
"Arga?!"
"Pendekar Pedang Tujuh Naga?!" Suara Cakra Buana bergetar hebat saat menyebutkan nama Arga sementara anggota Kelompok Paus Darah yang berada di belakangnya tidak berkata apa-apa, tetapi raut wajah mereka menunjukkan ketakutan.
Suasana menjadi hening seketika, tetapi tidak berlangsung lama saat seseorang muncul dari belakang Cakra Buana.
"Kenapa harus takut padanya, hanya mereka berdua saja yang cukup merepotkan, sisanya tidak berarti apa-apa dihadapan kita!" Seru lantang seorang pria paruh baya dari belakang Cakra Buana.
Suasana yang hening menjadi riuh, para anggota Kelompok Paus Darah tampak menumbuhkan semangat bertarung mereka lagi, sedangkan para prajurit dan Pangeran Rendra serta sepuluh pengawalnya menjadi waspada dan ketakutan.
Sementara Cakra Buana sendiri masih berdiam diri di tempatnya sebelumnya sambil terus menatap Arga dan Widura lekat.
"Kau benar, Jago Langit! Kenapa kita harus takut kepada mereka. Malam ini selain mendapatkan harta yang banyak, kita juga akan membunuh dua pendekar muda yang terkenal di dunia persilatan!" Cakra Buana tertawa lantang.
"Habisi mereka!" Titahnya dan dengan segera dilaksanakan oleh para anggotanya.
"Tidak ada ampun lagi setelah ini. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan tempat ini karena nyawa kalian akan berakhir disini." Arga berkata dingin dan mengeluarkan aura bertarungnya.
Pertempuran tidak bisa dihindarkan lagi, para prajurit kerajaan Samudra mencoba menghalangi pergerakan anggota Kelompok Paus Darah.
Tetapi hal itu seperti sia-sia, karena anggota Kelompok Paus Darah sendiri memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi, selain itu juga mereka sudah banyak pengalaman.
Tumenggung Aling di sisi lain bersama dengan sembilan pengawal pangeran Rendra lainnya bertarung tidak jauh dari pangeran Rendra. Mereka mengelilingi pemuda itu agar tidak ada yang bisa melukainya.
Sementara Arga dan Widura masih menyaksikan pertarungan itu, begitu juga dengan Cakra Buana dan Jago Langit.
"Mereka bergerak sangat leluasa di kapal seperti ini. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sudah berpengalaman melakukan hal seperti ini." Arga mengamati cara bertarung dari anggota Kelompok Paus Darah. Menurutnya mereka sangat terlatih menghadapi situasi seperti ini.
Waktu demi waktu terus berjalan, lama kelamaan pasukan kerajaan samudra berhasil di pojokkan oleh anggota Kelompok Paus Darah bahkan ada beberapa yang terbunuh. Sementara anggota Kelompok Paus Darah masih utuh seperti sebelumnya, hanya ada beberapa orang yang terluka ringan.
"Sebaiknya kita turun tangan sekarang atau kita akan terlambat!" Ajak Widura, menurutnya jika dibiarkan lebih lama lagi maka pasukan kerajaan Samudra akan banyak yang terbunuh.
"Kau bantu mereka, aku akan menghadapi Cakra Buana dan Jago Langit itu!"
Tanpa menunggu jawaban Widura, Arga sudah meloncat ke arah Cakra Buana dan Jago Langit.
"Kau cukup arogan anak muda. Kau pikir dengan nama besarmu akan membuat kami takut?" Cakra Buana menaikkan alisnya.
"Sebaiknya kalian maju sekarang. Aku paling benci dengan manusia yang membesarkan omongannya saja, tetapi kemampuannya jauh dibawahnya!" Arga langsung membentuk kuda-kudanya.
"Cakar Besi Mengoyak Langit!" Jurus tangan kosong yang diturunkan oleh Nyai Mawar Bidara itu adalah jurus pertama yang Arga kuasai dengan sempurna.
__ADS_1
"Tapak Rembulan Malam!" Seru Cakra Buana lantang.
Cakar Arga bertemu dengan tapak Cakra Buana menghasilkan gelombang kejut yang cukup besar.
Arga termundur satu langkah, sedangkan Cakra Buana terpental hingga tiga meter.
Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dia langsung bergerak menuju Cakra Buana.
Tetapi tentu saja itu tidak berjalan dengan mulus, Jago Langit menangkis serangan Arga yang hendak menyentuh Cakra Buana dan langsung menyerang ke arah pinggang Arga.
Melihat hal itu, Arga langsung memutar badannya, sehingga serangan itu tidak mengenai tubuhnya.
"Tempat ini terlalu sempit, mari ikuti aku!" Arga menggunakan 'Ajian Serat Jiwa tingkat kelima : Ajian Serat Tatar Bayu' yang membuat dirinya bisa berjalan dan berdiri di atas air dengan seimbang.
