Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Terbongkarnya Kebusukan Tumenggung Prabaskara


__ADS_3

Dua hari setelah Arga dan yang lain tinggal di istana, mereka berlima memutuskan untuk pergi melanjutkan perjalanan, tetapi saat mereka ingin meminta izin kepada yang mulia raja, mereka dihentikan.


Arga masih memikirkan cara untuk mengungkap kebusukan Tumenggung Prabaskara, dan akhirnya dia mempunyai sebuah ide.


Arga mengirim surat kepada Tumenggung Prabaskara, surat itu berisi seseorang utusan pangeran Andiko ingin bertemu dengannya. Akhirnya Tumenggung Prabaskara membalas surat itu dan menyetujui bertemu tengah malam nanti.


Tumenggung Prabaskara tidak mencurigai sedikitpun surat itu, karena dia percaya diri bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui pengkhianatannya.


Arga menyiapkan segalanya untuk mengungkap kebusukan Tumenggung Prabaskara, dia menemui Patih Angga dan mengatakan semuanya. Patih Angga tentunya tidak percaya, tetapi Arga menjelaskan mempunyai cara untuk membuktikannya. Akhirnya Patih Angga menyetujui untuk memastikannya.


Tengah malam hari yang gelap hanya disinari cahaya bulan yang bersinar, tidak ada bintang-bintang. Suasana dingin dan menusuk ke tubuh sangat terasa. Suara burung berkicau menambah orang-orang untuk tidur terlelap.


Terlihat seorang pria yang menunggu di tengah hutan. Ya orang itu tidak lain adalah Tumenggung Prabaskara, dia sedang menunggu seseorang yang mengirim surat kepadanya tadi siang.


Setelah cukup lama dia menunggu, akhirnya dia menyadari ada sesuatu yang salah. Saat dia hendak kembali ke istana, terlihat seorang pemuda menghadang jalannya. Ya pemuda itu adalah Arga.


"Mau kemana Tumenggung Prabaskara?" Tanya Arga sambil tersenyum sinis.


Tumenggung Prabaskara meningkatkan kewaspadaannya. Saat dia melihat wajah pemuda itu adalah Arga dia mengerutkan keningnya. Tetapi tidak lama dia tersadar dan mulai menunjukkan senyum manis di wajahnya.


"Oh ternyata kisanak, saya mau kembali ke istana." Balas Tumenggung Prabaskara, dia bersikap tenang, tetapi di hatinya mulai berpikir liar.


"Apa yang Tumenggung Prabaskara lakukan disini?" Arga menaikkan alisnya.


"Ah tadi aku sedang mencari angin." Jawaban spontanitas dari Tumenggung Prabaskara.


"Mencari angin? Bukankah suasana malam ini begitu dingin? Apakah Tumenggung Prabaskara tidak merasakan hal itu?" Arga membanjiri Tumenggung Prabaskara pertanyaan.


Tumenggung Prabaskara yang menyadari kesalahan dari jawabannya, masih memikirkan untuk mencari jawaban untuk mengelak.


Saat Tumenggung Prabaskara ingin mengeluarkan suaranya Arga tiba-tiba menghentikannya.


"Sudahlah Tumenggung, tidak usah berbelit-belit, aku sudah mengetahui kau berkhianat kepada kerajaan."


Ucapan Arga bagai guntur di telinga Tumenggung Prabaskara, dia mengerutkan dahinya tetapi langsung bisa menguasai keadaannya.


"Apa yang kau katakan anak muda." Tumenggung Prabaskara menunjuk Arga.


"Kau tidak punya bukti sedikitpun, jadi jangan asal bicara." Tambah Tumenggung Prabaskara sambil meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Oh aku tidak punya bukti."


"Bagus...Bagus." Arga menepuk kedua tangannya.


"Aku melihat kau bertemu dengan seseorang disini malam itu dan aku mendengar semua yang kalian bicarakan." Ucap Arga yang juga meninggikan suaranya dan menunjuk ke arah Tumenggung Prabaskara.


Tumenggung Prabaskara menjadi kaget dan matanya melotot. Akhirnya dia mengakui semuanya.


"Hahahaha... Ternyata kau yang mengikuti aku malam itu, wajar saja aku merasakan ada yang mengikutiku."


"Karena kau telah mengetahui rahasiaku, maka kau harus mati malam ini." Tumenggung Prabaskara mencabut keris dari pinggangnya.


Saat dia hendak maju menyerang Arga, tiba-tiba ada suara tepuk tangan yang sangat keras. Suara itu berasal dari atas pohon yang tidak jauh dari mereka.


*****


Arga dan Patih Angga merencanakan penjebakan Tumenggung Prabaskara. Arga diminta untuk membuka kedok Tumenggung Prabaskara sedangkan Patih Angga akan bersembunyi di atas pohon.


