
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya pangeran Andiko memutuskan untuk segera menyerang istana. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi.
Dua hari setelah kematian Tumenggung Benggala dan terbongkarnya rencana pangeran Andiko akhirnya dia memutuskan untuk segera menyerang kerajaan.
Mereka sudah mengepung istana kerajaan Kalingga dari semua arah untuk memastikan tidak ada yang lolos dari serangan ini.
Pangeran Andiko dan Nyai Parwati bersama murid perguruannya menyerang dari gerbang utama, yaitu sebelah Barat kerajaan.
Dari arah Utara dipimpin oleh Suryawi dan Juga Saksono bersama murid perguruannya.
Dari arah Timur dipimpin oleh Katiwanda dan juga Mahesa Semar bersama murid perguruannya.
Dari arah Selatan dipimpin oleh Topeng Setan dan Werku Alit bersama rombongannya.
Saat semuanya sudah siap menyerang, pangeran Andiko berseru lantang, "Serang! Jangan ada yang dibiarkan hidup!" Suaranya lantang menggema di seluruh penjuru.
Semua orang menyerang istana dari berbagai arah, sedangkan para pendekar-pendekar yang berilmu tinggi menyaksikan terlebih dahulu.
Prajurit istana yang menjaga pintu masuk langsung menabuh gong, "Istana diserang, istana diserang." Teriak prajurit itu.
Semua yang berada di istana langsung keluar memeriksa keadaan. Begitupun raja Kertikeyasinga, dan petinggi-petinggi kerajaan.
Arga dan yang lainnya pun ikut keluar dari ruangannya.
Pertarungan terjadi antara pihak kerajaan dan pihak pemberontak. Prajurit istana sendiri sekitar 35.000 orang sedangkan di pihak pangeran Andiko sekitar 50.000 orang.
Walaupun jumlah pihak kerajaan lebih sedikit tetapi mereka tidak gentar menghadapi serangan aliansi perguruan aliran hitam yang dipimpin pangeran Andiko itu.
Serangan mendadak itu juga berhasil mengejutkan pihak kerajaan, mereka tidak menyangka pihak pangeran Andiko akan bergerak secepat ini.
"Tumenggung Bahurekso, Tumenggung Jenggala, kalian pertahankan sebelah Timur." Ucap raja Kertikeyasinga.
"Baik yang mulia."
"Tumenggung Suropati, Tumenggung Giriwara, kalian pertahankan sebelah Selatan."
"Tumenggung Jaya Sakti, Tumenggung Braja Geni, kalian pertahankan sebelah Utara."
"Baik yang mulia."
"Pangeran Jatmiko, Patih Angga kita pertahankan pintu gerbang utama." Ucap raja Kertikeyasinga.
"Baik yang mulia."
__ADS_1
"Baik Ayahanda."
"Tumenggung Wijaya Kusuma, siapkan prajurit pemanah."
"Baik yang mulia."
Sebenarnya Tumenggung kerajaan Kalingga berjumlah sebanyak 9 orang, tetapi karena 2 orang membelot sekarang tersisa 7 orang lagi.
Arga dan yang lainnya menghadap ke raja Kertikeyasinga.
"Maaf yang mulia, kami juga ingin membantu." Ucap Arga sambil memberikan hormat.
"Arga, kau dan yang lainnya tunggu saja dulu, perhatikan pendekar-pendekar yang ada disana. Kerajaan sangat membutuhkan bantuan kalian." Ucap raja Kertikeyasinga sambil menunjuk ke arah ketua-ketua perguruan aliran hitam.
"Baik yang mulia, kami akan melakukan segenap kemampuan kami untuk mempertahankan kerajaan Kalingga."
Arga dan yang lainnya melihat ke arah yang ditunjuk raja Kertikeyasinga, mereka melihat ada sekitar 20 pendekar tingkat tinggi yang membantu pangeran Andiko melakukan penyerangan ini.
Saat mata Arga melihat sosok yang memakai Topeng, dia langsung mengenali sosok itu adalah Topeng Setan.
Dia mengepalkan tangannya dan berjanji akan membunuh Topeng Setan.
Pertarungan terjadi sangat dahsyat, banyak yang gugur di pertempuran ini baik dari pihak kerajaan maupun pihak pemberontak.
Suryawi hanya mengangguk, kemudian mereka berdua maju ke medan pertempuran. Keduanya membunuh semua prajurit yang mendekat. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba 2 orang Tumenggung menghadang mereka. Mereka adalah Tumenggung Jaya Sakti dan Braja Geni.
"Kalian berdua ingin melawan kami, mimpi!" Ucap Suryawi.
Suryawi langsung menyerang Tumenggung Jaya Sakti, sedangkan Saksono menyerang Tumenggung Braja Geni.
