Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Teringat Masa Lalu


__ADS_3

Tengah malam hari yang cukup dingin, dengan bulan sabit terang menyinarinya. Bintang-bintang bersinar terang dan burung-burung berkicauan membuat semua orang tertidur dengan nyenyak.


Terlihat seseorang yang sedang bersender di sebuah pohon di dekat istana. Ya orang itu tidak lain adalah Arga. Dia sedang melamun sambil menatap ke arah langit. Dari raut wajahnya terlihat menyimpan kesedihan dan kerinduan. Dia menatap ke arah langit, matanya berkaca-kaca seakan-akan menahan air matanya.


"Ayah! Ibu! Sampai sekarang aku masih belum bisa membalas dendam kalian. Aku seperti seseorang yang tidak berguna. Aku sangat merindukan kalian." Arga bergumam pelan dan membantali kepalanya menggunakan kedua tangannya, dia sangat merindukan ayah dan ibunya. Tak terasa air matanya juga mengalir membasahi pipinya.


Beberapa saat kemudian dia mendengar ada suara jejak kaki dan dia melihat seseorang yang meninggalkan istana.


Arga yang penasaran, langsung melompat dari pohon dan mengikuti sosok yang belum dikenalinya itu. Dia melangkah pelan-pelan agar tidak bersuara dan menimbulkan kecurigaan dari sosok itu.


Saat tiba di tengah hutan, sosok itu bertemu dengan seseorang, sosok yang ditemuinya itu berusia sekitar 30 tahunan.


Tak lama dari pertemuan itu merekapun bercakap-cakap. Arga sendiri mengintip dari atas dan meningkatkan pendengarannya untuk mendengarkan percakapan antara kedua orang itu. Dia menyembunyikan hawa keberadaannya.


Yang Arga dengar dari percakapan keduanya adalah orang yang meninggalkan istana tadi memberitahukan semua hasil pertemuan yang diadakan antara raja dan bawahannya tadi siang.


Ternyata isi dari pertemuan itu adalah membahas tentang cara merekrut perguruan-perguruan aliran putih untuk berpihak kepada pangeran Jatmiko, mencari jejak persembunyian pangeran Andiko yang ingin melakukan pemberontakan dan merekrut pendekar-pendekar tingkat tinggi untuk mengantisipasi pemberontakan.


Setelah selesai melakukan pertemuan, keduanya pergi ke arah yang berbeda, satu orang pergi ke arah dalam hutan sedangkan yang satunya pergi ke arah istana.


Saat orang itu berbalik, Arga mengenali sosok yang meninggalkan istana itu. Sosok itu berusia sekitar 40 tahunan, dia memakai pakaian berwarna hitam-hitam dan ikat kepala bercorak sisik ular. Satu keris terselip di balik pinggangnya menambah kegagahan dari sosok itu.


Ternyata sosok itu adalah salah satu Tumenggung kerajaan Kalingga. Tumenggung itu bernama Prabaskara. Tumenggung Prabaskara ternyata berpihak kepada pangeran Andiko dan menjadi mata-mata di dalam istana.

__ADS_1


Tumenggung Prabaskara memihak pangeran Andiko karena pangeran Andiko menjanjikan hadiah yang sangat banyak padanya serta kedudukan yang lebih tinggi jika pangeran Andiko berhasil menjadi raja.


Arga masih mengintip dari atas pohon, setelah Tumenggung Prabaskara tidak terlihat lagi barulah Arga melompat turun dari atas pohon itu.


"Ternyata ada juga Tumenggung yang berkhianat kepada kerajaan, berarti bukan tidak mungkin masih banyak lagi yang mendukung pengeran Andiko itu baik para prajurit maupun para pejabat kerajaan." Arga menghela nafas panjang, dia mendapat pengetahuan yang baru, bahwa harta dan tahta dapat menyebabkan orang-orang menjadi serakah.


Kemudian Arga memikirkan bagaimana cara memberitahukan hal ini kepada raja dan yang lainnya, karena tidak mungkin dia langsung mengatakannya. Dia adalah orang yang baru sedangkan Tumenggung Prabaskara adalah orang yang sudah lama berada di kerajaan. Sudah jelas jika dia tidak mempunyai bukti yang kuat, pihak kerajaan tidak akan mempercayainya.