Arga menduga, Cakra Buana dan Jago Langit pasti memiliki ilmu yang bisa berdiri di atas air sepertinya.
Dugaan Arga sangat tepat, setelah Arga melompat ke atas air, Cakra Buana dan Jago Langit langsung menyusulnya.
"Jurus Membelah Diri!" Seketika itu enam bayangan Arga muncul secara bersamaan.
Walaupun demikian, baik Cakra Buana maupun Jago Langit tidak menunjukkan keterkejutan ataupun panik. Keduanya tetap bersikap tenang dan menatap Arga serta enam bayangannya yang lain.
"Tapak Rembulan Malam!" Seru Cakra Buana, seketika tangannya mengeluarkan cahaya berwarna biru terang.
Cahaya itu melaju ke arah bayangan Arga yang paling pinggir. Saat cahaya itu menyentuh bayangan Arga tersebut, bayangan itu langsung menghilang bak di telan bumi.
"Kau berubah menjadi seratus, seribu bahkan tak terhingga pun aku masih mampu mengatasinya!" Seru Cakra Buana percaya diri.
Dalam waktu relatif singkat, enam bayangan Arga menghilang satu persatu.
"Sial! Jurus ini ternyata tidak mampu menghadapinya!" Gumam Arga pelan sambil terlihat kekecewaan.
Cakra Buana dan Jago Langit bergerak secara bersamaan menyerang Arga. Gerakan keduanya cukup cepat dan terarah. Terbukti dari serangan-serangan yang dilepaskan semuanya menuju ke titik vital Arga. Beruntunv Arga bisa menghindari semuanya.
Melihat serangan mereka tidak berhasil, Cakra Buana dan Jago Langit kembali menyerang Arga.
*****
Tumenggung Aling dan sembilan pengawal pangeran Rendra yang lainnya cukup kewalahan menghadapi puluhan anggota Kelompok Paus Darah.
"Keamanan Pangeran Rendra bisa kalian serahkan padaku! Sebaiknya kalian fokus membantu para prajurit!" Ucap Widura dengan pelan.
__ADS_1
Sebenarnya pangeran Rendra juga mempelajari ilmu silat, tetapi dia terlalu takut dan tidak percaya diri untuk menunjukkannya.
"Jangan berada jauh dariku, Saudara Rendra!" Ucap Widura sambil menebas ke arah leher seorang anggota Kelompok Paus Darah.
Tebasan Widura begitu cepat, sehingga satu anggota Kelompok Paus Darah itu tidak berhasil menghindarinya. Alhasil, pedang Widura berhasil memotong lehernya dengan cepat.
Tidak ingin hanya sampai disitu, Widura kembali menyerang pendekar yang dekat dengannya. Kali ini bisa ditangkis oleh Pendekar itu.
*Tring
Tring*
Suara benturan antara pedang Widura dan pedang Pendekar itu menggema dengan keras.
Setelah bertukar beberapa serangan, baik Widura maupun orang itu menjaga jarak mereka.
"Aku sudah lama mendengar kehebatan ilmu pedang dari perguruan Bunga Matahari. Aku ingin mencobanya!" Pendekar itu terkekeh.
"Sayangnya kau tidak pantas mencoba hal itu. Karena sebelum aku menggunakannya, kau akan tewas terlebih dahulu!" Balas ketus Widura.
"Kita lihat saja nanti!" Jawab Pendekar itu dan langsung menggunakan jurusnya.
"Jurus Tameng Sakti Menerpa Angin!" Gumam pelan Pendekar itu.
"Perguruan Angin Kencana?!" Suara tiba-tiba keluar dari mulut Widura.
Perguruan Angin Kencana adalah salah satu perguruan yang berada di Pulau Seberang, Pulau Dewata.
Perguruan itu merupakan salah satu perguruan besar aliran putih disana.
"Oh kau mengenalinya?!" Pendekar itu sedikit terkejut karena Widura mengenali jurusnya.
"Kau! Kenapa kau bisa menguasai jurus perguruan itu?!" Tanya Widura dengan geram. Menurutnya jika memang Pendekar itu bagian dari Perguruan Angin Kencana maka hal ini tidak bisa dianggap remeh.
"Aku bisa menguasainya?! Itu karena aku adalah mantan murid perguruan lemah itu!" Balas Pendekar itu.
"Sudah kuduga, orang sepertimu memang sudah seharusnya di keluarkan dari perguruan itu!"
Selesai berkata demikian, Widura langsung melesat ke arah Pendekar itu.
*****
__ADS_1
Jangan lupa kunjungi karya terbaruku ya judulnya POISON KING KULTIVATOR, gak kalah seru lho hehe