Pendekar Pedang Tujuh Naga

Pendekar Pedang Tujuh Naga
Perguruan Bambu Kuning


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, Arga dan Nilawati sudah sampai di depan pintu gerbang perguruan Bambu Kuning setelah seminggu dalam perjalanan. Selama seminggu itu juga Arga terus mempelajari kitab Ajian Serat Jiwa ketika sedang beristirahat. Alhasil, sekarang Arga telah menguasai Ajian Serat Jiwa tingkat keempat secara sempurna dan mulai memasuki tingkat kelima.


Saat pertama kali mendatangi perguruan Bambu Kuning, Baik Arga maupun Nilawati terpana sekaligus kagum melihat perguruan itu. Perguruan Bambu Kuning sendiri sebesar sebuah Kota, dimana bangunan-bangunan cukup besar berdiri di perguruan itu.


Arga dan Nilawati tidak menunggu waktu lama, keduanya mendekati pintu gerbang perguruan itu dan langsung mendekati penjaga yang berada disana. Keduanya sebenarnya sedikit lebih cepat mendatangi perguruan itu karena Turnamen akan dilaksanakan dalam dua Minggu lagi. Tetapi memang perguruan Bambu Kuning sudah membuka pendaftarannya, jadi Arga dan Nilawati tidak merasa mengganggu.


"Maaf Kisanak, Kami berdua ingin mendaftarkan diri untuk mengikuti Turnamen Pemuda Putih." Arga mengangkat suaranya sambil tersenyum tipis kepada penjaga pintu gerbang itu.


"Dari perguruan mana kalian berasal?" Penjaga pintu gerbang itu bertanya sekaligus melihat Arga dan Nilawati dari atas sampai bawah serta melihat ke arah belakang keduanya untuk mencari orang yang mendampingi mereka.


"Maaf Kisanak, kami berdua ingin mengikuti Turnamen ini dari jalur Pendekar tanpa perguruan." Arga masih terus mempertahankan senyumannya dan berlaku sopan kepada para penjaga itu.


"Baiklah, mari ikuti aku!" Salah satu penjaga itu berjalan dan Arga serta Nilawati mengekor di belakangnya.


Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya Arga dan Nilawati serta penjaga pintu gerbang tadi sampai di sebuah ruangan yang cukup besar. Disana tersusun rapi lima buah meja dan diisi masing-masing oleh empat orang pria paruh baya dan seorang wanita paruh baya. Kelima orang itu adalah petugas yang mencatat identitas dari pendaftar Turnamen.


Penjaga pintu gerbang itu kembali ke tempatnya setelah menyampaikan niat kedatangan Arga dan Nilawati kepada para petugas itu. Kelima petugas itu bukanlah orang sembarangan, mereka adalah guru-guru dari perguruan Bambu Kuning.


Yang pertama bernama Satya, pria paruh baya menggunakan pakaian dari perguruan Bambu Kuning. Tubuhnya berotot dengan warna kulit sedikit gelap dan memiliki kumis tebal serta tinggi sekitar 170 cm.


Di meja kedua adalah Wira, pria paruh baya menggunakan pakaian dari perguruan Bambu Kuning. Tubuhnya gemuk dan warna kulitnya sawo matang serta memiliki tinggi sekitar 150 cm.


Di meja ketiga adalah wanita paruh baya bernama Suci, wanita ini bertubuh langsing, berkulit putih serta diwajahnya terdapat sedikit kerutan menandakan umurnya. Tetapi masih tetap terlihat cantik dan enak dipandang. Tingginya sekitar 150 cm.

__ADS_1


Di meja keempat terlihat pria paruh baya. Beliau bernama Aji, bertubuh kurus tetapi cukup berotot dengan tinggi sekitar 180 cm, berkulit kuning dan memiliki kumis serta jenggot yang menghiasi wajahnya.


Di meja terakhir terlihat pria paruh baya, diantara tiga pria lainnya, beliau adalah yang tertampan. Namanya adalah Sora, pria paruh baya dengan kulit berwarna putih, alis tebal dan berkumis tipis serta rambut panjang sekitar sebahu dan terurai.


Kelimanya sedang berdiri, menunggu Arga dan Nilawati untuk menghadap.


