Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Empat Lawan Satu


__ADS_3

Empat orang lainnya yang merupakan rekan dari Pria bertubuh pendek mematung bahkan bukan hanya mereka, Widura di sisi lain juga mematung, tidak ada yang percaya dengan apa yang mereka lihat.


Empat orang lainnya mulai berpikir Arga adalah orang yang berbahaya sedangkan Widura menjadi terpana melihatnya.


Suasana menjadi hening seketika, tidak ada yang berani bergerak, bahkan hanya untuk bernafas saja mereka lakukan dengan hati-hati.


Alasannya hanya satu, karena pria bertubuh pendek itu tidak sadarkan diri setelah Arga memukulnya, bahkan bagian perut Tetua itu terlihat terbakar.


Disaat-saat keheningan sudah hampir berlangsung selama lima menit, Arga mengangkat suaranya, "Kukira kalian cukup pintar, ternyata pemikiranku salah. Baiklah, karena kalian yang pertama kali menyerangku, aku memutuskan untuk ikut campur. Jangan memohon, karena itu tidak ada gunanya lagi sekarang." Arga tersenyum tipis.


Setelah itu tatapannya menjadi dingin dan dia mengeluarkan aura bertarungnya, seketika itu juga udara disekitar mereka menjadi tipis dan para Tetua dari perguruan Sanca Hitam itu menjadi kesulitan bernafas. Karena Arga mengarahkan auranya kepada mereka.


Sementara itu, Wigura pun tidak luput dari tekanan aura Arga, walaupun dia sadar aura itu bukan ditujukan kepadanya, tetapi tetap saja tubuhnya bergetar dan kakinya menjadi lemas seakan-akan ingin berlutut.


Butuh tenaga dalam yang cukup besar untuk mereka bertahan tetap berdiri dari tekanan Arga.


Setelah berlangsung selama sepuluh detik, akhirnya Arga menarik kembali aura bertarungnya.


Walaupun demikian, tidak ada seorangpun dari mereka yang bergerak, terutama para Tetua perguruan Sanca Hitam, sekarang mereka hanya memikirkan untuk keluar dari situasi yang membahayakan nyawa mereka seperti ini.


Keempatnya cukup pintar, orang yang bisa melakukan tekanan seperti ini, tentunya adalah Pendekar yang sakti, paling tidak berada di atas mereka.


*****


Arga menarik nafasnya dalam-dalam dan berkata, "Saudara Widura, sebaiknya Anda duduk disana dan memulihkan diri. Cukup aku sendiri saja yang melawan cecunguk-cecunguk tua ini." Arga menunjuk ke arah pohon rindang yang tidak jauh dari sana.


Widura yang masih terkejut akhirnya segera tersadar, dia menuruti perintah Arga.


Memang sebenarnya stamina Widura sudah diambang batasnya, dia duduk bersila dan mengeluarkan sebuah ramuan yang ada di balik bajunya. Tanpa pikir panjang, Widura langsung meminum ramuan itu dan memejamkan matanya.


*****

__ADS_1


"Baiklah, mari kita lanjutkan." Arga berkata pelan tetapi dialiri tenaga dalam yang cukup besar.


"Apakah tidak ada ruang untuk negosiasi? Kami akan memberikanmu kompensasi kalau kau melepaskan kami." Tetua bertubuh gempal mencoba berkomunikasi dengan Arga, karena dia yang paling tua diantara Tetua yang lain.


Arga tersenyum sejenak, lalu menggelengkan kepalanya, setelah itu berkata, "Tidak ada lagi ruang negosiasi ataupun sejenisnya. Hari ini, disini adalah tempat terakhir kalian melihat matahari bersinar." Arga mendongakkan kepalanya memandang ke arah matahari yang sedang bersinar terang di atasnya.


Keempat Tetua itu merapatkan bibir mereka, setelah itu salah satu dari mereka berkata, "Tidak ada jalan lain, kita harus melawannya dan berharap mengalahkannya." Dia sendiri langsung maju menyerang ke arah Arga, diikuti oleh tiga lainnya. Mereka menyerang Arga secara bersamaan.


Perguruan Sanca Hitam sendiri merupakan perguruan yang mendalami ilmu tangan kosong dengan racun sebagai senjata mereka.


Ilmu yang dipelajari Perguruan ini adalah salah satu ilmu tingkat tinggi dan terkenal di dunia persilatan.


