Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Arga VS Sembada


__ADS_3

Saat Arga dan Nilawati ingin mengikuti Nyai Mawar Bidara untuk memastikan pertarungannya tidak ada yang mengganggu, tiba-tiba saja ada tiga orang menghadang jalan mereka. Arga dan Nilawati dapat melihat bahwa ketiganya memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi, karena baik Arga maupun Nilawati mengetahui salah satu dari mereka. Nyai Parwati, ya dia adalah salah satu dari tiga orang yang menghadang jalan mereka.


*****


Nyai Parwati, Gading Koneng dan Sembada masih bersembunyi, karena itu adalah permintaan dari Raja Jentalu, Raja kerajaan Singaparna. Ketiganya menyaksikan pertarungan demi pertarungan antara prajurit kerajaan Kalingga dengan prajurit pihaknya.


Tetapi perhatian mereka teralihkan saat melihat Ratu Sri Dewi Wijaya mengeluarkan jurus Tapak Wangi nya. Mereka menduga pertempuran antar Pendekar tidak akan lama lagi terjadi.


Benar saja, setelah beberapa saat Ratu Sri Dewi Wijaya mengeluarkan Tapak Wangi nya, tiba-tiba saja mereka melihat seorang wanita tua yang terbang ke arah Ratu dari kerajaan Jenggala itu. Ketiganya langsung mengenali bahwa itu adalah Mawar Bidara, sosok yang pernah menggemparkan dunia persilatan pada masanya.


Di belakang Mawar Bidara mereka juga melihat dua sosok muda-mudi yang sepertinya hendak membantu Mawar Bidara. Sebab itulah baik Nyai Parwati, Gading Koneng dan Sembada memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya dan membantu Ratu Sri Dewi Wijaya.


Hal lain yang membuat mereka dengan segera melesat membantu Ratu Sri Dewi Wijaya, karena Nyai Parwati mengatakan bahwa kedua muda-mudi itu adalah Arga dan Nilawati.


"Kalau begitu ini adalah saatnya untuk kita turun tangan. Aku sudah tidak sabar ingin menjajal kemampuan pemuda itu." Gading Koneng melesat dengan cepat untuk menghadang Arga dan dibelakangnya diikuti Nyai Parwati dan Sembada.


*****


Arga dan Nilawati menghentikan langkah mereka ketika melihat tiga orang sepuh menghadang jalan mereka.


"Tidak kusangka kau masih berani menginjakkan kakimu di tanah Kalingga ini, Nenek tua." Arga terkekeh, dia berkata demikian untuk memprovokasi Nyai Parwati.


"Kenapa aku tidak berani? Kau jangan terlalu congkak anak muda. Kau pikir kau sudah menguasai dunia persilatan?" Nyai Parwati emosi, dia termakan oleh provokasi yang Arga lontarkan. Sedangkan Arga hanya bertambah tertawa karena provokasi nya berhasil.


"Ternyata ini pemuda yang membunuh muridku! Aku memang merasakan kekuatan yang sangat dahsyat keluar dari tubuhmu." Gading Koneng akhirnya ikut bersuara.


"Tapi sayang, hari ini kau harus mati ditanganku." Sambung Gading Koneng.

__ADS_1


Arga menanggapinya dengan senyuman sebentar sebelum raut wajahnya berubah menjadi dingin dan berkata, "Setiap musuh yang bertemu denganku pasti akan mengatakan hal yang sama denganmu Pak Tua. Bahkan muridmu juga mengatakan hal yang sama. Tapi buktinya, sampai sekarang aku masih berdiri disini dan menghirup udara segar tanpa kesulitan." Arga menatap dingin ke arah Gading Koneng dan menunjuknya. Dia sudah bisa menebak bahwa laki-laki tua yang ada dihadapannya itu adalah guru Seta yang berhasil dibunuhnya beberapa waktu lalu. Hal itu karena Arga melihat pedang yang ada ditangan Gading Koneng sama dengan yang Seta gunakan.


"Sebaiknya kau serang aku terlebih dahulu sebelum tidak ada kesempatan lagi untuk berikutnya." Arga berdiri tegak tanpa bergerak dari tempatnya sebelumnya. Tetapi ada perbedaan dari dirinya, sekarang dia sedang menggunakan jurus Desendria.


"Sombong sekali kau anak muda. Kakang Gading, biar aku yang lebih dahulu menjajal ilmunya dan mengajarinya sopan santun." Sembada mengangkat tombaknya dan bersiap menyerang Arga.


"Aku juga ingin melihat kemampuan orang yang membunuh tiga muridku." Sembada berniat melesat terbang ke arah Arga untuk menyerang pemuda itu, tetapi langkahnya terhenti saat Arga mengangkat suaranya.


