
Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya Nyi Rondo mengajak Arga masuk ke dalam gua. Akhirnya Nyi Rondo dan Arga tiba di sebuah bagian terdalam gua, disana terlihat menancap sebuah pedang dengan 7 lekukan seperti keris yang menancap di sebuah batu. Di dekatnya terlihat sebuah sarung pedang dengan corak naga menghiasinya. Panjang pedang itu sekitar 1,5 meter.
"Nyi...ini! Ini pedang tujuh naga?" Arga menunjuk pedang itu sambil bertanya kepada Nyi Rondo sambil terbata-bata.
"Benar Arga, pedang ini adalah pedang tujuh naga yang kamu cari." Jawab Nyi Rondo.
"Silahkan kamu mencoba mencabutnya, jika kau berhasil berarti pedang ini berjodoh denganmu." Sambung Nyi Rondo.
"Baik Nyi, aku akan mencobanya."
Arga maju bergerak ke depan, dia memegang pangkal pedang itu dan mencoba mencabutnya dengan sekuat tenaga. Tetapi pedang itu tidak sedikitpun menunjukkan reaksi, bahkan satu sentimeter pun tak bergerak. Arga kemudian menghentikan sejenak percobaannya. Kemudian Arga mempelajari dan memahami dulu pedang itu.
Setelah sekitar satu jam mempelajari dan memahami pedang tujuh naga Arga kembali berusaha mencoba mencabutnya.
Arga kembali memusatkan tenaga dalamnya, dia mencabut pedang itu tetapi masih tidak berhasil.
Nyi Rondo menepuk pundak Arga sambil berkata "Kau tidak akan bisa mencabut pedang ini hanya dengan kekuatan fisik saja, kau harus menggunakan kekuatan perasaanmu."
Arga tentu mengerti dengan yang diucapkan oleh Nyi Rondo, Arga memang terus memikirkan untuk membalas dendam kematian kedua orang tuanya menggunakan pedang itu, itulah yang membuat pedang tujuh naga tidak mau tercabut.
Akhirnya Arga memutuskan kontak perasaannya, dia menyerahkan semuanya. Perasaan-perasaan untuk membalas dendam akhirnya perlahan mulai menghilang dari pikirannya. Arga menggantinya dengan perasaan kasih sayang, dia memikirkan untuk menggunakan pedang tujuh naga untuk membasmi kejahatan dari muka bumi. Setelah Arga memusatkan pemikirannya akhirnya sebuah cahaya kebiruan keluar menyelimuti pedang tujuh naga.
"Hiyaaaahhhhhh." Arga berteriak sekencang-kencangnya dan akhirnya pedang itu tercabut dari batu.
Arga terpental membentur dinding gua sedangkan pedang tujuh naga melayang di udara. Tiba-tiba keluar 7 sosok dari pedang tujuh naga dihadapannya. Ketujuh sosok itu memakai pakaian berwarna hitam dan wajahnya yang menyeramkan.
Arga berdiri sambil memegangi dadanya yang sakit karena terhempas membentur dinding gua.
"Kami adalah jiwa penunggu pedang tujuh naga. Tidak disangka ada seorang yang berhasil membangunkan kami dari tidur yang panjang."
"Hahaha."
"Hahaha."
"Hahaha."
Ketujuh sosok itu tertawa terbahak-bahak sambil menyeringai ke arah Arga.
__ADS_1
"Jika kau ingin menjadi tuan dari pedang ini kau harus mengalahkan kami terlebih dahulu anak muda." Sambung salah satu jiwa penunggu pedang itu.
Ketujuhnya langsung menyerang Arga secara bersamaan. Arga tak tinggal diam, dia menggunakan jurus cakar besi mengoyak langit dan berhasil membuat 2 jiwa pedang terpental dan menghilang. Kemudian Arga menggunakan ajian melepas roh yang dipelajarinya dari pendekar pengemis tua.
Arga dan lima jiwa pedang yang tersisah terus bertarung, serangan demi serangan silih berganti terjadi diantara mereka, akhirnya Arga berhasil membuat 4 jiwa pedang terpental dan menghilang.
Tersisa 1 jiwa pedang lagi, saat Arga hendak menyerang jiwa pedang itu, tiba-tiba jiwa pedang menjadi sosok yang lebih menyeramkan lagi. Jiwa pedang yang tersisa ternyata menghisap kekuatan dari 6 jiwa pedang lainnya yang tadi menghilang.
Keduanya bertarung dengan sangat cepat dan akhirnya Arga berhasil melenyapkan jiwa pedang yang tersisa.
