Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Membuat Perhitungan


__ADS_3

Menunggu sekitar lima belas menit akhirnya makanan yang di pesan Arga dan Widura sampai.


"Silahkan Saudara Widura, jangan sungkan." Kata Arga sambil mengambil piringnya.


Saat dia hendak menyendok nasi dia menghentikan geraknya, Arga teringat kepada Nilawati, karena istrinya itulah yang biasanya menyiapkan makannya.


"Nila, tunggu aku pulang. Akku berjanji akan menyelamatkanmu." Gumam Arga dalam hati sambil menggenggam tangannya dengan erat.


Widura menyadari ada yang berbeda dari Arga, "Ada apa Saudara Arga?" Tanya Widura.


"Tidak apa-apa Saudara Widura, aku hanya teringat istriku yang sedang terbaring sekarat terkena Racun karena itulah aku ingin mencari Bunga Mawar Hitam." Wajah Arga berubah menjadi sedih.


"Maafkan Aku saudara Arga." Widura meminta maaf, dia berpikir seharusnya tidak menanyakan hal itu.


"Tidak apa-apa Saudara Widura, ini bukan salahmu. Aku hanya berharap, apa yang kau ceritakan tentang Bunga Mawar Hitam itu benar adanya.


Memang saat Arga dan Widura menunggu makanan yang mereka pesan, Widura sudah menceritakan semua tentang Bunga Mawar Hitam yang ia ketahui.


Widura menceritakan, bahwa ia mengetahui Bunga Mawar Hitam itu dari mendiang gurunya. Karena mendiang gurunya pernah melihat Bunga tersebut.


Menurut cerita Guru Widura, Bunga Mawar Hitam memang hanya berada di pulau seberang. Tepatnya di sebuah Lembah yang bernama Lembah Iblis Kematian.


Tepatnya lima tahun yang lalu, saat itu guru Widura sedang menyelesaikan urusannya di pulau seberang.


Dia tidak sengaja melewati Lembah Iblis Kematian. Disana beliau melihat Bunga Mawar Hitam.


Saat beliau ingin mengambilnya, tiba-tiba saja ada sebuah kekuatan yang misterius menyerangnya, yang mampu membuatnya tidak sadarkan diri dalam sekali hantaman. Saat terbangun, Guru Widura sudah berada jauh dari Lembah Iblis Kematian.


Guru Widura juga mengatakan bahwa Bunga Mawar Hitam itu bukan hanya di jaga oleh satu makhluk akan tetapi banyak.


Sejak itulah guru Widura memutuskan untuk tidak berusaha mengambil Bunga Mawar Hitam itu dan pulang ke perguruannya.


Walaupun demikian, Arga tetap bersikeras untuk mengambilnya.


*****

__ADS_1


Arga dan Widura menyantap makanan itu dengan lahap sampai habis setelah itu mereka menghabiskan arak.


Setelah semuanya selesai, keduanya pergi keluar dari warung makan.


Sesampainya di luar, Arga menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah Widura yang ada dibelakangnya.


"Saudara Widura, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Tanya Arga.


"Ah itu, aku akan memutuskan untuk berlatih tertutup untuk menyempurnakan Jurus Pedang Bunga Seribu. Setelah itu aku berniat untuk mendirikan kembali perguruan Bunga Matahari." Jawab Widura. Sebenarnya dia sudah cukup dekat dengan Arga dan dia berniat untuk membantunya. Tetapi setelah Arga bertanya demikian, Widura mengurungkan niatnya.


Arga sendiri sebenarnya sudah menebak bahwa Widura ingin mengikutinya dan membantunya, tetapi dia tidak ingin menempatkan Widura dalam bahaya bahkan bisa merenggut nyawanya.


"Kalau begitu kau nanti perlu lokasi untuk mendirikan kembali perguruanmu. Aku rasa, di daerah kerajaan Samudra ini kau tidak akan lagi bisa. Begini saja, jika kau sudah menyelesaikan latihan tertutupmu, kau bisa temui aku di kerajaan Kalingga, tepatnya di gunung Ambar karena aku akan menetap disana.


Aku bisa membuatmu mendapatkan lokasi di kerajaan Kalingga." Tutup Arga.


"Baiklah, aku mengerti saudara Arga. Tunggu kedatanganku dan semoga kau berhasil. Berhati-hatilah dan terima kasih untuk pertolongan dan jamuan makananmu. Kalau begitu, aku pamit dulu." Widura memberi hormat kepada Arga dan langsung terbang meninggalkannya.


Arga tersenyum tipis, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah sebuah pohon yang ada di pinggir Desa.


"Sebaiknya kalian keluar, tidak usah bersembunyi." Arga berkata dengan lantang.


