
Saat Arga, Widura dan Pangeran Rendra sedang asyik berbincang, tiba-tiba ada Tumenggung Aling datang menghampiri mereka.
"Paman Aling apa yang kau lakukan?" Pangeran Rendra terkejut dengan kedatangan Tumenggung Aling dan sedikit tidak senang atas hal itu.
"Maafkan aku Pangeran, tetapi keadaan yang memaksa bersikap demikian!" Balas Tumenggung Aling sambil terlihat takut.
"Apa maksud Paman?" Pangeran Rendra sedikit melunak karena penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Tumenggung Aling.
Sementara Arga dan Widura tidak berkata apa-apa, Keduanya hanya menyaksikan dan mendengarkan perbincangan dua orang itu.
"Kelompok Paus Darah Pangeran! Kelompok Paus Darah terlihat beberapa ratus meter saja di depan kapal kita. Mereka membawa banyak pasukan dan dilihat dari gelagatnya, mereka akan menuju kapal kita." Suara Tumenggung Aling menjadi bergetar.
Bagaimana tidak? Siapa yang tidak mengenal Kelompok Paus Darah di daerah ini. Walaupun tidak mengenalnya pasti sudah mendengarnya.
Sebuah Kelompok yang dihuni pendekar-pendekar dengan kemampuan cukup tinggi dan berjumlah lebih dari seratus orang.
Kerajaan Samudra yang merupakan kerajaan cukup besar saja tidak berani bersikap lancang kepada mereka dan menghentikan operasi mereka.
Sekarang Pangeran Rendra memahami situasinya, wajahnya berubah menjadi pucat pasih dan melirik ke arah Arga dan Widura sambil memperlihatkan wajah memelas.
Arga dan Widura yang menyadari hal itu tersenyum tipis, lalu Arga mengangkat suaranya.
"Sebaiknya kita sambut mereka sebelum mereka sampai!" Setelah itu baik Arga dan Widura berdiri dan berjalan dengan pangeran Rendra dan Tumenggung Aling berada di belakangnya.
"Kalian sambut mereka, tanyakan apa yang mereka inginkan. Aku dan Saudara Widura akan memantau dari sana." Arga menunjuk puncak tertinggi kapal.
"Baik Saudara Arga, Saudara Widura!" Balas Pangeran Rendra.
"Segera laksanakan apa yang dikatakan Saudara Arga dan Saudara Widura!" Titah Pangeran Rendra kepada Tumenggung Aling.
"Baik Pangeran!" Tumenggung Aling bergegas pergi, bersamaan dengan itu, Arga dan Widura meloncat untuk bersembunyi.
Benar saja, tidak lama kemudian, lebih dari seratus anggota Kelompok Paus Darah mendarat di kapal mereka. Di lihat dari banyaknya mereka, Pangeran Rendra menduga mereka membawa pasukan penuh mereka.
__ADS_1
Dugaan Pangeran Rendra memanglah tepat, Kelompok Paus Darah memang membawa pasukan penuh mereka, karena mereka menyadari bahwa pangeran Rendra akan dilindungi oleh Pendekar yang cukup mumpuni. Tetapi yang tidak mereka sadari adalah, Pendekar yang menjadi pangeran Rendra bukan hanya mumpuni, tetapi merupakan pendekar muda yang paling berbakat dan dikabarkan sudah menjadi jagoan nomor satu dunia persilatan.
"Apa... Apa yang diinginkan Kelompok Paus Darah dari kami?" Pangeran Rendra terbata-bata, tubuhnya masih bergetar walaupun dia menyadari Arga dan Widura akan memastikan keselamatannya.
Salah seorang maju dari mereka maju, terlihat seperti seorang pria paruh baya yang berusia sekitar lima puluh tahunan awal.
Sebelah matanya tertutup, dan mata sebelah kanannya terdapat goresan panjang dari kening ke pipi.
"Oh pangeran Rendra, kami sudah menunggu kedatangan Anda kemari!" Pria paruh baya itu tersenyum licik.
"Kau... Kau Cakra Buana! Pemimpin dari Kelompok Paus Darah ini!" Balas Pangeran Rendra ketakutan.
"Oh ternyata Pangeran Rendra sudah mendengar namaku. Dengan demikian pangeran Rendra sudah tahu bukan apa yang harus dilakukan? Pangeran Rendra sudah sering mendengar kabar orang yang menolak permintaanku bukan?" Cakra Buana, Pemimpin Kelompok Paus Darah itu seperti menikmati ketakutan Pangeran Rendra. Bukan hanya Pangeran Rendra, sepuluh pengawalnya dan para prajurit pun ketakukan dibuatnya.