*


Tumenggung Prabaskara terus berjalan dengan cepat, dia merasakan ada yang memperhatikannya. Setelah dia sampai di halaman istana barulah dia bernafas lega dan berfikir bahwa perasaannya salah. Akhirnya Tumenggung Prabaskara kembali ke kediamannya.


*


Arga juga kembali ke istana, dia masuk ke dalam ruangan yang telah disediakan untuknya dan keempat temannya. Dia tidak tertidur semalaman karena memikirkan cara menjebak Tumenggung Prabaskara.


Ayu yang pertama kali terbangun melihat ke arah Arga yang sedang bersender di dinding ruangan. Dia mengerutkan keningnya saat melihat Arga seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kakang, ada apa? Apa yang kau pikirkan?"


Dia mendekati Arga dan menanyakan apa yang membuat kakangnya itu terlihat memikirkan sesuatu. Dia memegang bahu Arga dan memandangi wajahnya.


Arga yang masih melamun akhirnya tersadarkan oleh kedatangan Ayu. Dia mengalihkan perhatiannya kepada adiknya itu.

__ADS_1


"Eh adik, kau sudah bangun! Kakang hanya merindukan Ayah dan Ibu!." Arga melirik adiknya dan hanya tersenyum tipis.


"Lebih baik aku sembunyikan ini dari Ayu dan yang lainnya. Aku tidak mau mereka masuk dalam masalah besar." Arga berkata dalam hatinya.


Ayu yang mendengar perkataan Arga, mulai memperlihatkan wajah yang sedih, dia duduk disamping Arga dan bersender di bahunya. Sebenarnya ada kecurigaan dari Ayu bahwa Arga sedang berbincang, tetapi saat Arga membahas tentang kedua orang tua mereka, Ayu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia mematung sejenak, setelah itu baru bersuara.


"Aku juga merindukan mereka, kakang!" Ucap Ayu dengan pelan dan air mata telah mengalir membasahi pipinya. Ayu memeluk Arga dengan erat dan tak melepaskannya.


Kemudian berselang sekitar sejam akhirnya Jagad, Nilawati dan Bedul juga mulai terbangun. Mereka melihat Ayu dan Arga yang sedang duduk bersama sambil memperlihatkan wajah yang sedih. Ketiganya mendekati Arga dan Ayu, lalu menanyakan apa yang terjadi kepada mereka.


"Kami merindukan ayah dan ibu." Ucap Ayu sambil tetap memperlihatkan wajah yang sedih.


Arga dan Ayu mengingat kematian ayah dan ibunya, bagaimana mereka menemui nenek Mawar Bidara dan hal-hal yang menyedihkan yang mereka alami lainnya.


Mendengar hal itu, Jagad, Nilawati dan Bedul juga bersedih. Mereka juga langsung mengingat orang tua mereka. Mengingat guru yang telah merawat mereka. Yang paling sedih adalah Bedul, karena dia hidup sebatang kara setelah kematian orang tuanya.


Pagi itu menjadi pagi yang sangat menyedihkan untuk mereka berlima, kemudian mereka berpelukan dan saling menguatkan hatinya masing-masing.


"Aku ingin melupakan kejadian itu, tetapi tetap tidak bisa. Bayangan Ayah dan Ibuku selalu terbayang-bayang dipikiranku. Aku harus membalaskan dendam mereka." Arga mengepalkan tangannya sambil menggertakkan gigi-giginya.


"Aku akan membantumu Kakang. Tidak akan kubiarkan kau membalasnya sendirian." Ayu memegangi pundak Arga dan memeluknya.


"Aku akan membantumu juga Arga, bukan hanya Ayah dan Ibumu yang tewas ditangan ******** itu, tetapi Ayah dan Ibuku juga." Nilawati memegangi pundak Arga yang satunya. Dia juga memeluk Arga seperti halnya yang dilakukan Ayu.

__ADS_1


Jagad menghela nafasnya, dan berkata, "Aku juga tentu akan membantumu dan Ayu, bagaimanapun juga masalah Ayu adalah masalahku." Jagad berkata seperti berapi-api, matanya seperti menyala dan mengepalkan tangannya.


Sementara itu, Bedul juga berkata, "Aku akan membantu kalian juga."


__ADS_2