
Siang hari itu, dua hari setelah pertemuan di istana, saat sang surya mulai menampakkan sinarnya, di perguruan Racun Pembasmi Iblis terlihat beberapa orang sedang berkumpul membahas sesuatu.
Pertemuan itu dipimpin oleh seorang wanita sepuh yang memakai pakaian berwarna ungu serta tusuk konde di kepalanya, tidak lupa juga pedang terpasang di pinggangnya. Ya wanita itu tidak lain adalah Parwati yang merupakan ketua dari perguruan Racun Pembasmi Iblis. Sebelum memasuki pembahasan Parwati melihat ke arah kanannya, terlihat pria sepuh yang memakai pakaian berwarna hitam serta ikat kepala berwarna merah. Pria sepuh itu tidak lain adalah Suryawi ketua perguruan Tapak Lima Jari. Kemudian Parwati melirik ke arah sebelah Suryawi, disana terlihat sosok pria sepuh yang memakai pakaian berwarna hijau dan memegang satu seruling ditangannya, pria sepuh itu tidak lain adalah Saksono ketua perguruan Seruling Iblis. Kemudian Parwati melirik ke arah kirinya, disana terlihat Pria sepuh yang memakai pakaian berwarna hitam dengan rambut agak panjang sekitar sebahu dan memegang tongkat berkepala ular, ya pria sepuh itu adalah Katiwanda ketua perguruan Tongkat Pencabut Nyawa. Disamping Katiwanda ada sosok pria sepuh yang memakai pakaian berwarna biru, badannya gemuk dan memegang tombak di tangan kanannya. Pria sepuh itu adalah Mahesa Semar ketua perguruan Tombak sakti. Disamping Mahesa Semar terlihat seseorang yang memakai topeng, pria itu dikenal dengan sebutan Topeng Setan, dia adalah pemimpin kelompok perampok Harimau Hitam. Kemudian Parwati melirik kepada pria disebelah Saksono, dia terlihat lebih muda dibandingkan Parwati, pria ini adalah Kelabang Hitam. Dan yang terakhir adalah Werku Alit, mantan perampok serta mantan pemeras di kawasan Kotaraja kerajaan Kalingga.
Mereka merupakan tokoh-tokoh yang terkenal dikalangan dunia persilatan. Nama-nama mereka sangat ditakuti dan disegani, mereka adalah pendekar-pendekar tingkat tinggi aliran hitam.
Selain itu juga berkumpul ketua-ketua dari perguruan kecil yang berhasil mereka ajak untuk bekerja sama.
"Bagus, kalian semua sudah datang. Maka kita akan segera memulai pertemuan ini." Ucap Parwati membuka rapat itu.
"Pangeran silahkan keluar untuk memulai pertemuannya." Sambungnya sambil melirik ke arah sebuah ruangan. Setelah Parwati memanggil sosok yang disebutnya pangeran itu, terlihat pemuda muda yang berusia sekitar 20 tahun keluar dari belakang Parwati. Pemuda itu tidak lain adalah pangeran Andiko. Pangeran Andiko memakai pakaian berwarna keemasan, dengan mahkota pangeran terpasang di kepalanya. Dirinya terlihat gagah dan juga berwibawa, tetapi memiliki sifat yang mudah emosi dan sombong serta angkuh.
"Baiklah, senior-senior sekalian! Terima kasih telah memenuhi undang junior ini untuk berkumpul di perguruan Racun Pembasmi Iblis. Tujuan dari perkumpulan kita kali ini untuk membahas tentang perencanaan perebutan tahta kekuasaan kerajaan Kalingga dari tangan Ayahanda raja Kertikeyasinga." Seru lantang pangeran Andiko.
"Mata-mata yang kami tempatkan di kerajaan memberitahukan informasi bahwa ayahanda Kertikeyasinga berniat menyewa perguruan-perguruan aliran putih serta Pendekar-pendekar pengelana untuk membantu kanda pangeran Jatmiko untuk menjadi raja Kalingga selanjutnya.