"Melihat pakaian yang kalian kenakan, tentu kalian ingin membalas dendam kematian lima Tetua kalian." Arga berkata dengan tenang sambil melirik ke arah seorang pemuda yang sebelumnya mengamati mereka dari jauh saat di dalam hutan.


Tatapan Arga itu berhasil membuat pemuda itu menelan ludahnya dan berkeringat dingin, tidak lupa juga tubuhnya bergetar hebat.


Pandangan Arga hanya berlangsung sekitar dua detik dan kembali ke arah dua orang pria sepuh itu.


"Menarik... Menarik sekali." Ucap salah satu pria sepuh.


"Jadi benar kau yang membunuh para Tetua perguruan Sanca Hitam?" Sambungnya, tetapi kali ini tatapannya menjadi dingin, dia mengeluarkan aura bertarungnya.


Dengan santainya Arga menjawab, "Benar sekali. Lalu kalian mau apa?" Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan aura bertarung yang dikeluarkan salah satu pria sepuh itu.


"Anak ini, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh aura bertarungku?!" Gumam Pria sepuh yang mengeluarkan aura bertarungnya tadi. Dia sama sekali tidak menduganya.

__ADS_1


Sementara itu, pria sepuh lainnya juga terkejut, "Tidak kusangka ada pemuda yang memiliki kemampuan tinggi. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan aura bertarung yang dikeluarkan Wakil Ketua Jabar.


Ternyata dua orang pria sepuh itu adalah Ketua dan Wakil Ketua Perguruan Sanca Hitam.


Wakil Ketua Perguruan Sanca Hitam bernama Jabar sedangkan Ketuanya bernama Walang Jagad.


"Melihat dirimu tidak terpengaruh oleh tekanan aura bertarung ku, wajar saja lima Tetua perguruan Sanca Hitam bisa terbunuh di tanganmu.


Tetapi yang aku pikirkan adalah, siapakah dirimu? Apakah kau Pendekar sepuh seperti kami yang mempertahankan kemudaan dengan tenaga dalam, atau memang dirimu berasal dari kalangan muda?" Akhirnya Wakil Ketua Jabar mengutarakan apa yang menjadi isi pikirannya.


"Apakah identitasku penting? Tetapi tenang saja, junior akan menjawabnya. Junior biasanya di juluki semua orang sebagai Pendekar Pedang Tujuh Naga." Arga berkata datar seperti biasa-biasa saja.


Berbeda dengan anggota perguruan Sanca Hitam maupun Ketua dan Wakilnya. Mereka tentu pernah mendengar tentang Arga.


"Tidak kusangka hari ini akan bertemu dengan Arga si Pendekar Pedang Tujuh Naga. Tetapi jangan harap kami akan takut karena nama besarmu.


Aku ingin mencoba kekuatan Pendekar yang dikatakan sebagai jenius di antara jenius." Tetua Jabar mendengus.


"Aku tidak keberatan melayani Senior. Tetapi ku harap kita bertarung di luar Desa ini. Mari ikuti aku!" Arga tidak menunggu jawaban dari Ketua maupun Wakil Ketua Perguruan Sanca Hitam. Dia langsung terbang meninggalkan Desa menuju ke hutan terdekat.


Arga menoleh ke belakangnya, dua sosok yang tidak lain adalah Ketua dan Wakil Ketua Perguruan Sanca Hitam mengejarnya. Sedangkan anggota perguruan itu berlari karena mereka tidak bisa terbang seperti yang dilakukan Arga maupun Ketua dan Wakilnya.


Arga mendarat di lokasi yang cukup luas dan diikuti oleh Ketua Walang Jagad dan Wakilnya, Jabar.


"Ku rasa ini adalah tempat yang cocok untuk mengubur mayat kalian berdua bersama semua anggota kalian." Arga tersenyum tipis dan sudah bersiap menyerang.


"Sebaiknya kalian maju berdua atau tidak akan ada lagi kesempatan." Sambungnya.


Mendengar Arga meremehkan mereka, tentu saja keduanya murka, "Jangan terlalu besar kepala anak muda. Cukup aku saja yang melawanmu dan tempat ini akan menjadi kuburanmu." Tanpa menunggu, Wakil Ketua Jabar langsung menyerang Arga dengan tangan kosong sementara Arga juga menyambut serangan itu dengan tangan kosong juga.


Pertarungan antara Arga melawan Wakil Ketua Perguruan Sanca Hitam tidak dapat dihindari lagi.


*****


**Hallo Guys, Author lagi bikin novel baru nih, genre romance, judulnya DEMI CINTA jangan lupa di hampiri ya.

__ADS_1


Tenang aja, walaupun demikian, hal itu tidak akan menghambat rilis novel ini. Jadwal rilis novel ini masih sama seperti sebelumnya.


So Enjoy, selamat menikmati karya Author ya dan jangan lupa dukungannya**


__ADS_2