
Raut wajah Arga dan Nilawati semakin memburuk setelah melihat beberapa Desa yang mereka temui sama seperti dengan Desa yang mereka temui saat pertama kali.
"Manusia biadab," Nilawati berteriak dengan kencang, dia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Manusia terkutuk, iblis berbentuk manusia." Arga juga menunjukkan kemurkaannya. Dia mengutuk keras perbuatan dari kelompok Topeng Ungu itu. Keduanya terus berjalan mencari Desa yang masih bisa diselamatkan ataupun yang belum terkena serangan kelompok Topeng Ungu itu.
Setelah berjalan beberapa saat akhirnya keduanya kembali menemukan sebuah Desa.
Arga dan Nilawati mulai memasuki Desa itu dengan cepat, karena ingin cepat memeriksa keadaan Desa itu.
Lagi-lagi keduanya mengerutkan dahi, bibir dan tubuh mereka bergetar hebat karena melihat ratusan mayat yang bergeletakan di tanah.
"Arga, sebenarnya apa motif dari kelompok Topeng Ungu ini. Jika mereka hanya ingin mengambil harta warga, mereka pasti tidak mungkin membunuh semua warga. Pasti ini ada hal besar dibalik kejadian ini." Nilawati mengepalkan tangannya, dia berdecak kesal kepada kelompok Topeng Ungu itu.
"Kau benar sayang, kita akan mencari tahu juga tentang hal ini. Aku merasa kelompok ini bukan dalam jumlah yang kecil. Dan aku juga menduga bahwa ada orang yang kuat yang menggerakkan kelompok ini." Arga memeriksa semua tubuh warga Desa itu, dia berharap bisa menemukan warga yang masih hidup. Sedangkan Nilawati diperintahkan untuk memeriksa sekitar Desa itu, mungkin bisa menemukan petunjuk ataupun menemukan sisa kelompok Topeng Ungu yang masih berada di sekitar situ.
Setelah memeriksa mayat-mayat itu, akhirnya Arga menemukan seorang pria paru baya masih hidup, dia bersembunyi di balik sebuah kotak sampah yang ada di dekat sebuah rumah.
"Apa yang terjadi Kisanak?" Arga mengangkat tangannya memanggil pria paruh baya itu.
Sebelumnya pria paruh baya itu sangat ketakutan melihat Arga, tetapi setelah dia merasakan bahwa Arga adalah orang yang baik dan Arga juga meyakinkan, akhirnya pria paruh baya itu mau keluar dari persembunyiannya.
"Tuan, apakah Tuan adalah seorang pendekar?" Pria paruh baya itu sedikit demi sedikit mendekati Arga.
"Bisa dibilang begitu, Ki. Bisa Kisanak ceritakan apa yang terjadi?" Arga menepuk pundak pria paruh baya itu.
"Tuan..." Pria paruh baya itu bersujud ke kaki Arga. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Tolong bantu kami Tuan. Tolong balaskan dendam kami, dendam orang-orang yang mati oleh kelompok Topeng Ungu ini." Pria paruh baya itu terus bersujud ke kaki Arga. Walaupun Arga mencoba menenangkan pria paruh baya itu dan mencoba mengangkat badannya, tetapi tetap saja pria itu memegangi kaki Arga.
"Tolong berdirilah, Kisanak." Arga berkata dengan pelan dan terus menenangkan pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Tolong ceritakan semua yang terjadi." Arga menyambung kata-katanya.
Setelah berpikir sejenak, pria paruh baya itu menyekah matanya, dia menghapus air matanya dan mulai menceritakan semua yang dia lihat.
Pria paruh baya itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Dia bernama Sangkur.
Sebelumnya Ki Sangkur adalah Kepala Desa dari Desa itu. Beberapa hari yang lalu dia pergi ke Kadipaten untuk memenuhi panggilan dari Adipati Kadipaten Purwodadi, Adipati Dolken.
Saat dia hendak kembali ke Desanya, dia melihat sekelompok orang berjumlah sekitar 30 an berjalan dengan cepat ke arah Desanya.
Dengan rasa penasaran, Ki Sangkur mengikuti mereka secara diam-diam. Dia terus mengamati pergerakan kelompok itu.
Alangkah terkejutnya dia, saat melihat kelompok yang menggunakan Topeng Ungu itu langsung merusak Desanya dan membunuh semua warganya. Kejadian itu hanya berlangsung selama beberapa menit, karena para anggota kelompok itu memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.
