Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Bertarung


__ADS_3

"Tidak berniat jahat? Bukankah kau masuk ke dalam goa ini tanpa permisi terlebih dahulu adalah kejahatan!" Suara tanpa sosok itu mendengus kesal kepada Arga.


Mendengar hal itu membuat Arga tersenyum canggung. Tetapi setelah melihat ada ruang untuk berkomunikasi Arga tidak menyia-nyiakannya.


"Sesepuh, aku tahu aku salah, tetapi aku terpaksa melakukannya. Aku mohon pengertian sesepuh!"


Setelah Arga berkata demikian, tiba-tiba udara disekitarnya menjadi dingin tetapi beberapa tarikan nafas selanjutnya berubah menjadi panas. Hal itu terjadi selama beberapa waktu.


Arga sendiri hanya bisa menahannya dengan mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar. Saat dia berkomunikasi dengan suara tanpa sosok itu, Arga juga menelan pil yang bisa menambah tenaga dalamnya.


Setelah hampir terjadi selama lima belas menit, tiba-tiba angin berhembus kencang menghantam tubuhnya. Satu tarikan nafas selanjutnya terlihat seorang pria tua yang janggut, kumis, rambut serta alis matanya sudah berubah sepenuhnya menjadi putih. Halnitu menunjukkan bahwa pria sepuh itu sudah cukup tua.


"Aku sudah tahu apa yang kau cari. Tetapi sebaiknya kau pergi, karena bukan disini tempatnya!" Sambil berkata demikian, tangan pria sepuh itu juga mencengkeram leher dari Arga.


"Se-sepuh, ma-afkan ke-lan-cang-an-ku!" Perkataan Arga terputus-putus karena dia kesulitan untuk bernafas.


Sebenarnya Arga sudah mengalirkan tenaga dalamnya untuk melonggarkan cengkeraman itu, tetapi bukannya melonggar, malah lebih kuat.


Pria sepuh itu tidak menanggapi Arga, "Gedebukkkk!"


Dia melemparkan tubuh Arga ke dinding goa membuat Arga membenturnya dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Tetapi tidak ada rasa sakit, karena Arga sendiri sudah menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat kedua yang membuat tubuhnya keras.


"Pergi dari sini sebelum aku membunuhmu!" Ucap pria sepuh itu dengan menatap Arga dingin.


"Sesepuh, aku-?!" Arga menghentikan kata-katanya ketika merasakan tekanan dari kekuatan pria sepuh itu.


Dia ingin melanjutkan kata-katanya tetapi tidak ada suara yang bisa dia keluarkan. Arga hanya bisa membuka dan menutup mulutnya secara bergantian.


"Kalau pun yang kau cari benar-benar ada disini, kau juga tidak akan mendapatkannya." Ucap pria sepuh itu. Mendengar itu, Arga seakan menangkap sesuatu, 'Berarti Bunga Mawar Hitam memang ada disini!' Gumam Arga dalam hatinya.


Arga berdiri, "Sesepuh, jika kau memberikannya padaku maka aku akan melakukan apa saja untukmu!" Ucap Arga dengan yakin.


"Melakukan apa saja untukku?" Pria sepuh itu menaikkan alisnya.

__ADS_1


Arga mengangguk, tetapi wajahnya langsung mengkerut saat pria sepuh itu berkata, "Termasuk aku menginginkan nyawamu?" Ucapnya pelan.


"Sesepuh itu-?!"


"Sudahlah jika kau tidak ingin menyerahkan nyawamu, sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran!" Usir pria sepuh itu sambil kembali menatap Arga dingin.


Arga hanya bisa mengumpat dalam hatinya, jika dia mati disini bagaimana dia memberikan Bunga Mawar Hitam itu kepada istrinya! Menurutnya permintaan pria sepuh itu gila!


"Sesepuh, adakah cara lain untuk aku mendapatkannya?" Tanya Arga dengan ragu-ragu. Walaupun masih merasakan nafsu Membunuh dari pria sepuh itu tetapi sudah cukup berkurang.


"Kalau begitu hadapi aku, jika kau bisa mengalahkanku maka aku akan memberikannya!"


Mendengar pria sepuh itu menantangnya, Arga terlihat bimbang. Menurutnya situasinya ini tidak berbeda dengan memakan buah simalakama.


Arga sebenarnya mau saja menerima tantangan itu, tetapi bagaimana jika pria sepuh itu hanya ingin mencari lawan tanding. Setelah Arga mengalahkannya ternyata dia tidak mendapatkan apa yang dia cari. Atau yang lebih buruk, Arga bisa terbunuh di tangan pria sepuh itu.


