Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Membantu Seseorang


__ADS_3

Seminggu lagi pun berlalu, kali ini Arga sedang bersembunyi di atas sebuah pohon lebat di dalam hutan.


Dia melakukan hal itu karena ingin memantau situasi yang ada didepannya, dia melihat ada seorang pemuda yang diperkirakannya hanya beberapa tahun lebih tua daripadanya sedang bertarung dengan lima pria paruh baya.


Pemuda itu sendiri berpakaian serba kuning, terlihat juga corak-corak bunga matahari di seluruh pakaiannya.


Arga mengira pemuda itu adalah bagian dari sebuah perguruan, tetapi sejauh ini Arga belum mengetahui nama perguruan pemuda itu, karena dia sendiri tidak banyak mengetahui nama-nama perguruan yang ada.


Sementara kelima pria paruh baya itu berpakaian yang sama, serba hitam. Terlihat juga corak-corak ular Sanca di depan dan belakang baju mereka.


Saat Arga sedang kebingungan memikirkan dan menerka-nerka asal pemuda dan kelima pria paruh baya itu, Arga menangkap sebuah suara yang keluar dari mulut salah satu pria paruh baya itu.


Dengan pendengaran yang sangat tajam dan sudah terasah, Arga mendengarkan dengan jelas, "Widura sebaiknya berikannya saja kitab perguruanmu jika kau masih ingin hidup." Ucap salah satu pria paruh baya yang berambut gondrong dan berwarna putih lantang.


Arga juga mendengar satu pria paruh baya lainnya menimpali perkataan pria paruh baya yang sebelumnya, "Widura, berikan saja kitab pusaka perguruanmu, kau sudah lihat sendiri gurumu tidak berdaya ditangan kami. Walaupun kau adalah murid utama dari perguruan Bunga Matahari, tetapi di hadapan kami, Tetua perguruan Sanca Hitam, kau tidak ada apa-apanya."


"Walaupun aku mati bersama guruku sekalipun, kami tidak akan memberitahukan keberadaan kitab pusaka perguruan kami kepada binatang-binatang seperti kalian." Pemuda yang dipanggil Widura itu berseru lantang membalas perkataan dua pria paruh baya sebelumnya.


Sekarang Arga mengetahui asal pemuda dan kelima pria paruh baya itu.


Arga pernah mendengar perguruan Bunga Matahari adalah salah satu perguruan besar aliran putih yang ada di daerah kerajaan Samudra.


Sedangkan perguruan Sanca Hitam adalah perguruan besar aliran hitam dan cukup terkenal di dunia persilatan.


"Hem, apakah artinya aku sekarang berada di daerah kerajaan Samudra." Arga bertanya dalam hatinya karena dia masih mengingat yang dikatakan pemilik warung yang ditemuinya seminggu yang lalu. Ki Matra, dia mengatakan Arga akan butuh waktu kurang lebih dua Minggu untuk mencapai perbatasan antara kerajaan Kawah Putih dengan kerajaan Samudra.


"Ah, sebaiknya aku bertanya saja kepada mereka." Arga langsung melompat terbang ke arah pertarungan itu.


Hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk dirinya sudah berada di dekat pertarungan itu, Arga mendarat tidak jauh dari mereka. Tidak ada seorangpun yang melihat kedatangannya, karena keenam orang itu sedang fokus bertarung.


*****

__ADS_1


Setelah sekitar lima menit Arga berdiri tidak jauh dari pertarungan antara keenam orang itu sambil menyilangkan kedua tangannya, akhirnya ada satu orang yang menyadari kedatangan Arga. Dia adalah salah satu Tetua dari perguruan Sanca Hitam, pria itu bertubuh gempal dan berkumis tebal. Arga menduga, dia adalah yang paling tua di antara yang lainnya.


"Hei... Siapa Kau?" Mendengar teriakkan Pria bertubuh gempal itu, baik rekan-rekannya maupun pemuda yang bernama Widura itu menghentikan pertarungan mereka.


Keempat rekan pria bertubuh gempal itu mundur dan kembali ke dekat pria bertubuh gempal, sedangkan Widura mundur ke arah yang berlawanan. Kelimanya menatap lekat ke arah Arga.


"Siapa pemuda ini, kelihatannya dia lebih muda beberapa tahun daripada usiaku." Widura mengerutkan dahinya, dia mencoba menerka-nerka pemuda yang dihadapannya.


"Dia terlihat bukan seorang pendekar, tidak ada tenaga dalam yang terpancar di tubuhnya." Sambung Widura, dia sudah menganalisis Arga.


