Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Segoro Jaya, Sang Dewa Kegelapan


__ADS_3

Arga menyaksikan dengan seksama jurus yang dikeluarkan pria sepuh itu. Jurus tersebut baru pertama kali di lihatnya.


Tetapi dia tidak ambil pusing, Arga langsung mengangkat tangan kanan raksasanya dan menghempaskannya ke pria sepuh itu.


Pria sepuh itu tidak bergerak ataupun menghindar, dia tetap berdiri tegak di tempatnya sebelumnya sambil menatap tangan Arga yang besar mengarah ke arahnya.


Boommm


Suara ledakan terdengar, hasilnya membuat lubang yang cukup besar. Jika orang lain mungkin akan mati oleh satu serangan itu. Tetapi pria sepuh itu?


Arga mengangkat tangannya dan dia melihat hanya menghantam tempat kosong.


Di balik kepulan asap bekas hantaman tangan Arga tiba-tiba ada asap lain yang berwarna hitam.


Asap hitam itu perlahan-lahan kian membesar dan akhirnya berkumpul menjadi satu dan membentuk tubuh pria sepuh itu.


"Apa!" Arga tidak bisa menahan keterkejutannya.


Di sisi lain, pria sepuh itu terkekeh-kekeh mengejek Arga.


"Sebenarnya hantamanmu itu sangat dahsyat anak muda. Tetapi tidak berarti di hadapanku! Ayo keluarkan lagi semua ilmu yang kau kuasai!" Pria sepuh itu menunjuk Arga, tetapi tetap mempertahankan tawanya.


Arga tentu geram, kali ini dia menyatukan kedua tangannya dan kembali menghantam ke arah pria sepuh itu.


Tetapi kali ini lagi-lagi serangan itu tidak berdampak apa-apa kepada pria sepuh, hanya membuat lubang besar lagi.


Melihat serangannya tidak berhasil, Arga mengecilkan tubuhnya kembali seperti semula.


Kali ini dia mengeluarkan pedangnya. Dengan secepat kilat dia menebas ke arah pria sepuh.


Tetapi seperti sebelumnya, pedang itu hanya menghantam asap berwarna hitam.


"Anak muda, kau tidak bisa bertarung hanya menggunakan kemampuanmu saja. Harus ada hati dan pikiran yang menemaninya!"


Asap hitam itu menyebar di sekitar Arga dan sesaat kemudian berkumpul menjadi satu.


Boooommmm


Asap hitam itu menghempas Arga dan membuatnya kembali terpental.


Setelah pertarungan yang sangat dahsyat tidak ada lagi goa sebelumnya. Hanya ada reruntuhan bebatuan. Goa yang sebelumnya sudah hancur.


"Anak muda kau harus tetap tenang walaupun menghadapi seseorang yang ilmunya lebih tinggi dari kau!" Pria sepuh itu menatap Arga.

__ADS_1


Arga kembali berdiri, tetapi kali ini dia menuruti perkataan pria sepuh itu, dia bersikap tenang.


Perlahan-lahan dia memejamkan matanya. Dia menggunakan instingnya untuk menyerang pria sepuh itu.


Dengan mata terpejam Arga bergerak maju dengan sebilah pedang di tangan kanannya.


Arga bisa melihat bentuk dari asap hitam itu dengan jelas dengan mata yang tertutup.


Sementara pria sepuh yang melihat hal tersebut tersenyum lebar. Kali ini dia menghindari serangan Arga, karena jika tidak maka Arga akan melukainya. Kali ini Arga menemukan kelemahan ilmunya!


Tetapi tentu saja pertarungan itu tidak hanya sampai disitu. Pria sepuh dan Arga kembali melangsungkan pertarungannya.


Partarungan itu berlangsung selama tiga hari tiga malam. Dan pada akhirnya, Arga tidak berhasil membunuh ria sepuh itu. Sementara pria sepuh itu juga tidak berhasil membunuh Arga.


Dan sekarang keduanya sedang berdiri tegak berhadap-hadapan. Tidak ada yang berniat maju dan menyerang.


Tidak ada juga kata-kata keluar dari mulut mereka. Keduanya hanya saling menatap antara satu sama lain.


"Kau memang kuat anak muda. Pantas saja, si Tua Joko dan Brama itu menurunkan kesaktiannya kepadamu!" Ucap pria sepuh itu.


