Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Rumah Teratai Biru


__ADS_3

"Maaf membuatmu menunggu Saudara Widura?!" Arga berjalan dengan santai mendekati Widura.


"Mungkin ini tidak bisa di bilang menunggu, aku baru saja tiba disini dan kau sudah di belakangku." Balas Widura sambil tersenyum canggung sementara Arga tertawa kecil.


Keduanya kemudian melepas tawa sambil memikirkan bagaimana reaksi kedua prajurit itu setelah melihat Arga tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.


"Saudaraku, lebih baik kita mencari penginapan terlebih dahulu. Besok baru kita lanjutkan." Widura menunjuk langit, memang terlihat sudah mulai gelap. Sebenarnya keduanya bisa tidur di tempat terbuka, tetapi menurut Widura itu tidaklah bijak saat berada di Kota seperti ini.


"Baiklah kalau begitu mari kita cari penginapan." Jawab Arga sambil berjalan mendahului Widura.


"Saudaraku, apakah kau sudah mengetahui lokasinya?" Tanya Widura dari belakang.


"Eh, itu..." Arga tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena tersedak nafasnya sendiri.


"Kau duluan!" Sambung Arga sambil membukakan jalan untuk Widura.


Sementara itu Widura tertawa terbahak-bahak melihat apa yang dilakukan Arga.


*****


"Ini dia penginapannya!" Widura menunjuk sebuah bangunan yang terdiri dari tujuh lantai.


"Besar dan megah!" Gumam Arga pelan tetapi bisa didengar jelas oleh Widura.


Widura tersenyum tipis sebelum menjelaskan kepada Arga bahwa bangunan ini bernama Rumah Teratai Biru, bangunan ini milik seorang pedagang yang sangat kaya raya di Kota Pelabuhan ini.


Selanjutnya Widura menjelaskan lebih detail lagi bahwa pada lantai dasar penginapan itu menyediakan makanan, lantai dua dan tiga menyediakan obat-obatan, sedangkan di lantai empat dan seterusnya barulah kamar penginapan.


"Mari masuk!" Sambungnya sambil melangkah, sedangkan Arga mengikutinya dari belakang.


"Kenapa banyak Prajurit yang berjaga di sini?" Gumam Widura dalam hati sambil menaikkan alisnya. Sementara Arga juga menyadarinya, tetapi keduanya memilih untuk diam sebelum tahu yang sebenarnya.


Sesampainya di dalam, mulut Arga terbuka lebar dan kagum saat melihat banyak orang-orang yang sedang duduk, baik secara berkelompok maupun sendiri. Memang ruangan itu cukup besar, Arga menduga ruangan itu sanggup menampung lebih dari seratus orang tanpa kesulitan.


Tetapi reaksi itu tidak berlangsung lama karena berubah menjadi keterkejutan dan Arga mengerutkan keningnya.


Hal itu dikarenakan tidak ada orang lain selain orang-orang yang menggunakan pakaian prajurit lengkap dengan tombak dan tameng di sebelah mereka.

__ADS_1


Arga menanyakan hal itu kepada Widura, tetapi Widura juga sama tidak mengetahuinya.


Saat keduanya sedang berbincang, tiba-tiba ada seorang gadis yang menghampiri mereka, yang tidak lain ada seorang pelayan.


"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" Tanya gadis itu dengan sopan kepada Arga dan Widura.


"Kami ingin memesan dua kamar!" Jawab Arga.


"Maaf Tuan kalian salah memilih hari." Balas pelayan itu sambil sedikit merasa bersalah.


Arga dan Widura mengerutkan dahi mereka tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh pelayan itu. Saat keduanya sedang mencerna situasi, pelayan itu kembali bersuara.


"Semua kamar sudah di pesan oleh Tuan Muda Rendra."


Pelayan itu menjelaskan bahwa semua penginapan ini telah di pesan oleh seseorang yang bernama Rendra yang tidak lain adalah Pangeran ketiga dari kerajaan Samudra.


"Pangeran Rendra? Memangnya apa yang dilakukannya disini?" Widura tidak bisa menahan rasa penasarannya, karena setahunya pangeran Rendra adalah anak bungsu dari Raja Handoko dan yang paling jarang keluar Istana. Sebab itulah dia merasa bingung.


"Maaf Tuan, untuk informasi yang akurat hamba tidak mengetahuinya, tetapi yang hamba dengar beberapa waktu lalu, Pangeran Rendra ingin pergi ke Pulau Seberang untuk melamar putri penguasa salah satu kerajaan disana." Jelas pelayan itu.


