Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Bertamu ke Perguruan Lembah Perawan


__ADS_3

Arga, Nilawati, Sekar Wangi dan Pandan Wangi berjalan memasuki Desa Telogosari. Tiba-tiba Sekar Wangi menghentikan langkahnya dan melirik ke arah Arga dan Nilawati lalu bertanya, "Arga, Nila setelah ini kalian mau kemana?" Tanya Sekar Wangi, "Jika kalian belum mempunyai tujuan, aku dan kak Pandan berniat mengajak kalian berdua untuk mengunjungi perguruan kami." Arga dan Nilawati juga menghentikan langkah mereka, keduanya bertatapan karena mereka juga bingung akan pergi kemana.


"Kami juga bingung mau pergi kemana. Jika Sekar dan Kak Pandan menginginkan demikian, maka kami akan merepotkan kalian." Jawab Nilawati sambil tersenyum canggung.


Memang Sekar Wangi masih berusia 18 tahun, hanya tua beberapa bulan saja dari Arga dan Nilawati sedangkan Pandan Wangi berusia 25 tahun, jadi Nilawati memanggilnya kakak mengikuti Sekar.


Sekar Wangi dan Pandan Wangi langsung mengerti dan mengangguk, mereka berempat masuk ke dalam penginapan dan akan melanjutkan perjalanan besok. Ternyata kamar Sekar Wangi bersebelahan dengan kamar Arga dan Nilawati.


Keesokan harinya mereka berempat berkumpul di sebuah warung makan, keempatnya memutuskan untuk mengisi perut mereka dulu sebelum pergi ke perguruan Lembah Perawan.


Sebenarnya Pandan Wangi tidak ingin kembali kesana karena statusnya bukan lagi perawan, tetapi karena Sekar terus memaksanya maka demi adiknya dia akan melakukannya.


Bukan apa-apa, Pandan Wangi takut jika nanti mereka sampai di perguruan dan menceritakan semuanya, dia akan di usir dari sana ataupun tidak diterima lagi.


Setelah keempatnya selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan ke perguruan Lembah Perawan.


Walaupun perguruan Lembah Perawan terbilang dekat dengan Desa Telogosari tetapi tetap saja mereka berempat memerlukan waktu kurang lebih enam jam untuk sampai disana.


Saat tiba di pintu gerbang, terlihat ada empat orang gadis muda yang menyambut kedatangan mereka. Keempatnya adalah penjaga yang bertugas saat itu. Mereka terlihat berusia lima belas tahunan.


"Salam Kak Pandan, Kak Sekar, selamat datang kembali." Ucap salah satu dari mereka.


Pandan Wangi dan Sekar Wangi mengangguk dan tersenyum kepada mereka semua.


"Adik Mei, dimanakah guru berada?" Tanya Sekar kepada gadis yang menyapa mereka sebelumnya.


"Guru ada di dalam kak Sekar." Gadis yang dipanggil Mei tadi menjawab dengan sopan.


"Baiklah kami akan segera masuk." Sekar Wangi dan Pandan Wangi mengajak Arga dan Nilawati masuk ke dalam perguruan Lembah Perawan.


Murid-murid yang sedang latihan menghentikan aktivitas mereka saat melihat ada seorang pemuda tampan datang ke perguruan mereka.


"Tampan sekali pemuda itu." Ucap salah satu murid perguruan Lembah Perawan.

__ADS_1


"Iya, dia benar-benar calon suami idaman." Celetuk yang lainnya.


Nilawati memukul perut Arga dengan sikutnya sambil berkata, "Awas ya kalau kamu berani macam-macam dan menggoda para gadis disini." Perkataan Nilawati pelan, tetapi bisa di dengar oleh Arga, Sekar Wangi dan Pandan Wangi. Dia menyadari banyak tatapan mata yang mengarah kepada Arga.


Arga hanya tersenyum pahit mendengar hal itu, sedangkan Sekar Wangi dan Pandan Wangi terkekeh-kekeh geli.


"Tenang, Nila sayang. Aku tidak akan berpaling dari kamu kok." Goda Arga sambil mencolek dagu dan hidung Nilawati.


Nilawati langsung tersenyum malu, dia memalingkan wajahnya yang sudah merah seperti tomat itu.


"Dasar wanita, sedikit saja digoda sudah bersikap seperti itu." Arga tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Arga berani mengatakan itu kepada Nilawati? Tentu saja tidak itu perkataannya di dalam hati Arga. Walaupun Arga kuat dan berilmu kanuragan tinggi tetap saja dia takut kepada Nilawati. Dia takut bukan karena ilmu kanuragan Nilawati tinggi, tetapi Arga takut kehilangannya. Karena bagaimanapun juga, Arga sangat mencintai Nilawati.