Sementara itu, Tetua-tetua dari perguruan Sanca Hitam juga sedang berbisik-bisik.


"Siapa dia Kakang?" Pria bertubuh kekar dan ideal bertanya pelan kepada pria yang bertubuh gempal sebelumnya.


"Kalau aku tahu, pastinya aku tidak akan bertanya saat pertama kali dia datang." Jawab pria bertubuh gempal sambil mengerutkan dahinya.


"Sepertinya dia bukan Pendekar. Aku tidak merasakan tenaga dalam ditubuhnya." Pria yang lainnya ikut berbisik. Dia bertubuh kurus kering, tetapi tinggi sekitar 190 cm.


*****


Arga yang mendengar pertanyaan pria bertubuh gempal itu akhirnya menjawab, " Ah maafkan aku Kisanak sekalian. Aku hanya ingin bertanya kepada kalian. Apakah sekarang ini kita sedang berada di daerah kerajaan Samudra?"


Pertanyaan Arga tidak ada yang menjawabnya, suasana menjadi hening seketika. Setelah suasana seperti itu berlangsung selama hampir lima menit, akhirnya pemuda yang bernama Widura itu mengangkat suaranya.


"Sekarang kita sedang berada di daerah kerajaan Kawah Putih, saudara." Widura menjawab pertanyaan Arga dengan sopan.


"Oh baiklah, kalau begitu aku akan pergi." Setelah mendapatkan jawaban, Arga berniat meninggalkan mereka, tetapi sebenarnya dia akan kembali ke pohon tempatnya sebelumnya.


Disaat Arga ingin membalikkan badannya, tiba-tiba saja terdengar suara yang berasal dari salah satu Tetua perguruan Sanca Hitam.


"Hei, anak muda! Kau pikir setelah kau mengganggu pertarungan kami, kami akan melepaskanmu?" Pria bertubuh pendek menaikkan alisnya. Menurutnya Arga adalah seorang manusia biasa dan Arga juga sudah mengetahui pertarungan ini. Bisa jadi nantinya Arga menyebarkan berita ini, begitu pikir pria bertubuh pendek itu.

__ADS_1


"Tetua Jigur, apakah kau tidak tahu malu. Biarkan dia pergi, dia hanya bertanya." Widura mencoba membela Arga, menurutnya Arga juga merupakan seorang manusia biasa, jadi dia tidak ingin menempatkan Arga dalam bahaya.


Tetapi perkataan Widura itu disambut dengan tawa oleh lima Tetua dari perguruan Sanca Hitam itu.


Kemudian pria bertubuh gempal maju satu langkah dan berkata, "Membunuhmu satu orang lagi kelihatannya tidak buruk."


Widura mengepalkan tangannya, dia berpikir ini adalah hari kematiannya.


Bagaimana tidak? Untuk melindungi dirinya saja sudah sulit, apalagi harus melindungi Arga, begitu pikirnya.


Langsung saja pria bertubuh pendek maju menyerang ke arah Arga. Sebenarnya Widura ingin menghentikannya, tetapi dia langsung di kepung oleh empat lainnya.


Saat Widura berpikir itu adalah kematian Arga, tiba-tiba saja suara keras terdengar, suara itu seperti suara tubuh yang terpental.


"Kau tidak perlu khawatir, kau akan menyusul pemuda..." Perkataan pria bertubuh gempal terhenti saat dia menoleh ke belakang.


"Apa? Bagaimana bisa?" Disusul yang lainnnya, karena mereka mendengar perkataan pria bertubuh gempal terhenti.


Sementara itu, Widura melebarkan matanya setelah melihat, ternyata bukannya Arga yang terpental melainkan pria yang bertubuh gempal itu.


"Satu pukulan bisa membuat Tetua Jigur seperti itu." Widura menggosok-gosok matanya, dia tidak percaya sedikitpun dengan apa yang dilihatnya barusan.


*****


Sebelumnya, saat Arga memutuskan untuk pergi, dia memang sudah menduga bahwa kelima orang itu tidak akan membiarkannya.


Diam-diam Arga sudah mengeluarkan Ajian Serat Jiwa tingkat ketujuh, Ajian Tapak Saketi, sebuah pukulan jarak jauh yang bisa mengeluarkan api.


Belum sampai pria bertubuh pendek itu ke dekat Arga, dia sudah melepaskan tapaknya, seketika itu juga pria bertubuh pendek itu terpental sekitar 10 meter.


Arga hanya menggunakan 10 persen kekuatannya agar pria bertubuh pendek itu tidak tewas.

__ADS_1


__ADS_2