Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Akhir Sebuah Pertarungan


__ADS_3

Setelah berpamitan kepada semua orang, Arga dan Nilawati serta Nyai Mawar Bidara memutuskan untuk langsung meninggalkan kerajaan Kalingga.


Langkah ketiganya terhenti saat seseorang menghentikan mereka di luar istana.


"Saudara Widura!" Sapa Arga.


"Saudara Arga, terima kasih atas kebaikanmu. Suatu hari nanti, aku akan berkunjung ke gunung Ambar dan meminum arak bersamamu!" Widura berterima kasih kepada Arga karena semua yang Arga lakukan untuknya.


Arga juga berhasil membuat raja Jatmiko memberikan sebuah lahan untuk Widura membuat perguruannya.


Raja Jatmiko juga mengatakan bahwa Kerajaan Kalingga akan beralinsi dan membantu kemajuan perguruan Bunga Matahari yang baru ini nantinya.


"Tidak perlu sungkan! Aku akan menunggumu untuk minum arak tersebut. Tetapi ku harap saat kau datang, kau tidak sendiri!" Arga tertawa kecil.


Widura menjadi salah tingkah dengan ucapan Arga. Dia mengetahui maksud perkataan saudara angkatnya tersebut. Arga menyuruhnya menikah!


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan membawa kakak iparmu saat berkunjung!" Balas Widura.


"Baiklah kalau begitu, selamat tinggal dan jaga dirimu baik-baik!" Arga dan Nilawati serta Nyai Mawar Bidara akhirnya meninggalkan kerajaan Kalingga.


*****


Sudah tiga hari Arga, Nilawati dan Nyai Mawar Bidara meninggalkan kerajaan Kalingga.


Ketiganya memilih untuk melewati jalan hutan yang jarang manusia lainnya lalui. Ide tersebut datang dari Nyai Mawar Bidara. Karena Nyai Mawar Bidara tidak ingin singgah ke kota maupun desa.


Bagaimanapun ketiganya adalah pendekar tingkat tinggi. Walaupun tidak banyak yang pernah melihat wajah mereka, tetapi tetap saja merepotkan saat ada yang mengenalnya.


Arga sebenarnya juga berpikiran sama, karena terkhusus di kerajaan Kalingga, namanya begitu terkenal. Sebab itulah dia meminta raja Jatmiko menyiapkan tiga buah topi caping untuk mereka.


"Guru, apakah kita tidak berhenti dulu?" Tanya Arga.


"Sebaiknya kita tidak berhenti lagi. Lebih cepat sampai lebih baik." Balas Nyai Mawar Bidara. Dia sudah cukup lama meninggalkan kediamannya itu, jadi dia sudah begitu merindukannya. Sebab itulah Nyai Mawar Bidara tidak ingin berhenti.


Mendengar hal tersebut, Arga dan Nilawati hanya bisa tersenyum canggung dan mengikutinya.


Selain menghormati Nyai Mawar Bidara tentu saja keduanya tidak ingin kalah.


Bagaimana seorang wanita sepuh masih terlihat begitu kuat dibandingkan dua orang muda-mudi yang bahkan masih di bawah usia dua puluh tahun.


Akhirnya perjalanan tersebut berlangsung selama lebih dari satu Minggu.


*****

__ADS_1


"Akhirnya kita sampai juga! Selamat datang di gunung Ambar, Nila!" Ujar Nyai Mawar Bidara.


Ketiganya sudah sampai di puncak gunung Ambar. Nilawati hanya bisa terkagum melihat pemandangan yang ada di sekitar kediaman baru mereka ini.


"Tampaknya tempat ini akan sangat menyenangkan!" Gumam Nilawati.


Ketiganya akhirnya masuk ke dalam rumah Nyai Mawar Bidara.


*****


Sebulan telah berlalu semenjak Arga, Nilawati dan Nyai Mawar Bidara kembali ke gunung Ambar.


Saat suatu malam, ketika Nilawati sedang tertidur pulas begitu juga dengan Nyai Mawar Bidara.


Tiba-tiba saja ada sebuah suara yang menggema di kepala Arga. Suara itu seperti berasal dari pria yang berusia lanjut.


"Arga, jika kau Pendekar sejati, temui aku sekarang di Hutan Puncak Gunung Ambar sekarang." Setelah berkata demikian, suara itu menghilang.


Entah karena penasaran ataupun karena merasa tertantang, Arga menerima tantangan tersebut.


Dia bangkit dari ranjangnya dan meninggalkan rumah tanpa di sadari oleh Nilawati maupun Nyai Mawar Bidara.


