Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Siluman Kera


__ADS_3

Hari sudah sore sebentar lagi akan gelap, Arga sudah berhasil mengalahkan sosok yang sebelumnya menghalanginya.


Melihat tak ada lagi yang menghentikannya, dia perlahan-lahan mulai masuk ke dalam gua. Arga tidak menurunkan kewaspadaannya, setelah berhadapan dengan sosok misterius tua dan sosok misterius seperti setan Arga mengira masih akan banyak lagi yang akan mengajaknya bertarung.


Memang di dunia ini terutama di dunia persilatan seperti ini kalau tidak hati-hati maka kita akan mati dengan cepat.


Langkah demi langkah kaki Arga berjalan memasuki gua sambil matanya melirik ke arah kiri dan kanan mencari tahu keberadaan Nilawati mungkin saja ada disana pikirnya.


Setelah cukup lama mencari, gua itupun sudah ditelusuri nya semua, Arga tidak menemukan apa-apa.


Saat Arga hendak keluar ternyata hari sudah malam, Arga memutuskan untuk bermalam di gua itu saja.


Arga mengambil tempat di atas sebuah batu besar, dia duduk bersila dan memejamkan matanya. Arga memposisikan diri untuk bersemedi.


Waktu terasa begitu cepat, tak terasa hari sudah pagi. Suara ayam hutan berkokok memasuki telinga Arga. Suara kicauan burung tidak kalah nyaringnya.


Arga membuka matanya, sinar matahari sudah terang memasuki gua. Dia berdiri dan memutuskan untuk keluar dari gua itu.


Tetapi saat dia ingin melangkahkan kakinya menuju pintu masuk gua, tiba-tiba Arga merasakan adanya tekanan yang sangat dahsyat dari gua itu. Tubuhnya seakan-akan ditarik, tenaga dalamnya sedikit demi sedikit berkurang.


"Apa... Apa-apaan ini! Kenapa tubuhku menjadi lemas dan tenaga dalamku sedikit demi sedikit terkuras?" Arga terkejut, dia langsung menyeimbangkan tubuhnya. Arga terpaksa menggunakan tenaga dalamnya untuk mengurangi tekanan dari kekuatan itu.


Tetapi langkah Arga salah, tenaga dalamnya lebih cepat berkurang, karena digunakan untuk menyeimbangkan tubuhnya dan perlahan-lahan diserap oleh sesuatu yang ada di dalam gua itu.


Arga berpikir keras, mencari cara untuk menghentikan tekanan itu. Dia menarik Pedang Tujuh Naga dari sarungnya dan dia mengibaskan secara vertikal maupun horizontal, setelah beberapa saat tekanan itupun berhenti dan Arga menstabilkan tubuhnya serta tenaga dalamnya.

__ADS_1


"Luar biasa! Kekuatan apa ini? Tekanannya begitu dahsyat!" Arga menggelengkan kepalanya, dia waspada sepenuhnya.


Setelah beberapa saat tidak ada lagi tekanan maupun sosok yang muncul, Arga memberanikan dirinya untuk berteriak, "Siapa saja yang mengeluarkan tekanan barusan, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk mengganggu Anda. Aku akan keluar dari gua ini, mohon jangan mempersulit anak muda ini." Setelah berkata demikian, Arga melangkahkan kakinya, tetapi sebelum dia keluar dari gua itu, tiba-tiba muncul sosok Kera yang sangat besar.


Tinggi Kera itu sekitar tiga meter, tubuhnya dipenuhi bulu berwarna hitam dan sedikit warna putih di bagian-bagian tertentu. Taringnya panjang dan besar, satu kakinya saja sama besarnya dengan tubuh Arga.


"Kau pikir, setelah mengganggu tempatku, bisa dengan seenaknya pergi begitu saja." Kera itu mendengus kesal, dia menatap dingin ke arah Arga.


"Kau bisa bicara? Berarti kau siluman!" Setelah berbicara demikian, Arga mengeluarkan Ajian Ginengnya.


"Kau... Kau memiliki cahaya itu? Itu adalah Ajian Gineng! Darimana kau mendapatkannya?" Tubuh Siluman Kera itu sedikit bergetar, Ajian Gineng adalah Ajian yang berhubungan dengan siluman, dimana siluman akan menghormati pengguna Ajian itu.


