Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Pemberontakan II


__ADS_3

"Hem... Ingin menyerangku dengan jurus Tangan Sakti Memetik Bunga, tapi sama dengan pak tua di sampingmu. Jurusmu belum sempurna, biar aku tunjukkan yang sangat sempurna." Ucap Arga sambil tersenyum tipis. Dia langsung menunjukkan gerakan-gerakan jurus Tangan Sakti Memetik Bunga.


Saksono yang melihat itu akhirnya mengetahui apa yang dimaksud oleh Suryawi.


"Bagaimana pak tua?" Arga menaikkan alisnya setelah selesai melakukan gerakan jurus itu.


Suryawi dan Saksono berpandangan satu sama lain sebelum bergerak maju menyerang Arga.


Di sisi lain, Tumenggung Suropati sedang berhadapan dengan Werku Alit, benturan dari tombak Tumenggung Suropati dan Werku Alit mengeluarkan suara-suara yang keras memekik ke telinga.


Setelah bertukar puluhan jurus, keduanya sama-sama mundur untuk mengatur nafas mereka.


"Tidak kusangka ilmu kanuraganmu tinggi juga, Tumenggung Suropati." Teriak Werku Alit sambil menatap dingin ke arah Tumenggung Suropati.


"Tidak perlu besar mulut, Werku Alit! Seharusnya kau sudah lama mati, jika waktu itu kau tidak kabur saat kami tangkap. Ternyata kau kembali lagi kesini memanfaatkan kerajaan yang sedang menghadapi pemberontakan. Kau memang mencari mati, disini akan menjadi kuburan untukmu." Balas Tumenggung Suropati, dia berdecak kesal karena Werku Alit meremehkannya.


Tumenggung Suropati kembali maju menyerang Werku Alit, kali ini serangannya lebih cepat dari sebelumnya. Werku Alit jadi kewalahan dibuatnya.


"Kekuatannya bertambah dari sebelumnya." Gumam Werku Alit di dalam hatinya, sambil terus menangkis tombak Tumenggung Suropati dengan goloknya.


Akhirnya ujung tombak Tumenggung Suropati berhasil menusuk ke perut Werku Alit. Tak sampai disitu, Tumenggung Suropati menekan tombaknya untuk membuat luka dalam di perut Werku Alit. Werku Alit yang kehilangan banyak darah, akhirnya tewas di tangan Tumenggung Suropati.


Tumenggung Suropati langsung bergerak membantu Tumenggung Giriwara yang sedang kesulitan menghadapi Topeng Setan.


Tumenggung Giriwara selalu dibuat dalam keadaan yang tidak menguntungkan oleh Topeng Setan.


Topeng Setan yang mengetahui Tumenggung Suropati menyerangnya dari belakang, akhirnya bisa menghindari serangan itu sebelum mendarat di tubuhnya.


Tumenggung Suropati langsung menghampiri Tumenggung Giriwara.


"Kau tidak apa-apa, Giriwara?" Tanya Tumenggung Suropati sambil memegang pundak Tumenggung Giriwara.


"Tidak...aku tidak apa-apa, Suropati."


"Mari kita serang dia bersama-sama." Ucap Tumenggung Suropati.


"Baiklah, terima kasih." Tumenggung Giriwara mengangguk sebelum kembali maju menyerang Topeng Setan.

__ADS_1


Topeng Setan berdecak kesal kepada Werku Alit yang terbunuh ditangan Tumenggung Suropati.


Topeng Setan menyambut serangan mereka berdua dengan pedangnya. Topeng Setan bergerak lincah menangkis serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Tumenggung Suropati dan Tumenggung Giriwara.


Tetapi menghadapi dua orang dengan kemampuan yang tinggi tidak akan mudah baginya. Akhirnya Tumenggung Suropati berhasil memotong satu tangan Topeng Setan.


Tetapi Topeng Setan bukannya takut malah sebaliknya dia tertawa terbahak-bahak.


Tumenggung Suropati dan Tumenggung Giriwara mengerutkan dahi mereka melihat tingkah laku Topeng Setan. Kedua kebingungan, tetapi kebingungan itu tidak berlangsung lama karena mereka mendapatkan jawabannya.


Topeng Setan menyambung tangannya seperti semula seakan-akan tidak pernah terpotong.


Tumenggung Suropati dan Tumenggung Giriwara menyadari ilmu yang dipakai oleh Topeng Setan.


"Ilmu Rawa Bening." Ucap Tumenggung Suropati dan Tumenggung Giriwara secara bersamaan.


Orang-orang disana mendengar apa yang di ucapkan Tumenggung Suropati dan Tumenggung Giriwara.


Mereka menghentikan pertarungan sebentar dan melihat ke arah Topeng Setan.