"Ini ambil, anggap saja sebagai bayaran atas informasinya." Widura menyodorkan tangannya ke pelayan ini.


"Tapi Tuan," Pelayan itu berniat menolaknya, karena menurutnya informasi yang disampaikan tidak begitu penting karena sudah menjadi rahasia umum, lagipula itu terlalu banyak untuknya, tetapi setelah melihat raut wajah Widura berubah, akhirnya pelayan itu mengambilnya karena tidak ingin membuat masalah.


"Apakah kalian keberatan kami berada disini?" Tanya Widura lagi, dia kemudian menjelaskan bahwa dia dan Arga ingin bermalam disini, tidak apa-apa walaupun mereka tidur di meja yang penting mereka bisa melalui malam ini.


"Sebenarnya kami tidak keberatan, tetapi mungkin mereka akan keberatan!" Pelayan itu menunjuk ke arah para prajurit yang sedang menyantap makanan dan minum-minuman.


"Kau tidak perlu khawatir! Kami memesan makanan terbaik disini dan arak juga." Jawab singkat Arga dan memberikan tiga keping emas sebagai bayarannya.


"Apakah ini cukup?" Tanya Arga.


"Ini kelebihan Tuan!" Jawab pelayan itu sambil terbata-bata, baik Arga maupun Widura bisa melihat gadis itu antara terkejut dan takut melihat keduanya.


"Ambil saja kembaliannya untukmu!" Jawab Arga sambil tersenyum tipis.


"Baik Tuan, silahkan cari tempat duduk yang paling nyaman!" Pelayan itu langsung pergi meninggalkan Arga dan Widura.

__ADS_1


Widura mengajak Arga untuk duduk di sebuah meja yang tidak terisi, selain meja yang ditempati Arga dan Widura hanya ada satu lagi yang tersisa.


Baik Arga maupun Widura bisa melihat dengan jelas bahwa banyak pandangan tertuju ke arah mereka, sebenarnya dari saat Arga dan Widura berbincang dengan pelayan tadi.


Tetapi Arga dan Widura tidak mempermasalahkannya, mereka memilih diam dan menunggu pesanan mereka.


Saat sedang menunggu itulah tiba-tiba ada seorang yang mendekati keduanya yang tidak lain adalah seorang pria paruh baya.


*****


Para prajurit menatap lekat kedua pemuda yang sedang berbincang dengan pelayan, mereka tidak habis pikir masih ada yang berani kesini setelah semua kamar di pesan oleh Pangeran Rendra.


Saat mereka sedang berbisik-bisik, tiba-tiba ada seorang pria paruh baya mendekati mereka yang tidak lain adalah Tumenggung Aling, yang tidak lain adalah salah satu Tumenggung dari kerajaan Samudra dan yang ditugaskan untuk menemani pangeran Rendra.


"Tuan Tumenggung," Semua prajurit memberikan hormat mereka.


"Hei sini!" Tumenggung Aling memanggil seorang prajurit untuk mendekatinya.


"Siapa mereka?" Sambungnya setelah prajurit itu di dekatnya. Dia menunjuk ke arah Arga dan Widura berada.


"Kami tidak mengetahuinya Tuan Tumenggung." Jawab prajurit itu.


"Pergi cari tahu!" Titah Tumenggung Aling, sementara dia memilih untuk duduk dan menyaksikan dari jauh.


Semua orang membukakan jalan dan memberikan tempat duduk untuknya, bahkan Prajurit yang tadi duduk kini berdiri.


"Tidak perlu demikian! Lanjutkan aktivitas kalian, jangan terlalu sungkan." Tumenggung Aling duduk dan mengambil seguci arak lalu meminumnya, "Mari temani aku minum!" Ucapnya kepada para prajurit.


Mendengar itu, para prajurit langsung duduk seperti sebelumnya dan menemani Tumenggung Aling minum.


Sementara di waktu yang sama, prajurit yang ditugaskan oleh Tumenggung Aling sebelumnya sudah sampai di tempat Arga dan Widura berada.


"Hei! Siapa kalian? Apa kalian tidak tahu kalau semua penginapan ini telah terisi penuh?" Prajurit itu terlihat geram dan menaikkan alisnya.


"Kami hanya rakyat biasa Tuan. Kami hanya ingin makan di tempat ini dan menginap karena hari sudah gelap." Jawab Widura dengan sopan, tetapi kesopanan itu di balas dengan sebaliknya.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini. Bukan tempat kalian berada disini." Prajurit itu mengusir Arga dan Widura.

__ADS_1


__ADS_2