Tetapi tetap saja, Siluman Kera itu tidak sepenuhnya takut dan menghormati Arga, mungkin karena dia sudah lama hidup di dunia ini.


Di sisi lain Arga memang sudah siap bertarung, dia menyambut serangan Siluman Kera itu dengan tangan kosong. Tapak keduanya bertemu menghasilkan suara keras dan ledakan-ledakan kecil disekitar mereka.


Detik demi detik berjalan, Arga dan siluman Kera itu terus bertukar serangan sampai akhirnya, "Bukkk..." Arga terpental akibat pukulan siluman Kera itu. Dia memuntahkan darah segar dari mulutnya, dadanya terasa sakit sekali.


"Gila! Kekuatan sangat besar, tapi masih di bawah kekuatan sosok misterius yang menyerangku dan Nilawati kemarin." Arga membatin, dia mengukur kekuatan siluman Kera itu.


"Ayo bangkit anak muda, temani aku bermain-main." Siluman Kera itu melompat-lompat kegirangan.


Arga kembali bangkit, dia mengeluarkan Pedang Tujuh Naga dari sarungnya, karena dia berpikir tidak akan sanggup melawan siluman Kera itu dengan tangan kosong saja.


"Pedang yang menarik. Bukankah itu Pedang Tujuh Naga?" Siluman Kera itu mengangkat suaranya, dia tidak terkejut sama sekali melihat pedang itu.

__ADS_1


Sementara itu, Arga mematung sejenak, dia tidak mengira bahwa siluman Kera di depannya itu akan mengetahui pedangnya. Karena memang pedang Arga sangat misterius untuk dikenali orang-orang di dunia persilatan. Sudah sering sekali Arga mengeluarkan pedangnya tetapi tidak ada yang mengetahuinya kecuali Raja Jatmiko, Mahapatih Angga Reksadana, dan keempat temannya yaitu Nilawati, Ayu, Jagad Kelana dan Bedul.


Arga kembali mengendalikan dirinya, dia langsung tersadar dan menatap tajam ke arah siluman Kera itu dengan waspada tingkat maksimal.


Dia maju menyerang siluman itu, sedangkan siluman kera hanya menyambut serangannya dengan tangan kosong saja.


"Pemuda yang menarik, pantas saja pak tua itu menginginkan dirinya." Batin Siluman Kera itu.


Tidak Arga sangka sedikitpun, bahkan dalam mimpinya sekalipun, pedang yang begitu tajam, pedang yang begitu dahsyat kekuatannya akan ditangkis dengan tangan kosong oleh seseorang.


"Trang... Tring..." Suara benturan keras antara pedang Arga dan tangan siluman Kera itu berbenturan, menghasilkan ledakan-ledakan yang besar di sekitar mereka. Satu benturan menghasilkan satu ledakan yang bila mendarat di batang pohon akan hancur, yang bila mendarat di tanah akan membuat tanah berlubang besar.


Setelah bertukar beberapa jurus, Arga pun sudah mengeluarkan jurus pedangnya tetapi tetap saja Siluman Kera itu tidak dapat dikalahkannya.


Jurus-jurus Arga sudah banyak yang dikeluarkannya, seperti Jurus Membelah Diri, Jurus Pedangnya menjadi tujuh, dan Jurus yang lain tetapi tetap saja tidak bisa mengalahkan siluman Kera itu.


Saat dia berpikir bahwa tidak akan bisa lagi mengalahkan siluman Kera itu, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Arga meleparkan pedangnya ke udara. Setelah melayang-layang sebentar, pedang itu menjadi sosok Naga berwarna biru.


"Akhirnya kau memanggilku Tuan,"


"Ya, ini saatnya kau menunjukan kemampuanmu." Balas Arga, lalu mengarahkan pandangannya ke arah siluman Kera itu dan Naga Bergola Biru juga mengikuti tatapan Arga.


"Ternyata aku harus berhadapan dengan kau." Naga Bergola Biru mengangguk-angguk kepalanya dan menggoyang-goyangkan ekornya.


"Hahaha... Ini saat yang kutunggu. Akhirnya kita bisa bermain-main lagi." Balas siluman Kera itu menanggapi perkataan Naga Bergola Biru.

__ADS_1


__ADS_2