
Arga sangat senang sekali ketika melihat kekasih hatinya, Nilawati sudah berada dihadapannya. Gadis itu tersenyum lebar dan terlihat sudah menantikan kedatangan Arga.
Memang benar kata orang-orang, melihat orang yang kita kasihi, yang kita sayangi akan menambah semangat tersendiri untuk kita.
Arga tidak menunggu waktu lama, dia tersenyum lebar sebelum melangkahkan kakinya agak cepat ke arah Nilawati, Brama Sakti dan Siluman Kera. Lalu dia langsung memeluk Nilawati dan berkata, "Kau tidak apa-apa, sayang?" Begitulah kalimat pertama yang muncul dari mulut Arga.
"Aku tidak apa-apa. Kakek Brama dan Kakek Anuman menjagaku dengan baik." Jawab Nilawati sambil memeluk erat Arga.
Arga mengangguk setelah mendengar hal itu, tetapi dia cukup penasaran bagaimana pertemuan Brama Sakti dengan Anuman dan bisa menjadi teman sampai sekarang. Dia kemudian menatap ke arah Brama Sakti.
Brama Sakti memahami apa maksud tatapan Arga itu, dia menebak bahwa Arga ingin mengetahuinya. Dia tidak keberatan untuk menceritakannya. Keempatnya duduk di atas sebuah batu besar yang ada di dalam gua itu, dan Brama Sakti langsung menceritakan kisah pertemuannya dengan Anuman.
*****
Pertemuan pertama Anuman dengan Brama Sakti adalah ketika Brama Sakti masih muda, saat itu dia berusia dua puluh lima tahun sedangkan Anuman sudah berusia lebih dari seratus tahun walaupun dia terlihat masih seperti seorang pria paruh baya.
Pertemuan Anuman dan Brama Sakti bisa dibilang adalah takdir, saat itu Brama Sakti membantu Anuman menghadapi pendekar-pendekar aliran hitam yang ingin membunuhnya.
__ADS_1
Pendekar-pendekar aliran hitam itu menyerang Anuman bukan karena hal biasa ataupun karena dendam, melainkan mereka menginginkan ilmu yang Anuman kuasai. Ilmu yang Anuman kuasai bernama Pancasona.
Mendengar hal itu Arga mengerutkan dahinya, matanya sedikit melotot dan tubuhnya sedikit terangkat, dia snagat terkejut mendengar hal itu. Bagaimana tidak, Ilmu Pancasona adalah ilmu kadigjayaan tingkat tinggi. Ilmu ini hampir sama dengan ilmu Rawa Bening yang membuat penggunanya tidak bisa mati jika tubuhnya ataupun darahnya masih menyentuh tanah. Perbedaan adalah cahaya yang dikeluarkan oleh ilmu Pancasona berwarna ungu dan ilmu Pancasona ini juga bisa menerawang dari jarak jauh.
"Maaf kek, Arga terlalu terkejut dan kagum mendengar hal itu. Silahkan dilanjutkan!" Arga menyadari bahwa Brama Sakti menghentikan ceritanya setelah melihat perubahan Arga.
Brama Sakti mengangguk, dia kemudian melanjutkan ceritanya.
Saat itu, Anuman dikeroyok oleh pendekar yang hampir mencapai jumlah dua puluh orang. Mereka memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.
Brama Sakti sebenarnya, menyaksikan sebentar pertarungan Anuman dengan mereka dan itu membuat Brama Sakti kagum dengan Anuman. Tetapi setelah melihat Anuman hampir kalah, Brama Sakti langsung bergerak cepat membantunya. Walaupun pendekar-pendekar aliran hitam itu memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi tetapi saat itu Brama Sakti sudah menguasai Ajian Serat Jiwa sampai tingkat sepuluh, jadi dia bisa dengan mudah menyerap tenaga dalam dan kehidupan mereka.
Seiring berjalannya waktu, Anuman menjadi sangat takjub dan kagum kepada Brama Sakti, karena walaupun masih muda Brama Sakti menunjukkan sifat yang sangat baik, berwibawa dan suka membantu orang lain. Karena hal itulah, sebulan setelah mereka menjadi saudara, Anuman memutuskan untuk memberikan Ilmu Pancasona kepada Brama Sakti, karena Anuman merasa Ilmu itu lebih cocok untuk Brama Sakti.
