Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Arga VS Seta


__ADS_3

Seta sangat senang karena rencananya berhasil. Dia berharap Arga akan mencari dan membuat perhitungan dengannya. Dia sudah menunggu waktu itu tiba. Dia ingin menguji sendiri kemampuan Arga yang dijuluki Pendekar Pedang Tujuh Naga itu.


Setiap Desa atau Kadipaten yang didatanginya selalu mendapat gangguan darinya. Dia juga selalu mengatakan identitasnya adalah Arga. Hal itu membuat para warga membenci dan mencaci maki nama Arga.


Contohnya hari ini, Seta sedang menggendong seorang gadis dipundaknya. Selain itu dia membawa satu karung harta ditangan kirinya.


"Hahaha...hahaha..." Dia tertawa terbahak-bahak sambil meninggalkan Desa tempat ia mendapatkan gadis dan harta itu.


"Hari ini aku akan bermain-main lagi." Sambungnya dengan menepuk-nepuk pantat dari gadis yang dibawanya.


Gadis itu hanya bisa terdiam, karena dia di totok oleh Seta yang membuatnya hanya bisa terdiam dan tidak bergerak.


Seta membawa gadis itu ke sebuah gubuk di tengah hutan. Gubuk itu adalah tempat yang Seta buat untuk peristirahatannya.


Seta meletakkan karung hartanya dan membaringkan gadis itu di ranjang yang ia buat.


"Gadis manis, kau akan menemaniku bermain malam ini." Ucapnya sambil menggigit-gigit bibir bawahnya yang sangat mesum itu. Dia menjilat-jilat bibirnya yang menakutkan dihadapan gadis itu.


Gadis itu hanya menangis, dia tidak bisa bergerak. Bahkan walaupun dia bisa berbicara, dia tidak sanggup mengeluarkannya.


Tetapi entah kenapa, tiba-tiba dia seperti punya kekuatan untuk mengeluarkan suaranya.


"Ampuni aku pendekar Arga... Bukankah kau adalah pendekar yang bijaksana seperti yang orang-orang katakan." Ucap gadis itu lirih. Air mata terus mengalir di pipinya.


"Hahaha... Hahaha..." Permohonan gadis malang itu hanya dijawab dengan tawa oleh Seta.


Kemudian dia menghentikan tawanya dan menatap tajam ke arah gadis malang itu, "Asal kau tahu saja, aku bukanlah Arga. Namaku adalah Seta, aku melakukan hal ini untuk membuat nama Arga tercemar dan warga tidak akan mempercayainya lagi."


"Hahaha... Hahaha..." Seta kembali tertawa terbahak-bahak.


Wajah gadis malang itu mengerut, dia menjadi tambah panik dan ketakutan.

__ADS_1


Saat Seta ingin melancarkan aksinya tiba-tiba ada suara orang mendekati gubuknya itu dan tidak lama suara itu berhenti di depan gubuknya.


*****


Sudah seminggu penuh Arga dan Nilawati mempelajari Jurus Membelah Diri, mereka tidak berhenti sedikitpun selama itu. Pagi, siang, malam mereka terus berlatih di dalam penginapan yang mereka pesan. Memang Arga memesan penginapan itu untuk waktu sebulan karena memang mereka ingin mempelajari jurus yang ada dilukisan yang diberikan Pendekar Pelukis.


Arga dan Nilawati mengatur nafas mereka, hari ini adalah hari terakhir mereka mempelajari Jurus itu. Mereka sudah berhasil menguasainya dengan sempurna. Arga dan Nilawati sudah bisa membelah diri mereka menjadi 7.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.


Dari hari ke hari, Desa-Desa dan Kadipaten-Kadipaten yang mereka temui selalu memperbincangkan tentang Arga yang sudah menjadi pendekar laknak dan bejat.


Setiap Desa dan Kadipaten selalu menanyakan identitas mereka, dan tidak sedikit yang mengusir mereka.


Hari mulai gelap, Arga dan Nilawati sampai di sebuah Desa. Keduanya melihat banyak warga Desa yang sedang berkerumun. Mereka mengerumuni dua orang paruh baya, yang satu laki-laki dan yang satunya adalah perempuan.


