Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Kehebatan Ajian Serat Jiwa Tingkat Sepuluh


__ADS_3

"Sebenarnya aku tidak ingin membuat keributan saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini.


Tetapi kalian yang memaksaku. Jangan mencoba untuk meminta maaf setelah ini. Karena itu akan sia-sia.


Hari ini akan aku tunjukkan kepada semua orang yang berada disini. Bahwa Lima Pendekar dari Gua Rang Reng terbunuh karena kesombongannya.


Lagipula aku ingin melihat kekuatan yang disombongkan itu. Apakah sama besarnya dengan mulutnya!"


Selesai berkata demikian, Arga membentuk kuda-kudanya. Kali ini dia tidak ingin bermain-main. Arga langsung mengeluarkan Ajian Serat Jiwa.


Dengan kondisi tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, tidak akan kesulitan untuk dirinya menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat sepuluh.


Memang dia ingin menyerap tenaga dalam dan kehidupan mereka, untuk memberi pelajaran kepada orang lain agar tidak mencoba membuat masalah dengannya.


Tidak menunggu waktu lama, Arga menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat kedua : Ajian Serat Wadag Brajawesi yang membuat tubuhnya keras dan kebal terhadap senjata maupun pukulan dan tendangan.


"Maju!" Seru Arga lantang.


*****


Melihat pemuda dihadapan mereka begitu percaya diri, membuat kelimanya tertantang. Apalagi mereka melihat ke sekeliling banyak Pendekar-pendekar lain yang menonton. Tentu saja mereka ingin menjaga nama baik mereka.


Lima Pendekar dari Gua Rang Reng terkenal di pulau Dewata ini bukanlah baru-baru ini. Tetapi sudah beberapa tahun terakhir.


Kelimanya dikenal tanpa ampun terhadap musuh. Dan juga tidak memegang aturan dunia persilatan.


Sesuai julukan, Lima Pendekar dari Gua Rang Reng akan menyerang musuhnya secara bersamaan.


Begitu juga seperti sekarang. Walaupun Arga seorang pemuda, tetap saja kelimanya menyerang Arga secara bersamaan.


Di sisi lain Arga tidak begitu terkejut ataupun heran. Dia sudah sering menghadapi musuh lebih dari satu.


Dia hanya tersenyum mengejek ke arah kelima orang itu.


Dalam beberapa tarikan nafas, tangan Arga bertemu dengan lima golok dari kelima pendekar itu. Tetapi bukannya putus ataupun luka, melainkan benturan itu menghasilkan suara yang keras bagaikan besi bertemu dengan besi.


Tidak hanya itu, dari benturan itu juga menghasilkan gesekan dan percikan api yang membuat semua orang yang menyaksikan menjadi takjub.


Bukan hanya mereka, Widura yang sudah bersama dengan Arga cukup lama pun dibuatnya terkejut.


"Saudara Arga! Masih memiliki banyak jurus tingkat tinggi yang dia sembunyikan!" Widura hanya tersenyum kecut sambil terus menyaksikan partarungan Arga.


Jika semua orang takjub, berbeda dengan Lima Pendekar dari Gua Rang Reng, mereka mengerutkan dahi dan mengatur jarak dari Arga.

__ADS_1


I Made Ketut yang sebelumnya congkak, setelah melihat hal itu menjadi sedikit tertegun dan tersedak nafasnya sendiri.


Yang paling buruk adalah pendekar berbadan kurus, sebelumnya dia sudah menduga akan mendapati masalah yang besar dengan mengganggu Arga.


Menyaksikan secara langsung seperti ini, membuatnya ingin bunuh diri. Karena tidak akan lama lagi, dia pasti terbunuh jika pemuda dihadapannya ini tidak mengampuni nyawa mereka.


Melihat kelima Pendekar itu tidak bergerak menyerang Arga. Dia yang mengambil inisiatif untuk menyerang.


Arga menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat sembilan : Ajian Gelang-gelang. Seketika itu juga, api berbentuk gelang-gelang menyelimuti bagian jari hingga bahu kedua tangan Arga.


Melihat Arga tidak menurunkan serangannya membuat kelima pendekar itu menyambut serangannya.


Kelimanya menangkis pukulan Arga dengan golok mereka dengan mudah. Tentu saja, karena kelima pendekar itu juga memiliki kemampuan tinggi.


Setelah menangkis serangan Arga, kini giliran mereka yang menyerang.


Dua orang menyabetkan goloknya ke bagian leher Arga, sementara dua orang lagi ke bagian perutnya dan yang terakhir ke bagian kakinya.


Melihat hal itu, Arga bergerak dengan cepat, dia memutarkan tubuhnya di udara seperti peluru yang ditembakkan.


Dengan gerakan itu, Arga berhasil menghindari serangan lima pendekar itu.


Ternyata mereka menyadarinya, kelima orang itu menusukkan goloknya masing-masing ke tubuh Arga yang sedang berada di udara.


Dengan itu, lima golok musuhnya hanya mengenai telapak kakinya.