*****


"Sebaiknya siapapun engkau segera tunjukkan diri." Setelah berkata demikian, Arga menyatukan kedua tangannya dan melepaskan sebuah pukulan jarak jauh ke arah sebuah pohon besar yang tidak jauh darinya.


Booommm


Bersamaan dengan suara ledakan dari pukulannya tersebut, keluarlah sosok dari balik pohon itu.


Walaupun hal ini terjadi saat malam hari, tetapi dengan cahaya bulan Arga bisa melihat dengan jelas wajah dari sosok itu.


Seorang pria sepuh dengan pakaian hitam-hitam sedang tersenyum menyeringai kepadanya. Sosok tersebut adalah Gading Koneng, Pendekar Pencabut Nyawa!


Setelah kekalahannya menghadapi Arga di pertempuran sebelumnya, Gading Koneng memutuskan untuk berlatih kembali ke gua Selongsong.


Setelah itu, dia memutuskan untuk tinggal di hutan gunung Ambar ini dan berharap Arga akan kembali bersama Nyai Mawar Bidara.


Harapannya pun terkabul saat dia mendengar Arga sudah kembali dari pulau seberang dan memutuskan untuk kembali ke gunung Ambar.


Setelah merencanakan semuanya, pada hari ini Gading Koneng menantang Arga kembali untuk melakukan pertarungan hidup dan mati.


Tidak ingin berbasa basi lebih jauh, Gading Koneng langsung mengeluarkan pedangnya.

__ADS_1


Dengan gerakan yang cepat dan gesit, Gading Koneng menyerang Arga.


Di sisi lain, Arga hanya menangkis serangan tersebut dengan tangan kosong. Dia menggunakan salah satu Ajian Serat Jiwa.


"Tampaknya ini saat yang tepat untuk mencoba jurus Bayangan Kegelapan!" Pikir Arga.


Seketika itu juga sebuah cahaya berwarna hitam keluar dari sekujur tubuhnya.


Gading Koneng menyadari hal tersebut, tetapi dia tidak begitu mengerti apa yang terjadi.


Gading Koneng mengangkat pedangnya dan menghunuskannya kepada Arga. Tetapi yang membuatnya bingung, Arga bukannya menghindari ataupun menangkis serangan tersebut, pemuda itu malah tersenyum menyeringai dan tidak bergerak dari tempatnya.


Merasa di remehkan, Gading Koneng melepaskan serangan tersebut dengan seluruh kekuatannya.


Bammm


Pedang Gading Koneng menyentuh tanah. Gading Koneng dengan jelas melihat bahwa serangannya tersebut berhasil membela Tubun Arga, tetapi kenapa bukannya terluka, Arga seperti tidak merasakan apa-apa? Pikir Gading Koneng.


Dia begitu terkejut karena serangannya se akan menembus sebuah bayangan.


Entah karena Gading Koneng tidak ada harapan lagi untuk menang ataupun karena kekuatan Arga memang sudah berada jauh di atasnya. Gading Koneng tidak memiliki hasrat lagi untuk bertarung.


"Pendekar muda, aku mengaku kalah. Kau memang sangat kuat dan gelar jagoan nomor satu memang pantas untukmu.


Aku hanya meminta satu hal kepadamu, tolong bunuh aku sekarang juga." Ucap Gading Koneng sambil bersujud. Dia juga sudah melepaskan pedangnya dari tangannya.


"Kenapa aku harus melakukannya?" Tanya Arga bingung.


"Pendekar muda, kau tahu sendiri bahwa keinginan seorang pendekar adalah terbunuh di tangan musuh yang lebih kuat darinya. Karena hal tersebut adalah suatu kehormatan!


Selain itu, aku ingin menebus dosa-dosa yang telah aku lakukan selama aku hidup. Terbunuh di tangan Pendekar yang bijaksana sepertimu, tentunya akan membuatku tenang." Gading Koneng menjelaskan.


Setelah mendengarkan permintaan Gading Koneng, akhirnya Arga menganggukkan kepalanya.


Dia mengeluarkan pedangnya dari ruang hampa dan dalam tarikan nafas selanjutnya, pedang tersebut menebas leher Gading Koneng.


Tebasan itu begitu rapi, sampai-sampai tidak ada darah yang keluar dari hasil tebasan tersebut.


Setelah mengabulkan permintaan Gading Koneng, Arga merapatkan kedua tangannya dan melepaskan Ajian Serat Jiwa tingkat ketujuh, Ajian Serat Tapak Saketi. Seketika itu juga tubuh Gading Koneng hangus terbakar.


Arga menghela nafasnya dan kembali ke kediamannya.


*****

__ADS_1


Jangan lupa baca juga novelku yang lain ya, judulnya Raja Pedang Beracun dan The King Of Baiyun Kingdom


__ADS_2