"Sebaiknya kalian serahkan semua yang kalian bawa kepada kami. Mungkin kami akan melepaskan kalian!" Cakra Buana tertawa dengan lantang diikuti oleh para anggotanya di belakang.
Sementara Pangeran Rendra dan lainnya memucat. Mereka sudah mendengar sendiri bagaimana sepak terjang pria paruh baya yang berada di hadapan mereka. Sejauh yang diketahuinya, Kelompok Paus Darah tidak pernah melepaskan korban perampokan mereka hidup-hidup.
"Hmph... Ternyata ada seorang jagoan disini! Tunjukkan wajahmu, aku mau melihat seperti apa wujud orang yang berani melawanku." Suasana menjadi hening seketika saat Cakra Buana berteriak lantang seperti itu.
*****
Arga dan Widura menyaksikan kapal-kapal kecil yang berjumlah puluhan mendekati kapal mereka dengan satu kapal yang cukup besar dan terpasang jelas bendera dengan lambang Paus berwarna merah darah yang sedang membuka mulutnya lebar-lebar dan menunjukkan gigi-gigi yang tajam. Itu merupakan lambang dari Kelompok Paus Darah.
Keduanya juga menyaksikan mereka menaiki kapal yang membawa rombongannya.
Arga dan Widura juga menyaksikan perbincangan antara Pangeran Rendra dengan orang yang bernama Cakra Buana itu.
Dari hasil pengamatan Arga, Cakra Buana ini merupakan pendekar yang memiliki kemampuan tinggi.
Tidak salah, semuanya takut, karena orang yang berada di kapal ini kemampuannya jauh di bawah Cakra Buana.
Arga menjadi murka saat melihat Cakra Buana seperti menikmati ketakutan semua orang. Menurutnya itu sangat berlebihan.
__ADS_1
Seketika saja, Arga mengeluarkan aura bertarungnya. Aura bertarung itu merembes dengan cepat sampai ke anggota Kelompok Paus Darah yang membuat mereka berhenti tertawa. Bahkan ada beberapa orang yang kehilangan kesadarannya.
"Hmph... Ternyata ada seorang jagoan disini! Tunjukkan wajahmu, aku mau melihat seperti apa wujud orang yang berani melawanku." Arga mendengar jelas teriakan dari Cakra Buana.
Arga tidak menjawab, Widura juga demikian.
"Hahaha... Hahaha... Hahaha..." Arga membalasnya dengan tawa kencang. Bersamaan dengan itu, dia menarik kembali aura bertarungnya.
"Mari kita turun Saudara Widura!" Bisik Arga pelan.
Widura mengangguk, keduanya meloncat ke tengah-tengah kelompok Pangeran Rendra dan Kelompok Paus Darah.
"Widura?" Salah satu anggota Kelompok Paus Darah yang berada di belakang Cakra Buana berseru cukup keras sehingga bisa terdengar oleh semua orang.
"Hmph... Ada yang mengenalik?!" Widura menaikkan alisnya.
"Oh... Oh... Oh... Ternyata Pendekar muda dari perguruan Bunga Matahari yang terkenal." Cakra Buana mengangkat suaranya.
"Tetapi kudengar beberapa waktu lalu perguruan kalian dihancurkan. Aku turut prihatin!" Walaupun perkataannya demikian, tetapi wajahnya menunjukkan sebaliknya, menghina dan mengejek!
Widura tentu saja menyadarinya, tetapi dia tetap bersikap tenang. Karena dia mengetahui bahwa Cakra Buana ingin memprovokasinya.
"Jika kau Widura, tidak mungkin dia Ilalang bukan? Tidak mungkin murid dari perguruan Bunga Matahari dan murid dari perguruan Sanca Hitam akan berteman." Perkataan Cakra Buana itu mengundang tawa dari anggota kelompoknya.
Ilalang adalah seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh lima tahun. Dia merupakan murid paling berbakat di perguruan Sanca Hitam sekaligus musuh bebuyutan Widura. Sebab itulah Cakra Buana berkata seperti sebelumnya, karena ingin mengejek Widura.
"Sayangnya bukan! Pemuda yang berada disampingku ini lebih hebat daripada Ilalang dan lebih terkenal daripadanya. Bahkan hampir seluruh Pendekar di tanah Jawa akan mengenali namanya." Widura tertawa kecil sedangkan Cakra Buana mengerutkan dahinya. Dia mulai berpikir bahwa Widura membual dan membohonginya.
Tetapi saat Widura memperkenalkan pemuda di sampingnya, tubuh Cakra Buana bergetar hebat. Untung saja dia memiliki kemampuan tinggi jika tidak maka dia akan dalam kondisi berlutut seperti beberapa orang di belakangnya.
*****
Jangan lupa kunjungi karya terbaruku ya judulnya POISON KING KULTIVATOR, gak kalah seru lho!
__ADS_1