"Ilmu Rawa Bening!?" Ucap raja Kertikeyasinga dan Patih Angga secara bersamaan.


Topeng Setan tidak memperdulikan ucapan semua orang, dia kembali menyerang Tumenggung Suropati dan Tumenggung Giriwara.


Parwati juga tidak membahas lebih lanjut, dia kemudian kembali fokus melihat ke arah raja Kertikeyasinga dan Patih Angga.


"Bagaimana yang mulia, apakah kita akan melanjutkan pertarungan ini, atau kau menyerahkan kerajaan Kalingga kepada pangeran Andiko?" Ucap Parwati sambil tersenyum lebar.


"Itu tidak akan terjadi. Kalian yang akan mati disini, setelah itu akan aku bersihkan semua yang terlibat disini dari kerajaan Kalingga." Balas dingin raja Kertikeyasinga.


"Kita buktikan saja." Parwati kembali maju menghadapi raja Kertikeyasinga dan Patih Angga. Dia menggunakan racunnya untuk menyerang.


Sebenarnya, baik raja Kertikeyasinga maupun Patih Angga sudah sering terkena racun Parwati, tetapi mereka mengonsumsi obat yang diberikan oleh Dewa Obat beberapa waktu lalu.


Ternyata dalam sepuluh guci yang diberikan Dewa Obat, lima diantaranya adalah obat penawar racun.


Pertarungan sengit juga terjadi antara Pangeran Jatmiko dan pangeran Andiko. Keduanya sama-sama menunjukkan ilmu beladiri yang cukup tinggi.

__ADS_1


Pertukaran-pertukaran jurus keduanya juga mengeluarkan suara yang keras.


Benturan-benturan dari keris keduanya mengeluarkan gelombang kejut yang dahsyat.


Pangeran Jatmiko berhasil mendaratkan pukulan demi pukulan kepada pangeran Andiko karena ilmu kanuragannya lebih tinggi.


Pangeran Andiko terlempar membentur sebuah pohon karena pukulan pangeran Jatmiko, tetapi disaat dia mau melepaskan serangan terakhir, tiba-tiba ada yang menyerangnya.


Ternyata sebelum perang, pangeran Andiko sudah menyuruh Kelabang Hitam melindunginya jika dia dalam keadaan terdesak.


Kelabang Hitam memiliki ilmu yang bisa masuk ke dalam bayangan seseorang. Kelabang Hitam belum muncul karena pangeran Andiko belum membutuhkan bantuannya. Tetapi saat dia melihat pangeran Jatmiko ingin melepaskan serangan terakhir kepada pangeran Andiko dia tidak bisa tinggal diam lagi.


Kelabang Hitam keluar dari bayangan pangeran Andiko dan melepaskan tapak kepada pangeran Jatmiko. Pangeran Jatmiko yang tidak siap karena serangan tiba-tiba dari Kelabang Hitam akhirnya terkena tapak itu. Untungnya tapak itu adalah tapak biasa, jadi dia hanya terpental ke belakang.


"Cih...kau sangat licik Dimas Andiko." Ucap pangeran Jatmiko yang murka karena diserang tiba-tiba.


"Dalam perang tidak ada yang namanya licik Kanda, asalkan bisa menang itu yang terpenting." Balas pangeran Andiko dengan tatapan sinis kepada pangeran Jatmiko sambil memegangi dadanya yang masih terasa sakit akibat pukulan pangeran Jatmiko.


"Terima kasih Kelabang Hitam, ayo kita serang berdua." Ucap pangeran Andiko sambil melirik ke arah Kelabang Hitam.


"Baik pangeran." Balas Kelabang Hitam sambil mengangguk.


Pangeran Andiko menyerang pangeran Jatmiko bersama Kelabang Hitam.


Pangeran Jatmiko menyambut serangan mereka dengan kerisnya. Dia masih bisa mengimbangi keduanya.


Ayu dan Jagad juga sedang bertarung melawan empat orang musuh. Tetapi saat ini mereka masih unggul dan berhasil membuat keempat orang itu terluka parah.


Tidak lama kemudian keduanya berhasil membunuh keempat lawannya itu.


Ayu dan Jagad melihat ke segala penjuru arah, akhirnya mereka menemukan Arga yang sedang bertarung melawan dua orang pria paruh baya dan pangeran Jatmiko yang sednag melawan seorang pemuda bersama Kelabang Hitam.


"Jagad, kau bantu pangeran Jatmiko menghadapi pemuda dan Kelabang Hitam itu." Ayu menunjuk ke arah pertarungan mereka.


"Aku akan membantu Kakang Arga melawan dua orang itu." Ayu juga menunjuk ke arah pertarungan Arga.


"Baiklah, hati-hati!" Jagad mengangguk kemudian dia segera pergi membantu pangeran Jatmiko.

__ADS_1


__ADS_2