Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Fitnah


__ADS_3

Arga dan Nilawati meninggalkan makam pendekar yang memberi mereka lukisan itu, tapi belum lama tiba-tiba ada 3 orang menghentikan perjalanan mereka.


"Berhenti, serahkan lukisan yang ada di tangan kalian." Seru pria botak dan gendut kepada Arga dan Nilawati.


Ketiga orang itu adalah pendekar yang Arga dan Nilawati lihat bertarung dengan pendekar pelukis yang baru beberapa saat mereka lihat.


Pria botak dan gendut itu bernama Kertapati. Dia adalah kakak seperguruan dari dua orang yang bersamanya sekaligus yang memiliki ilmu kanuragan paling tinggi diantara mereka.


"Apa alasan kalian menginginkan lukisan ini? Kalian bukanlah pemiliknya, sedangkan pemilik lukisan ini sudah memberikannya pada kami." Arga menghentikan langkah kudanya dan menatap ke arah ketiga orang di depannya itu.


"Oh, kau belum tau siapa kami anak muda?" Pria kurus dan tinggi menaikkan alisnya dan tersenyum sinis kepada Arga. Dia adalah Martoloyo, adik seperguruan dari Kertapati.


"Memangnya peduli apa kalian, mau kami kenal kalian atau tidak. Kalian pikir kami takut?" Arga berseru kencang, alisnya naik fan tidak ada ketakutan sama sekali terlihat di wajahnya.


"Kalau begitu kalian harus ****** di tangan kami." Pria kekar dan berotot maju selangkah dan mengangkat tombaknya. Dia adalah Karanda, adik seperguruan dari Kertapati dan Martoloyo.


Mereka adalah pendekar yang cukup terkenal di daerah itu, dengan sebutan Tiga Pendekar El Maut.


"Kita buktikan saja." Arga melompat dari kudanya dan langsung menyerang Karanda. Karanda yang meremehkan Arga sebelumnya akhirnya terpental akibat satu pukulan yang diterimanya.


Melihat hal itu, Kertapati dan Martoloyo membantu Karanda, mereka menyerang Arga secara bersamaan.


Arga tidak tinggal diam, dia mengeluarkan jurus Desendria yang dengan mudah meniru dan menghindari serangan-serangan dari ketiga orang itu.


Pada awalnya ketiga orang itu tidak sadar bahwa Arga meniru jurus-jurus mereka, tetapi lama-kelamaan akhirnya mereka menyadarinya. Ketiganya mundur beberapa langkah untuk mengatur nafas mereka.


"Kakang, dia sangat kuat." Martoloyo berkomentar.

__ADS_1


"Bukan hanya kuat, tetapi dia juga bisa meniru dan menggunakan jurus-jurus kita." Sambung Karanda.


"Kalian benar, kita bertiga sekalipun bukan tandingannya. Sebaiknya kita membuat celah dan kabur sebelum terbunuh." Kertapati berpendapat. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang Arga, tetapi bukan untuk mengalahkannya melainkan untuk membuat celah agar bisa kabur.


Arga menyadari serangan mereka yang berubah, mereka tidak lagi menggunakan jurus menyerang, melainkan menggunakan jurus bertahan. Arga tentu tahu maksud mereka, dia tidak akan melepaskan satu orang pun untuk kabur darinya.


Ketiga orang itu terus bertahan dari serangan Arga, berharap Arga akan lengah dan mereka bisa kabur darinya. Tetapi perhitungan mereka salah, serangan Arga tiba-tiba menjadi lebih cepat dan kuat dari sebelumnya. Tak berselang waktu lama, Arga berhasil membuat ketiga orang itu terpojok dan terpental akibat satu serangannya.


Mereka yang sudah tidak punya pilihan lain, lalu mengeluarkan bubuk beracun dari sebuah guci kecil dan melemparkannya ke arah Arga. Arga melihat hal tersebut, dia menutup mulut dan matanya. Arga mengeluarkan pedangnya dan mengibaskannya, seketika racun itu bersih dengan sendirinya.


Arga tidak membiarkan ketiga orang itu kabur, dia mengeluarkan jurus Pukulan Penghancur Langit dan berhasil membuat tubuh 3 Pendekar El Maut hancur tanpa sisa. Setelah itu Arga menghela dan mengatur nafasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia melirik ke arah Nilawati dan Kuda, lalu dia terbang menghampiri mereka.


"Ayo kita pergi." Arga kembali duduk di atas kuda dan memacuhnya dengan cepat.