Brama Sakti tentu saja menolak, tetapi Anuman terus memaksanya. Brama Sakti menolak karena Ilmu Pancasona tidak bisa dikuasai oleh dua orang, Ilmu ini hanya bisa dikuasai oleh satu orang. Bila seseorang sudah menurunkan Ilmu Pancasona kepada orang lain maka dia tidak akan memiliki lagi ilmu itu. Seperti halnya sekarang, Brama Sakti memiliki Ilmu Pancasona yang diturunkan oleh Anuman kepadanya, sedangkan Anuman pemilik pertamanya tidak lagi memilikinya.
Setelah selesai menceritakan semuanya, Brama Sakti melirik ke arah Arga dan berkata, "Apakah kau mau menerima Ilmu Pancasona ini jika aku turunkan kepadamu?" Begitu kalimat yang keluar dari mulut Brama Sakti.
__ADS_1
Arga terkejut, Nilawati pun terkejut, hanya Anuman yang terlihat biasa-biasa saja. Karena dia mengetahui bahwa Brama Sakti ingin moksa.
Arga terlihat berpikir panjang sebelum berkata, "Maaf kek, Aku tidak bisa menerimanya." Arga menolak dengan lembut penawaran dari Brama Sakti.
"Kenapa? Apa kau tidak tertarik dengan Ilmu ini? Kau sudah mengetahuinya sendiri bukan, kesaktian dari Ilmu ini?" Brama Sakti tentu saja terkejut mendengar jawaban Arga, tetapi dia juga bertambah kagum kepadanya. Padahal dia mengira Arga akan dengan cepat menerimanya, karena dia tahu bagaimanapun juga bila ada Ilmu yang tinggi maka pendekar akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Tetapi Arga menolaknya, sepertinya Brama Sakti meremehkan pemuda dihadapannya itu.
"Aku hanya ingin hidup lebih tenang dan apa adanya kek. Aku tidak mau melawan takdir, aku tidak mau melawan kematian." Itulah jawaban dari Arga.
Brama Sakti yang mendengar hal itu menjadi terpana dan tersenyum lebar. Dia mengetahui benar arah jawaban dari Arga. Memang dia juga merasakannya, oleh sebab itu Brama Sakti ingin moksa.
Setelah mendengar jawaban dari Arga, Brama Sakti tidak memaksanya, mereka kemudian bercerita tentang hal lain. Seperti halnya perjalanan Brama Sakti dan Anuman, bagaimana keduanya bisa berada di tempat ini, bagaimana keduanya bisa bertemu dengan Arga, dimana keduanya membawa Nilawati dan masih banyak lagi. Obrolan mereka sekarang sudah cukup lama, hari yang sebelumnya terang kini sudah menjadi gelap yang menunjukkan bahwa sudah malam. Keempatnya memutuskan untuk beristirahat di dalam gua itu, mereka mengambil tempat masing-masing dan mulai duduk bersila.
*****
Seta yang dikalahkan oleh Arga untuk kedua kalinya sudah membuka matanya. Hal pertama yang dia pikirkan adalah, "Apakah aku sudah mati?" Itulah yang dipikirkannya karena dia sudah tidak pernah berpikir bahwa Arga akan mengampuninya. Tetapi setelah dia cubit tangan dan pipinya, dia masih merasakan kesakitan, hal itu menunjukkan bahwa dia masih hidup.
Seta masih terbaring lemah di tanah, walaupun dia sudah bisa menggerakkan tubuhnya, tetapi badannya masih sangat lelah. Pertarungan antara dia dan Arga begitu menguras tenaga dan jiwanya.
__ADS_1
Seta memegangi dadanya, masih sangat terasa sakit bekas pukulan dari Arga sebelumnya. Dia berdecak kesal setelah mengingat hal itu. Dia berpikir untuk berlatih lebih giat lagi untuk membalas dendam kepada Arga. Karena hari sudah gelap, Seta memutuskan untuk beristirahat di tempat itu. Dia terbaring di tanah dan mulai memejamkan matanya dan memikirkan langkah-langkah yang akan dilakukannya setelah bangun nanti.