Keempatnya tiba di sebuah bangunan yang cukup besar, Arga dan Nilawati diminta untuk menunggu di luar sebentar sementara Sekar Wangi dan Pandan Wangi masuk untuk menemui guru mereka.


Tidak lama kemudian, Sekar mendatangi Arga dan Nilawati, kemudian mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.


"Guru, perkenalkan mereka adalah Arga dan Nilawati. Keduanya sepasang pendekar yang membantu Sekar dan Kak Pandan." Sekar Wangi mengenalkan Arga dan Nilawati kepada guru mereka.


Guru Sekar dan Pandan Wangi mengangguk, dia tersenyum puas dengan kesopanan yang ditunjukkan oleh Arga dan Nilawati. Kemudian dia memperkenalkan dirinya, "Perkenalkan Arga, Nila, nama wanita tua ini adalah Saripah. Kalian bisa memanggilku Nyai Sari."


Nyai Sari berusia sekitar 50 tahunan. Walaupun sudah paruh baya tetapi wajahnya awet muda. Hal itu ditandakan dengan tidak adanya kerutan di wajahnya. Memang perguruan Lembah Perawan mempelajari kitab yang bernama Kitab Awet Muda.


Kitab Awet Muda sesuai dengan namanya, kitab itu dapat membuat seseorang yang mempelajarinya akan terlihat lebih muda daripada usianya.


Mereka berlima akhirnya mengobrol dan tidak lupa Nyai Sari menyuguhkan hidangan untuk mereka santap bersama.


Setelah selesai makan, Sekar Wangi membuka suara, "Guru, ada yang ingin aku sampaikan."


Nyai Sari mengangguk dan mempersilahkan Sekar menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan.


Sekar Wangi kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada Pandan Wangi dari awal sampai akhir. Raut wajah Nyai Sari menjadi lebih dingin dan terlihat dia sedang menahan emosi di matanya.


Pandan Wangi hanya terdiam di samping Sekar, dia hanya berharap gurunya akan menerimanya kembali.

__ADS_1


Sekar Wangi menutup penjelasannya dengan kalimat, "Maafkan Kak Pandan guru, mohon guru untuk menerimanya kembali." Sekar Wangi terun dari tempat duduknya dan bersujud dihadapan Nyai Sari, diikuti oleh Pandan Wangi di sampingnya.


"Berdirilah Pandan, Sekar. Kalian adalah murid kebanggaan guru, guru akan melakukan apa saja untuk kalian." Nyai Sari memegangi pundak Sekar dan Pandan Wangi. Kemudian dia melirik ke arah Pandan.


"Untukmu Pandan, kau tidak perlu takut untuk kembali kesini, sampai kapanpun ini adalah rumahmu. Terlepas kau masih perawan atau tidak, itu tidak masalah. Guru tidak pernah mengatakan kepada kalian tidak boleh menikah atau apapun itu." Nyai Sari sangat kasihan dan iba kepada Pandan Wangi.


"Sebaiknya, hal ini hanya kita saja yang tahu." Sambungnya sambil menyuruh Sekar dan Pandan Wangi berdiri.


"Terima kasih guru." Pandan Wangi langsung memeluk Nyai Sari, dadanya terasa nyaman saat mendengar perkataan Nyai Sari.


"Lain kali, murid tidak akan mengecewakan guru." Sambungnya sambil menangis haru.


Di sisi lain Sekar juga menangis, dia terharu dengan perkataan dari gurunya.


Nyai Sari melirik ke arah Sekar dan mengayunkan tangannya, menandakan dia juga meminta Sekar untuk memeluknya.


Arga tersenyum canggung, dia lalu mengingat gurunya, Mawar Bidara. Sudah hampir setahun dia meninggalkan Gunung Ambar.


Sementara, Nilawati meneteskan air matanya. Dia juga teringat kepada gurunya.


Arga yang melihat Nilawati menangis, akhirnya menarik gadis itu kepelukannya.


"Kau makin cantik saat menangis seperti itu. Aku jadi tambah sayang kepadamu." Arga tersenyum dan mencoba menghibur Nilawati.


Akhirnya pertemuan itu di tutup dengan bahagia.


*****


Keesokan harinya, Arga dan Nilawati pamit kepada Sekar, Pandan dan Nyai Sari. Keduanya berniat untuk melanjutkan perjalanan.


Sekar, Pandan Wangi dan Nyai Sari mempersilahkan mereka dan mengantar keduanya sampai pintu gerbang masuk perguruan.


Sekar, Pandan Wangi dan Nyai Sari menghela nafas panjang setelah punggung Arga dan Nilawati tidak terlihat lagi.

__ADS_1


__ADS_2