
"Lama sekali kau menemui kami, apa kau sudah bosan hidup?" Tanya I Made Ketut, pemimpin dari Lima Pendekar dari Gua Rang Reng kepada Malika.
"Maafkan aku para pendekar terhormat!" Jawab Malika dengan sopan.
"Hmph," I Made Ketut mendengus kesal.
"Walaupun kau dan ayahmu adalah seorang pendekar, jangan harap kami akan takut dan gentar!" Sambungnya dengan nada mengancam.
"Hamba tidak berani!" Jawab Malika, walaupun dia bersikap tenang tetapi sebenarnya tubuhnya sedang bergetar hebat.
"Cepat sediakan makanan terbaik!" I Made Ketut mengibaskan tangannya menandakan mengusir gadis itu untuk cepat menyiapkan makanan mereka.
Arga dan Widura yang meilhat hal itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Menurut keduanya, lima orang ini sangat bermasalah!
Tetapi baik Arga maupun Widura tidak menghiraukannya. Karena mereka akan memberikan pelajaran setelah keluar dari sini. Pelajaran yang amat berharga dan tidak akan dilupakan Lima orang itu seumur hidup mereka.
Arga dan Widura menunggu di warung itu walaupun keduanya sudah menyelesaikan santapannya. Alasannya adalah untuk mendapatkan informasi dari Malika. Alasan lain untuk menunggu Lima Pendekar dari Gua Rang Reng menyelesaikan santapannya.
Lima Pendekar dari Gua Rang Reng tentu menyadari hal itu, menurut mereka dua orang pemuda itu bernyali besar karena menunggu mereka.
"Kak Made, apakah kita akan tetap membuat pelajaran terhadap mereka? Bagaimana jika ilmu mereka lebih tinggi daripada kita?" Tanya seorang pria bertubuh kurus.
"Kau takut? Mereka hanya berdua sedangkan kita berlima. Lagipula lihat mereka, masih begitu muda, tidak mungkin memiliki ilmu yang tinggi. Bisa jadi mereka baru belajar jadi Pendekar." Bisik I Made Ketut kepada empat orang lainnya.
Sebenarnya Pendekar bertubuh kurus itu tidak begitu setuju. Karena menurutnya I Made ini melupakan satu hal, jumlah tidak berpengaruh di hadapan Pendekar. Karena jika Pendekar itu memiliki kemampuan yang tinggi satu lawan sepuluh, seratus bahkan seribu pun masih sanggup.
Tetapi dia tidak bisa membantah I Made, karena selain I Made adalah Kakak seperguruan mereka, juga yang memiliki kemampuan paling tinggi diantara mereka.
Pemuda kurus itu hanya berharap mereka berlima sanggup untuk membungkam dua pemuda itu.
Tetapi setelah dia menatap wajah Arga dan Widura, semakin takut dia. Menurutnya di balik wajah muda dan polos itu menyimpan kekuatan yang sangat dahsyat.
Tidak ingin memikirkan terlalu jauh, akhirnya pria kurus itu memilih untuk menghabiskan makanannya.
*****
__ADS_1
Arga menyadari bahwa dari waktu ke waktu salah satu dari lima orang itu terus menatap ke arah mereka. Arga hanya tersenyum tipis karena dia menduga, pria kurus itu menyadari satu hal darinya.
Karena memang Arga selalu mengeluarkan aura bertarungnya walaupun sangat tipis. Hanya dengan hati bisa merasakannya.
Memang benar, pria kurus itu merasakan kekuatan Arga dari hatinya. Hatinya berdebar kencang seakan-akan dia tidak akan lama lagi hidup. Perasaan itulah yang mendorongnya untuk menyampaikannya kepada I Made dan yang lainnya.
Tetapi saat di tanggapi seperti sebelumnya, pria kurus itu memilih tidak membahasnya lagi.
*****
Malika menemui Arga dan Widura setelah cukup lama, dia juga meminta maaf karena banyak pengunjung yang harus dilayaninya.
Arga dan Widura memakluminya, menurut keduanya Malika ini adalah gadis yang baik karena jelas-jelas keduanya yang membutuhkannya tetapi gadis itu yang seperti tidak keenakan dan meminta maaf.
Orang-orang seperti inilah sebenarnya yang diharapkan banyak hidup di muka bumi ini. Bahkan jika bisa, semuanya seperti ini, baik!
Tetapi tentu hal itu tidak akan pernah bisa terjadi. Karena dunia ini sudah dibuat secara seimbang. Ada yang baik ada yang jahat, ada laki-laki ada perempuan dan masih banyak lagi.
"Tidak perlu sungkan Nona Malika. Seharusnya kami yang meminta maaf karena mengganggu jam kerja dirimu." Balas Arga sementara Widura memilih untuk diam saja membiarkan Arga yang menyelesaikannya.
