Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Menjemput Ayu


__ADS_3

"Luar biasa, ilmu Desendria ini sangat tinggi. Aku harus menemui Nyi Rondo, Nila dan juga Bedul terlebih dahulu sebelum memulai belajar ilmu pedang tujuh naga."


Arga keluar dari dasar gua, dia melihat Nyi Rondo, Nilawati dann juga Bedul sedang asik mengobrol sambil menyantap ayam bakar dan juga ikan bakar.


Nilawati yang pertama kali menyadari kedatangan Arga langsung berdiri dan berlari ke arah Arga.


"Arga, kau sudah berhasil mempelajari kitab yang kau dapat?" Nilawati bertanya sambil memeluk erat tubuh Arga.


"Aku sudah berhasil mempelajari ilmu Desendria dan juga Ajian Gineng, tinggal ilmu pedang tujuh naga yang belum aku pelajari."


"Weleh weleh, Arga terlihat lebih gagah dariapda sebelum bersemedi." Bedul ikut berkomentar.


"Benarkah?" Arga bertanya kepada semuanya, karena memang dia tidak merasakannya.


"Benar Arga, itu semua karena kau berhasil mempelajari kedua ilmu yang kau dapatkan." Nyi Rondo ikut juga berkomentar.


Arga yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum tipis dan mengelus rambut Nilawati yang masih memeluknya seakan tidak mau melepaskan pelukannya.


Akhirnya mereka duduk sambil melanjutkan menyantap ayam dan ikan bakar tadi. Arga memilih tidak menceritakan pertemuannya dengan eyang Joko Samudro agar tidak membuat Nyi Rondo menjadi sedih.


Malam hari pun tiba, Arga dan juga Nilawati memutuskan untuk pergi keluar gua menikmati suasana malam yang saat itu sangat indah. Malam itu bulan purnama bersinar terang dengan dikelilingi bintang-bintang yang juga tak kalah terangnya. Suara-suara burung seakan-akan menjadi alunan musik alami yang sangat indah.


Arga dan Nilawati duduk di atas sebuah pohon, Nilawati menyenderkan kepalanya di bahu Arga.


"Arga, kita sudah lumayan lama kenal, tetapi aku belum pernah mendengar kau mengatakan cinta kepadaku. Apakah kau tidak mencintaiku?".


Arga menggeser kepala Nila dari bahunya, kali ini keduanya dalam posisi berhadap-hadapan.


"Nila, coba kau pikir, jika aku tak mencintaimu mengapa aku membiarkanmu ikut denganku."


"Mungkin saja kau hanya ingin mencari teman dalam perjalanan." Nilawati menjawab pertanyaan dari Arga.


"Nila aku mencintaimu, dan aku akan menjagamu sampai akhir hidupku."


"Aku benar-benar mencintaimu Nila." Arga mencium kening dan juga pipi Nilawati serta memeluk gadis itu erat-erat.


"Arga, aku juga mencintaimu. Semua jiwa dan ragaku akan kuberikan kepadamu."


Malam itu menjadi malam yang sangat indah untuk Arga dan Nilawati, keduanya saling mengungkapkan perasaannya masing-masing.


Keesokan paginya, Arga kembali untuk bersemedi. Kali ini dia akan mempelajari ilmu pedang tujuh naga.

__ADS_1


Arga mulai membuka satu per satu halaman dari kitab pedang tujuh naga, dia mempelajari setiap gerakan yang tertulis disana. Arga memahami petunjuk-petunjuk itu dengan sangat mudah, karena setelah mempelajari ilmu Desendria, otaknya sangat mudah mencerna segala sesuatu.


Setelah sebulan lamanya akhirnya Arga berhasil menguasai ilmu pedang tujuh naga.


Ilmu pedang tujuh naga terbagi menjadi tujuh, yang pertama, pedang naga membelah samudra, yang kedua pedang naga menghempas gunung, yang ketiga pedang naga memburu langit, yang keempat pedang naga menembus awan, yang kelima pedang naga pembunuh, yang keenam pedang naga bijaksana dan yang terakhir pedang naga penghancur dunia. Semakin tinggi tingkatannya semakin tinggi pula ilmu pedangnya.


Arga kembali keluar dari dasar gua, dia menemui Nyi Rondo, Nilawati dan juga Bedul.


Setelah bertemu, Arga memutuskan untuk pergi melanjutkan perjalanan pada hari itu juga.


Nilawati dan Bedul yang mendengar hal itu hanya mengangguk dan menurut sedangkan Nyi Rondo memperlihatkan wajah yang sedih.


