
Arga menerima serangan kesepuluh orang itu dengan santai, dia masih memegang satu guci arak di tangannya. Dia memukul mundur kesepuluh orang itu.
"Baiklah, aku sudah selesai makan, mari kita bermain-main." Arga langsung berdiri di atas meja tempatnya makan.
"Kalian tunggu saja disini." Arga melirik ke arah Ayu, Nilawati, Jagad dan Bedul.
Semua pengunjung yang ada di warung makan itu pergi berlarian keluar karena mereka tidak ingin terlibat ataupun menjadi saksi pertarungan itu. Sedangkan pemilik warung dan istri serta pelayannya bersembunyi di balik tempat pembayaran.
Arga melompat dari meja tempatnya semula, dia menerjang ke arah sepuluh pemeras itu.
"Bukkkk." Salah seorang pemeras itu terkena terjangan dari Arga. Dia terlempar ke sebuah meja yang ada di dalam warung makan.
Arga tidak mengendurkan serangannya, dia kembali menyerang pemeras yang terdekat. Alhasil 2 orang berhasil terpental ke arah keempat temannya karena pukulannya.
"Bukkk." Bedul memukul kepala pemeras yang terpental ke arah mereka, dan menyebabkan pemeras itu pingsan.
Bedul mengangkat tangannya "Hiyahhh." Seolah-olah ingin memukul kepala pemeras yang satunya.
Pemeras itu langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tetapi ternyata Bedul tidak jadi melakukannya.
"Tapi bohong." Bedul menarik kembali tangannya. Pemeras itu langsung membuka kedua tangannya dari wajahnya, setelah terbuka Bedul memukul wajah pemeras itu.
"Hehehe...Rasakan itu." Bedul menari-nari kegirangan karena berhasil memukul wajah dari pemeras yang satunya dan menyebabkan pemeras itu pingsan juga.
7 orang lainnya segera menyerang Arga, akan tetapi Arga masih dengan santai menerima serangan itu. Tak lama kemudian 4 orang lainnya berhasil dikalahkannya.
Tersisa 3 orang lagi yang tidak lain adalah Segoro, Kuncoro dan Karyo. Mereka bertiga memegangi golok ditangan dan maju menyerang Arga. Arga menangkis serangan dari ketiga orang itu dengan tangannya dan itu saja sudah membuat ketiga orang itu merasakan kekuatan tenaga dalam dan ilmu kanuragan yang Arga miliki.
Ketiga mundur beberapa langkah untuk mengatur nafas mereka. Kemudian mereka maju lagi menyerang Arga.
Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya Arga berhasil membuat ketiga orang yang tersisa itu terpental ke dinding warung makan itu.
"Aku tidak akan membunuh kalian, pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi." Arga mengangkat kedua alisnya dan memperlihatkan wajah yang sangat garang.
Delapan orang yang masih sadar langsung berlari pergi ke luar warung sambil membawa 2 orang lainnya yang sudah pingsan.
Setelah selesai pertarungan itu, Arga memanggil pemilik warung makan karena dia ingin mengganti rugi.
__ADS_1
"Paman."
"Iya kisanak." Pemilik warung berlari dengan cepat menghampiri Arga karena takut Arga akan marah.
"Berapa koin emas yang harus aku berikan untuk mengganti rugi kekacauan ini."
"Itu...itu tidak perlu kisanak." Pemilik warung menjawab pertanyaan Arga dengan terbatah-batah dan menunjukkan ketakutan menghiasi wajahnya.
"Jangan takut paman, aku yang membuat kekacauan disini maka aku akan bertanggung jawab untuk itu." Arga meyakinkan pemilik warung bahwa dia akan mengganti rugi semuanya.
"Benar kisanak itu tidak perlu."
"Ah kalau begitu begini saja." Arga mengeluarkan sekantong uang koin emas dari balik bajunya. "Ambil ini sebagai ganti rugi dan permintaan maafku." Arga memberikan uang itu kepada pemilik warung.
"Jangan ditolak paman." Arga menutup perkataannya dengan wajah tersenyum lebar.
"Baik...baik kisanak." Akhirnya pemilik warung menerima uang yang diberikan Arga.