Pertukaran ilmu mereka menciptakan gelombang kejut yang sangat dahsyat.
Suryawi adalah ahli bertarung menggunakan tangan kosong, sedangkan Tumenggung Jaya Sakti menggunakan keris. Keduanya bertarung dengan menggunakan segenap kemampuan mereka.
Di sisi lain Saksono lebih memilih menjaga jarak dengan Tumenggung Braja Geni. Saksono mengeluarkan ilmu sulingnya. Suara dari suling itu mengeluarkan lebah-lebah yang beracun.
Tumenggung Braja Geni menggunakan kerisnya untuk membunuh lebah-lebah yang dikeluarkan Saksono.
Di sisi lain Tumenggung Suropati dan Tumenggung Giriwara berhadapan dengan Topeng Setan dan Werku Alit.
Keempatnya pun mengeluarkan segenap kemampuan mereka.
Tumenggung Giriwara berhadapan dengan Topeng Setan, sedangkan Tumenggung Suropati berhadapan dengan Werku Alit.
__ADS_1
Tumenggung Giriwara menyerang Topeng Setan dengan kerisnya, sedangkan Tumenggung Suropati menyerang Werku Alit menggunakan Tombaknya. Pertarungan mereka juga sangat dahsyat.
Di sebelah timur, Tumenggung Bahurekso dan Tumenggung Jenggala berhadapan dengan Mahesa Semar dan Katiwanda.
Tumenggung Bahurekso menyerang Mahesa Semar menggunakan kerisnya sedangkan Mahesa Semar menggunakan tombaknya. Di sisi lain Tumenggung Jenggala menggunakan goloknya sedangkan Katiwanda menggunakan tongkatnya.
Pertempuran pendekar tingkat tinggi tidak dapat di elakkan lagi.
Suara dentuman-dentuman keluar dari pertukaran serangan mereka.
Patih Angga dan raja Kertikeyasinga bersama-sama menyerang Nyai Parwati, seorang ahli racun tingkat tinggi.
Sedangkan pangeran Jatmiko menghadapi adiknya pangeran Andiko sekaligus orang yang melakukan pemberontakan itu.
"Keserakahanmu akan kekuasaan jadi membutakanmu Dimas Andiko." Ucap pangeran Jatmiko dengan wajah yang terlihat sedih. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyayangkan tindakan yang di ambil oleh adiknya itu. Walaupun bukan adik kandung, tetapi pangeran Jatmiko mencintai dan menyayangi semua adik-adiknya.
"Tidak usah sok peduli, kanda. Hari ini kau dan yang lainnya akan mati disini. Sedangkan aku akan menjadi raja selanjutnya menggantikan ayahanda." Ucap pangeran Andiko dengan tatapan dingin dan tak menghiraukan perkataan dari pangeran Jatmiko.
"Baiklah kalau begitu, silahkan kau coba." Pangeran Jatmiko tidak berniat berbasa-basi lagi. Dia sadar tidak akan bisa menyadarkan lagi adiknya itu yang telah dibutakan keserakahan.
Di sisi lain Arga, Ayu, Nilawati, Jagad dan Bedul menghadapi ketua perguruan aliran hitam lainnya dan wakil-wakil ketuanya yang juga memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi.
Arga sendiri menghadapi 5 orang sekaligus dari musuh.
"Anak muda, kau masih sangat muda, masih terlalu dini untuk kau ******." Ucap seseorang yang menghadapi Arga.
"Kita buktikan saja kisanak. Jangan banyak bicara, karena yang menentukan adalah kekuatan bukan mulut." Balas Arga dengan tatapan dingin.
Kelima orang itu maju menyerangnya, mereka menggunakan pedang untuk menyerang Arga.
Arga sendiri menyambut serangan mereka menggunakan tangan kosong, dia menggunakan jurus cakar besi mengoyak langit.
Walaupun serangan kelima orang itu berpola teratur, tetapi dengan kecepatan dan kelincahan Arga bisa mengimbangi mereka.
Di sisi lain, Ayu dan Jagad bekerja sama, mereka sedang di kelilingi oleh 4 orang musuh. Keduanya bergerak lincah dan gesit membuat musuh kewalahan.
"Jangan sampai lengah, Ayu." Ucap Jagad memperingati Ayu.
"Baik Jagad." Balasnya dengan senyum tipis.
Kemudian keduanya menatap ke arah lawannya dengan tatapan dingin. Keduanya kembali maju menyerang musuhnya.
Nilawati dan Bedul juga menghadapi empat orang. Keduanya juga terlihat gesit dan lincah. Nilawati menyerang menggunakan kipas di tangannya sedangkan Bedul hanya menggunakan tangan kosong. Di sisi lain musuhnya menyerang menggunakan golok di tangannya.
__ADS_1