
Arga dan Nilawati terus mengikuti Ki Sungkur, ketiganya berjalan semakin ke tengah-tengah hutan. Semakin ke tengah wajah Ki Sungkur semakin memburuk dan memucat sedangkan Arga dan Nilawati mengerutkan keningnya. Bagaimana tidak? Ketiganya dalam kurun beberapa waktu selalu menemukan kelompok-kelompok yang terdiri dari 5 orang dan menggunakan Topeng Ungu.
"Mereka bergerak dengan berkelompok." Arga terus mengamati pergerakan kelompok-kelompok yang ditemuinya.
"Siapapun yang menggerakkan mereka, tentu bukanlah orang yang sembarangan." Arga sudah mengukur kemampuan kelompok-kelompok yang ditemuinya. Dia menduga ilmu kanuragan mereka cukup baik dan merepotkan.
"Kau benar, sayang. Jadi apa yang harus kita lakukan." Nilawati mendekati Arga.
Menanggapi hal itu Arga langsung melirik ke arah Ki Sungkur yang masih terlihat tegang dan hanya diam saja dari tadi.
"Ki Sungkur, sebaiknya Anda kembali dan pergi ke kerajaan Kalingga. Katakan pada pihak kerajaan tentang hal ini. Kami yang akan ambil alih dari sekarang." Arga memerintahkan Ki Sungkur untuk pergi, karena Arga menduga misi ini akan sangat berbahaya. Dia tidak ingin membawa Ki Sungkur dalam keadaan seperti itu.
"Pastikan pihak kerajaan mengirim perwakilan untuk menyelidiki kasus ini. Kau tidak perlu khawatir, kami berdua bisa menyelamatkan diri dengan kemampuan kami." Arga sudah melihat Ki Sungkur menggelengkan kepalanya ketika Arga memerintahkannya untuk pergi.
Setelah Arga dan Nilawati membujuk pria paruh baya itu, akhirnya dia menurut juga dan pergi dari tempat itu.
"Nila, apakah Kau sudah siap?" Sebelumnya Arga sudah memberitahu kepada Nilawati rencana yang akan dilakukan mereka. Arga mengajak Nilawati untuk menculik kelompok-kelompok itu, tidak akan sulit bagi mereka melakukannya.
Keduanya langsung bergerak dengan cepat, ketika menemukan kelompok Topeng Ungu yang berjumlah 5 orang keduanya langsung menampakkan diri.
"Siapa kalian?" Salah satu Topeng Ungu berkata dengan nada suara yang berat. Dia terkejut, bukan hanya dirinya tetapi keempat rekannya juga terkejut. Mereka tidak mengira bahwa akan ada dua orang muda-mudi yang akan menghadang jalan mereka.
"Siapa kami tidak begitu penting. Yang terpenting adalah setelah bertemu kami, tidak akan ada lagi kalian di dunia ini." Arga menaikkan alisnya dan langsung dengan cepat menyerang lima orang itu dan disusul Nilawati dibelakangnya. Keduanya ingin cepat-cepat melakukan hal itu agar tidak membuat keributan.
Lima orang itu tidak siap dengan serangan Arga dan Nilawati yang secara tiba-tiba, hasilnya dua diantara mereka menjadi korban. Tidak tanggung-tanggung, Arga maupun Nilawati langsung menyerang ke arah bagian kepalanya dan membuat kepala dua orang itu pecah.
Tiga orang lainnya membeku menyaksikan kehebatan yang ditunjukkan muda-mudi di depan mereka. Ketua mereka sekalipun tidak bisa melakukan hal itu.
"Kemampuan kalian cukup tinggi, tetapi dihadapan ku kalian bukanlah apa-apa." Arga memprovokasi tiga orang yang tersisa.
__ADS_1
"Kau bisa melakukan hal itu karena menyerang kami secara tiba-tiba. Kita lihat saja, apakah kalian bisa melakukan hal yang sama sekarang!" Pria yang bersuara berat tadi mengepalkan tangan kirinya dan menghunuskan golok di tangan kanannya.
"Bentuk formasi." Perintah pria bersuara berat itu.
Ketiganya langsung membuat formasi, sangat terlihat bahwa mereka sudah terlatih dengan formasi itu.
"Melihat hal ini, tampaknya kalian berasal dari sebuah kerajaan. Karena prajurit terpilih lah yang bisa melakukan hal ini." Arga menyipitkan satu matanya, dia mulai berpikir-pikir siapakah dalang dari kejadian ini. Dia mengingat jelas bahwa prajurit terpilih kerajaan Kalingga juga mempunyai formasi.
