Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Mengembara Berdua? Mengapa Tidak!


__ADS_3

Arga sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan dirinya dan Widura tidak ada yang mengikuti baik dari pihak perguruan Sanca Hitam maupun sosok misterius yang sebelumnya membantu mereka.


Setelah tiba cukup jauh dari lokasi pertarungan, Arga menghentikan langkahnya, dia meletakkan Widura di bawah sebuah pohon rindang yang ada di dekat mereka.


Arga langsung duduk bersila untuk memulihkan kondisinya yang saat ini masih terkena Racun Sanca Hitam Terkutuk dengan menelan pil yang Widura berikan sebelumnya.


Butuh waktu kurang lebih dua jam baginya untuk memproses pil tersebut dan hasilnya membuatnya sulit untuk percaya, Arga sembuh sepenuhnya.


"Pil apa sebenarnya yang Saudara Widura berikan kepadaku?" Arga bertanya dalam hatinya karena dia sendiri baru pertama kali melihat pil itu.


Warnanya kuning cerah dengan bercak-bercak merah di beberapa bagian, bentuknya bulat seukuran pil kebanyakan. Tetapi memang Arga merasakan energi penyembuhan yang cukup tinggi di dalam pil tersebut.


Selama dua jam itu juga Widura belum sadarkan diri, tampaknya lukanya cukup dalam.


Arga mengubah posisi Widura dari bergulingan menjadi duduk bersila, setelah itu dia mengalirkan tenaga dalamnya.


"Benar, dia terkena luka dalam yang cukup parah." Gumam Arga setelah memeriksa dan mengalirkan tenaga dalamnya kepada Widura beberapa waktu.


Dikarenakan Arga sudah pulih sepenuhnya, dia tidak khawatir lagi untuk menggunakan tenaga dalamnya untuk membantu Widura.


Arga juga memeriksa tubuh Widura, berharap menemukan pil yang sama untuk di berikan kepada Widura. Benar saja, ternyata Widura masih memiliki beberapa pil yang sama dengan yang dikonsumsi Arga.


Arga langsung mengambilnya satu dan membuka mulut Widura, dia juga membantu proses pencernaan Widura dengan mengalirkan tenaga dalamnya dari dada Pemuda itu.


Setelah Arga rasa semua khasiatnya sudah di proses sepenuhnya oleh Widura, ada yang mengganjal di pikirannya, "Kenapa pil ini tidak berkhasiat sama dengan pil yang aku telan?" Tanya Arga dalam hati. Dia bingung kenapa pil itu tidak bisa menyembuhkan Widura.


Tidak ada pilihan lain, Arga mencoba terus mengalirkan tenaga dalamnya ke Widura. Proses itu berlangsung selama kurang lebih tiga jam lamanya.


*Uhukkk


Uhukkk*


Terdengar suara Widura batuk, saat Arga melihat ke depan, darah berwarna hitam pekat keluar dari mulut Widura. Tetapi yang membuat Arga sedikit senang, Widura berhasil membuka matanya.


"Saudara Arga?!" Kata pertama kali yang dikeluarkan Widura, "Terima kasih." Sambungnya. Walaupun demikian tentu saja dia belum pulih sepenuhnya, masih ada terasa sakit dan nyeri yang menyerang di dadanya.


"Saudara Widura, terima kasih atas pil yang kau berikan sebelumnya. Pil itu berhasil membuat diriku pulih sepenuhnya." Arga menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Widura.


"Tapi yang membuatku bingung, pil yang sama tidak berfungsi untuk dirimu." Arga menaikkan alisnya, terlihat jelas kebingungan dari wajahnya.

__ADS_1


*Ahahaha


Uhukkk


Uhukkk*


Pil yang kuberikan kepadamu bernama Pil Matahari Senja. Pil itu dibuat guruku khusus untuk menangkal Racun Sanca Hitam Terkutuk.


Widura kemudian menceritakan alasan gurunya membuat pil khusus itu karena memang Perguruan Bunga Matahari dan Perguruan Sanca Hitam sudah berseteru sepuluh tahun terakhir.


Ketua perguruan Bunga Matahari dan Ketua perguruan Sanca Hitam selalu bertarung di setiap kesempatan. Membuat masing-masing mereka mempelajari kekuatan dan kelemahan.


"Itulah mengapa guruku membuat pil ini." Tutup Widura sambil mengeluarkan pil yang tersisa.


"Jadi, itu adalah pil yang tersisa?" Tanya Arga.


"Ya, tapi untungnya guruku sudah mengajariku untuk membuatnya sebelumnya. Jadi aku tidak akan kesusahan untuk mendapatkannya." Jawab Widura, terlihat senyum tipis dari bibirnya.


"Sedangkan diriku terkena jurus bernama 'Pukulan Sanca Hitam Bergelora', guruku sudah pernah mencoba membuat pil penangkalnya, tetapi sampai beliau tewas belum juga berhasi." Kali ini terlihat kesedihan mendalam dari raut wajah Widura.