Setelah selang beberapa waktu, akhirnya Arga dan Nilawati menemukan sebuah Desa. Mereka memutuskan untuk berhenti disana, tetapi saat di pintu masuk mereka dihentikan oleh beberapa warga.


"Berhenti..." Seru salah satu warga, "Maaf, apa tujuan Kisanak dan Nisanak datang kemari?" Sambungnya.


Mereka yang melihat Arga dan Nilawati sepertinya tidak berniat jahat akhirnya mempersilahkan keduanya masuk dan meminta maaf.


"Maaf atas tindakan kami barusan Kisanak, Nisanak. Kami hanya menjalankan tugas dari Kepala Desa untuk menjaga Desa kami." Salah satu warga membuka pintu gerbang Desa yang semula ditutupnya.


"Tidak apa-apa Kisanak, tapi kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan kalian harus berjaga seperti ini?" Arga bertanya dengan nada lembut.


"Aih, itu sebenarnya sulit dijelaskan. Beberapa waktu lalu kami mendengar dari Desa-Desa tetangga ada seorang pendekar muda yang sering menculik gadis-gadis. Dia mengatakan identitasnya adalah Arga, pendekar yang menjadi pahlawan dari kerajaan Kalingga..." Warga itu menghentikan perkataannya setelah melihat wajah Arga mengerut. Arga yang menyadari hal itu kemudian meminta warga itu melanjutkan penjelasannya.


"Dari yang kami dengar, pendekar yang bernama Arga itu menculik gadis-gadis untuk mengambil keperawanan mereka, setelah selesai dia akan mengembalikannya. Tidak sampai disitu, dia juga memeras para warga dan meminta harta..." Warga itu kembali menghentikan perkataannya setelah melihat wajah Arga lebih buruk daripada sebelumnya.

__ADS_1


Nilawati memegang pundak Arga, kemudian menyuruh warga itu melanjutkan perkataannya.


"Tapi, kami sendiri masih ragu dengan berita itu, karena selama ini pendekar yang bernama Arga itu dikenal sangat baik dan bijaksana. Dia juga sering membantu penduduk Desa yang mengalami kesusahan." Warga itu selesai berbicara, dia mempersilahkan Arga dan Nilawati masuk.


Arga dan Nilawati memberi merek hormat dan segera berjalan ke dalam Desa.


"Arga, kira-kira siapakah sosok yang mengaku sebagai dirimu itu?" Nilawati memiringkan kepalanya, dia berpikir keras untuk menemukan siapa yang bisa disangkakannya, tetapi dia tidak menemukannya. Arga menggelengkan kepalanya menandakan dia juga tidak tahu.


Arga pun sama dengan Nilawati, dia terus mengingat-ingat musuh-musuh yang pernah dihadapannya, akan tetapi dia juga tidak menemukannya. Seingatnya semua musuh yang berhadapan dengannya, tewas semua di tangannya. Kecuali, waktu pertempuran di kerajaan Kalingga, banyak pendekar yang berhasil kabur dari pertempuran itu, tapi Arga tidak menemukan alasan mereka berbuat seperti itu.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti juga kita akan bertemu dengannya." Nilawati mencoba menenangkan Arga, "Lebih baik kita mempelajari jurus yang ada di lukisan ini." Sambungnya sambil mengangkat dan menunjukkan lukisan kepada Arga.


Arga mengangguk, dia kemudian mengajak Nilawati memesan sebuah penginapan yang ada di Desa itu. Mereka hanya memesan satu kamar, karena sejak kejadian malam itu, mereka jadi tidak canggung lagi. Keduanya sudah bersikap seperti suami istri walaupun belum mengadakan acara pernikahan.


Sampai di dalam penginapan, mereka membersihkan tubuh dan memesan makanan untuk disantap.


Setelah selesai, Arga dan Nilawati mulai membuka bungkus dari lukisan itu dan terlihat sebuah lukisan pemandangan yang sangat indah dan mempesona.


Kemudian keduanya membolak-balikkan lukisan itu, mencari apa yang dikatakan oleh pendekar pelukis, tetapi mereka tidak menemukan sedikitpun keanehan atau perubahan dari lukisan itu.


***


N.A


Terima kasih kepada semuanya yang telah mengikuti perjalanan karya saya. Jangan lupa like, komen, share dan favoritkan ya agar kalian tidak ketinggalan ceritanya.


Terima kasih.

__ADS_1


Salam Manis Dari Saya


...Denis Anugrah...


__ADS_2