Mendengar hal itu ketiga orang itu membeku sejenak dan setelah itu langsung bergerak maju menyerang Arga.
Pertarungan diantara kedua belah pihak tidak bisa dihindarkan. Arga sendiri langsung menggunakan pedangnya, karena ingin cepat menghabisi mereka agar tidak menimbulkan keributan.
Tidak diduga oleh tiga orang itu, pedang Arga langsung bergerak dengan cepat ke arah mereka. Dalam hitungan detik kepala dua orang sudah tergeletak di tanah.
Arga memang meninggalkan satu orang yaitu pria yang memiliki suara berat tadi. Dia ingin mengorek informasi dari pria itu.
Di sisi lain tubuh pria bersuara berat itu bergetar hebat. Dia tidak menyangka akan mengalami peristiwa seperti ini.
"Orang-orang seperti kalian memang tidak pernah menghargai nyawa." Arga berdecak kesal, dia sudah menduga sebelumnya. Arga menekuk lutut pria itu dan melipat tangan pria itu ke belakang. Arga juga melintangkan pedangnya ke bagian leher pria itu.
"Ap mau Kalian? Jika Kalian berpikir bisa mengorek informasi dariku Kalian salah besar. Aku tidak akan membocorkan sedikitpun. Bunuh saja aku, aku tidak takut mati." Pria itu mencoba melepaskan dirinya dari Arga.
"Kita lihat saja nanti." Arga meminta Nilawati mengeluarkan tali dan mengikat pria itu. Tali itu bukanlah sembarang tali, selain kuat juga dialiri tenaga dalam yang cukup besar, jadi tidak akan mudah untuk dilepaskan ataupun diputuskan.
Setelah itu Arga dan Nilawati memutuskan untuk kembali ke Desa sebelumnya untuk dengan leluasa mengorek informasi dari pria itu.
"Aku yakin mereka tidak akan kembali ke Desa yang sudah mereka hancurkan." Dengan bekal pemikiran seperti itu Arga mengajak Nilawati dan tawanan mereka kembali ke Desa.
Tebakan Arga tidaklah salah, memang kelompok Topeng Ungu tidak akan kembali ke Desa yang telah mereka hancurkan.
__ADS_1
Setelah tiba di Desa, Arga dan Nilawati masuk ke dalam salah satu rumah warga.
Arga tidak menunggu waktu lama, dia mengikat pria itu di sebuah tiang rumah dan membuka topengnya. Terlihat pria itu adalah pria paruh baya yang berusia sekitar 40 tahunan dengan luka tergores di bagian Pipinya.
"Siapa Kalian? Apa yang kalian inginkan di kerajaan Kalingga ini?" Arga langsung memulai interogasinya.
Pria paruh baya itu hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa. Dia membisu dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Sudah kuduga cara sederhana seperti ini tidak akan bisa membuat mulutmu terbuka." Arga berdecak kesal, di sisi lain juga dia berdecak kagum karena mereka menyimpan rahasia mereka dengan rapat.
Arga tersenyum lebar, dia kemudian mendekati pria paruh baya itu dan berkata, "Aku tahu kalian tidak takut mati, tapi aku yakin pasti kalian akan takut dengan penderitaan."
Setelah berkata demikian, Arga langsung memulai aksinya, dia mulai menggelitik pria paruh baya itu.
Tidak diduga sedikitpun oleh pria paruh baya itu Arga akan menggelitiknya. Bahkan Nilawati sekalipun tidak menduganya.
"Hahahaha... Hehehehe... Huhuhuhu... Agh Hentikan... Hentikan..." Pria paruh baya itu tidak bisa menahan tawanya gelinya, matanya sampai berair.
Arga tidak menghentikan aksinya, dia terus menggelitik pria paruh baya itu.
Mungkin sebagian orang tidak akan takut mati, tetapi penderitaan? Semua orang tidak akan menginginkan hal itu. Pria paruh baya itu sangat menderita dengan apa yang dilakukan Arga. Lebih baik dia berakhir mati daripada berakhir seperti ini, pikirnya.
*****
**Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.
Terima kasih.
Oh Iya, kalian bisa mengunjungi novel dengan judul Iblis Darah, mungkin kalian akan menyukainya.
__ADS_1
Ceritanya bikin penasaran dan banyak misteri, silahkan dibaca dan jangan lupa kasih dukungan positif buat authornya**.