Saat Arga dan Tumenggung Prabaskara memulai percakapan mereka, Patih Angga sudah melihat semuanya. Dia bisa mengetahui siapa yang benar dari sikap dan tingkah laku Tumenggung Prabaskara saat berbicara dengan Arga.


Saat Patih Angga mendengar dengan jelas Tumenggung Prabaskara mengakui pengkhianatannya, Patih Angga menjadi murka dan naik pitam, dia langsung menepuk kedua tangannya.


Tumenggung Prabaskara melihat ke arah suara itu. Saat dia melihat sosok yang bertepuk tangan, dia langsung menundukkan kepalanya.


"Gusti Patih." Ucap Tumenggung Prabaskara.


Pikiran Tumenggung Prabaskara menjadi liar, dia tidak mengetahui sudah berapa lama Patih Angga berada di atas pohon menyaksikan pembicaraan antara dia dan Arga.


"Bagus... Bagus... sangat bagus." Ucap Patih Angga sambil terus menepuk kedua tangannya.


"Ternyata kau mengkhianati yang mulia raja dan kerajaan Kalingga, Tumenggung Prabaskara." Patih Angga menghentikan tepukan tangannya. Dia menunjuk wajah Tumenggung Prabaskara dengan tatapan murka.


Tumenggung Prabaskara yang menyadari bahwa dirinya dalam bahaya, segera menundukkan badannya dan mengatakan "Ampun Gusti Patih, yang Anda dengar itu salah." Tumenggung Prabaskara masih berniat mengelak.


"Kau pikir telingaku tuli." Patih Angga bertambah murka kepada Tumenggung Prabaskara.


"Bagus Arga, kau telah berhasil membuka rahasia ******* busuk ini." Patih Angga melirik ke arah Arga.


"Terima kasih Gusti Patih." Arga membungkukkan badannya.

__ADS_1


"Aku yang akan ambil alih dari sini, kau mundurlah." Ucap Patih Angga.


"Baik Gusti Patih."


Saat Arga sudah mundur cukup jauh dari dekat Patih Angga, Patih Angga langsung menyerang ke arah Tumenggung Prabaskara.


"Aku tidak akan membiarkanmu hidup lagi pengkhianat." Seru Patih Angga.


Tumenggung Prabaskara yang sadar bahwa pertarungan itu tidak lagi bisa dielakkan, dia juga maju dengan keris ditangannya menyerang Patih Angga.


Saat tangan Patih Angga bertemu dengan keris Tumenggung Prabaskara terdengar suara yang cukup keras. Ternyata Patih Angga menggunakan ilmu tangan besinya untuk melawan Tumenggung Prabaskara.


Pertarungan antara Patih Angga dan Tumenggung Prabaskara tidak berlangsung lama, akhirnya Patih Angga berhasil mendaratkan pukulan yang cukup keras kepada Tumenggung Prabaskara. Tumenggung Prabaskara terpental dan memuntahkan darah segar.


Saat Tumenggung Prabaskara hendak kembali bangkit untuk menyerang Patih Angga, Patih Angga mengeluarkan jurus andalannya.


Patih Angga mengangkat kedua tangannya, lalu menggabungkannya. Setelah itu keluar cahaya kemerahan dari kedua tangannya.


"Ajian Guntur Bumi?" Tumenggung Prabaskara membatin.


Tumenggung Prabaskara yang melihat jurus itu langsung pucat pasih, dan dia sudah mengetahui hasilnya nanti.


"Ajian Guntur Bumi." Gumam Arga pelan. Arga menaikkan alisnya dan matanya melotot.


Arga pernah mendengar tentang Ajian Guntur Bumi dari gurunya nenek Mawar Bidara.


Ajian Guntur Bumi adalah ilmu tingkat tinggi yang setara dengan ilmu yang Arga miliki yaitu Jurus Penghancur Langit dan jurus Penghancur Bumi yang Ayu miliki. Konon ilmu ini mampu menghancurkan tubuh seseorang ketika pukulan pemiliknya mengenai targetnya.


Patih Angga maju dan memukulkan kedua tangannya kepada Tumenggung Prabaskara yang sudah pasrah dengan keadaannya.


Tumenggung Prabaskara hancur tanpa sisa setelah terkena ajian itu.


Setelah Tumenggung Prabaskara terbunuh, Patih Angga menghampiri Arga. Dia berteri kasih karena Arga sudah mengungkap kebusukan Tumenggung Prabaskara.


"Terima kasih Arga, kerajaan Kalingga berhutang padamu."


"Tidak perlu sungkan Gusti Patih, itu sudah kewajibanku sebagai rakyat dari kerajaan Kalingga." Balas Arga dengan tersenyum dan membungkukkan badannya.


Patih Angga menepuk pundak Arga dan mengajaknya kembali ke istana. Keduanya terbang dengan cepat dan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2