Tentu saja telapak kakinya tidak terluka, karena tubuhnya sekeras baja. Dengan cepat Arga mengangkat kakinya dan mengibaskannya membuat lima orang pendekar itu terpental beberapa langkah. Tetapi masih bisa berdiri tegak.


Arga kembali terbang di udara, kali ini dia mengincar salah satu dari mereka. Pria bertubuh kurus yang menjadi sasarannya.


Arga melayang di udara dan tidak lama kemudian kakinya menginjak bahu kiri kanan pria itu membuat kakinya masuk ke dalam tanah.


Tidak hanya sampai disitu, Arga merubah posisinya. Kali ini kaki ke atas dan tangan ke bawah. Lalu dia mendaratkan tapaknya ke bagian atas kepala pria bertubuh kurus membuatnya kembali masuk ke dalam tanah.


Alhasil setengah tubuh pria kurus itu sudah berada di dalam tanah membuatnya tidak bisa bergerak.


Saat Arga hendak kembali mendaratkan tangannya di kepala pria kurus itu. Tiba-tiba empat buah golok menahan tapaknya dan membuatnya terpental ke atas.


Melihat Arga sudah mengambil jarak darinya, pria kurus itu mengalirkan tenaga dalamnya ke kakinya dan membuatnya bisa keluar dari tanah.


Tetapi yang tidak mereka ketahui, sebenarnya Arga sengaja menjaga jarak karena dia hendak menggunakan jurus pamungkas dari Ajian Serat Jiwa, yaitu Ajian tingkat sepuluh : Ajian Serat Netra Dahana.


Arga menyatukan kedua telapak tangannya menghasilkan asap tebal dari dalamnya.

__ADS_1


Saat Arga membukanya, terlihat cahaya berwarna hitam memenuhi telapak tangannya.


Melihat hal itu, lima pendekar itu menjadi ketakutan. Apa saja yang dilakukan oleh Arga pasti akan membahayakan nyawa mereka, pikir mereka!


Tanpa pikir panjang, Arga langsung maju ke arah satu satu dari mereka. Seorang pria bertubuh gemuk yang menjadi sasarannya.


Pria bertubuh gemuk itu ketakukan. Dia mengumpulkan tenaga dalamnya untuk berlari.


Tetapi kecepatannya kalah dibandingkan kecepatan Arga. Dalam beberapa tarikan nafas, kedua tapak Arga sudah mendarat di dada pria bertubuh gemuk itu.


Awalnya biasa saja, tetapi yang membuat semua orang terkejut adalah saat pria bertubuh gemuk itu hendak melepaskan tapak Arga, dia tidak bisa melakukannya. Tapak itu seperti magnet yang tidak bisa dilepaskan lagi.


Dalam beberapa tarikan nafas selanjutnya, tubuh pria bertubuh gemuk itu mengeluarkan asap dari beberapa bagian.


Bukan hanya itu, semakin lama tubuhnya semakin mengeluarkan asap tebal. Dan pada puncaknya, tubuh pria gemuk itu menghitam serta terbakar dan setelahnya menjadi abu.


Melihat salah satu dari mereka mati dengan mengenaskan membuat empat orang lainnya hendak berlari.


Tetapi Arga tidak membiarkannya. Kurang dari waktu satu menit, tiga orang lainnya bernasib sama yaitu menjadi abu.


Yang tersisa hanyalah I Made Ketut. Arga memang memutuskan untuk membunuh pria itu di bagian akhir.


Arga bergerak secara perlahan mendekati I Made Ketut. Sementara bagi I Made Ketut, gerakan Arga begitu cepat.


Segala upaya dilakukan pria itu, menjanjikan kompensasi, menjanjikan harta dan lain-lain, berharap Arga akan melepaskannya.


Tetapi tentu saja Arga tidak menghiraukannya. Dalam beberapa tarikan nafas selanjutnya, tubuh pria itu juga menjadi abu.


Arga menarik nafasnya dalam-dalam, setelah itu dia berseru lantang, "Ini adalah contoh untuk kalian. Jika ada yang berani mengganggu kami, maka dia akan bernasib sama. Yang ingin hidup silahkan tinggalkan tempat ini sebelum aku menyelesaikan hitungan satu sampai tiga. Jika-"


Belum sempat Arga menyelesaikan kata-katanya, semua pendekar yang sebelumnya menonton pertarungan Arga melawan Lima Pendekar dari Gua Rang Reng sudah tidak terlihat lagi. Bahkan jika mereka bisa membawa jejak kaki mereka. Maka mereka akan membawanya.


Arga tersenyum lebar kemudian dia berjalan ke arah Widura.


"Cukup menarik bukan?" Tanya Arga sambil tertawa kecil.


Sementara Widura membalasnya dengan anggukan, setelah itu dia juga tertawa lepas.


"Kau sungguh berlebihan saudaraku!" Ucap Widura.


"Berlebihan? Tidak! Itu sangat tepat untuk memperingatkan orang-orang di pulau ini!" Balas Arga.


Keduanya lalu meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan mereka.

__ADS_1


__ADS_2