Arga menangkis tapak dari Tetua bertubuh kurus, dia juga memutar tubuhnya untuk menghindari tapak dari Tetua bertubuh gempal. Sementara dua Tetua lainnya menyerang ke arah bagian kepala Arga, dan itu bisa dihindarinya dengan mudah. Arga menggeser posisi sedikit dan menunduk.


Pertarungan empat melawan satu akhirnya segera dimulai.


Tidak hanya menghindari serangan-serangan mereka, Arga juga menyambutnya dengan tangannya.


Sekitar tiga puluh menit lamanya, kedua belah pihak telah bertukar ratusan jurus.


Arga sendiri berhasil mendaratkan beberapa pukulan kepada masing-masing Tetua itu, sedangkan mereka belum berhasil mendaratkan satu pukulan pun kepada Arga.


Baik Arga maupun keempat Tetua itu mundur mengambil jarak untuk mengatur nafas mereka.


"Apakah dia benar-benar masih muda seperti yang terlihat?" Tetua bertubuh kekar mengerutkan dahinya.


"Aku tidak tahu, yang jelas dia memiliki tenaga dalam yang sangat besar." Jawab Tetua bertubuh kurus.


"Kau benar, selain itu aku merasa dia belum mengeluarkan segenap kemampuannya." Tetua bertubuh gempal menimpali.


Mereka mengamati kekuatan Arga setelah bertukar jurus dengannya. Menurut mereka, kekuatan pemuda yang menjadi lawan mereka kali ini sangat dahsyat dan sulit untuk dipercaya.

__ADS_1


Sekitar dua menit lamanya, baik Arga maupun empat Tetua perguruan Sanca Hitam hanya saling menatap.


"Baiklah, sekarang giliran aku yang mulai duluan." Arga menghentakkan kakinya dan terbang ke arah empat Tetua perguruan Sanca Hitam.


"Apa?"


"Bagaimana bisa?"


"Uukkkhhh."


"Tubuhnya menjadi keras sekali."


Empat Tetua perguruan Sanca Hitam kesulitan menahan satu serangan Arga. Mereka termundur beberapa langkah dan memegangi lengan yang menangkis serangan Arga.


Memang sekarang tubuh Arga menjadi lebih keras daripada sebelumnya, dia menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat kedua, Ajian Serat Wadag Brajawesi yang membuat tubuh menjadi keras dan kebal terhadap senjata maupun yang lainnya.


"Aku baru mulai serius. Kalian akan lebih terkejut lagi setelah ini." Arga terkekeh melihat reaksi yang ditunjukkan keempat Tetua itu.


"Baiklah, tahan seranganku ini." Kali ini Arga menggunakan Ajian Serat Jiwa tingkat kedelapan yang bernama Ajian Bayu Bajra, seketika itu juga angin topan berhembus kencang ke arah empat Tetua itu. Angin topan itu berhasil mencabut tumbuhan-tumbuhan yang ada disekitar mereka dan membuat tumbang pohon-pohon besar.


Tetapi tentu serangan itu saja tidak akan cukup menaklukkan mereka, keempatnya menggunakan tenaga dalam untuk meredamnya.


"Hahaha..." Arga tertawa lantang, "Aku sudah menduganya, kalian tidak akan mudah ditaklukkan. Tetapi apakah kalian menyadari satu hal?" Arga menaikkan alisnya.


Seketika itu juga, baru keempat Tetua itu menyadari apa yang dilakukan Arga, mereka mengumpat kesal karena ternyata Arga menguras tenaga dalam mereka. Keempat Tetua itu hanya bisa pasrah, ternyata mereka sudah dalam genggaman Arga sebelumnya bertarung dengannya.


"Baiklah, kali ini aku akan mengakhirinya." Arga memasang kuda-kudanya dan mulai memperagakan gerakannya. Kali ini dia akan menggunakan Jurus Pukulan Penghancur Langit.


Seketika itu juga muncul cahaya kebiruan dari tangannya dan tidak lama kemudian Arga melepaskannya. Dikarenakan keempat Tetua itu sudah diambang batas kekuatan mereka, keempatnya tidak bisa menahan pukulan itu dan akhirnya hancur tanpa sisa.


Arga mengatur nafasnya dan melirik ke arah satu Tetua yang tersisa, "Sampai kapan kau berpura-pura tidak sadarkan diri."

__ADS_1


__ADS_2