
Setelah kepergian Brama Sakti, Arga tidak menunggu waktu lama, dia tidak ingin membuang-buang waktunya. Arga langsung duduk bersila untuk mencari petunjuk tentang keberadaan kitab pusaka Ajian Serat Jiwa.
Selama enam jam Arga bersemedi, pada awal jam pertama Arga tidak mendapatkan petunjuk apa-apa, tetapi tidak lama kemudian, tubuh Arga seolah-olah terhisap tenaga dalamnya seperti kejadian sebelumnya. Hal itu berlangsung selama lima jam.
Selama lima jam itu, Arga tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan, matanya tidak bisa dibuka karena tekanan itu lebih dahsyat daripada yang sebelumnya.
Setelah selesai, Arga membuka matanya, dia melihat ke satu arah dan berkata, "Kekuatan itu ternyata bukan berasal dari siluman Kera tetapi ada hal lain yang mengeluarkan tekanan kekuatan ini."Arga membatin, tubuhnya sudah bisa digerakkan walaupun agak terasa sakit di seluruh tubuhnya, "Kekuatan itu berasal dari arah sana."
Setelah berkata demikian, Arga berdiri dan mulai berjalan ke arah tempat yang dipandanginya sebelumnya.
Arga mencari-cari sekitar tiga jam tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi dia tidak menyerah dia terus mencarinya.
Hari mulai terang, sinar matahari sudah masuk ke dalam gua yang membuat gua itu terang. Arga tidak tidur, dia terus mencari keberadaan kekuatan yang menekannya sebelumnya. "Oh Jagad Dewa Batara, jika memang aku ditakdirkan untuk menjaga Maya Pada ini tolong berikan petunjuk tentang apa yang mengeluarkan tekanan sangat dahsyat kepadaku." Arga berteriak, setelah itu tiba-tiba tekanan yang menekannya sebelumnya kembali muncul. Kali ini lebih kuat beberapa kali lipat daripada sebelumnya. Arga tidak bisa bergerak, dadanya terasa sakit, tak lama kemudian dia memuntahkan darah segar dari mulutnya, bibirnya pucat, kepalanya pusing dan setelah itu Arga tersujud di tempatnya itu.
Walaupun begitu, Arga masih bisa mempertahankan kesadarannya sebentar, setelah itu matanya tertutup dan dia pingsan, tetapi sebelum pingsan dia bisa melihat ada sesuatu yang bersinar di depannya. Cahaya itu berwarna kemerahan sangat terang dan menusuk ke mata Arga. Itulah yang membuatnya pingsan.
Arga baru bangun setelah malam tiba, dia pingsan selama empat belas jam. Gua tempatnya berada tidaklah gelap, gua itu bersinar terang karena cahaya berwarna merah itu masih memancar sampai sekarang.
Perbedaannya adalah, tidak ada lagi tekanan yang Arga alami, kali ini matanya juga sudah bisa menahan pancaran sinar itu.
Arga mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa, walaupun tenaga dalamnya sudah cukup terkuras tetapi tetap saja dia masih memiliki banyak. Tenaga dalam itu digunakannya untuk menangkap sesuatu yang ada di dalam cahaya merah itu, walaupun dia tidak bisa melihatnya secara jelas, tetapi dia sangat yakin itu adalah sebuah kitab. Butuh waktu sekitar se jam baru Arga bisa mendapatkan kitab itu.
__ADS_1
Arga melihat judul dari kitab pusaka yang ada ditangannya. Dia sudah duduk bersila di atas batu besar yang ada di dalam gua itu.
"Kitab Pusaka : Ajian Serat Jiwa." Begitulah tulisan dari judul kitab yang ada dihadapannya.
Mata Arga melotot, alisnya meninggi, tangannya bergetar... Tidak... Bukan hanya tangannya yang bergetar tetapi seluruh tubuhnya yang bergetar hebat.
"Tidak bisa dipungkiri bahwa kitab ini adalah kitab terbaik pada masanya, tekanannya begitu kuat dan menghisap tenaga dalam serta jiwa seseorang dengan cepat." Arga membatin, dia mengingat bahwa sebelumnya dia hampir tewas karena tekanan kitab Ajian Serat Jiwa ini.