Saat Arga hendak menggapai pedang tujuh naga yang masih melayang tiba-tiba ada 7 sosok misterius lagi yang muncul. Ketujuh sosok misterius ini memakai pakaian berwarna putih dan ikat kepala berwarna putih juga.
"Ini adalah ujian keduamu anak muda. Kau harus mengalahkan kami terlebih dahulu jika kau mau mendapatkan pedang tujuh naga." Ucap salah satu dari jiwa pedang itu.
"Baiklah, akan aku lakukan jika itu yang kalian inginkan." Arga melesat maju menyerang ketujuh jiwa pedang.
Ketujuh jiwa pedang tidak tinggal diam, mereka menahan serangan Arga dengan pola yang teratur. Kali ini Arga yang terpental membentur dinding gua.
Arga berdiri sambil mengusap bibirnya yang keluar darah.
Tetapi ternyata ujian Arga masih belum selesai, tiba-tiba pedang tujuh naga berubah menjadi tujuh dan menyerang ke arahnya.
Arga menghindari serangan-serangan dari pedang itu. Tetapi walaupun dia telah bergerak dengan lincah dan cepat pedang tujuh naga masih berhasil melukainya.
"Srattt." Bahu sebelah kanan Arga tergores oleh pedang tujuh naga. Tak lama kemudian bahu sebelah kirinya yang menjadi korban.
Akan tetapi demi kegigihan dan perjuangannya Arga berhasil menaklukkan pedang tujuh naga dan mengendalikannya.
Saat Arga sudah memegang pangkal pedang, tiba-tiba keluar sosok naga berwarna biru dari ujung pedang itu.
Naga biru adalah jiwa pedang asli dari pedang tujuh naga. Naga biru selain kuat dia juga bisa berbicara selayaknya manusia. Dia terbang di udara gua dan mengeluarkan api dari mulutnya dan menyerang ke arah Arga.
Arga yang melihat hal itu sangat takjub dan antusias, tetapi tentu yang terlebih dahulu harus diselesaikannya adalah mengalahkan naga itu atau nyawanya yang akan hilang.
Setelah Arga berhasil menghindari serangan-serangan bola api dari naga biru, naga biru berhenti sejenak di udara.
"Ilmumu cukup tinggi anak muda, kau berhasil menghindari serangan-serangan bola api dariku." Ucap naga biru.
__ADS_1
Arga yang mendengar bahwa naga biru dapat bicara tentu dia sangat kaget.
"Kau...kau bisa bicara?" Arga memberanikan diri untuk berbicara dengan naga biru walaupun dia masih terlihat terkejut.
"Aku adalah jiwa pedang ini, aku sudah hidup ratusan ribu tahun lamanya, tentu saja aku bisa bicara." Ucap naga biru membalas pertanyaan Arga.
Naga biru kembali menyerang Arga dengan bola-bola apinya. Tetapi Arga juga berhasil menghindarinya.
Arga kemudian mengambil inisiatif untuk membalas serangan naga biru. Arga menggunakan pedang tujuh naga yang ada di tangannya.
Arga menggerakkan pedang itu dengan sangat lincah dan gesit.
Setelah sekitar satu jam akhirnya Arga berhasil mengalahkan naga biru.
"Bagus anak muda, kau berhasil mengalahkanku dengan demikian kau berhasil menguasai pedang tujuh naga dan menjadi tuan serta pemilikku."
"Siapakah namamu tuan." naga biru bertanya kepada Arga.
"Namaku Arga Permana, terimakasih karena kau telah menyerahkan pedang tujuh naga ini kepadaku." Arga membalas pertanyaan naga biru.
"Kau akan ku beri nama Naga Bergola Biru." sambung Arga.
"Baik tuan Arga."
Kemudian naga bergola biru melemparkan sebuah kitab dari dalam mulutnya dan memberikannya kepada Arga.
"Kau harus mempelajari ilmu itu tuan, itu adalah ilmu dari pedang tujuh naga." Ucap naga bergola biru sebelum kembali masuk ke dalam pedang.
"Jurus pedang tujuh naga." Arga mengangguk dan membaca judul dari kitab itu.
Setelah selesai mendapatkan pedang tujuh naga Arga menyarungkan pedang itu dan meletakkannya di punggungnya.
Kemudian Arga menghampiri Nyi Rondo yang dari tadi menyaksikan pertarungannya.
"Terima kedua kitab ini Arga, ini adalah kitab yang ditinggalkan oleh Joko Samudro." Nyi Rondo menyerahkan dua buah kitab yang ada di tangannya.
"Ajian Gineng! Jurus Desendria!" Ucap Arga setelah membaca judul dari kedua kitab yang diberikan Nyi Rondo.
__ADS_1