
Wakil Ketua Jabar mendengus kesal, setelah bertukar beberapa jurus dengan Arga, dia memundurkan langkahnya.
"Pemuda ini..." Wakil Ketua Jabar mengepalkan tangannya, dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Pikirannya campur aduk antara maju kembali atau mundur.
Tetapi setelah dia melihat ke arah Ketua Walang Jagad dan anggota perguruan Sanca Hitam, dia merapatkan bibirnya, "Tidak... Aku tidak bisa mundur. Sangat memalukan sekali bagiku!"
Sementara Arga masih bisa tersenyum menyeringai lebar ke arah Wakil Ketua Jabar, "Kenapa? Apakah setelah bertukar beberapa jurus kau sudah mengetahui perbedaan kekuatan kita?"
Arga mengalihkan pandangannya ke arah Ketua Walang Jagad berada, "Sebaiknya kau bantu pria tua itu, mungkin kalian bisa memberikan pertarungan yang memuaskan untukku. Sekalian anggotamu juga!" Seru lantang Arga.
"Tidak kusangka, nama besar Perguruan Sanca Hitam akan di rendahkan oleh Pendekar generasi muda sepertimu." Ketua perguruan Sanca Hitam mendengus kesal.
"Wakil Ketua Jabar mundur, biar aku yang meladeninya." Ketua Walang Jagad menoleh ke arah Wakil Ketua Jabar berada.
"Tapi... Ketua..." Wakil Ketua Jabar menghentikan kata-katanya setelah melihat Ketua Walang Jagad menatapnya dengan wajah dingin.
Sebenarnya Wakil Ketua Jabar ingin mengatakan jika keduanya bekerja sama maka pasti bisa mengalahkan Arga.
"Kau membuatku kagum pak tua. Menarik!" Arga menaikkan alisnya, dia sedikit kagum melihat Ketua Walang Jagad yang memilih bertarung satu lawan satu dengannya. Tampaknya pria sepuh itu memegang prinsip dan aturan dunia persilatan.
"Sebenarnya aku sangat kagum terhadap kemampuan yang kau tunjukkan anak muda."
"Dulu saat aku berusia kau, namaku juga sudah cukup terkenal di dunia persilatan. Dan saat usiaku menginjak umur tiga puluh tahun, aku ditunjuk menjadi Ketua Perguruan ini dan membuatnya menjadi salah satu perguruan besar tiga tahun setelahnya." Ketua Walang Jagad menatap Arga dengan tajam, menurutnya sosok Arga ini sangat menarik.
"Tetapi seperti pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kau mewarisi ilmu dari Mawar Bidara, Pendekar nomor satu pada masanya."
Arga sedikit terpana dengan perkataan Ketua Walang Jagad, menurutnya pencapaian Ketua Walang Jagad sangat mengagumkan.
"Aku tidak mengerti, apa alasan di balik kau mengatakan semua itu kepadaku. Tetapi terima kasih sudah memberitahuku. Sebenarnya aku sangat kagum."
"Tapi maafkan aku, aku rasa sebaiknya perguruan Sanca Hitam ku hapus dari dunia persilatan hari ini. Kalian sungguh berbahaya, membunuh dan menyerang perguruan lain dan mengambil ilmu yang mereka pelajari.!" Arga berseru lantang, dia memang sudah mengetahui dari Widura sebelumnya bahwa perguruan Sanca Hitam mengumpulkan ilmu-ilmu yang di pelajari perguruan lainnya untuk di jual ke pulau seberang.
Perguruan Sanca Hitam selain ahli racun juga merupakan perguruan yang ahli dalam mengumpulkan informasi serta menyediakan obat dan pil yang digunakan untuk Pendekar aliran hitam.
Jika perguruan Rumah Anggrek adalah perguruan nomor satu penyedia informasi dan keperluan Pendekar untuk aliran putih dan netral maka perguruan Sanca Hitam sebaliknya.
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Arga langsung melesat maju menyerang Ketua Walang Jagad. Gerakan lincah dan gesit, sangat sulit untuk ditangkap oleh mata anggota perguruan Sanca Hitam.
Hanya mereka yang memiliki kemampuan tinggi yang bisa melihat dengan jelas pertarungan itu.
Arga menyerang Ketua Walang Jagad dengan tangan kosong sementara Ketua Walang Jagad menyambutnya dengan tangan kosong juga.
Pertemuan tapak keduanya berhasil menciptakan suara-suara keras dan ledakan-ledakan kecil disekitar mereka.
Arga menyerang ke arah bagian atas Ketua Walang Jagad, tentu saja bisa ditangkis, tidak semudah itu melawan Pendekar seperti Ketua Walang Jagad ini.
Seperti hal nya Pendekar sepuh yang Arga temui, Ketua Walang Jagad juga memiliki keterampilan yang sangat tinggi, dia menangkis serangan-serangan Arga dengan mudah.
