
Nyai Mawar Bidara mengangguk pelan, dia sudah lama tidak bertarung seperti ini.
"Menarik sekali Yang Mulia, sudah lama aku tidak bertarung seperti ini." Nyai Mawar Bidara tersenyum lebar ke arah Ratu Sri Dewi Wijaya.
"Kau terlalu memandang tinggi diriku Nyai. Ilmuku tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu." Ratu Sri Dewi Wijaya menarik nafasnya dalam-dalam.
"Keluarkan seluruh kemampuanmu Nyai, jangan remehkan aku." Ratu Sri Dewi Wijaya maju menyerang Nyai Mawar Bidara, dia benar sebelumnya Nyai Mawar Bidara hanya menggunakan separuh kekuatannya saja.
Nyai Mawar Bidara hanya tersenyum tipis menanggapi hal itu, dia menyambut serangan Ratu Sri Dewi Wijaya tanpa kesulitan.
Tapak demi tapak keduanya bertemu menghasilkan ledakan-ledakan suara yang cukup besar.
Serangan-serangan yang dilancarkan oleh Ratu Sri Dewi Wijaya cukup cepat dan lincah, dia menyerang ke arah bagian vital dari Nyai Mawar Bidara, ke arah ulu hati dan lehernya.
Tetapi di sisi lain, Nyai Mawar Bidara tidak begitu kesulitan menghadapinya, dia menghindari dan menangkis serangan-serangan itu dan sesekali juga melancarkan serangan balik yang membuat Ratu Sri Dewi Wijaya cukup kesulitan.
"Sebaiknya Kau tarik mundur pasukanmu, mungkin aku bisa membantu kalian bicara kepada pihak kerajaan Kalingga." Mawar Bidara mencoba membujuk Ratu Sri Dewi Wijaya, sebenarnya dia tidak ingin membunuh manusia lagi setelah puluhan tahun tidak melakukannya.
Tetapi Ratu Sri Dewi Wijaya tetap kekeh tidak ingin mundur, dia bersikeras, "Maaf Nyai, kami tidak bisa mundur setelah semuanya kami persiapkan. Lagipula kerajaan Kalingga sudah lama berdiri, sudah saatnya mereka diruntuhkan dan diganti kerajaan baru." Ratu Sri Dewi Wijaya kembali menyerang Nyai Mawar Bidara.
"Oh, jadi kalian berniat untuk meruntuhkan kerajaan Kalingga. Kalau begitu aku tidak bisa membiarkannya." Mawar Bidara yang tadi masih bertarung dengan setengah kekuatannya sekarang sudah bertarung dengan sepenuh kekuatannya. Dia sangat murka mendengar jawaban dari Ratu Sri Dewi Wijaya yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Ratu Sri Dewi Wijaya menyadari bahwa kekuatan Nyai Mawar Bidara bertambah dengan pesat, dia menduga bahwa wanita tua itu sudah bertarung dengan sekuat tenaganya.
Benar saja, baru tiga kali bertukar serangan, Ratu Sri Dewi Wijaya sudah berhasil dipojokkan oleh Nyai Mawar Bidara.
"Tidak ada lagi negosiasi, tidak ada lagi ampunan dan tidak ada lagi permohonan. Pergilah kalian semua ke neraka." Nyai Mawar Bidara mengeluarkan ajiannya. Ajian Pukulan Penghancur Langit.
__ADS_1
Tentu saja Ratu Sri Dewi Wijaya menyadari ajian yang akan dikeluarkan oleh Nyai Mawar Bidara, dengan cepat dia juga mengeluarkan jurusnya, jurus Tapak Wangi.
Cahaya berwarna biru dan cahaya berwarna merah saling berbenturan yang menghasilkan suara ledakan keras. Tetapi ledakan itu tidak mengenai satu orangpun, melainkan mendarat di sebatang pohon besar di sekitar Nyai Mawar Bidara dan Ratu Sri Dewi Wijaya yang membuat pohon itu tumbang dan hancur.
Keduanya mengulang hal itu sampai lima kali lagi dan membuat pohon-pohon disekitar mereka hancur dan tumbang.
Tetapi dari pertukaran serangan itu membuat Ratu Sri Dewi Wijaya mengeluarkan darah segar dari bibirnya dan tidak lama kemudian dia bertekuk lutut dihadapan Nyai Mawar Bidara dan tidak lama kemudian dia pun tidak sadarkan diri.
Nyai Mawar Bidara hanya tersenyum pahit, dia baru saja dia merasakan hal yang sudah lama tidak dia rasakan, yaitu pertarungan hidup dan mati.