"Murid? Siapa muridmu? Aku memang sudah cukup banyak membunuh orang-orang seperti kalian." Arga mencoba memprovokasi Sembada.


"Kau benar, kau pasti belum mengenalku sebelumnya. Perkenalkan namaku Sembada, guru dari Tiga Pendekar Macan Putih."


"Ooooo."


Bibir Arga membentuk huruf O besar, dia sedang mencoba mempermainkan Sembada agar fokus dan konsentrasi laki-laki tua itu terpecah.


"Tiga Pendekar Macan Putih." Sambung Arga seperti tidak bersalah sedikitpun.


"Pergilah ke neraka." Bersamaan dengan teriakan itu, Sembada bergerak maju menyerang Arga.


Arga menyambutnya dengan santai, dia memutar badannya 180 derajat dan mengangkat tangan kanannya untuk menepis tombak Sembada. Tidak lupa juga dia sempat menggerakkan tangan kirinya untuk menyerang ke bagian perut laki-laki tua itu.


Tetapi tentu saja tidak berhasil, Sembada adalah salah satu Pendekar tingkat tinggi, jadi serangan seperti itu tidak cukup untuk mengenainya.


Sembada memundurkan sedikit tubuhnya untuk menghindari serangan dari tangan kiri Arga.


Tidak begitu lama bagi keduanya, hanya dalam waktu satu menit sudah sekitar 100 gerakan yang tercipta.

__ADS_1


Baik Arga maupun Sembada memundurkan langkah mereka untuk mengambil jarak dan mengatur nafas. Tidak lupa juga keduanya menganalisis kekuatan masing-masing.


"Gerakanmu sudah sangat baik Pak Tua. Tetapi masih belum sempurna untuk menggunakan Jurus 'Tombak Mengguncang Dunia'," Arga yang terlebih dulu mengangkat suaranya.


"Sini aku tunjukkan gerakan yang sempurna dari jurus itu." Setelah berkata demikian, Arga menghentakkan kakinya, dan tiba-tiba saja kayu yang ada dihadapannya terbang ke arahnya.


Arga menangkap kayu yang memiliki panjang sekitar 2 meter itu, dan setelah itu dia maju menyerang ke arah Sembada.


Di sisi lain Sembada tidak bisa berkata apa-apa, dia sebenarnya cukup terkejut mendengar Arga bisa mengetahui jurusnya dan bahkan seakan-akan pemuda itu sudah terlebih dahulu mempelajarinya daripada dia. Padahal jurus itu adalah jurus ciptaannya sendiri.


Tetapi hal itu tentu tidak bisa dia pikirkan sekarang, karena Sembada harus fokus dengan serangan yang dilancarkan oleh Arga.


Lima menit lamanya Arga menyerang Sembada menggunakan kayu itu, dalam lima menit itu juga hati Sembada berkecamuk.


Bagaimana tidak? Seperti yang Arga katakan sebelumnya, dia bisa memperagakan Jurus 'Tombak Mengguncang Dunia' dengan sempurna.


Sembada mengambil jarak setelah itu, tentu dia cukup terpukul karena hal itu.


Setelah mundur cukup jauh dan mengatur jaraknya dengan Arga, Sembada mengangkat suaranya, "Melihat Kau bisa meniru jurusku dengan sempurna, tidak ada alasan lain kecuali kau memiliki jurus Desendria!" Sembada menunjuk ke arah Arga, tidak ada alasan lain baginya selain yang dikatakannya sebelumnya.


Sembada sendiri adalah satu angkatan dengan Nyai Mawar Bidara, jadi tentu saja dia mengetahui jurus Desendria.


Di sisi lain, Parwati yang mendengarkan perkataan Sembada kembali mengingat kejadian pemberontakan yang dilakukannya beberapa waktu lalu, dia mengingat jelas bahwa Arga juga bisa meniru jurus-jurus dari lawannya.


"Kau benar Kakang Sembada, dia menguasai jurus Desendria, selain itu dia juga memiliki Pedang Tujuh Naga, Pedang tingkat dewa." Parwati memperingatkan Sembada untuk tidak mempermainkan Arga.


"Menarik... Sangat Menarik! Baiklah kalau begitu aku akan serius." Sembada tersenyum tipis ke arah Arga.

__ADS_1


Sedangkan Arga hanya menanggapinya dengan senyuman juga. Dia jelas mengetahui bahwa laki-laki tua dihadapannya itu masih banyak jurus dan ajian yang belum dikeluarkan.


Keduanya akhirnya sama-sama menyerang lagi, sedangkan Parwati kali ini memutuskan untuk menghadapi Nilawati, sementara Gading Koneng memilih untuk terus menonton pertarungan antara Arga dan Sembada yang menurutnya sangat menarik.


__ADS_2