Arga dan Nilawati terpana melihat kelimanya, Arga terpana melihat kekuatan yang dipancarkan oleh kelima orang itu, Arga berpendapat tenaga dalam mereka berlima cukup besar dan ilmu kanuragan mereka jelas tinggi.


Jelas bahwa kelimanya adalah orang yang berbakat dalam belajar ilmu silat pada generasinya.


Sementara itu, Nilawati terpana akan kecantikan yang ditampilkan oleh Suci, Nilawati berpendapat bahwa Suci mempelajari ilmu seperti yang dipelajari oleh perguruan Lembah Perawan.


"Apakah aku bisa seperti Bibi Suci ini saat berusia sama dengannya?" Nilawati membatin dan mulai merenung.


Semua itu tidaklah salah, karena pria sendiri selalu menginginkan wanita yang cantik, paling tidak yang biasa merawat dirinya.


Benar kata orang-orang, pria itu menggunakan logika dalam menilai pasangannya sedangkan wanita menggunakan hati dan perasaan.


Perasaan-perasaan aneh mulai muncul di kepala Nilawati, dia tidak bisa menyembunyikannya. Wajahnya terlihat gelisah dan murung.


Arga yang melihat hal itu langsung menegur Nilawati, "Ada apa Nila? Apakah kau sakit?" Begitulah pertanyaan yang keluar dari mulut Arga.


"Tidak, aku tidak apa-apa, Arga." Nilawati melirik ke arah Arga dan mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa.

__ADS_1


Arga yang sudah mendengar jawaban dari Nilawati akhirnya tidak bertanya lagi. Mereka kemudian maju, keduanya memberi hormat kepada kelima orang yang ada dihadapan mereka. Setelah itu Arga duduk di kursi yang ada di meja pertama sedangkan Nilawati duduk di kursi meja kedua.


"Siapa namamu Kisanak?" Satya langsung menanyakan identitas Arga untuk di data.


"Nama saya Raga, Paman!" Memang Arga sudah mempersiapkan nama samarannya sebelumnya, begitupun dengan Nilawati.


Setelah sekitar satu jam, akhirnya proses pendaftaran itu selesai, setelah itu Arga dan Nilawati diberikan satu ruangan karena mereka mengira Arga dan Nilawati adalah pasangan.


Arga dan Nilawati tidak keberatan, keduanya kemudian diantarkan oleh seorang murid perguruan Bambu Kuning ke tempat yang dikatakan oleh kelima orang itu.


Setelah Arga dan Nilawati cukup jauh dari ruangan itu, Satya angkat bicara, "Kedua orang itu seperti bukan Pendekar, saya tidak bisa melihat senjata yang mereka bawa."


"Kau pikir Pendekar harus selalu menggunakan senjata, bagaimana jika mereka adalah Pendekar dengan tangan kosong?" Pertanyaan dari Suci itu membuat Satya diam sejenak, memang dia tidak terpikirkan akan hal itu karena selama ini dia bertarung selalu menggunakan senjata yaitu tongkat bambu.


"Kau benar, Aku lupa akan hal itu." Satya tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Hari itu tidak banyak yang mendaftar, hanya ada sekitar sepuluh orang selain Arga dan Nilawati. Hal itu sangat wajar, karena Turnamen akan diadakan dua Minggu lagi.


*****


Setelah sampai di ruangan yang disediakan, Arga langsung duduk bersila dan mempelajari kitab pusaka Ajian Serat Jiwa. Sedangkan Nilawati terus mendalami jurus yang belum dia kuasai dengan sempurna.


Nilawati mempelajari satu jurus tangan kosong yang diajarkan oleh Arga kepadanya. Memang setelah Arga bertemu dengan sosok seperti Joko Samudro, Brama Sakti dan Anuman, pengetahuannya tentang ilmu silat sangat dalam. Terutama ketika dia mempelajari Ajian Serat Jiwa, dia bisa menciptakan jurus tangan kosong dengan memodifikasi jurus yang ada di dalam Ajian Serat Jiwa. Karena Ajian Serat Jiwa sendiri adalah Ajian yang menggunakan tapak sebagai medianya.

__ADS_1


__ADS_2