
Setelah Arga membalikkan badan, tiba-tiba pedang yang digunakan Seta sebelumnya hilang dari dekat tubuh pemuda yang sudah terbaring tak bernyawa itu.
*****
"Arga..." Nilawati langsung berlari memeluk Arga. Saat Arga bertarung dengan Seta, Nilawati tidak berhenti menangis apalagi saat dia melihat kekasihnya itu kesulitan menghadapi pemuda itu.
Setelah itu 5 orang yang keduanya kenal mendekati Arga dan Nilawati. Mereka adalah Tumenggung Bedul, Lasmini, Dewa Obat, Pangeran Wirang Geni dan Putri Anandita. Memang saat Arga bertarung dengan Seta, kelima orang itu berada disamping Nilawati. Terutama Lasmini dan Putri Anandita, kedua gadis itu mencoba menenangkan Nilawati.
"Nila, kenapa Kau menangis?" Arga tersenyum selebar mungkin untuk membuat hati gadis yang dicintainya itu tenang.
"Kau masih bertanya? Apalagi yang Aku tangisi kalau bukan Kau?" Nilawati yang tadinya menangis kini menunjukkan wajah marah dan mengangkat alisnya, "Apakah Kau terluka?" Sambung gadis itu sambil menelusuri seluruh tubuh Arga dengan matanya.
"Aku tidak apa-apa, hanya beberapa bagian tubuhku terluka dan juga luka dalam ringan." Arga membalas pertandingan gadis itu.
"Benarkah?" Tiba-tiba ada seorang yang berkata dari belakang Nilawati, orang itu tidak lain adalah Dewa Obat.
"Paman?! Lama tidak berjumpa." Arga menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Dewa Obat.
Lalu dia mengarahkan pandangannya dan berkata, "Bedul, Lasmini, Pangeran Wirang Geni dan Putri Anandita, lama tidak berjumpa." Arga juga memberi hormat kepada keempat orang itu.
Bedul yang terlebih dahulu maju, setelah mendengar Arga berkata demikian.
"Lama kita tidak bertemu, sekarang Kau sudah bertambah kuat Saudaraku. Bisa dikatakan Kau adalah pendekar nomor satu di Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Medang Kemulan ini." Bedul menepuk pundak Arga sambil tersenyum lebar. Dia sangat senang bertemu dengan teman yang membawanya keluar dari Hutan Kematian dan menjadi seperti sekarang ini.
"Kakang Bedul benar Arga. Oh iya, kapan Kau akan berkunjung ke Kerajaan Kalingga. Raja Jatmiko sudah lama menunggu kedatanganmu, terutama Ayu dan Jagad. Adik dan adik iparmu itu sebentar lagi akan menjadi Ayah dan Ibu." Lasmini berkata sambil mendekat ke arah Nilawati. Kemudian dia menepuk pundak gadis itu yang masih sedikit menangis.
"Kau tidak perlu menangis lagi, Nila. Bukankah Arga tidak apa-apa." Lasmini menenangkan Nilawati.
__ADS_1
"Baik Kak Lasmi." Nilawati mencoba tersenyum, walaupun itu dibuat-buat.
"Pendekar Arga sungguh hebat sekali mampu mengalahkan pemuda yang bernama Seta itu. Saat mendengar pemuda itu memiliki jurus Lembu Sekilan aku sedikit takut bahwa Pendekar Arga tidak akan mampu menghadapinya. Ternyata tebakanku salah! Maafkan Aku yang terlalu meremehkanmu." Pangeran Wirang Geni akhirnya mengangkat suaranya dan memberi hormat kepada Arga serta diikuti Putri Anandita.
"Ah, itu! Bisa dibilang Aku sedang beruntung saja." Balas Arga, tapi saat dia hendak berkata lebih lanjut tiba-tiba dada Arga terasa begitu sakit dan tidak lama kemudian dia langsung memuntahkan darah segar.
Nilawati yang bereaksi pertama, dia langsung panik saat melihat hal itu, "Arga, kau kenapa?" Gadis itu langsung memegangi kedua pundak Arga dan mencoba menahan tubuh Arga agar tidak jatuh.
"Aku tidak tahu, tapi kelihatannya ini efek dari pertarungan dengan Seta sebelumnya." Setelah berkata demikian, Arga langsung tidak sadarkan diri.
"Arga... Arga... Dengar Aku Arga. Bangun Arga!" Nilawati menjadi panik, sementara yang lainnya juga panik. Dewa Obat lalu bergerak ke samping Arga dan memeriksa nadi pemuda itu.
