Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Nama Yang Membuat Tubuh Bergetar


__ADS_3

Keesokan paginya saat matahari mulai menerangi bumi, warga kota Pelabuhan digegerkan dengan ditemukannya lima orang mayat di depan Rumah Teratai Biru. Selain itu yang membuat mereka ketakutan adalah mayat itu berasal dari perguruan Sanca Hitam.


Prajurit dari kerajaan Samudra sedang menenangkan warga agar tidak panik serta ketakutan.


Di dalam Rumah Teratai Biru, seorang pemuda berusia belasan tahun sedang duduk dengan dikelilingi beberapa pria paruh baya.


"Kira-kira siapa yang membunuh anggota Perguruan Sanca Hitam itu Tumenggung Aling?" Pemuda itu bertanya kepada pria paruh baya yang ada di sampingnya. Pemuda itu sendiri tidak lain adalah Pangeran Rendra, pangeran bungsu dari kerajaan Samudra.


"Hamba tidak tahu pangeran!" Tumenggung Aling menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut. 'Bukankah kita tertidur dengan nyenyak semalam?!' Pikir Tumenggung Aling.


Ruangan menjadi hening sejenak, tetapi itu tidak berlangsung lama, saat Tumenggung Aling membuka mulutnya.


"Pangeran... Jangan-jangan...?!" Tumenggung Aling tidak melanjutkan kata-katanya membuat pangeran Rendra mengerutkan dahinya dan penasaran.


"Jangan-jangan apa, Tumenggung Aling? Beritahu padaku!" Pangeran Rendra menaikkan alisnya.


"Semalam aku bertemu dengan pendekar Widura di lantai dasar penginapan ini. Mungkin mereka tahu apa yang terjadi?!" Jawab Tumenggung Aling.


"Pendekar Widura? Murid dari perguruan Bunga Matahari?" Tanya Pangeran Rendra dengan serius.


"Itu mungkin saja terjadi. Bukankah beberapa waktu lalu perguruan Bunga Matahari dihancurkan oleh perguruan Sanca Hitam dan Ketua Tunggul Wulung?" Tanya Pangeran Rendra untuk memastikannya.


"Benar pangeran!" Jawab singkat Tumenggung Aling.


"Baiklah, mari kita temui mereka!" Pangeran Rendra bangkit dari tempat duduknya dan langsung menuju ke lantai dasar, sementara Tumenggung Aling dan sembilan orang lainnya mengikuti dari belakang.


Sesampainya di lantai dasar, Tumenggung Aling menunjuk dua orang pemuda yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan hangat.


Setelah itu dia memutuskan untuk menghampiri mereka.


*****


Widura saat itu sedang tertidur dengan pulas ketika dia mendengar keributan yang berasal dari luar penginapan.


Hal itu membuatnya terbangun dan dia menoleh ke tempat Arga yang sedang bersemedi semalam, dia melihat Arga masih sama seperti sebelumnya, memejamkan mata dan duduk bersila.


Setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke arah para prajurit yang semalam duduk di meja penginapan, saat itulah dia melihat tidak ada satupun prajurit lagi.


"Apa yang terjadi?" Widura menggosok matanya yang masih terlihat ngantuk setelah itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan mencari tahu apa yang terjadi. Saat itulah dia mengetahui penemuan mayat murid dari perguruan Sanca Hitam.


"Siapa yang melakukannya?" Pikir Widura.


"Saudara Arga, hanya dia yang bisa menjelaskan kejadian ini." Berbekal pemikiran itu, Widura kembali masuk untuk menemui Arga.


"Saudara Arga!" Widura berdiri di depan Arga yang sedang duduk bersila.


Arga membuka matanya dan menatap ke arah Widura, "Ada apa Saudara Widura?" Tanya Arga sambil membuat raut wajahnya seperti kebingungan.


"Kau tahu, diluar sedang ada keributan?" Tanya Widura sambil menatap Arga menyeledik.


"Keributan? Keributan apa? Aku tidak mendengarnya. Dari semalam aku bermeditasi mendalam. Jadi tidak mendengar apa-apa." Jawab Arga dengan santai.


Widura masih tidak percaya dengan perkataan Arga, dia menatap Arga sekali lagi, tetapi tidak ada terlihat kebohongan dari wajahnya.


Melihat tidak ada tanda-tanda Arga berbohong padanya, Widura hanya bisa menghela nafas panjang dan duduk di dekat Arga.


Sementara Arga hanya tertawa kecil tanpa disadari Widura.


Keduanya lalu membahas siapa dalang dari pembunuhan terhadap anggota perguruan Sanca Hitam itu.