Arga tidak terkejut lagi, pria sepuh itu mengetahui asal-usul jurusnya. Lebih tepatnya dia tidak perduli.


"Walaupun kau tidak mengalahkanku dan aku tidak membunuhmu. Kau boleh membawa Bunga Mawar Hitam ini." Pria sepuh itu mengeluarkan setangkai Bunga Mawar berwarna Hitam.


"Terima kasih sesepuh!" Arga mengambilnya dengan hati-hati dan menggunakan jurus Ndhelikake Soko untuk menyimpannya.


"Bagaimana aku memanggil sesepuh?" Tanya Arga.


"Namaku Segoro Jaya, tetapi di dunia persilatan aku lebih dikenal dengan sebutan Dewa Kegelapan!" Jelasnya.


"Dewa Kegelapan?" Ujar Arga.


"Baiklah aku akan memanggil sesepuh, Kakek Goro!" Jelas Arga.


Segoro Jaya tidak menolak, dia mendekati Arga dan menepuk pundaknya.


"Kau adalah utusan para dewa untuk menjaga bumi ini. Laksanakan tugasmu dan buat bumi ini menjadi layak di huni."


Arga menganggukkan kepalanya dan berjanji akan mengingat pesan Segoro Jaya.


Saat Arga berniat pamit, tetapi langkahnya dihentikan oleh pria sepuh itu.


"Arga, kau sudah melihat ilmu yang aku keluarkan. Kenapa kau tidak berpikir untuk memintanya?" Tanya Segoro Jaya dengan heran.

__ADS_1


"Aku tidak berani Kakek Goro!" Jawab Arga dengan tersenyum kecut.


"Jika aku memberikannya kepadamu, maukah kau menerimanya?" Tanya lagi Segoro Jaya sambil menaikkan alisnya.


"Kakek Goro mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat. Jika kakek Goro berniat memberikannya kepadaku tentu aku tidak punya kekuatan dan kemampuan untuk menolaknya." Arga tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mendengar perkataan Arga dan melihat tingkah lakunya membuat Segoro Jaya tertawa lantang.


"Arga... Arga... Hahaha!" Segoro Jaya tidak bisa berkata apa-apa. Menurutnya Arga ini memiliki kepribadian yang unik.


Setelah itu, Arga berguru kepada Segoro Jaya untuk menerima ilmu yang digunakan Segoro Jaya sebelumnya.


*****


Widura yang sesekali melihat dan merasakan guncangan hebat yang keluar dari arah goa mengerutkan dahinya. Wajahnya pun ikut memburuk.


"Apa yang terjadi pada saudara Arga?" Sebenarnya Widura ingin mengetahuinya, tetapi dia tidak punya kemampuan untuk melakukannya.


Dia terus mengamati arah goa, dan kali ini dia mendengar sebuah ledakan besar dan saat dia mengamati secara jelas, Widura melihat Arga yang menjadi raksasa.


"Saudara Arga bisa menjadi seperti itu?" Widura kesulitan bernafas, menurutnya gelar jagoan nomor satu di dunia persilatan saat ini sudah sepantasnya di berikan kepada Arga.


Widura terus mengamati hal tersebut sampai akhirnya tidak ada lagi suara ledakan ataupun pertarungan yang terjadi.


Akhirnya Widura memutuskan untuk kembali duduk bersila dan menenangkan pikirannya sembari menunggu kedatangan Arga.


*****


Di sisi lain tepatnya di dasar danau yaitu kerajaan Siluman Buaya.


Banyak anggota kerajaan itu menjadi panik. Hal itu terjadi karena tempat mereka bergetar hebat dan beberapa bangunan runtuh.


Tidak terkecuali raja siluman buaya dan keturunannya yang sedang beristirahat di ruangan pribadi keluarga mereka.


"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?" Putra raja siluman buaya menanyakannya. Baru kali ini dia merasakan guncangan yang amat dahsyat selama dia hidup.


"Ayah tidak mengetahuinya, tetapi ini pasti berhubungan dengan pendekar Arga!" Jawab raja siluman buaya.


'Pendekar Arga sungguh memiliki kemampuan yang hebat!' Gumam raja siluman buaya dalam hatinya.


Dia bernafas lega karena saat menemui Arga, dia dan putranya tidak berbuat jahat ataupun memaksa Arga.


Dia hanya berharap bahwa Arga menepati janjinya untuk menolong putrinya.

__ADS_1


__ADS_2