Kesepuluh orang suruhan Werku Alit kembali ke kediamannya dengan wajah yang memar dan darah yang mengalir di sekujur tubuh mereka. Kesepuluhnya menghadap ke hadapan Werku Alit.
Werku Alit yang melihat hal itu mengangkat kedua alisnya, dia tidak mengira sepuluh orang yang diutusnya akan mengalami kegagalan.
"Berarti pendekar muda itu memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, ada urusan apa dia ke Kotaraja? Apakah dia di sewa oleh yang mulia untuk membantu pangeran Jatmiko?" Pertanyaan-pertanyaan menghampiri pikiran Werku Alit.
"Sudah tidak apa-apa, tapi sekali lagi aku mendengar kalian gagal melakukan tugas yang kuberikan, maka kalian tahu hukumannya." Werku Alit mengibaskan tangannya, memberi perintah kesepuluh orang itu pergi dari hadapannya.
"Baik tuan, kami mengerti." Akhirnya kesepuluh orang itu pergi dari hadapan Werku Alit.
"Kuncoro." Werku Alit menghentikan salah satu anak buahnya itu.
"Hamba, tuan!". Kuncoro menundukkan kepalanya di hadapan Werku Alit.
"Kirim 3 orang untuk menyelediki pendekar itu." Ucap Werku Alit sambil mengibaskan tangannya.
"Baik tuan, hamba mengerti".
Setelah Kuncoro dan yang lainnya pergi, Werku Alit menuangkan secangkir arak ke dalam cangkir dihadapannya.
__ADS_1
"Aku harus segera memberi tahukan hal ini kepada pangeran Jatmiko." Gumam Werku Alit di dalam hatinya.
*****
Akhirnya Arga dan keempat lainnya pergi meninggalkan warung makan dan mencari penginapan yang ada disana. Setelah berkeliling-keliling sekitar satu jam, akhirnya mereka menemukan penginapan yang cukup besar. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk dan beristirahat pada hari itu. Mereka memesan 5 kamar yang berbeda.
Malam hari pun tiba, Arga sedang duduk bersila di kamarnya. Tiba-tiba dia mendengar seperti ada yang berjalan dari atas atap penginapan. Dia membuka matanya dan keluar kamarnya untuk mencari tahu.
Ayu, Jagad, Nilawati dan juga Bedul merasakan hal yang sama, mereka juga keluar dari kamarnya masing-masing.
Mereka berpapasan di depan kamar dan sama-sama memberitahukan bahwa mereka mendengar suara orang-orang yang berjalan di atas penginapan.
Kelimanya kemudian pergi keluar penginapan untuk mencari tahu kebenarannya. Benar saja saat mereka sampai di atas atap penginapan terlihat tiga orang sedang mengintip-intip dari sana.
"Hey! Siapa kalian." Arga berteriak ke arah 3 orang itu.
"Sial! Kita ketahuan." Ucap salah satu mata-mata itu sambil berdecak kesal.
"Lari." Ucap mata-mata yang lainnya.
Ayu dan Nilawati melihat ketiga mata-mata itu yang hendak kabur langsung berlari dan terbang ke hadapan mereka sambil berdecak kesal.
"Serahkan kepada kami." Ucap Ayu dan Nilawati secara bersamaan.
Ketiga mata-mata itu meneguk air liurnya, sambil merasakan ketakutan dari dalam dirinya.
"Siapa kalian? Dan apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Ayu penuh selidik.
"Jangan sampai aku mengulangi pertanyaannya." Nilawati ikut berkata sambil berteriak.
"Jangan pikir kami akan mengaku, sampai kami mati pun kami tidak akan mengakuinya." Ucap salah satu dari mata-mata itu.
"Kalau itu yang kalian inginkan maka kami akan mengabulkannya." Teriak Ayu dan Nilawati secara bersamaan.
Ketiga mata-mata mengangkat goloknya, mereka sadar pertarungan tidak bisa dihindarkan.
Ayu dan Nilawati maju menyerang ketiga orang itu, tak butuh waktu yang lama untuk mereka meringkus ketiganya.
__ADS_1