Arga tidak menunggu waktu lama, dia membuka halaman pertama dari kitab itu. Dia mulai mempelajari Ajian Serat Jiwa.
Setelah membuka halaman demi halaman Arga baru mengetahui bahwa sebenarnya Ajian Serat Jiwa memiliki sepuluh tingkatan dan masing-masing tingkatan berbeda kegunaannya.
Ajian Serat Jiwa di tingkat I berjuluk "Cakra Manggilingan" yang memiliki fungsi untuk menyatukan segenap kekuatan tenaga dalam yang tersembunyi di dasar alam bawah sadar tubuh.
Ajian Serat Jiwa di tingkat III berjuluk "Ajian Serat Lawang Saketeng" yang befungsi melipatgandakan kemampuan pukulan jarak jauh, hingga mampu melakukan pukulan dan melempar lawan dari jarak jauh...
Ajian Serat Jiwa di tingkat IV berjuluk "Ajian Serat Gulung Jagat" yang berfungsi untuk memporak-porandakan barisan lawan yang melakukan keroyokan...
Ajian Serat Jiwa di tingkat V berjuluk "Ajian Serat Tatar Bayu" yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan ilmu meringankan tubuh, berlari cepat laksana angin....
Ajian Serat Jiwa di tingkat VI berjuluk "Ajian Serat Buto Agni" yang befungsi untuk memperbesar diri laksana raksaksa berambut api yang sangat menakutkan....
__ADS_1
Ajian Serat Jiwa di tingkat VII berjuluk "Ajian Tapak Saketi" yang berfungsi sebagai pukulan jarak jauh yang berupa tapak api yang sangat berbahaya...
Ajian Serat Jiwa di tingkat VIII berjuluk "Ajian Bayu Bajra" yang berfungsi sebagai pukulan yang mampu menciptakan dahsyatnya kekuatan angin topan...
Ajian Serat Jiwa di tingkat IX berjuluk "Ajian Gelang-Gelang" yang berfungsi menciptakan pagaran perisai diri dan pukulan yang berupa gelang api yang berkobar-kobar...
Ajian Serat Jiwa di tingkat X berjuluk "Ajian Serat Netra Dahana" yang berfungsi untuk menghisap kekuatan dan kesaktian lawan hingga ke akar-akarnya...
Setelah membaca demikian, Arga berdecak kagum dan bergumam, "Ajian ini sangat dahsyat."
Selama seminggu Arga mempelajari Ajian Serat Jiwa tingkat pertama, memang dia harus mempelajarinya secara bertahap dari tingkat pertama, tidak bisa mempelajari tingkat selanjutnya sebelum menguasai tingkat sebelumnya.
Selama seminggu itu juga dia sudah menguasai Ajian Serat Jiwa tingkat pertama dengan penguasaan sempurna dan tingkat kedua separuhnya.
Walaupun begitu, tetapi Arga sudah mendapatkan hasilnya, tubuhnya menjadi semakin kuat daripada sebelumnya. "Senjata kelas menengah tidak akan bisa melukai tubuhku apalagi bila sudah aku kuasai sepenuhnya." Arga kegirangan dalam hatinya. Dia ingin cepat-cepat mencoba Ajian yang baru dipelajarinya itu.
Arga tidak tinggal lebih lama, dia ingin cepat-cepat mencari keberadaan Brama Sakti dan Nilawati. Tetapi belum sempat melangkah, tiba-tiba sudah muncul Brama Sakti dihadapannya membawa Nilawati.
"Kakek Brama..." Arga menundukkan kepalanya memberi hormat dan berkata lagi, "Bagaimana aku memanggilmu, kakek atau guru?" Arga tersenyum lebar, dari matanya terlihat kebahagiaan yang sangat besar. Arga sadar bahwa secara tidak langsung, Brama Sakti adalah gurunya, karena dia mempelajari kitab ciptaan Brama Sakti.
"Panggil saja aku sebagaimana kau memanggil gurumu dan Joko Samudro." Begitulah balasan dari Brama Sakti, "Aku tahu kau pasti ingin segera mencoba Ajian itu bukan? Ini saat yang tepat, di luar ada seorang pemuda sedang memperhatikan tempat ini, tetapi dia tidak bisa melihatnya.
__ADS_1
"Baiklah Kakek." Arga mengangguk dan langsung melangkah keluar Gua.