"Aih, dia terkena racun Ular Hijau. Kelihatannya Seta itu menggunakan racun ini dengan diam-diam saat Arga tidak mengetahuinya." Ucap Dewa Obat, "Beruntung Aku ada disini." Setelah berkata demikian dia langsung mengeluarkan sebuah guci kecil berwarna hijau.
"Minumkan ini?! Itu adalah penawar dari racun Ular Hijau." Dewa Obat memberikan guci itu kepada Nilawati dan langsung disambut dengan cepat oleh gadis itu.
"Nila...?! Hanya itu yang diucapkan oleh Arga.
"Jangan banyak bergerak, Kau keracunan. Beruntung Paman Dewa Obat sudah memberikan penawarnya." Balas Nilawati sambil kembali meneteskan air matanya. Memang Nilawati adalah pendekar yang mempunyai kemampuan tinggi, tetapi tentang hati? Dia adalah gadis yang mudah terbawa perasaan dan suasana. Sekuat-kuatnya wanita, se pemarah-pemarahnya wanita, bila sudah dihadapkan dengan orang yang disayangi maka luluh lah dia.
Disaat Arga masih terbaring lemah di pangkuan Nilawati, tiba-tiba ada dua orang yang datang. Dia adalah ketua dari perguruan Bambu Kuning, Lodaya dan muridnya, Abimanyu.
"Kau tidak apa-apa Pendekar Arga?" Lodaya tidak berbasa-basi, dia langsung menanyakan keadaan dari Arga. Memang sebenarnya dari tadi dia ingin menemui Arga dan berterima kasih karena sudah membantunya dan muridnya.
Disaat itu juga, Pendekar Pedang Sunyi menaiki arena dan mengumumkan sesuatu.
*****
__ADS_1
"Saudara-Saudariku sekalian, Kita tentu sudah menyaksikan sendiri bagaimana pertarungan antara Pendekar Arga dengan Pendekar Seta. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menghentikan Turnamen ini. Tidak ada juara dalam Turnamen ini." Tidak ada orang yang berkomentar mendengar hal itu. Semuanya mengangguk setuju dengan keputusannya. Hanya saja para peserta yang masih menang kini mengerutkan dahi mereka. Semuanya berpikiran yang sama, bahwa mereka tidak akan bisa mengalahkan Arga.
Setelah mengumumkan hal itu, akhirnya Pendekar Pedang Sunyi mempersilahkan para penonton maupun peserta untuk membubarkan diri mereka. Sedangkan Pendekar Pedang Sunyi sendiri menghampiri Arga.
"Sebaiknya kita kembali dulu ke perguruan Bambu Kuning. Kita bisa mengobati Pendekar Arga disana." Lodaya menawarkan kepada Dewa Obat, agar dia bisa dengan leluasa mengobati Arga.
"Kau benar saudara Lodaya. Tentu saja kami akan ikut jika kau tidak keberatan." Dewa Obat menerima tawaran dari Lodaya.
"Bicara apa Kau saudara Ageng, tentu saja Aku tidak keberatan." Lodaya langsung bergerak melangkah dan diikuti oleh yang lainnya.
*****
Tanpa ada seorangpun yang sadar, pedang yang digunakan Seta sebelumnya sudah hilang bak ditelan bumi.
Pedang itu kembali ke tempatnya semula, yaitu ke tangan Gading Koneng, Pendekar Pencabut Nyawa.
Sebelumnya, Gading Koneng sedang duduk bersila di batu besar dalam gua. Saat dia sedang fokus, tiba-tiba aura pedang yang dikenalinya muncul di pangkuannya. Benar saja, saat dia membuka matanya dia menemukan Pedang Pencabut Nyawa.
"Hm... Tidak kusangka muridku akan tewas dengan cepat. Pasti ini ada hubungannya dengan murid dari Mawar Bidara." Gading Koneng merapatkan bibirnya. Tentu saja dia sangat geram dengan hal itu.
"Aku tidak terima dengan hal ini. Aku ingin melihat sendiri sebesar apa kekuatan pemuda itu." Gading Koneng akhirnya berdiri, dia berniat untuk membalaskan dendam dari muridnya itu. Dia kemudian menyusun rencana, untuk membunuh Arga. Tanpa Arga sadari bahwa sesuatu yang besar lagi akan datang menghampirinya.
*****
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/BangDen. Pembayaran bisa dilakukan via Gopay, Transfer Bank, Ovo, juga Alfamart.
Terima kasih.
__ADS_1