__ADS_1
Maka dari itu kita harus secepatnya mengkudeta posisi raja sebelum mereka mengumpulkan kekuatan untuk membendung pemberontakan ini. Saya mohon bantuan dari senior-senior sekalian. Jika saya berhasil menjadi raja kerajaan Kalingga selanjutnya, maka saya akan membalas budi senior-senior sekalian." Pangeran Andiko menutup pembicaraannya.
"Kapan kita akan memulainya pangeran." Tanya Suryawi dengan lantang dan berdiri dari tempat duduknya. Matanya seperti menyala dan mengepalkan tangannya dengan sombong dan angkuh.
"Sebelum kita memulai pertempuran ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui kekuatan musuh, celah-celah kerajaan yang bisa kita manfaatkan serta peta kerajaan dan kekuatan yang kita miliki." Jawab pangeran Andiko dengan pelan tetapi berwibawa.
"Kami akan mencari lebih jauh dengan mata-mata yang telah kami tempatkan di istana." Tutupnya sambil tersenyum tipis.
"Kenapa kita tidak langsung menyerang saja?" Tanya Katiwanda. "Bukankah kekuatan kita sudah cukup untuk menaklukkan kerajaan Kalingga. Lagipula sebagian orang-orang istana juga mendukungmu bukan?" Sambung Suryawi dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.
"Tidak sesederhana itu senior." Balas Pangeran Andiko sambil tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya.
Belum lagi aku mendengar dari mata-mata bahwa 3 hari yang lalu kerajaan kedatangan pendekar-pendekar muda berjumlah 5 orang yang memiliki ilmu cukup tinggi. Werku Alit sendiri sudah berhadapan dengan salah satunya. Bukankah begitu Werku Alit?" Pangeran Andiko menutup perkataannya sambil bertanya kepada Werku Alit.
Werku Alit mengerutkan dahinya, tentu dia mengetahui siapa yang pangeran Andiko maksud.
__ADS_1
Kemudian Werku Alit menjelaskan yang dia ketahui tentang kelima pendekar itu. Memang sebelum dia meninggalkan Kotaraja, dia sempat menyuruh anak buahnya untuk mencari informasi tentang Arga dan yang lainnya. Walaupun sedikit yang mereka dapatkan tetapi Werku Alit sedikit banyaknya telah mendapatkan peta kekuatan dari kelima pendekar muda itu.
Setelah penjelasan Werku Alit selesai, semua yang berada disana mengerutkan dahi mereka. Mereka semua tidak menyangka ada anak-anak yang masih muda tetapi memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi.
Yang menjadi sorotan dari mereka yang berada disana adalah Arga. Dari cerita Werku Alit dia adalah yang paling tinggi ilmu kanuragannya, serta diceritakan dia memiliki pedang yang sangat kuat. Walaupun Werku Alit sendiri belum tahu seberapa kuat pedang Arga tetapi dari auranya paling tidak pedang itu senjata kelas atas.
Mereka kemudian memutuskan untuk mempelajari lebih lanjut dulu kekuatan kerajaan, karena mereka tidak mau salah perhitungan dan membuat posisi mereka terancam bukannya menguntungkan.
Kekuatan-kekuatan pihak kerajaan juga baru dijelaskan sebagian, dan juga mereka belum mengetahui seberapa banyak perguruan-perguruan yang akan membantu pihak kerajaan.
Akhirnya mereka setuju dengan gagasan pangeran Andiko dan menyiapkan persiapan yang lebih matang sebelum menyerang dan mengambil alih kerajaan Kalingga.
Kemudian mereka membicarakan hal lainnya seperti strategi, senjata dan mempelajari peta-peta kekuatan atau peta-peta seluk beluk kerajaan Kalingga.
Setelah selesai melakukan pertemuan itu, Perguruan Racun Pembasmi Iblis menjamu para tamu dengan berbagai makanan dan minuman. Mereka berbincang-bincang biasa dan berniat menambah erat aliansi mereka.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, ketua-ketua perguruan kecil aliran hitam pamit untuk pulang ke perguruan mereka dan menyiapkan pasukan. Sedangkan ketua-ketua perguruan besar aliran hitam masih tetap disana untuk berbincang-bincang lebih jauh.
Sedangkan Pangeran Andiko kembali ke ruangan untuk beristirahat dan menunggu mata-matanya menyampaikan kabar yang baik.