Keduanya terlihat menangis histeris dan terduduk di jalanan.


Arga dan Nilawati mendekat, mereka turun dari kuda kemudian mereka menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada salah seorang warga yang ada disana.


"Itu Kisanak, anak bapak dan ibuk itu diculik oleh pendekar bernama Arga. Bukan hanya itu saja, dia juga mengambil harta mereka." Jawab warga itu dengan sopan dan hormat.


"Arga...?" Arga mengerutkan keningnya dan memijatnya. Terlihat jelas kemarahan di wajahnya.


Nilawati memegang pundaknya, dia menenangkan Arga dan berterima kasih kepada warga itu.


"Kalau boleh tahu, siapakah Kisanak dan Nisanak ini?" Warga itu memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Kami adalah pengelana biasa yang kebetulan lewat dari sini." Balas Nilawati, "Kalau boleh tahu kemanakah pendekar bernama Arga itu pergi. Mungkin kami bisa sedikit membantu." Nilawati berkata pelan, tetapi tentu saja bisa didengar oleh semua orang yang ada disana.


Dua orang paruh baya yang sedang terduduk dan menangis histeris itu pun mendengarnya. Mereka berdua adalah orang tua dari gadis yang di culik itu.

__ADS_1


"Ni... Nisanak... Benarkah bisa membantu menyelamatkan anak kami?" Keduanya berlari ke arah Nilawati dan Arga, mereka bersujud di kaki Arga dan Nilawati.


Arga dan Nilawati terkejut, mereka bergerak mundur karena tidak ingin dua orang yang lebih tua dari mereka itu bersujud kepada mereka.


Nilawati membungkukkan badannya, dia memegangi pundak kedua orang itu dan menyuruh mereka berdiri.


"Ki, Nyai... Kami mungkin tidak bisa menolongnya, tapi kami akan berusaha semampu kami." Nilawati melirik ke arah kedua orang tua itu secara bergantian.


"Te... Terima kasih Nisanak, Kisanak." Keduanya memberi hormat kepada Arga dan Nilawati.


"Sebaiknya Aki dan Nyai menunjukkan kemana perginya pendekar yang mengaku sebagai Arga itu. Lebih cepat lebih baik." Arga Akhirnya mengangkat suaranya, dia memandangi kedua orang tua yang penuh harap itu.


"Dia... Dia pergi ke arah sana Kisanak, Nisanak." Laki-laki tua itu menunjuk ke arah Selatan Desa.


"Baiklah kami akan segera menyusulnya." Arga dan Nilawati mengangguk lalu terbang menuju ke arah yang ditunjukkan oleh pak tua tadi.


Tak lama kemudian mereka menemukan sebuah gubuk kecil, keduanya curiga dan mendekati gubuk itu.


*****


Arga dan Nilawati mendarat di depan gubuk kecil itu. Tak lama kemudian keluar seorang pemuda yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari mereka itu.


"Mau apa kalian datang kesini? Mengganggu kesenanganku saja." Pemuda yang tidak lain adalah Seta itu menatap Arga dan Nilawati dengan dingin.


"Ternyata kau yang mengaku sebagai Arga. Kami datang kesini untuk mengambil apa yang telah kau ambil dari warga Desa." Arga sebenarnya ingin langsung menyerang Seta, tapi dia harus mempelajari situasinya dulu dan mempelajari kekuatan pemuda dihadapannya.


"Siapa kalian? Kalian pikir bisa mengambilnya begitu saja dariku?" Seta mengangkat kedua alisnya, dia sudah terlihat kesal kepada Arga dan Nilawati.


"Aku Arga yang sesungguhnya. Siapa kau? Kenapa kau menyamar menjadi diriku?" Pertanyaan-pertanyaan dilontarkan oleh Arga kepada Seta.


Seta mengerutkan dahinya, orang yang selama ini dicarinya ternyata sudah ada dihadapannya.

__ADS_1


"Oh ternyata kau yang bernama Arga, aku sudah mendengar kebesaran namamu dan itu membuatku kesal dan geram. Aku melakukan hal ini memang untuk memancingmu keluar." Balasnya kepada Arga.


"Namaku adalah Seta..." Sambungnya sambil bersiap menyerang Arga.


__ADS_2