Tapak demi tapak mereka kembali bertemu, kali ini lebih dahsyat daripada sebelumnya, baik Arga maupun Ketua Walang Jagad berhasil terpukul mundur beberapa langkah akibat benturan itu.
Darah segar mengucur deras di pinggir bibir keduanya.
"Bukankah kau di juluki Pendekar Pedang Tujuh Naga, berarti kau adalah Pendekar Pedang? Kenapa kau tidak menggunakannya?" Ketua Walang Jagad menaikkan alisnya, sebenarnya dari tadi dia sangat waspada terhadap Arga. Karena pemuda itu belum mengeluarkan pedangnya. Ketua Walang Jagad khawatir, pedang Arga bisa tiba-tiba keluar dan menyerangnya.
Arga bisa melihat ke khawatiran itu, dia tersenyum tipis lalu menjawab, "Aku ingin pertarungan yang adil denganmu. Sebelumnya kau menolak untuk mengeroyokku. Kini giliran aku yang tidak menggunakan pedangku untuk menghadapimu."
"Menarik... Sungguh menarik! Baiklah kalau begitu, jangan salahkan aku jika kau tidak bisa mempertahankan nyawamu." Ketua Walang Jagad tertawa lepas, semakin dia bertarung bersama Arga semakin tertarik dia kepada pemuda itu, sedangkan di sisi lain Arga pun merasa demikian.
"Racun Sanca Hitam Terkutuk!"
Melihat hal itu, Arga sedikit mengerutkan dahinya dan menjadi waspada.
"Ajian Serat Jiwa tingkat ke sembilan: Ajian Gelang-gelang!"
Seketika itu seluruh tubuh Arga di lapisi kobaran api yang membara. Api itu berwarna biru terang.
Tangannya membentuk gelang-gelang dari telapak tangan hingga ke bahu.
Menurut Arga dengan ajian ini, pasti akan sulit untuk Ketua Walang Jagad mendekatinya.
Tebakan Arga tidak meleset, setelah melihat Arga mengeluarkan jurus itu, Ketua Walang Jagad berdecak kesal. Tetapi dia tetap menyerang Arga.
__ADS_1
Benturan tapak keduanya kembali terjadi, Ketua Walang Jagad dengan racunnya sedangkan Arga dengan apinya.
Hal itu berlangsung selama kurang lebih lima belas menit sampai pada akhirnya, Ketua Walang Jagad terpukul mundur.
"Argh..." Ketua Walang Jagad memegangi dadanya yang sebelumnya terkena hantaman tangan Arga.
Sedangkan di sisi lain, Arga juga memegangi dadanya, dia merasakan tubuhnya sedikit berbeda.
"Kau memang melukaiku cukup parah, tapi tanpa kau sadari, racunku juga sudah bersarang di tubuhmu." Ketua Walang Jagad tertawa lantang walaupun darah mengalir deras dari mulutnya.
Saat Arga sedang berpikir-pikir langkah apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba seseorang muncul dan memanggil namanya.
"Saudara Arga!" Saat Arga menoleh ke arah itu, dia menemukan Widura sedang terbang mendekat ke arahnya.
*****
Saat Widura pergi meninggalkan Arga, perasaannya tidak baik, dia merasakan Arga akan mengalami peristiwa yang membahayakan.
Dengan bekal perasaan itu, Widura memutuskan untuk kembali ke warung makan sebelumnya.
Sesampainya dia di halaman warung makan, dia bisa melihat pemilik warung dan para pelayannya sedang berada disana.
Widura mendarat dan bertanya, "Ki, apakah kalian melihat ke mana teman yang bersamaku pergi?" Widura bertanya dengan sopan.
Melihat kedatangan Widura, wajah Pemilik warung sedikit membaik.
"Dia... Dia bersama anggota perguruan Sanca Hitam pergi ke hutan dekat sini." Jawab pemilik warung sambil gemetaran.
Widura mempertajam indera pendengarannya dan dia bisa mendengar dengan jelas suara pertarungan itu.
"Baiklah, terima kasih Ki!" Widura melesat pergi ke arah pertarungan yang di dengarnya.
*****
"Saudara Arga." Seru lantang Widura, dia tidak berpikir akan menemukan Arga dalam posisi berlutut, sedangkan dia juga melihat Ketua Walang Jagad dalam posisi yang sama.
__ADS_1
Widura melesat mendekati Arga, "Kau... Kau terkena Racun Sanca Hitam Terkutuk." Widura tentu mengenal racun itu, karena racun yang sama yang merenggut Saudara seperguruan serta gurunya.
"Minum ini, ini adalah pil penyembuh yang aku miliki. Walaupun tidak bisa sepenuhnya menyembuhkan racun yang ada di tubuhmu. Setidaknya itu bisa menyembuhkan sebagian dan memperlambatnya." Ucap Widura, "Aku akan menahan mereka dan kau sebaiknya pergi dari sini."