"Pendekar Widura?!" Tanya pemuda itu yang tidak lain adalah Pangeran Rendra.


Arga dan Widura mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara itu.


"Pangeran!" Jawab Widura sambil memberi hormat. Sementara Arga juga mengikutinya dari belakang.


Bagaimanapun juga, pangeran Rendra adalah anak dari penguasa wilayah ini, sudah seharusnya Widura dan Arga memberi hormat kepadanya.


"Tidak perlu sungkan Pendekar Widura!" Pangeran Rendra tertawa kecil. Dia cukup senang dengan kesopanan yang di tunjukkan oleh Widura.


Pangeran Rendra kemudian melirik ke arah Arga, melihat hal tersebut, Widura langsung mengenalkannya.


"Perkenalkan pangeran, ini Arga, saudara angkat Hamba!" Widura tersenyum tipis saat mempekenalkan Arga.


"Salam pangeran!" Arga memberi hormat sekali lagi kepada Pangeran Rendra.


Pangeran Rendra tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan tersenyum tipis serta memberi hormat juga kepada Arga. Menurutnya Arga juga merupakan pemuda yang sopan. Jadi sudah sepantasnya dia membalas penghormatan itu.

__ADS_1


Walaupun terlihat gembira, sebenarnya pangeran Rendra sedang memutar otaknya untuk mengingat-ingat nama Arga. Karena terasa begitu familiar baginya. Bukan hanya Pangeran Rendra, tetapi sepuluh orang dibelakangnya juga memikirkan hal yang sama.


"Tidak mungkin bukan? Dia adalah Arga si Pendekar Pedang Tujuh Naga?" Batin Pangeran Rendra. Dia tidak berani menanyakannya, karena takut menyinggung keduanya.


Walaupun demikian, tidak dengan Tumenggung Aling, dia menahan nafasnya saat mendengar nama Arga. Dia langsung mengaitkannya dengan Arga si Pendekar Pedang Tujuh Naga.


"Tuan Pendekar, boleh aku menanyakan sesuatu?" Tanya Tumenggung Aling dengan sopan.


Arga tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan.


"Hanya kebetulan saja atau Tuan Pendekar adalah Arga si Pendekar Pedang Tujuh Naga?" Bibir Tumenggung Aling sedikit bergetar saat menanyakannya.


"Ternyata namaku cukup terkenal ya, sampai-sampai juga terdengar di telinga Tumenggung Aling." Jawab Arga dengan santai sambil tersenyum tipis.


"Apa?!" Tumenggung Aling tersedak nafasnya, dia terbatuk-batuk saat mendengarnya. Bukan hanya dia, pangeran Rendra dan sembilan orang yang berada disampingnya juga kesulitan bernafas.


"Untungnya aku bersikap sopan." Pikir Pangeran Rendra.


Siapa yang tidak mengenal Arga, seorang pemuda yang mampu melenyapkan pasukan kerajaan Jenggala dan sekutunya dalam waktu singkat. Pemuda yang sama berhasil menyelamatkan Kerajaan Kalingga dari kehancuran. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali tepatnya.


Tubuh Tumenggung Aling bergetar hebat, dia mengingat bagaimana saat dia semalam bersifat cukup arogan saat pertama kali berbicara.


Tidak bisa menahan tubuhnya lagi, Tumenggung Aling kini dalam posisi berlutut, "Maafkan kelancangan hamba sebelumnya, Tuan Pendekar. Semoga Anda tidak memasukkannya ke dalam hati." Perbuatan Tumenggung Aling berhasil membuat Arga dan Widura menaikkan alisnya, bukan hanya mereka berdua, tetapi pangeran Rendra dan sembilan orang yang berada disampingnya juga tidak percaya dengan apa yang dilihat.


Mereka mengetahui betul bahwa Tumenggung Aling ini adalah orang yang sangat menjaga kehormatannya. Harga dirinya amatlah tinggi.


Tetapi setelah dipikir-pikir kembali, itu adalah hal yang wajar, mengingat Arga adalah orang yang penting dalam dunia persilatan.


"Tidak perlu sungkan. Lupakan saja! Yang berlalu biarlah berlalu!" Jawab Arga sambil tersenyum tipis.


"Terima kasih, Tuan Pendekar!" Balas Tumenggung Aling, tetapi tubuhnya masih bergetar hebat.


Untuk membuat suasana menjadi lebih hidup dan tidak canggung, Widura memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Ada apa gerangan pangeran Rendra menemui hamba dan saudara Arga in?"


*****


Jangan lupa kunjungi karya terbaruku POISON KING KULTIVATOR, dukung juga ya biar lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2