Pria sepuh itu seolah menangkap isi hati Arga, dia mengibaskan satu tangannya dan sedetik kemudian sebuah tanaman muncul dihadapannya. Tepat di atas batu yang Arga duduki sebelumnya.


Melihat ciri-ciri dari tanaman itu, sudah jelas tanaman itu adalah Bunga Mawar Hitam.


Arga tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan.


Menurutnya apapun yang terjadi dia harus mendapatkannya. Tetapi bagaimana jika dia mati? Bukan hanya dia yang mati, tetapi istrinya juga dipastikan akan mati? Arga memutar otaknya untuk hal itu.


Lagi-lagi pria sepuh itu seperti bisa membaca pikiran Arga, "Jika kau mati disini, karena kau telah menemaniku bermain-main, maka aku akan mengantarkan Bunga Mawar Hitam ini kepada istrimu!"


Mendengar pria sepuh itu sepertinya mengetahui banyak tentangnya membuat Arga menaikkan alisnya. "Seberapa banyak yang diketahui sesepuh ini!" Lirih Arga dalam hatinya.


"Semua tentangmu bisa dikatakan aku mengetahuinya!" Celetuk pria sepuh itu sambil tersenyum tipis seolah bukanlah hal yang besar.


Sementara di sisi lain, Arga mengerutkan dahinya, "Semua tentangku?!" Arga tidak bisa mempercayainya. Tetapi setelah diingat lagi, mungkin dia bisa mempercayainya.


Tidak ingin berlama-lama karena waktu sangat berharga. Lagi pula walaupun dia terbunuh pria sepuh itu sudah berjanji akan menyelamatkan istrinya. Arga memasang kuda-kudanya.

__ADS_1


"Ku harap sesepuh tidak mengingkari janji!" Seru Arga dengan lantang. Satu detik kemudian dia melesat maju menyerang pria sepuh itu.


"Ajian Serat Jiwa : Ajian Gelang-gelang!"


Dari awal pertarungan Arga sudah mengeluarkan kekuatan penuhnya. Dia sadar kali ini dia bukan menghadapi lawan yang mudah.


Api berkobar di telapak tangan hingga bahunya. Api itu bersentuhan dengan tepak pria sepuh itu, bukannya terbakar, pria sepuh itu seoakh biasa-biasa saja. Bahkan dia juga mengomentari teknik bertarung Arga di sela-sela pertarungannya.


"Ajianmu ini sebenarnya kuat, tetapi kemampuanmu yang sebenarnya bukan berada pada pertarungan dengan tangan kosong!"


"Api yang keluar dari tanganmu juga begitu kuat, tetapi dihadapan ku yang bisa mengendalikan air, tentu api ini tidak bisa berbuat banyak!"


Mendengar teknik bertarungnya dikomentari oleh pria sepuh itu tidak membuat Arga marah ataupun murka. Dia sadar juga dengan hal itu dan dia setuju dengan hal itu.


Tidak terasa, pertukaran serangan antara Arga dan pria sepuh itu sudah mencapai satu jam lebih. Ajian demi ajian Arga keluarkan tetapi belum bisa mendaratkan satu pukulan pun kepada pria sepuh itu.


Sementara pria sepuh itu sudah beberapa kali berhasil melukai Arga.


"Ajian Serat Jiwa : Ajian Serat Buto Agni!"


Ajian Serat Jiwa tingkat keenam itu membuat Arga bisa memperbesar ukurannya seperti raksasa.


Saking tinggi dan besarnya perubahannya membuat langit-langit goa hancur dan tembus.


Tetapi Arga tidak perduli dengan hal itu, yang terpenting baginya kali ini adalah kemenangan.


Tetapi pria sepuh itu tidak gentar, dia masih bisa tersenyum tipis melihat hal itu.


"Kau tampaknya sangat serius anak muda. Kau sudah menghancurkan tempat tinggalku, maka aku akan mulai serius sekarang!"


Walaupun pria sepuh tersebut berkata seperti itu, tidak ada kemarahan dia hanya tertawa kecil.


Seketika tubuhnya memancarkan cahaya kegelapan. Hitam sangat hitam dan pekat. Jika orang lain melihat cahaya itu, dia pasti sudah tewas sebelum menerima jurusnya.

__ADS_1


"Cahaya Kegelapan : Menutup Langit Mengguncang Bumi!"


__ADS_2