Sebenarnya Ki Sangkur ingin keluar dari persembunyiannya dan ikut mati bersama para warga desanya dan keluarganya. Tetapi setelah dia berpikir panjang akhirnya dia mengurungkannya.
Yang pertama membatalkan niat Ki Sungkur adalah, jika dia ikut mati bersama para warga maka tidak akan ada saksi dalam kasus itu.
"Aku sudah menemukan lokasi mereka Tuan. Tapi dugaanku kelompok itu bukan hanya memiliki satu tempat melainkan banyak. Hal itu dikarenakan, kelompok ini bergerak secara bersamaan di beberapa Desa." Ki Sungkur menutup penjelasannya, matanya memerah seperti ingin menangis lagi.
"Kalau begitu, bisakah Ki Sungkur menunjukkan tempatnya?" Arga kembali memegangi pundak Ki Sungkur dan menaikkan satu alisnya.
"Tentu... Tentu, Tuan..." Ki Sungkur menganggukkan kepalanya.
Setelah menunggu sebentar, Nilawati juga kembali dari memeriksa keadaan sekitar Desa.
*****
Sebelumnya saat Arga berhasil menemukan Ki Sungkur, Nilawati juga memeriksa keadaan sekitar Desa. Dia mengelilingi Desa itu untuk mencari petunjuk ataupun bukti-bukti lainnya. Tetapi usahanya sia-sia, kelompok Topeng Ungu ini bergerak secara teratur dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun selain mayat-mayat yang bergeletakan.
Sekitar 15 menit lamanya Nilawati memeriksa sekitar Desa itu. Setelah memang tidak mendapatkan apa-apa, akhirnya dia kembali ke tempat Arga sebelumnya.
__ADS_1
*****
"Nila," Arga langsung melihat ke arah Nilawati yang baru saja kembali setelah memeriksa keadaan Desa.
"Apakah Kau menemukan sesuatu?" Dia bertanya penuh harap bahwa istrinya itu mendapatkan sesuatu yang berharga yang bisa dijadikan petunjuk.
Tetapi harapannya sirna dengan gelengan kepala dari Nilawati yang menandakan istrinya itu tidak menemukan apa-apa.
"Kurang ajar! Kelompok ini bergerak secara teratur dan cukup misterius." Arga mengepalkan tangannya dan menggigit bibir bagian bawahnya.
"Beruntung Ki Sangkur mendapatkan beberapa petunjuk." Arga melirik ke arah Ki Sungkur kemudian dia menceritakan semua yang diceritakan Ki Sungkur sebelumnya kepada Nilawati.
Setelah Arga selesai menceritakan semuanya, Nilawati berjalan mendekati Arga dan Ki Sungkur lalu berkata, "Kalau begitu tunggu apa lagi, mari kita porak porandakan tempat peristirahatan kelompok itu yang telah diketahui.
Arga mengangguk, dia langsung menyetujui perkataan Nilawati. Ketiga orang itu langsung bergerak menuju lokasi kelompok Topeng Ungu.
*****
Di tengah-tengah hutan belantara berdiri sekitar 20 tenda yang cukup besar. Sedangkan di tengah-tengahnya terdapat satu tenda yang lebih besar lagi.
Tidak lupa juga pagar yang terbuat dari kayu mengelilingi tenda-tenda tersebut.
Di dalam tenda yang paling besar terlihat 5 orang sedang berbincang-bincang sambil tertawa-tawa.
"Misi kita hampir selesai." Ucap salah satu dari lima orang itu. Dia juga merupakan yang paling tua diantara yang lainnya.
"Benar Ketua, sebentar lagi kita akan membuat kekacauan di kerajaan Kalingga ini." Pria paruh baya yang terlihat berusia sekitar 40 tahunan mengangkat suaranya.
"Benar kata Adik Pasopati." Pria paruh baya yang memiliki badan gemuk serta pendek ikut mengangkat suaranya.
"Benar..." Setelah misi kita selesai, kita bisa melaporkannya kepada beliau." Orang yang dipanggil Ketua itu berusia sekitar 60 tahunan dengan rambut yang setengah memutih dan janggut serta kumisnya tebal.
__ADS_1
Mereka berlima berbincang-bincang sambil tertawa-tawa karena misi mereka hampir selesai.