"Maafkan Aku!" Arga menepuk pundak Widura dan berdiri dari tempatnya sebelumnya.


"Apakah diriku bisa ikut denganmu Saudara Arga? Mungkin aku bisa membantumu?" Tanya Widura, memang dia sudah menganggap Arga sebagai keluarganya, walaupun baru bertemu beberapa saat. Tidak ada lagi teman, saudara seperguruan maupun guru Widura yang tersisa, sebab itulah Widura merasa senang ketika bertemu Arga.


"Saudara Widura, sebenarnya diriku juga merasakan apa yang Kau rasakan. Aku juga menganggapmu seperti Saudaraku terlepas pertemuan kita yang singkat. Tetapi diriku tak mau menempatkanmu dalam bahaya. Ku harap kau mengerti!" Tutup Arga, terlihat rasa bersalah di matanya.


"Saudaraku, aku pernah sekali melewati Lembah Iblis Kematian, jadi aku tahu dimana tempatnya. Sedangkan dirimu? Aku yakin kau belum pernah kesana." Widura terus membujuk Arga untuk mengajaknya.


"Eh... Itu..." Arga tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, memang dia tidak tahu dimana lokasi Lembah Iblis Kematian berada.


Arga diam sejenak, sebelum akhirnya menghela nafas panjang, "Baiklah kalau begitu aku akan merepotkan mu selama perjalanan." Ucap Arga, senyum merekah di bibirnya.


"Tak perlu khawatir." Balas Widura.


"Mari kita lanjutkan perjalanan. Lebih cepat lebih bagus." Widura mengangkat tangannya dan terlihat bersemangat. Menurutnya perjalanan dengan Arga akan sangat mengasikkan dan banyak pengalaman yang akan didapatkannya. Sebab itulah Widura bersikeras untuk mengikuti Arga.


Keduanya melesat pergi dengan terbang meninggalkan tempat itu.


Cukup jauh dari mereka, Anuman terus menerus mengikuti dan mematai-matai Arga.

__ADS_1


Setelah melihat Arga pergi dengan Widura, Anuman pun pergi dari tempat itu, dia menjentikkan satu jarinya seketika itu dia menghilang dari tempatnya sebelumnya.


*****


Sementara itu, di Perguruan Sanca Hitam


Ketua Walang Jagad dan Wakil Ketua Jabar sedang duduk bersampingan. Di hadapan mereka berdiri seorang pemuda yang ketakutan dengan tubuh bergetar hebat.


"Apa yang ingin kau laporkan?" Tanya Wakil Ketua Jabar.


"Kami sudah menyelusuri tempat-tempat yang berada di daerah ini sejauh sepuluh kilometer, tetapi kami tidak menemukan buronan, Wakil Ketua." Jawab pria itu sambil menundukkan kepalanya.


"Begitu?!" Balas Wakil Ketua Jabar, dia tersenyum lebar ke arah pria itu dengan dingin dan tajam. Setelah itu, dia bangkit dari tempat duduknya dan bergerak dengan cepat sampai-sampai tidak terlihat oleh pria yang ada dihadapannya.


Saat pria itu sadar, tangan Wakil Ketua Jabar sudah berada di lehernya.


"Ampun Ketua, Wakil Ketua!"


"Ampun!"


Pria itu memelas dan memohon ampunan, tetapi setelah itu dia tidak bisa merasakan apa-apa. Wakil Ketua Jabar mematahkan lehernya.


"Dasar tidak berguna!" Wakil Ketua Jabar membanting tubuh pria yang sudah tak bernyawa itu.


Lalu dia mengalihkan pandangannya ke Ketua Walang Jagad, "Apa yang harus kita lakukan sekarang, Ketua?"


"Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk sekarang. Aku yakin mereka sudah pergi jauh dari sini." Ketua Walang Jagad menghela nafas panjang.


"Perintahkan seratus murid yang mempuni untuk menyebar ke seluruh penjuru kerajaan Samudra. Laporkan jika melihat kedua pemuda itu. Jangan bertindak gegabah." Perintahnya.


"Baik Ketua!" Wakil Ketua Jabar memberi hormat dan pergi dari ruangan itu.


"Sial!" Setelah kepergian Wakil Ketua Jabar, Ketua Walang Jagad mengepalkan tangannya dengan keras dan menendang meja yang ada dihadapannya, seketika itu juga meja itu hancur berantakan.


*****


***Hai Guys


Kalo kalian suka baca novel genre romance, kalian bisa mengunjungi novel terbaru author ya, judulnya DEMI CINTA. Jangan lupa juga untuk Vote, Like, Komen yang membangun, Share, Favorit dan Rate bintang lima.

__ADS_1


So Enjoy***


__ADS_2