"Nyi, walaupun kami meninggalkan tempat ini, suatu saat kami akan kembali kesini. Nyai juga bisa mengikuti kami kalau nyai mau." Arga berkata demikian karena dia merasakan apa yang Nyi Rondo rasakan.


"Benar Nyi, kami akan senang jika Nyai ikut bersama kami." Sambung Nilawati.


"Tidak Arga, Nila, Nyai akan tetap disini, menjaga tempat ini. Suatu saat Nyai harap kita akan bertemu lagi."


"Tentu saja Nyi kita akan bertemu lagi, tunggu kedatangan pendekar tampan dan tangguh ini." Bedul menyeletuk.


"Bukk." Nyi Rondo memukul kepala Bedul.


"Itu belum seberapa, mau di tambah lagi?".


"Ampun Nyi." Bedul memeluk tubuh Nyi Rondo.


Arga dan Nilawati yang melihat hal tersebut hanya tertawa terbahak-bahak dan menggeleng-gelengkan kepala. Memang selama tinggal di gua Cengger, Nyi Rondo dan Bedul terlihat sangat akrab. Nyi Rondo sudah menganggap ketiganya seperti cucunya sendiri, meskipun dia seekor siluman ular.


Akhirnya Arga, Nilawati dan Bedul melanjutkan perjalanan mereka.


"Arga, mau kemana kita sekarang?" tanya Nilawati.


"Aku ikut sajalah." Bedul menyeletuk.


"Aku rasa kita harus menjemput adikku, aku sudah sangat merindukannya." Arga menjawab pertanyaan dari Nilawati.


"Baiklah kalau begitu ayo kita pergi." Bedul berjalan ke arah kanan.


"Bedul, ke kiri." Arga menarik telinga Bedul.


"Bukkk." Nilawati memukul kepala Bedul.

__ADS_1


"Kalau tidak tahu tidak usah sok-sokan." Ucap Nilawati.


Akhirnya ketiganya melanjutkan perjalanan menuju kediaman Dewa Obat.


Setelah beberapa hari perjalanan, akhirnya mereka sampai di halaman rumah Dewa Obat, terlihat Jagad sedang berlatih tanding melawan Ayu, sedangkan Dewa Obat sedang meracik ramuan obat di dalam rumah.


Ayu yang melihat kedatangan Arga menjadi tidak fokus dan dia terkena pukulan dari Jagad yang membuatnya terpental.


Jagad terlihat panik, karena selama berlatih tanding tidak sekalipun dia berhasil mengalahkan Ayu.


"Ayu." Jagad terbang mendekati Ayu yang sedang memegangi perutnya.


"Kenapa kau tidak fokus seperti biasanya? Apa yang menjadi pemikiranmu?".


Ayu tidak menjawab pertanyaan Jagad, dia hanya memalingkan wajahnya ke satu arah.


Setelah melihat ke arah tersebut, Jagad melihat 3 orang pemuda-pemudi, 2 orang laki-laki dan seorang perempuan yang tidak lain adalah Arga, Nilawati dan Bedul.


Jagad membantu Ayu berdiri, dia memapah ayu yang masih memegangi dadanya.


Dewa Obat yang mendengar suara Jagad berteriak di luar akhirnya menghentikan kegiatannya, dia pergi keluar untuk memeriksanya.


"Arga, ternyata kau sudah kembali."


"Iya paman, aku mau menjemput Ayu dan berencana mengajak Jagad juga untuk mengembara jika paman mengizinkan dan Jagad berkenan."


"Itu bisa dibicarakan nanti, ayo masuk dulu."


Akhirnya mereka masuk ke dalam kediaman Dewa Obat, setelah sampai di ruang tamu Jagad melirik ke arah Arga.


"Arga, akhirnya kau kembali. Ayu sangat merindukanmu, setiap hari dia selalu menunggumu kembali." Jagad memulai percakapan.


Arga memandangi Ayu, terlihat dari matanya telah menetes air.


"Ka...kakang, aku merindukanmu! Kenapa kau tidak pamit kepadaku saat kau pergi." Ayu memukul-mukul tubuh Arga.


"Maafkan kakang Ayu, kakang ingin mencari pusaka yang diceritakan oleh Nenek Mawar Bidara. Kakang salah, kakang minta maaf." Arga memeluk adiknya itu dengan erat.


"Jagad terima kasih kau dan paman Dewa Obat telah menjaga Ayu." Arga memalingkan wajahnya ke arah Jagad.


"Tidak perlu sungkan Arga".

__ADS_1


__ADS_2