Nyai Mawar Bidara tidak membunuh Ratu Sri Dewi Wijaya karena dia tidak ingin membunuh manusia lagi. Dia kemudian menatap ke arah pertarungan Arga yang membuatnya sedikit terkejut dan mengerutkan dahinya. Bagaimana tidak? Nyai Mawar Bidara melihat Arga sedang berhadapan dengan Sembada dan tidak jauh dari mereka berdiri seorang pria sepuh yang tidak lain adalah Gading Koneng. Tentu saja Nyai Mawar Bidara mengetahui keduanya, karena mereka berasal dari generasi yang sama.
Nyai Mawar Bidara juga melirik ke arah seorang wanita muda yang seumuran dengan Arga yang sedang berhadapan dengan Parwati. Menurutnya pertarungan itu sangat menarik. Karena itulah Nyai Mawar Bidara memutuskan untuk terbang ke arah mereka.
*****
"Mengalihkan pandangan saat berhadapan denganku, sungguh kau sudah bosan hidup." Patih Angga menaikkan alisnya, dia merasa diremehkan oleh Patih Ringkih. Padahal kekuatan mereka hampir berimbang dan bahkan Patih Angga masih unggul sedikit.
Sebenarnya Patih Ringkih tidak bermaksud untuk meremehkan Patih Angga, tetapi saat dia melihat Ratunya tidak berdaya, tentu saja membuatnya tidak bisa tenang.
Tetapi akhirnya dia kembali memfokuskan perhatiannya kepada Patih Angga dan berharap bisa mengalahkannya.
*****
Di sisi lain, Nilawati juga sedang bertarung sengit dengan Nyai Parwati. Keduanya cukup berimbang.
"Kemampuanmu meningkat pesat nona muda." Nyai Parwati tersenyum tipis ke arah Nilawati. Kali ini dia benar-benar memuji Nilawati, menurutnya sangat menarik.
__ADS_1
"Kau terlalu memuji Nyai, aku tahu kau tidak bisa mengeluarkan semua kemampuanmu karena luka dalammu yang kau dapat saat melakukan pemberontakan pertama belum pulih sampai saat ini." Nilawati menggelengkan kepalanya.
Perkataan Nilawati memang tepat, alasan Nyai Parwati tidak bisa mengeluarkan semua kemampuannya adalah karena luka dalam yang dideritanya. Jika saja Nyai Parwati tidak terluka, maka Nilawati belum bisa menjadi lawan yang tepat untuknya.
Menanggapi hal itu, Nyai Parwati hanya tersenyum kecut, dia kemudian kembali maju menyerang Nilawati.
*****
Disaat yang bersamaan, prajurit kerajaan Kalingga masih berhadapan dengan prajurit-prajurit kerajaan Jenggala dan sekutunya.
Mayat-mayat sudah banyak yang bergeletakan membuat tempat itu menjadi bau amis.
Sementara itu, Raja Jatmiko sedang berhadapan dengan Raja Jentalu, keduanya cukup berimbang terlepas usia Raja Jatmiko yang masih begitu muda.
Sedangkan para punggawa-punggawa kerajaan Kalingga juga tidak tinggal diam, mereka berhadapan dengan punggawa-punggawa dari pihak musuh. Bahkan para Tumenggung dari kerajaan Kalingga menghadapi dua orang sekaligus dari pihak musuh.
Walaupun mereka masih begitu muda, tetapi kemampuan mereka sudah cukup tinggi. Itulah yang membuat kerajaan Kalingga tidak bisa dianggap enteng untuk ditaklukkan.
*****
Arga sendiri masih berhadapan dengan Sembada. Kemampuan mereka tidak begitu jauh, tetapi Arga masih unggul daripada pria sepuh itu.
Selain itu, jurus-jurus Arga juga beragam yang membuat serangannya sulit ditebak.
"Sudah tujuh puluh tahunan lebih aku hidup di dunia ini dan menemui banyak sekali Pendekar baik yang mudah maupun yang tua. Tetapi tidak ada yang memiliki kemampuan seperti dirimu." Sembada tidak berbohong, dia sangat kagum terhadap Arga.
Jika saja dia tidak terlanjur membuat masalah dengan Arga, maka dia akan berpikir seribu kali untuk membuat masalah dengannya.
__ADS_1
Tetapi seperti pepatah, nasi sudah menjadi bubur, maka Sembada harus siap menerima konsekuensinya. Dia menyerang Arga dengan kekuatan penuhnya dan berharap bisa menundukkan pemuda itu.