Arga tertawa kecil mendengar hal itu, dia juga akhirnya tidak berniat berbasa-basi. Arga langsung menanyakan dimana letak Lembah Iblis Kematian.
Mendengar nama Lembah Iblis Kematian, wajah Malika sedikit berubah. Dari yang sebelumnya tersenyum tipis menjadi mengerut sepenuhnya.
"Kalau boleh tahu, ada apakah gerangan kedua Pendekar mencari lokasi Lembah Iblis Kematian?" Tanya Malika.
Arga memaklumi pertanyaan itu, dia kemudian menjelaskan bahwa dia ingin mendapatkan Bunga Mawar Hitam untuk menyembuhkan istrinya.
Setelah mendengar penjelasan Arga, Malika mengangguk pelan.
"Sekarang ini kita berada Di Kota Bali, sementara Lembah Iblis Kematian berada di Mataram. Kalian harus melewati pulau kecil untuk sampai ke sana." Jelas Malika.
Kemudian dia menjelaskan secara rinci dan itu dapat dipahami oleh Arga dan Widura. Widura juga mengingat kembali bahwa mereka memang melewati pulau kecil.
Setelah informasi yang didapatkan mereka cukup, Arga memberikan sepuluh keping emas untuk makanan dan sepuluh keping emas lainnya untuk nilai informasi.
__ADS_1
"Ini terlalu banyak Pendekar. Saya tidak memiliki kembaliannya." Jelas Malika sambil terkejut.
"Tidak perlu dihiraukan, ambil saja semuanya." Setelah itu Arga dan Widura beranjak pergi. Tetapi sebelum keduanya keluar, Arga menoleh ke arah Lima Pendekar dari Gua Rang Reng.
"Mari kita selesaikan diluar. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat!" Ucap Arga. Tidak menunggu balasan dari mereka, Arga dan Widura berjalan keluar.
"Saudara Arga, tampaknya bukan hanya mereka yang menginginkan kita, tetapi aku merasa semua Pendekar yang berada di dalam." Ucap Widura.
Dugaan Widura tidak meleset, setelah melihat Arga mengeluarkan dua puluh keping emas membuat semua orang menjadi serakah.
Saat melihat Arga menantang Lima Pendekar dari Gua Rang Reng, yang lainnya memutuskan untuk menyaksikan partarungan mereka terlebih dahulu. Jika Lima Pendekar dari Gua Rang Reng bisa mengalahkan keduanya maka mereka akan merebutnya dari lima orang itu.
Tetapi jika Arga dan Widura mampu mengalahkan Lima Pendekar dari Gua Rang Reng mereka juga akan merebutnya tetapi berhati-hati dan memperhitungkan kekuatan Arga dan Widura.
Arga sebenarnya juga menyadari hal itu sebab itulah dia berkata, "Aku yang akan menghadapi Lima Pendekar dari Gua Rang Reng, sedangkan Saudara Widura menjagaku. Jangan biarkan ada yang membokong pertarungan kami. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat." Balas Arga.
"Aku mengerti!" Widura menganggukkan kepalanya, dia mengerti apa yang dimaksud Arga.
*****
Lima Pendekar dari Gua Rang Reng menyaksikan Arga dan Widura menanyakan lokasi Lembah Iblis Kematian membuat mereka terkejut. Tidak ada yang tidak mengetahui lokasi itu di pulau ini. Tempat yang sangat berbahaya untuk pendekar tingkat tinggi sekalipun.
Tetapi keterkejutan mereka bertambah saat mereka melihat Arga mengeluarkan dua puluh keping emas tanpa kesulitan dan itu menjadikan mata mereka bercahaya menjadi serakah.
Puncaknya saat Arga menantang mereka. Tentu saja langsung diterima, itu alasan yang paling tepat untuk membuat masalah dengan dua pemuda itu.
Hanya pria bertubuh kurus yang menjadi semakin panik. Karena dia tidak menyaksikan rasa takut Arga dan Widura, melainkan keduanya tersenyum bahkan senyuman itu mengejek.
Hal itu membuatnya tidak nyaman. Tetapi setelah dia diremehkan oleh I Made yang mengatakan bahwa dia adalah murid kedua tetapi yang paling penakut diantara mereka berlima membuatnya naik pitam dan dia akan membuktikannya bahwa dia tidak seperti yang dikatakan.
Akhirnya, Lima Pendekar dari Gua Rang Reng mengikuti Arga dan Widura keluar. Bersamaan dengan itu, semua Pendekar yang berada di warung makan juga mengikuti mereka.
*****
Jangan lupa kunjungi karya terbaruku ya judulnya POISON KING KULTIVATOR, gak kalah seru lho
__ADS_1