kepada pria tua.


"Seta ingin mengembara mencari pengalaman. Saat Seta sedang minum-minum di Desa Sukamaju, Seta mendengar ada 2 pendekar muda yang berilmu tinggi. Kedua pendekar itu bernama Arga dan Nilawati. Ada juga kabar yang beredar bahwa pemuda yang bernama Arga itu adalah murid Mawar Bidara dan yang bernama Nilawati adalah murid dari Pendekar Penidur. Seta ingin mencari dan menantang mereka guru." Seta berbicara dengan percaya diri dan tersenyum sinis.

__ADS_1


"Bagus Seta, kau memang murid guru. Guru sudah lama tinggal di Gua ini dan memutuskan hubungan dengan duniawi. Saat guru masih sering berkelana, ada satu musuh tangguh yang tidak pernah bisa guru kalahkan." Pria tua itu mengerutkan keningnya saat mengingat masa-masa itu.


"Siapakah dia guru?" Seta menjadi penasaran, karena yang dia ketahui bahwa gurunya adalah pendekar nomor 1 aliran hitam pada masanya.


"Dia Mawar Bidara, pendekar nomor 1 aliran putih sekaligus nomor 1 di dunia persilatan pada masanya. Jika memang dia mempunyai murid dan sudah turun gunung, maka pasti dia bukan orang yang sembarangan." Pria tua itu memberitahu kepada Seta.


Kemudian pria tua itu menceritakan sepak terjang Mawar Bidara di dunia persilatan. Pria tua itu bernama Gading Koneng atau lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Pencabut Nyawa.


*****


Siti Martiah atau lebih dikenal dengan sebutan Mawar Bidara, adalah pendekar muda yang berilmu sangat tinggi. Senjatanya hanya setangkai bunga, tetapi bunga itu sangat mematikan.


Pertama kali Mawar Bidara bertemu dengan Gading Koneng saat Gading Koneng membuat kerusuhan di sebuah Desa. Kebetulan pada saat itu Mawar Bidara membantu warga Desa itu dan bertarung dengan Gading Koneng.


Saat itu usia mereka masih 20 tahunan, Mawar Bidara adalah wanita yang sangat cantik dan anggun yang membuat semua mata yang memandangnya akan kagum dan terpesona.


Gading Koneng sendiri tidak luput dari jeratan pesona itu. Walaupun Gading Koneng berhasil dikalahkan oleh Mawar Bidara tetapi dia tidak marah ataupun kecewa, malah dia tambah penasaran dengan Mawar Bidara.


Keduanya kembali bertarung, tapi Gading Koneng kembali kalah dalam pertarungan itu.


Setelah pertarungan itu Gading Koneng mengikuti kemanapun Mawar Bidara pergi dari jarak jauh. Karena dia tidak bisa lagi menahan perasaannya akhirnya dia mengutarakan bahwa dia mencintai Mawar Bidara.


Tetapi yang didapatkannya bukanlah yang dia pikirkan, ternyata Mawar Bidara menolak cintanya.


Saat itu Gading Koneng marah dan pergi. Dia juga berjanji akan selalu membuat keributan dimana-mana. Pada akhirnya Mawar Bidara dan Gading Koneng menjadi musuh abadi.


*****


Setelah bercerita, Gading Koneng memberikan izin kepada Seta untuk mengembara dan melakukan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Gading Koneng juga memberikan pusaka yang biasa dia gunakan, yaitu pedang kelas atas. Pedang itu bernama Pedang Pencabut Nyawa.


Seta sendiri adalah murid satu-satunya dari Gading Koneng. Gading Koneng menyelamatkan Seta dari perampok yang membunuh kedua orangtuanya saat berusia 5 tahun.


Gading Koneng sudah menganggap Seta sebagai cucunya dan dia menurunkan semua ilmu kanuragan yang ia miliki karena memang dia sangat menyayangi Seta.


Seta akhirnya pamit kepada Gading Koneng untuk mengembara. Dia memberikan hormat dan bersujud tiga kali kepada gurunya itu, lalu pergi meninggalkan Gua Selongsong dan turun gunung.


*****


Arga terus memacuh kudanya dengan kencang, dia baru menghentikannya saat mendekati sebuah Desa.


"Nila, kita menginap dulu disini." Arga dan Nilawati turun dari kuda dan memasuki sebuah penginapan. Kebetulan hari sudah gelap dan matahari sudah tidak terlihat lagi.


"Ki..." Arga memanggil pemilik penginapan, "Sediakan 2 kamar untuk kami dan makanan serta arak." Sambungnya.


"Maaf Den, tapi tinggal tersisa 1 kamar lagi." Pemilik penginapan berbicara dengan sopan kepada Arga.


Arga mengelus-elus dagunya, dia terlihat berpikir. Tapi sebelum dia selesai dalam pikirannya, Nilawati langsung mengiyakan dan mereka memesan 1 kamar itu. Arga juga akhirnya menerimanya.


Nilawati masuk terlebih dahulu karena dia ingin membersihkan tubuhnya. Arga menyusulnya dari belakang.


Setelah keduanya selesai, akhirnya makanan yang mereka pesan pun tiba, mereka menyantap makanan itu dengan lahap karena memang mereka sudah cukup lama tidak mengisi perut.


Setelah selesai makan, Nilawati tiba-tiba menanyakan sesuatu yang membuat Arga terbatuk-batuk.


"Arga, kita sudah lama bersama, tetapi kita belum pernah melakukannya. Apakah kau tidak mencintaiku?" Nilawati menatap Arga dengan serius.


"Uhukk... Uhukk...! Nila, apa yang kau katakan, aku sangat mencintaimu." Arga mengelus rambut Nilawati dan meyakinkannya.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita lakukan. Itu sebagai bukti kau memang benar-benar mencintaiku." Nilawati terus mendesak Arga dan memaksanya.


__ADS_2